I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 22. Berpisah





Berpisah


Tok....tok....tok....


"Masuk!"


Suara Brian terdengar sangat kaku.


Perawat Anne masuk ke ruang konsultasi Brian dengan menunduk ketakutan. Ia sudah merasa bahwa Brian akan menyalahkannya atas kejadian tadi siang.


Brian menopang janggutnya dengan kedua punggung tangannya, dia terlihat sangat serius.


"Duduk, Ann.."


Kali ini suara Brian terdengar dingin.


"I...iya dokter...."


"Sekarang coba kamu jelaskan kejadian tadi siang... Bagaimana Nana bisa sampai tantrum seperti itu."


Perawat Anne masih terdiam tidak menjawab. Brian semakin geram dengan sikap bisu Anne.


"Jawab Anne... Aku lebih suka kamu jujur memberi tahuku, daripada aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa darimu, tapi justru tahu dari orang lain."


"Se... sebenarnya.... Miss Nana seperti itu setelah melihat berita di internet, dok..."


"Maksudmu? Nana tadi sempat mengakses internet sebelum dia tantrum?"


"I...iya dokter..."


Brian memejamkan mata menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Anne.....!!"


Brian mengeratkan giginya sambil mengepalkan tangannya dan memukul ke pahanya sendiri.


"Kamu tahu kan, kenapa aku menyuruh kalian untuk menjauhkan Nana dari interaksi media apapun. Termasuk televisi di kamar perawatan, di lobby ruang perawatan, dan juga di ruang fisioterapi. Dan aku benar-benar melarang kamu untuk tidak menggunakan ponsel di dekat Nana. Sekarang bagaimana bisa kamu membiarkan dia mengakses internet?!"


"Saya juga tidak tahu mulanya dokter... Saya baru tahu Miss Nana sudah tantrum di depan lobby ruang perawatan, dan saya tanya ke perawat junior yang sedang jaga disana, dia bilang Miss Nana meminjam ponselnya. Saya tidak tahu apa motifnya dia meminjamkan ponselnya kepada Miss Nana."


"Jangan melempar kesalahan kepada perawat junior. Kamu yang aku beri tugas untuk menjaga Nana, seharusnya kamu yang bertanggung jawab!"


"Saat itu saya sedang melakukan reschedule jadwal shift dengan perawat Grace...."


"Ya Tuhan, Anne.... sebegitu sembrononya kamu. Yang kamu awasi ini bukan orang idiot, dia orang genius yang hanya hilang ingatan. Berkali-kali aku bilang padamu. Bahkan aku tidak memberimu beban merawat pasien lain, agar kamu fokus pada tugas khusus kamu menjaga Nana! Kalau aku tidak terlalu concern pada masalah ini, untuk apa aku harus membentuk tim yang secara khusus menjaga Nana?! Tentu saja adalah untuk membatasi Nana agar dia hanya berinteraksi dengan orang - orang tertentu saja!"


"Maaf dokter.... lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Apa yang harus kita lakukan? hehhh...."


Brian mendengus sambil memijit - mijit kepalanya sendiri.


"Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan.... semua ini terjadi di luar rencana. Mungkin untuk saat ini terpaksa kita tidak bisa berbohong lagi... Nana bukan orang bodoh."


Brian terus memijit - mijit kepalanya karena dia sekarang memang benar-benar tidak memiliki ide yang harus ia lakukan.


Selama Nana sekarang masih tertidur, karena obat penenang, Brian masih belum bisa memastikan sejauh mana dampak dari tindakan Nana tadi siang dan apa saja yang sudah Nana ketahui.


Malam itu juga Brian menelpon Eric yang baru saja sampai di rumahnya Mama Julia untuk membahas rencana konferensi pers dalam menanggulangi berita skandal tentang dirinya.


"Halooo Eric, kamu dimana?"


"Iya, Ada apa Brian? Apa ada masalah dengan Nana?"


"Yah.... aku belum tahu sejauh mana masalahnya."


"Maksudmu?"


"Kali ini memang salahku, yang terlalu teledor. Nana sepertinya mengetahui berita kasus keluarganya dari internet. Tapi aku masih belum tahu pasti sejauh mana dia mengetahui kasus itu. Karena tadi dia sempat tantrum dan saat ini dia masih tidur."


Eric bagai tersambar petir mendengar apa yang disampaikan Brian. Cepat atau lambat Nana pasti akan membencinya lagi. Eric memang sudah mengantisipasi jika saat - saat seperti ini pasti akan tiba. Tapi untuk sekarang, Eric masih belum siap.


