I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] MUSUH LAMA



"Aku Regal."


Anak laki-laki itu berdiri di depan Jasmine yang masih dalam posisi agak merunduk setelah mengungkapkan permintaan maaf karena telah menabraknya.


Jasmine menegakkan dirinya, lalu menghadap lurus ke wajah Regal. Dia menyambutkan tangan kanannya ke hadapan Regal layaknya orang yang mengajak berjabat tangan memperkenalkan diri.


"Benar. Aku Jasmine. Kita satu kelompok kelas matematika. Selamat bergabung."


Regal hanya melirik tangan Jasmine selama beberapa detik.


"Oke. Aku hanya memastikan." Regal berbicara dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Lalu Regal kemudian pergi berlalu melewati Jasmine dan meninggalkannya begitu saja dalam posisi mengajak berjabat tangan.


"Apa?" Jasmine bergumam.


Jasmine menoleh ke arah Regal yang terus berjalan melewati koridor.


"Apa-apaan ini, kenapa selalu ada yang aneh dengan anak-anak orang kaya di sini."Jasmine meracau dalam hati.


***



***


---------------------------------------


Brakkk!!!


"Berapa kali aku bilang pada kalian, dia bukan orang yang mudah diajak negosiasi."


Seorang pria berumur sekitar lima puluh tahunan menggebrak meja kerjanya yang terbuat dari kayu. Suara gebrakannya bahkan sampai terdengar hingga lantai dasar.


Langkah Steven terhenti mendengar gebrakan meja dari ruang studi ayahnya, Gie Kwan.


"Steven... kamu sudah pulang sayang?" seorang wanita berusia tiga puluh tahunan menyambut Steven.


Namun Steven menangkis.


"Jangan menyentuhku." Steven mengibaskan tangannya lalu pergi meninggalkan wanita tersebut.


Steven berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua, namun berbeda arah dengan ruang studi ayahnya.


Steven masuk kamar dan merebahkan dirinya ke atas kasur empuk dan membenamkan wajahnya ke bantal.


Sejenak kemudian, ponsel Steven berbunyi. Di layar ponselnya tertampil nomor asing yang menghubunginya.


Steven mengerutkan dahinya, dengan sedikit ragu dia mengangkat ponselnya.


"Halo, Steven. Maaf menghubungimu. Tapi besok ada kerja kelompok karena tadi sepulang sekolah, Mrs.Neena baru saja memberikan tugas."


"Oke"


Panggilan terputus.


Steven menjawab singkat panggilan itu. Lalu dia kembali membenamkan wajahnya ke bantal. Selama beberapa menit.


Steven mengingat kembali memori saat kemarin dia mendapati dirinya satu kelompok dengan Regal.


Steven kembali mengepalkan tangannya. Dengan posisi wajah yang masih terbenam di bantal. Steven memukul-mukulkan tinjunya ke sandaran kasur.


Yang dirasakan Steven saat ini adalah kekesalan.


----------------------------------


Keesokan harinya,


Jam pelajaran sudah usai, Jasmine dan beberapa anggota kelompoknya masih berada di dalam kelas yang sudah kosong.


Jasmine membagikan lembaran kertas kepada beberapa anggota study group-nya yang saat ini sudah duduk di meja bundar dengan posisi melingkar.


"Yap, ini adalah tugas yang harus kita selesaikan. Aku harap semuanya sudah mengerti bagian masing-masing."


"Tapi, sepertinya kita masih kurang kedatangan seorang lagi." ucap Tania.


"Ya... aku sudah menghubunginya. Dia mungkin sedang perjalanan ke sini." Jasmine menjelaskan.


"Dia tidak akan datang!" Steven tiba-tiba membuka mulutnya.


Semua anggota menghadap ke arah Steven.


"Dia tidak akan ke sini karena dia tahu ada aku. Salah sendiri kami dijadikan satu kelompok." Steven berucap dengan santai.


"Apa hubungannya? Jadi kalian saling mengenal?" Tanya Jasmine.


"Ya, kami memang saling mengenal, sejak kecil!" Tatapan Steven menjadi semakin tajam.


"Lalu apa alasannya dia tidak akan datang hanya karena ada dirimu?" Jasmine semakin penasaran.


"Permaisuri kaum elite tidak akan bisa kalian mengerti, terutama bagi anak beasiswa dari negara lain." Lirikan Steven kepada Jasmine tampak sangat sinis.


"Aku memang tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Tapi karena ini berkaitan dengan performa kelompok, maka ini akan jadi urusanku." Jasmine menegaskan.


"Orang negara berkembang memang keras kepala!" Steven semakin menghina.


"Steven! Jaga mulutmu. Orang-orang sepertimu yang akan menghancurkan negara kita sendiri." Tania mengumpat.


