
"Katakan padaku, apa kamu mau ikut denganku atau tidak?"
Caesar menatap mata Rosie dengan serius. Bahkan tak bisa memberikan kesempatan Rosie untuk hanya sekedar berkedip.
Rosie tak bisa langsung memberikan jawaban pasti, untuk menggerakkan sendi lehernya mengangguk atau menggeleng dia masih tak mampu. Rosie melirik ke arah ayahnya, Gunawan. Dia berharap dengan melihat ekspresi ayahnya, ia bisa mencerna situasi yang dihadapinya saat ini. Sehingga ia bisa merespon pertanyaan Caesar.
Gunawan menyayukan wajahnya, berharap Rosie bisa mengerti siratan yang di wajahnya bahwa ia ingin mengatakan, "Jangan nak... jangan hanyutkan lagi dirimu dengan keluarga Tuan Eric."
Rosie rupanya bisa membaca pikiran ayahnya, ia tahu ayahnya hanya ingin hidup tenang bersamanya. Terlalu banyak pengorbanan yang telah dibayar untuk berdiri di tempat ini sekarang. Bukankah Rosie sendiri juga selama ini telah terbiasa menjalani hidup seperti ini, tanpa Caesar.
"Rosie... katakan..." Caesar semakin mengikat pandangan Rosie.
Rosie gentar. Dia tak pernah melihat Caesar dengan wajah serius seperti itu. Terlebih selama beberapa tahun ini ia tak pernah bertemu dengan Caesar. Berhadapan dengan wajah Caesar versi dewasa ditambah tatapan memburunya yang asing bagi Rosie, seperti ia sedang berhadapan dengan orang asing yang siap mengeksekusinya.
***
***
Malam hari di Four Seasons Hotel,
Shaila duduk di ruang tunggu sambil mengetik di ponselnya. Wajahnya tampak serius dengan tatapan yang sedetik pun tak lepas dari layar ponselnya.
"Shaila,..." Caesar memanggil Shaila yang kemudian tersentak kaget dan buru-buru mematikan layar ponselnya.
"Ya... oh, bagaimana dengan Rosie?"
"Dokter Felix sedang memeriksanya, dokter Nick juga sedang menyiapkan dokumen rujukan ke Massachusetts Hospital."
"Jadi besok kamu benar-benar pergi ke Massachusetts?"
Caesar mendenguskan nafasnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Dan kamu... akan tetap di sini?" Caesar menundukkan wajahnya lalu perlahan duduk di samping Shaila.
Shaila mengeluarkan ponselnya.
"Karena masa internshipku tinggal 3 bulan lagi di sini, jadi aku harus segera menyelesaikannya. Karena kondisi abah semakin tidak sehat..."
"Lalu selanjutnya kamu akan kembali ke Singapore?"
Shaila mengangguk dengan tetap menundukkan kepalanya tanpa sedikitpun menatap Caesar.
"Baru saja abah masuk rumah sakit lagi karena tiba-tiba pingsan saat sedang makan..."
Caesar mengelus kepala Shaila, namun tiba-tiba Shaila menyandarkan kepalanya ke dada Caesar sambil sejenak memejamkan matanya.
"Aku akan merindukan kekasihku ini...." ucap Shaila dengan sedikit menggoda Caesar.
Caesar sebenarnya pun juga tidak tega meninggalkan Shaila. Mungkin Shaila memang sudah pernah hidup sendiri selama di Miami sebelumnya. Karena saat Caesar memulai internship di Miami, Shaila sudah satu tahun berada di Miami. Bahkan karena alasan itulah Caesar pindah wahana internship ke Miami Hospital yang sebelumnya dia ditugaskan di Massachusetts Hospital.
"Maafkan aku baby.... aku harus---"
Shaila menghentikan kalimat yang akan diucapkan Caesar dengan membungkam bibir Caesar dengan jarinya. Lalu ia menegakkan badannya yang sejak tadi bersandar di dada Caesar.
"Aku tahu kamu pun juga dilema. Tapi bukankah Rosie dan Pakcik adalah orang yang penting bagimu. Mereka adalah orang yang menjadi titik balik bagi dirimu. Bertahun-tahun ini aku selalu melihatmu terbelenggu dalam rasa bersalah yang mendalam. Jika kamu tidak bisa menggapai adikmu untuk menebus dosamu padanya, setidaknya kamu bisa menggantinya dengan menjaga Jasmine. Dan saat ini Tuhan benar-benar memberimu kesempatan kedua. Dia kini ada di depanmu. Jadi lakukanlah tugasmu..."
Shaila menangkupkan jemari tangan kanannya ke pipi kiri Caesar yang membuat Caesar terpejam sejenak, mencoba menyesapi kehangatan suhu tubuh Shaila melalui sentuhan tangan Shaila di wajahnya.