Mama Julia dan Erica melihat Eric yang masih dengan wajah syok. Mereka berusaha menerka-nerka dengan pikiran mereka apa yang sedang dibicarakan Eric dengan orang yang ada di telepon tersebut.


"Baiklah Brian, jika nanti Nana sudah bangun, hubungi aku lagi.... Sekarang aku sedang berunding dengan keluargaku terkait rencana konferensi pers."


"Oke, nanti aku akan menghubungimu."


Eric lalu terduduk lemas dan wajahnya termangu melamun apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Nana setelah ini.


"Itu tadi dokter Brian?"


Erica menyela lamunan Eric.


"iya.... dia bilang.... Nana mungkin sudah tahu berita kasus keluarganya...."


"Meski berusaha disembunyikan sedalam apapun, pasti namanya bangkai akan tercium." Mama Julia ikut menyela.


"Tapi kenapa harus di moment ini, ma? Aku bahkan belum menyelesaikan masalah kemarin, dan sekarang masalah lain muncul...."


"Eric.... Mama tahu kamu saat ini sedang kacau. Tapi sekarang atau besok, keadaannya pun akan tetap sama saja. Karma dan dosa itu tidak mengenal waktu atau melihat kesiapan kita."


"Ma.... kak Eric saat ini sedang galau kenapa mama terus mengingatkan karma dan dosanya? Lagipula dia sekarang sudah banyak mendapat balasan dari perbuatannya. Tidak perlu dipertegas lagi."


Eric hanya terdiam mendengar perdebatan ibu dan adiknya. Ibunya memang tidak salah mengatakan bahwa saat ini dia memang pantas mendapatkan karma atas dosanya. Tapi Erica benar, hati Eric saat ini sudah hancur dan semakin hancur jika mengingat itu semua. Tapi sedikitpun dia tidak menyesali perasaannya terhadap Nana meski ia harus babak belur seperti sekarang ini.


"Sekarang apa rencanamu untuk meredakan media dalam memberitakan kasusmu?"


"Seperti yang aku rencanakan bersama Erica, aku akan melakukan konferensi pers. Mungkin memang tidak menjamin semuanya akan terselesaikan, tapi setidaknya aku akan mengkonfirmasi masing - masing berita tersebut."


"Lalu masalah posisimu sebagai Presdir Shine Grup?"


"Aku tetap memutuskan mundur, tapi aku akan mempromosikan Erica. Dengan tetap meyakinkan para perusahaan investment dan shareholders bahwa Shine Grup akan tetap berdiri seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Bukankah mama juga masih memiliki hak tertinggi di jajaran komisaris?"


"Iya, mama bisa membantu, tapi dengan nilai saham tertinggi yang dimiliki Nana saat ini, sepertinya mereka juga akan mencari celah untuk melibatkan Nana. Tapi kita tidak mungkin membawa Nana ke depan mereka dengan kondisi seperti ini."


"Brian adalah penanggung jawab Nana, aku rasa dia bisa diajak berkompromi untuk masalah ini."


-------------------------------


Keesokan harinya, Eric pagi - pagi sudah datang menemui Brian di Rumah Sakit.


"Menandatangani surat pernyataan? Pernyataan apalagi Eric?"


"Iya.... Surat pernyataan bahwa Nana bersedia menjadikan Erica sebagai Presiden Direktur Shine Grup. Dan ini adalah beberapa dokumen yang perlu kamu periksa sebelum menandatangani surat tersebut."


"Tapi apa kamu yakin kalau setelah ini tidak akan ada oknum yang mengganggu Nana lagi?"


"Mungkin setidaknya kekacauan ini akan mereda. Saat ini para jajaran komisaris saling pro kontra karena mereka saling mencari tunggangan demi kepentingan mereka. Dan beberapa pihak yang tidak cocok denganku, mereka tentu saja ingin menjadikan Nana sebagai boneka baru. Posisi Nana sekarang ini adalah pemegang hak saham tertinggi di Shine Grup. Jika setidaknya pengganti Presiden Direktur baru sudah diputuskan atas persetujuan Nana, dengan bukti pernyataan tersebut, maka mereka mungkin tidak akan mengusik Nana."


"Sepertinya aku memiliki ide yang lebih baik. Bagaimana jika kamu tetap memegang hak saham Nana dan Caesar sehingga kamu tetap memiliki posisi kuat sebagai Presiden Direktur, bukankah di mata publik dan hukum kalian masih suami istri kan? Jadi itu juga sekaligus menangkis spekulasi publik tentang keretakan rumah tangga kalian. Bahwa sebenarnya antara kamu dan Nana tidak ada masalah serius meski kasus - kasus tersebut telah terjadi diantara kalian."