"Apa katamu?!" Steven berdiri


Tok tok.


Suara ketukan pintu menghentikan gerakan Steven.


"Rupanya kalian di sini."


Steven terbelalak melihat sosok yang berdiri di pintu dan saat ini berjalan mendekati meja bundar mereka.


"Beraninya kamu datang, Regal..."


Regal hanya diam bahkan seolah dia tidak melihat Steven. Seolah di matanya Steven tidak ada.


Namun, hanya ada satu kursi kosong. Ada di antara Karim dan Steven.


Regal terdiam sejenak, lalu dia berdiri di samping Ajhay.


"Kamu pindah ke sana!" Regal menunjuk kursi yang ada di sebelah Steven.


Ajhay dengan sigap dan segera mengemasi alat tulisnya untuk pindah. Namun karena dia dalam kondisi gugup karena sikap Regal yang dingin, akhirnya barang-barang Ajhay terjatuh semua.


Jasmine melihat Ajhay yang kerepotan, merasa kasihan.


"Ajhay, tetap di situ saja. Biar aku saja yang pindah."


Jasmine memindahkan alat tulisnya. Regal dengan cuek langsung duduk menempati kursi Jasmine.


"Kalian lihat tingkahnya..." Steven kembali menimpali.


"Cukup Steven, kali ini tolong jangan buat keributan lagi." Jasmine sambil meletakkan buku-bukunya di meja di samping Steven.


Steven duduk kembali namun ia masih menatap tajam ke arah Regal.


Selama bebeapa menit hingga hampir satu jam, sepanjang mengerjakan tugas kelompok, Regal dan Steven sama sekali tidak melakukan apa-apa.


"Haizz... sampai kapan kalian berdua akan seperti ini? Steven, matamu tidak perih menatap Regal sejak tadi? Dan Regal...!" Tania mencopot headset yang terpasang di telinga Regal.


"Aku tahu kamu pasti masih bisa mendengar kami. Jadi jangan pura-pura tuli."


Regal terkejut dengan tindakan Tania yang tidak terduga. Dia lalu berdiri tanpa berkata apapun. Seolah ingin meninggalkan meja mereka.


"Regal tunggu! Kamu tidak boleh pergi dari sini. Kita masih belum selesai." Jasmine tiba-tiba membuka mulutnya.


Regal sempat menoleh, namun dia berbalik lagi karena menyadari Jasmine yang duduk di samping Steven.


"Aku mau keluar." Regal menjawab dengan santai tidak peduli di sana teman-temannya masih duduk.


"Dasar pecundang." Steven tiba-tiba bersuara.


Selang kurang dari satu detik, Regal melayangkan sebuah tinju tepat ke wajah Steven.


Namun secepat kilat Steven mengepalkan tangan menahan tinju Regal. Tapi kondisi meja belajar saat ini kacau dengan buku berserakan di atasnya.


Karim ketakutan sampai harus dipegangi Tania. Jasmine yang duduk di samping Steven sempat hampir terjungkal ke belakang namun ditahan kursinya oleh Ajhay.


"Kamu pikir aku tidak berani melakukannya?" Regal mencengkeram kerah baju Steven.


"Tapi aku ingin tahu apa yang akan dilakukan ayahmu saat mengetahui anaknya dipukul dan tidak mampu melawan." Regal mengkonfrontasi balik.


Mata Steven semakin memerah. Dia sangat kesal dan marah mendengar ucapan Regal yang menyangkut ayahnya.


"Anak lemah..." Regal semakin menusuk Steven dengan kata-katanya.


Steven mendorong Regal hingga bangku-bangku kali ini terbalik.


"Stooop!!!" Jasmine berlari ke arah mereka Steven dan Regal.


"Hentikan sekarang juga! Tania, cepat panggil petugas keamanan!"


"Apa katamu?!!!" Steven di tengah emosinya semakin mengamuk dengan melempar kursi ke arah pintu sebelum Tania melewatinya.


Tania kaget sekaligus ketakutan.


Steven mengabaikan Regal yang terjatuh dan meraih leher Jasmine. Dia mencekik Jasmine.


Jasmine terkejut, begitu juga dengan Ajhay, Tania, dan Karim yang berada di kelas itu turut terkejut dan terbelalak melihat Steven yang menggila.


"Jangan ikut campur anak luar! Kamu tahu apa, hah??!!!"


Regal segera bangun dan secepatnya mencengkeram dengan kuat tangan Steven yang mencekik Jasmine.


"Steven hentikan! Kamu mau membunuhnya?!!"


Cengkraman Regal yang kuat ternyata mampu melemahkan tangan Steven yang mencekik Jasmine, hingga akhirnya terlepas.