"Shaila, jika semua ini telah selesai... Aku pasti akan kembali padamu..."
Shaila hanya tersenyum sayu dengan melipat bibirnya ke dalam mulutnya. Tak mengangguk maupun menggeleng. Shaila tidak tahu ia harus menjawab apa. Karena dirinya tidak ingin terlalu memberi Caesar harapan yang tak memiliki kepastian.
"Aku tidak akan berubah kepadamu..."
Shaila melepaskan tangannya dan kembali duduk bersandar di kursi dengan benar menghadap ke depan.
Caesar tidak berpikir negatif dengan kalimat yang diucapkan Shaila. Ia hanya berpikir Shaila tentu tidak akan meninggalkannya karena masalah Jasmine. Sebab Caesar sangat mengenal Shaila bukan orang seperti itu, dan Shaila pun juga mengerti hubungan seperti apa yang Caesar berikan pada Jasmine.
--------------------------------------
Dokter Felix sedang berbicara sejenak dengan Gunawan di sudut ruang tamu suite room. Sementara Jasmine yang telah selesai diperiksa dokter Felix beberapa menit yang lalu masih terduduk di tempat tidur.
Pandangan Rosie jauh menatap ke arah kaca jendela yang sengaja gordennya ia buka agar ia bisa melihat view Kota Miami dari ketinggian lantai 12 tempat ia berpijak saat ini.
"Sebentar lagi... sebentar lagi aku akan kembali berada di tengah-tengah dunia itu..." hati Rosie terus bergumam.
Rosie tidak tahu apakah keputusan yang saat ini ia percayakan pada Caesar, adalah keputusan terbaik atau keputusan yang salah yang kelak bisa menimbulkan masalah baru yang seharusnya ia hindari.
Namun Rosie berpikir, jika ia bersama Caesar saat ini, dia akan aman dari segala hal yang berhubungan dengan Regal. Jika prediksi Rosie tetap pada hubungan Caesar dan Regal saat enam tahun yang lalu. Setidaknya Regal tidak akan berani mengoyak atau ikut campur dengan hidup Caesar. Maka bisa dipastikan Regal tidak akan mengetahui atau mencari tahu jati dirinya jika ia bergantung pada Caesar.
Meskipun sama-sama hidup bergantung, jika ia bergantung pada Eric mungkin hal serupa yang saat ini terjadi pasti akan terjadi kembali. Jika saat ini Caesar saja bisa berhasil mengetahui siapa Rosie meskipun Eric telah berusaha susah payah bertahun-tahun membangun individu baru dalam hidup Rosie dan Gunawan. Bukan mustahil jika tidak lama lagi Regal pun akan mengetahui keberadaan Rosie dan Gunawan.
"Blam"
Terdengar suara orang menutup pintu.
Rupanya itu adalah Gunawan yang datang setelah ia mengantar dokter Felix keluar dari suite room mereka.
Gunawan berjalan menuju tempat tidur Rosie dan melihat putrinya itu terdiam menatap luar kaca yang mungkin dia sengaja membuka gordennya. Gunawan duduk di samping Rosie dan memperhatikan arah pandangan anaknya.
"Apa kamu merindukan dunia luar nak...?"
Rosie mengangguk tanpa menoleh, dengan tatapan yang masih ke luar kaca.
"Apa selama ini kamu seperti terbelenggu? Papa pikir kamu selama ini kuat... maafkan papa..."
Rosie menunduk dan menulis pada sticky note yang dibawanya.
"Papa, aku sangat bahagia dengan semua yang aku jalani. Keputusan papa yang menerima kehendak Tuan Eric sama sekali tidak salah. Tidak ada seorangpun orang tua di dunia ini yang kuat melihat anaknya terkapar tak berdaya seolah menunggu kematiannya. Dan aku yakin papa saat itu tak punya pilihan lain. Selama aku menjalani kehidupan keluar masuk ruang operasi, beberapa kali harus bertaruh nyawa di atas meja operasi, sekilas melihat pisau bedah yang beberapa menit kemudian memotong kulitku, organku, hingga menembus ke tulangku... aku tidak pernah menyesali itu. Karena beginilah jalan agar aku tetap hidup... Aku kuat papa..."
Gunawan membaca dan mencerna setiap kata yang ditulis Rosie. Anak perempuannya ini begitu berlapang dada menerima takdir yang bagi Gunawan sendiri sulit dia jalani. Tapi Rosie selalu saja memiliki semangat yang lebih tangguh dari Gunawan padahal dia yang saat ini menjadi tokoh utama dalam takdir yang menyedihkan ini.