"Tapi Brian.... aku akan semakin berdosa pada Nana...."


"Tapi itu yang bisa membungkam publik. Mereka menginginkan kehancuran Shine Grup, dengan lebih dulu menghancurkan kalian."


"Tapi Surat perceraian itu sudah aku tandatangani...."


"Jangan sampai ada orang yang tahu tentang surat perceraian itu."


"Brian.... kenapa kamu melakukan ini? Bukankah kamu yang dari awal menginginkan perceraian itu?"


"Tapi situasinya saat ini berbeda Eric, jika peceraian itu tetap dilakukan. Maka tidak hanya kamu, tapi Nana juga yang akan menjadi sasaran orang - orang yang memiliki kepentingan di Shine Grup."


Eric sejenak merenungkan ide yang diusulkan oleh Brian. Memang ada benarnya usulan Brian. Namun itu akan tetap membebani Eric karena dia masih memiliki kekuasaan atas hak yang seharusnya dimiliki Nana.


Padahal tujuan awal Eric memberikan sebagian besar sahamnya kepada Nana agar Nana bisa tetap melanjutkan hidup terjamin tanpa ada ikatan dengan dirinya. Tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya, dan itu di luar kehendaknya.


"Eric, selain ide yang aku sampaikan tadi, ada hal lain yang harus aku lakukan untuk melindungi Nana...."


"Apa itu?"


"Aku akan membawa Nana ke Amsterdam."


Deg.


Seperti ada ribuan peluru yang menyerang ulu hati Eric,


"Am....sterdam...?"


"Iya... aku harap dengan Nana pergi dari Singapore selama beberapa bulan ke depan bisa menghindarkannya dari tekanan media. Ini semua juga demi melindungi Nana."


"Tapi kenapa harus ke Amsterdam?"


"Lalu kemana lagi? Indonesia? Belum waktunya. Dia saat ini masih labil. Sama saja dia akan semakin tertekan jika menyadari dia sudah kehilangan semua keluarganya."


"Bagaimana dengan Caesar?"


"Itu yang harus kamu bicarakan dengan keluargamu. Lebih cepat lebih baik. Dan aku rasa, sebaiknya kamu melakukan klarifikasi ke media setelah Nana sudah tidak ada disini."


(suara hati Eric)


"Pada akhirnya aku benar-benar berpisah dengan Nana. Harapanku untuk tetap di sisinya meski hanya dianggap sebagai teman baginya, sekarang berakhir sudah... Lagi- lagi ini semua karena kebodohanku..."


(end)


---------------------------------


Eric menemui Mama Julia dan Erica untuk menyampaikan terkait usulan Brian.


"Hmm... ini yang paling masuk akal. Ide dokter Brian lebih masuk akal."


"Tapi Ma.... Eric.... yang keberatan...."


"Kenapa kak Eric keberatan? Bukankah wajar jika suami sebagai perwakilan istrinya?"


"Alasan kenapa aku mengalihkan sahamku kepada Nana dan Caesar......"


Eric terdiam seperti ragu apakah ia harus mengatakannya atau tidak kepada Mama Julia dan Erica tentang perceraiannya dengan Nana.


Mama Julia tiba-tiba memecah suasana menjadi semakin tegang. Eric tidak bisa berkelit, dia hanya bisa mengangguk.


"Dari awal mama sudah curiga saat kamu kukuh untuk melakukan pengalihan hak saham. Kenapa kamu tidak menunggu Nana pulih Eric? Tindakan kamu memang tujuannya baik, tapi itu terlalu gegabah.... Sekarang situasinya sudah seperti ini.... Semakin menyulitkan Nana dan kamu sendiri...."


"Eric hanya tidak mau terikat dengan masa lalu Nana Ma... Eric hanya ingin membuka lembaran baru sebagai orang yang baru dalam kehidupan Nana."


"Lalu sudah sampai mana rencana perceraian kamu?"


"Eric sudah menandatanganinya Ma..."


Mama Julia langsung lemas mendengar ucapan Eric.


"Ya Tuhan, Eric.... Kenapa kamu masih saja sangat...sangat...gegabah...."


"Tapi Eric masih belum menyerahkan surat itu ke Pengadilan. Sebenarnya surat itu sudah lama berada di tangan Eric, sejak mendiang Kevin memohon kepada Eric untuk menceraikan Nana saat masih koma. Namun Eric meminta waktu sampai Nana sadar kembali. Dan sampai waktunya tiba, malah jadi begini. Brian meminta Eric untuk tidak menyimpan dulu surat tersebut,"


"Jadi perceraian itu bukan kehendakmu?"