Jasmine segera ditarik ke belakang oleh Tania agar menjauh dari Steven dan Regal.


"Kalian keluar sekarang juga! Tapi jangan ada yang berani melaporkannya pada petugas atau guru!" Regal menegaskan.


Steven menghempaskan tangan yang dicengkeram oleh Regal.


"Aku yang keluar! aku tidak mau berada di grup ini lagi!"


Steven keluar dari kelas, namun ia sempat melirik Jasmine dengan tatapan yang sinis penuh kekesalan.


Jasmine sempat melihat mata Steven namun ia memalingkan wajahnya karena ketakutan.


"Ya Tuhan aku tidak mau berurusan dengan anak-anak ini." Jasmine berucap dalam hati.


Regal memunguti bukunya sendiri yang berserakan. Lalu diikuti oleh Ajhay dan Karim yang merapikan meja dan bangku yang terbalik.


Sesaat kemudian, Regal beranjak pergi.


"Regal... Terimakasih." Jasmine mengucapkan dengan lirih


"Aku tidak melakukannya demi kamu. Jangan berlebihan. Aku memang berkonflik dengannya." Regal lalu pergi begitu saja tanpa memberi isyarat apa-apa.


------------------------------------


Steven berjalan cepat ke belakang sekolah. Di sana tidak ada siapa-siapa. Steven memutar kran air dan menyiramkan wajahnya. Tidak puas sampai disitu, ia pun memutar kepala kran air hingga mengahadap ke atas lalu menyemburkan air ke wajahnya secara langsung.


Steven terus seperti itu sampai hampir lima menit, agar tidak ada yang tahu, bahwa dia sedang berderai air mata.


(flashback)


"Steven, ucapkan salam pada ayahmu."


"Maafkan mama, kamu harus ikut ayahmu karena dia yang bisa membuat hidupmu tidak kekurangan."


"Steven, jika kamu berani menunjukkan kelemahanmu, maka kuanggap kamu gagal sebagai putraku."


"Buktikan padaku kalau kamu pantas disebut sebagai Tuan muda Kwan!"


(End)


Steven mengerang karena kepalanya terasa nyeri. Satu per satu kalimat dari mama dan papanya, terus menghujam pikirannya.


"Regal Shine, hanya kamu jalan tercepatku untuk mendapatkan pengakuan dari papaku. Jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri yang terlahir dari keluarga Shine."


"Sedang apa kamu di sini, Stev..." seseorang dari arah belakang mengejutkan Steven.


Noah sudah berdiri di belakang Steven.


"Aku tidak melakukan apa-apa."


"Kamu tidak membuat masalah lagi kan?"


Steven menepis Noah yang mencoba memberi perhatian pada sepupunya itu.


"Bukan urusanmu, Noah."


"Mama baru saja mendapat kabar dari ibumu. Dia baru saja melahirkan. Apa kamu tidak menjenguknya?"


Steven hanya diam dan terus berjalan menghindari Noah. Namun Noah terus berjalan mengikuti Steven dari arah belakang.


"Dia tidak memberi tahuku, untuk apa aku harus ke sana. Anggap saja aku tidak tahu apa-apa."


Steven tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju ke arah lurus di depannya.


"Pemandangan apa ini?" Steven bergumam sendiri.


Steven melihat dari kejauhan Jasmine mengikuti langkah Regal yang berjalan menuju mobil jemputannya. Namun langkah Jasmine terhenti setelah Regal masuk mobil.


Dari seberang jalan, terlihat Caesar sedang memperhatikan Regal. Bukan, lebih tepatnya memperhatikan Jasmine.


Steven melihat ekspresi beku di wajah Caesar saat melihat Regal. Bahkan setelah mobil Regal meninggalkan gerbang sekolah, Caesar justru masih berdiri dengan sepedanya, memperhatikan Jasmine yang masih terpaku di tempatnya.


"Wah.... sepertinya akan menarik."


"Apa? Apa yang menarik?" Noah menimpali.


Steven hanya diam.


Tapi dalam hatinya ia kegirangan seolah menemukan ide baru.


Steven tidak bodoh. Dia bisa melihat aura permusuhan di antara kedua kakak beradik itu. Dan sepertinya, dia akan memiliki umpan baru sebagai bahan untuk memprovokasi Regal.


***



***


-----------------------------------


Main Kuis


Apa yang akan dipikirkan Steven untuk memprovokasi Regal?


Apakah Steven bermaksud untuk memanfaatkan Jasmine?


Apakah Steven akan mendekati Caesar untuk memastikan bahwa kedua kakak beradik itu memiliki hubungan yang tidak baik?


Tetapi dari semua tujuan Steven, semuanya adalah untuk memprovokasi Regal.


***Halo sobat pembaca***


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**