Apa daya Gunawan selain ingin anaknya bisa hidup. Sekalipun Rosie semisal memiliki kecacatan seumur hidup pun, Gunawan masih tetap bersyukur asal ia bisa tetap melihat anaknya hidup. Namun karena belas kasihan Eric yang membuat mereka beruntung, Rosie bisa mendapatkan treatment hingga kini hampir bisa hidup dengan normal.
"Lalu mengapa kamu bersedia mengikuti Tuan Caesar daripada Tuan Eric?"
Rosie kembali menulis. Namun kali ini lebih panjang dari sebelumnya.
"Alasannya adalah Tuan Eric adalah ayah Regal. Orang yang berhubungan dekat dengan Regal. Sedangkan Tuan Caesar adalah orang yang dulunya sangat dihindari oleh Regal. Aku yakin jika kita tetap bergantung pada Tuan Eric, tidak butuh waktu lama bagi Regal akan mengetahui siapa kita sebenarnya. Sedangkan jika kita bergantung pada Tuan Caesar, setidaknya Regal tidak akan berani mengusik teritorial Tuan Caesar. Karena setauku dulunya Regal dan Tuan Caesar memiliki hubungan yang tidak harmonis. Dan mungkin inilah alasan Tuan Caesar berada di Amerika. Karena dia ingin memiliki teritorial sendiri yang jauh dari jangkauan Regal. Setidaknya kelak kita bisa hidup normal kembali."
Gunawan sedikit tercengang dengan penjelasan yang ditulis oleh Rosie. Entah dia sendiri tidak terpikirkan hal seperti itu. Mungkin memang benar, tidak akan cukup bagi mereka dan Eric menyimpan rapat rahasia mereka. Karena suatu saat Regal pun akan mencium kebenaran bahwa Jasmine masih hidup. Sama seperti Caesar saat ini yang tanpa mereka duga menemukan mereka dengan segala bukti kebenaran yang bahkan sedikitpun mereka tak bisa mengelak, bahkan Xing juga sampai bungkam.
"Lalu setelah ini, apakah seterusnya kita akan bergantung pada Tuan Caesar?" tanya Gunawan.
Rosie menatap tajam langsung ke mata Gunawan, ia sedang membaca pikiran ayahnya melalui tatapan mata ayahnya.
Rosie kembali menulis,
"Setelah aku menjalani operasi bedah plastik yang terakhir kalinya ini, maka aku akan memohon pada Tuan Caesar untuk melepaskan aku. Aku yakin dia sendiri juga tidak memiliki alasan untuk menahanku. Dan aku juga yakin dia akan bersedia melakukan seperti yang dijanjikan Tuan Eric, saat aku seutuhnya menjadi Rosie, maka mereka akan melepaskan kita asalkan kita tidak kembali ke Singapore."
Wajah Gunawan sedikit tersirat memiliki harapan. Dia berusaha meyakini apa yang menjadi keputusan Rosie.
Gunawan memeluk Rosie untuk saling menguatkan satu sama lain. Namun dalam pelukan Gunawan, Rosie justru yang tadinya tersenyum ia malah perlahan memasang wajah yang penuh kecemasan. Karena Rosie sendiri juga masih berharap semoga keputusannya kali ini bersama dengan Caesar adalah keputusan yang tepat.
Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. Gunawan bergegas berjalan menuju pintu dan mengintip dari lubang loop kecil yang ada di pintu. Tampak Caesar berdiri bersama Shaila sedang menunggu di depan pintu.
Gunawan membukanya lalu mempersilakan Caesar dan Shaila masuk.
"Halo pakcik..." sapa Shaila.
"Tadi kami sudah bertemu dokter Felix dan dia banyak bercerita tentang kondisi Rosie saat ini dan selama dua tahun terakhir ini... di mana Rosie?" Caesar terlihat celingukan mencari sosok Rosie di ruangan itu.
"Rosie barusan istirahat... jika memang ada yang perlu disampaikan, saya siap mendengarkan..."
Caesar dan Shaila duduk di kursi tamu tempat yang sama dengan pada saat dokter Felix dan Gunawan berbincang.
"Sebenarnya kami lah yang ingin mendengarkan... Pakcik... bisakah kami... meminta penjelasan dari pakcik terkait perjalanan pakcik dan Rosie selama enam tahun ini? Mungkin sebagian sudah diceritakan oleh Tuan Eric, namun kami ingin mendengar dari sudut pandang pakcik sendiri..."
Shaila mencoba bicara dengan lembut dan hati-hati pada Gunawan. Berharap Gunawan bersedia mencurahkan cerita yang ingin didengar oleh Caesar dan Shaila.
Gunawan menunjukkan mimik wajah yang menampakkan keraguan seolah ia tidak yakin apakah ia perlu menceritakan perjalanannya selama enam tahun ini kepada Caesar dan Shaila.
Melihat keraguan di wajah Gunawan, Caesar mencoba meyakinkan.