Eric menggeleng.


"Semua ini adalah keinginan Kevin, Ma... bahkan Mama Lisa juga belum tahu. Tapi Eric semakin takut menyakiti Nana lagi ke depannya."


"Mau tidak mau, kita harus mengirim Nana ke Luar Negeri."


Eric dan Erica tercengang mendengar kalimat dari Mama Julia.


"Mama...! Nana disini masih punya Caesar."


"Jika Nana terus di Singapore, itu akan semakin menyulitkan dia juga. Tujuan kita adalah agar Nana bisa hidup tenang dulu. Caesar bisa sesekali mengunjungi Nana jika dia mau."


Eric hanya mematung dan merenungi usulan ibunya yang sama persis denagan usulan Brian.


"Sebenarnya, Brian tadi juga mengusulkan demikian. Dia akan membawa Nana ke Belanda. Kalo bisa akhir pekan ini."


"Bahkan dokter Brian juga sepemikiran dengan Mama, artinya memang usulan itu sangat logis dilakukan. Kita perlu waktu untuk menangani kasus yang menjadi sangat kacau ini, sedangkan Kita harus bergerak cepat untuk melindungi Nana dengan segera membawanya pergi dari Singapore, agar dia tidak semakin tertekan akibat kasus ini."


"Eric..... " wajah Eric tampak kalut.


"Kenapa? bukankah ini bukan pertama kalinya kamu berpisah dengan Nana, dulu saat kamu mengirim dia ke Phuket dan Bali,...."


"itu dulu ma..." Eric memotong kalimat Mama Julia.


"Dulu Eric memang tidak peduli dengan Nana, tapi sekarang....bahkan Eric bersedia menyerahkan semua kehidupan, kekuasaan, dan harga diri Eric agar bisa tetap bisa berada di sisinya..."


"Jika kamu memang mencintai Nana, seharusnya kamu juga harus mengorbankan perasaan kamu."


Eric sudah kehabisan kata, dia memang menyadari semua salahnya. Setiap kali dia berusaha melakukan yang terbaik untuk Nana, pada akhirnya dia hanya menyakiti Nana. Bukan hanya keluarganya yang tidak mendukungnya, Tuhan pun sepertinya berkehendak untuk memisahkan dirinya dengan Nana.


-------------------------------


Di kamar perawatan Nana,


"Amsterdam?"


"Iya... Kita akan pergi ke Amsterdam.... Kamu, aku, dan perawat Grace. Karena Anne memiliki anak, jadi dia tidak bisa ikut."


"Berapa lama kak?"


"Ehm.... mungkin sekitar 3 bulan ... 4 bulan ... atau bisa lebih dari itu."


"Kenapa mendadak sekali kak?"


"Disana aku punya banyak teman dokter spesialis saraf, sub spesialis saraf cerebral, dan masih banyak lagi."


"Jadi aku ada kemungkinan aku bisa mengingat kembali kak?"


"Aku tidak bisa menjamin itu... karena memori itu sifatnya fiksi. Yang bisa mengembalikan semua itu hanya Tuhan dan orang yang mengalaminya sendiri."


"Tapi aku ingin pergi ke Jakarta dulu kak, aku ingin ketemu mama, papa, dan kak Kevin..."


Brian mengangguk, sambil mengelus kepala Nana. Dia melihat kesenduan dalam wajah Nana. Dia tahu sebenarnya Nana masih belum siap menerima semua kenyataan ini, maka dari itu dia ingin menjauhkan Nana dari semua masa lalu Nana. Dia ingin Nana melanjutkan hidup baru dan dengan memori yang baru.


Brian keluar dari kamar Nana, berselang beberapa menit kemudian, Eric datang.


Eric menuju kamar perawatan Nana sambil membawa buket bunga lily. Eric tahu Nana menyukai lily karena ia sering melihat bunga lily tertata di vas kamar Nana.


Nana sedang terbaring di bed, dia melihat dari sela-sela gorden saat Eric akan membuka pintu kamarnya. Nana memalingkan wajahnya ke arah jendela yang berlawanan dengan posisi pintu psambil pura-pura terpejam.


Eric meletakkan buket bunga lily di kabinet dekat bed Nana. Lalu duduk di sebelah bed Nana.


Jantung Nana berdegub sangat kencang, dia bahkan berkali-kali mengepalkan tangannya di dalam selimut.


Dalam hati Nana penuh dengan pertanyaan yang selalu memenuhi isi kepalanya sejak ia mengetahui berita-berita kasus Eric dan dirinya 2 hari lalu,


"Benarkah dia suamiku....