"Pak Gunawan tidak perlu takut, saya tahu mungkin yang dirasakan dari sudut pandang pak Gunawan memang berbeda dari yang ayahku ceritakan. Sekalipun pak Gunawan selalu patuh pada ayahku, tapi saya rasa ada alasan tertentu yang tidak dapat pak Gunawan sampaikan pada ayahku...."
Gunawan masih diam, namun matanya perlahan berair. Gunawan mencoba menahan rasa perih di matanya. Namun semakin ia berusaha, sesak yang terasa menekan dadanya semakin membuat tekanan saraf kelenjar air matanya tak bisa dikendalikan. Hingga jatuhlah aliran air mata yang ingin sekali ia tahan. Dan terpaksa Gunawan harus mengusap air matanya di depan Caesar dan Shaila.
"Saya tidak punya pilihan lain....Saya hanya ingin Jasmine hidup..."
Dalam mengucapkan satu kalimat itu pun Gunawan terdengar sesenggukan.
"Melihat tubuhnya yang kecil tak berdaya saat itu, apa yang bisa dilakukan seorang ayah miskin seperti saya saat seseorang menawarkan untuk menanggung biaya pengobatan Jasmine hingga sembuh.... Saya yakin jika ada seseorang yang bernasib sama, dia pun akan memilih keputusan yang sama dengan yang saya lakukan saat ini...."
Shaila memalingkan wajahnya lalu mendongak sambil berkedip-kedip menahan air mata yang sudah siap mengalir pipinya. Tapi air matanya akhirnya jatuh juga dari tepi matanya membasahi hijab yang menempel di wajahnya.
Sementara Caesar tampak lebih tegar menghadapi Gunawan. Dia jelas tahu apa yang dirasakan Gunwana, terlebih saat enam tahun lalu Jasmine masih koma, selama tiga hari Gunawan seperti mayat yang bernyawa. Menjaga Jasmine tanpa merasa lapar dan haus. Bahkan untuk makan pun rasanya seperti tersendat di kerongkongannya.
"Pak Gunawan, saat itu mengapa anda tidak jujur saja setidaknya memberiku clue bahwa Jasmine sebenarnya tidak meninggal. Sehingga saat kalian berada di Amerika, aku bisa menjaminkan hidup kalian..."
"Tuan Eric mengawasi kami dan kami juga tidak tahu Tuan Caesar ada di Amerika."
"Sekalipun kalian tahu, pasti kalian akan menghindariku kan?"
Gunawan hanya diam tertunduk, tapi Caesar sudah menebak jawabannya.
"Lalu tentang identitas Rosie.... ayahku juga yang memberikannya?"
"Ya... kami hanya pasrah menjalankan apa yang diminta Tuan Eric. Meskipun Tuan Eric tidak pernah mengancam kami, tapi membayangkan Tuan Eric kecewa jika kami mengingkari janji kami, itu sudah cukup membuat kami takut."
"Pada saat kalian pertama kali di Amerika, bagaimana kondisi Jasmine... ah maksudku Rosie..."
"Pada saat awal berada di Amerika, Rosie pertama kali dibawa ke John Hopkins. Di sanalah beberapa kali Rosie menjalani operasi besar. Mulai dari transplantasi organ, penyambungan tulang, hingga rekonstruksi jaringan tubuh. Berkali-kali koma dan bangun lagi, lalu operasi dan koma kemudian bangun lagi, begitu seterusnya. Itu adalah masa terberat bagi kami. Selama dua tahun."
Gunawan menghela nafas sebentar lalu melanjutkan,
"Dan setahun selanjutnya, dokter mulai fokus pada pemulihan Rosie. Tapi bisa dibilang saat itu Rosie masih dalam kondisi cacat... Dia masih belum bisa berjalan, melihat dengan jelas, dan wajah yang masih separuhnya tak berbentuk karena bekas luka bakar. Saat semua organ transplantasi berfungsi dengan sempurna, barulah kami dipindahkan ke Miami. Di sinilah Rosie mulai menjalani operasi tahap lanjutan untuk bagian wajahnya. Dokter memberi tahu kami bahwa Tuan Eric yang meminta mereka melakukan operasi total pada wajah Rosie. Dan seminggu yang lalu adalah operasi rekonstruksi tulang dan jaringan otot rahang."
Caesar tak bisa mengeluarkan kata-kata apapun lagi jika ia terus menggali cerita yang telah dijalani oleh Gunawan selama ini.
Caesar dan Shaila saling berpandangan, sementara Gunawan sibuk menyeka air matanya.
Sejenak Caesar melihat ke arah ruang tidur tempat di mana Rosie tengah tertidur.
***
***
--------------------------------------
Halo kawan-kawan di manapun kalian berada,
STAY SAFE & KEEP HEALTH
***
***
**Halo sobat pembaca
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️****