Benarkah dia orang yang mengkhianatiku...


Benarkah dia yang membuatku kehilangan keluargaku...."


"Nana....


Aku datang kemari, sebenarnya membutuhkan keberanian yang lebih.


Aku baru bisa sekarang datang kemari sejak kamu mulai mengetahui siapa aku.


Karena sejujurnya aku terlalu pengecut untuk menemuimu saat kamu terjaga.


Ya....aku memang laki-laki yang pernah mengikrarkan janji untuk menjadi suamimu, tapi aku juga yang telah mengingkari janji itu selama menjadi suamimu....


Nana....


Tak bisa aku pungkiri saat ini aku sangat berharap untuk membuka kembali lembaran hidup baru bersamamu. Tapi sepertinya setiap aku berusaha untuk dekat denganmu, aku selalu gagal. Mungkin Tuhan tidak rela atau tidak memantaskan diriku untuk bersamamu lagi, meski keinginanku sederhana, aku hanya ingin menjadi temanmu....


Jika harus aku ceritakan dari awal pertemuan kita, aku sangat malu melihat diriku yang saat itu begitu bodoh mengabaikanmu....


Bahkan saat kamu mengandung Caesar, aku terlambat mengetahuinya dan justru membuatmu menghindariku.... Sebegitu jahatnya aku padamu, sampai kamu tidak menghendakiku berada di sampingmu....


Dan bertahun-tahun setelah kita menjalani hidup yang baik-baik saja, malah aku yang pertama kali menggores luka hatimu. Membuatmu kehilangan duniamu....


Cinta butaku terhadap orang lain telah menyesatkanku sampai aku tidak pernah menyadari dan mensyukuri bahwa aku memiliki wanita sempurna sepertimu yang seharusnya tidak aku sakiti seperti ini..."


Nafas Eric mulai berat, dia seolah tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi. Mata dan wajahnya sudah meleleh karena aliran air mata yang terus mengalir.


Nana terus mengepalkan tangannya di dalam selimut. Sebenarnya dia sudah tidak bisa menahan air matanya, tapi dia berusaha sekuat mungkin untuk tetap terpejam.


"Nana....


Aku harap semoga setelah ini kamu berbahagia, tanpa aku di sisimu.


Aku sudah bukan manusia di matamu. Aku tidak mampu lagi memperbaiki keadaan ini.


Aku hanya terus dan terus melibatkanmu dalam masalah....


Sepertinya, kita memang harus berpisah....


Tapi....."


Eric menghela nafas dalam, lalu berusaha menata hatinya lagi untuk berbicara lagi...


"Aku.....Aku.....


Aku harus mengikhlaskanmu....


Karena aku mencintaimu...."


Suara Eric semakin parau, dia sudah tidak bisa melanjutkan ucapannya....


Dadanya sudah sangat sakit, hanya suara sesenggukan yang keluar dari mulutnya...


Eric pun keluar dari ruangan Nana dan pergi.


Setelah suara langkah Eric tidak terdengar lagi. Nana membuka matanya dan langsung membuka selimutnya.


Nana yang sejak tadi menahan tangisnya, kini ia sampai memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sakit.


Nana menggigit bibirnya hingga berdarah namun tak dirasakannya karena dadanya terlalu sakit.


Meskipun Eric sudah mengakui segala dosanya, bahkan bersujud di kaki Nana sekalipun, Nana masih belum bisa mengingat apapun.


Meski Eric yang menyebabkan Nana kehilangan keluarganya, kehilangan dunianya, kehilangan apa yang ia miliki dan membuat dirinya selalu menderita.


Dia tak bisa membenci Eric karena yang lebih sakit baginya saat ini adalah kehilangan memorinya.


Tangan kanan Nana mencengkeram bajunya sendiri yang sudah basah karena air matanya. Sedangkan lengan tangan kirinya menutupi matanya.


Meski saat ini kepalanya sangat sakit, hingga hidungnya mengalirkan darah, rasa sakit itu tidak mampu mengalahkan rasa perih di dadanya.


"Ya Tuhan.... kembalikan semuanya...."


"Kak Eric, bagaimana mungkin aku membencimu.... bahkan mengingatmu pun aku tidak mampu...."


(suara hati Nana)


Hal yang paling menderita di dunia ini, adalah ketika kita menyadari bahwa kita berdiri sendirian,


Merasa kehilangan arti dalam hidup....


Untuk apa, siapa, dan bagaimana kita akan hidup....


(end)



------------------------------


Apakah Nana akan tetap memutuskan ke Belanda?


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....