
"Maafkan aku Caesar...
Aku tak bisa terus berbohong padamu... Sejujurnya di dalam hatiku... Aku tak bisa menerimamu... Dunia kita berbeda...."
Kalimat itu selalu terngiang di telinga Caesar sejak Shaila mengatakanya pada Caesar meski Caesar berkali-kali memohon pada Shaila.
Byurrr..!
Caesar menceburkan dirinya ke sebuah kolam renang. Dia tidak berusaha menggerakkan kaki maupun tangannya. Dia hanya membiarkan dirinya mengapung dengan posisi telentang.
"Banyak orang yang mengatakan mereka memiliki perbedaan satu sama lain. Padahal mereka berpijak di bumi yang sama, bernafas dalam atmosfer yang sama, bertahan hidup dengan cara yang sama, dan memiliki perasaan yang sama.
Lalu kehidupan seperti apa yang katanya memiliki perbedaan?"
Caesar tak bisa melihat di mana perbedaan itu.
Pencipta semesta hanya satu, pada dasarnya mereka memiliki keyakinan yang sama juga cara pandang hidup kita yang sama.
Lalu di mana perbedaannya?
"Shaila.... Pada akhirnya kamu tetap tak bisa aku miliki..."
***
***
Byurrr!!
Glenn terjun ke kolam renang dengan sengaja di tepat di atas tubuh Caesar hingga lamunan Caesar pun buyar karena dia tenggelam ke dalam air akibat ulah Glenn.
Caesar berusaha naik ke atas permukaan dengan susah payah karena telinga dan hidungnya kemasukan air. Caesar terpaksa harus keluar dari pegangan pada pinggiran kolam dengan nafas yang terengah-engah.
"Are you okay?" Glenn bertanya tanpa rasa bersalah.
Splashh!
Caesar menampar air di depan Glenn dengan tangannya sehingga air menyibak ke arah wajah Glenn.
Glenn tersenyum melihat sahabatnya itu kesal.
"Kamu sangat aneh hari ini. Bukankah tadi kamu sudah bertemu dengan Shaila. Bahkan... kalian di kamar hotel..." Glenn menyeringai dengan ekspresi yang menggoda Caesar.
"Aku bukan orang cabul!" Caesar menjawab sinis.
"Sejak kapan having sex bersama pacar disebut cabul. Hey man... this is America! in year 2018!"
"Kami tidak se-toxic itu! Dia orang yang terjaga."
Caesar sambil meneguk jus jeruk yang ada di kursi malas di samping kolam renang.
"Woahh... kamu memang sangat kuat iman sekali. Bahkan setelah kamu menunggu selama hampir sepuluh tahun, kamu tetap bisa menahan diri meski sudah memilikinya dan bahkan kalian sudah tinggal bersama selama enam bulan. Wow! Amazing! Kamu memang pria sejati. Apa kamu berencana menjaganya sampai kalian menikah nanti?"
Caesar yang tadinya mulai santai dengan suasana obrolannya dengan Glenn, menjadi kembali terlihat murung.
Caesar mengambil handuknya lalu berjalan pergi meninggalkan Glenn.
"Kamu mau ke mana?"
Caesar tidak menjawab, dia terus berjalan menuju lift. Glenn mengejar mengikuti Caesar.
Malam harinya,
Shaila menepati janjinya datang ke apartment Caesar. Shaila membawa buah dan roti untuk diberikan kepada Rosie, Gunawan, Glenn, dan juga Caesar, jika ia sudi menerima perlakuan Shaila setelah pertengkaran hebat mereka tadi siang.
Shaila terlihat santai dan tegar. Meski dalam hatinya ia pun merasakan kesedihan yang sangat perih. Tapi dia tidak ingin terlalu terlihat bersedih di depan Caesar. Ia ingin tetap bersahabat baik dengan Caesar seperti dulu.
Shaila ingin Caesar kembali menganggapnya sebagai sahabat. Karena mereka tak akan pernah ada harapan untuk bersama.
Tok...Tok....
"Ah, itu mungkin Shaila datang." Glenn berlari menuju pintu.
Caesar tetap diam dengan posisinya yang sedang makan sup buatan Rosie di meja kitchen bar. Caesar tetap meneruskan makan dengan santai dan tanpa ada gairah untuk merespon kedatangan Shaila.
Rosie diam-diam memperhatikan Caesar yang tidak biasanya dia cuek dengan kehadiran Shaila. Biasanya Caesar selalu menyambut dan bersikap manis pada Shaila. Tapi kali ini Rosie melihat ada perubahan pada sikap Caesar terhadap Shaila.
"Haloo... Rosie... Aku kangen sekali..."
Shaila memeluk Rosie dengan erat. Begitu juga dengan Rosie yang menyambut pelukan Shaila dengan hangat.
"Wah.... lihat wajahmu... sepertinya pulihnya semakin cepat ya..."
Shaila menyentuh bagian wajah Rosie yang masih terlihat jelas keloid bekas jahitannya.
"Kak Shaila sudah makan? Aku tadi memasak sup..."
"Hmm... oh iya? Kamu bisa bisa masak?"
Rosie mengangguk sambil tersenyum senang melihat respon Shaila yang ingin makan masakannya.
Mendengar langkah Shaila dan Rosie menuju dapur karena Shaila akan makan, Caesar beranjak dari tempat duduknya lalu meletakkan mangkok di wastafel cuci piring. Lalu berjalan melewati Shaila dan Rosie tanpa melirik sekilas pun dan pergi dari dapur menuju tangga.
Shaila terdiam, dia juga tidak menoleh ke arah Caesar. Namun Shaila juga tidak mengatakan sepatah katapun.
Rosie jelas melihat ada bongkahan besar batu es di antara Shaila dan Caesar. Awalnya Rosie mengira Caesar bersikap aneh terhadap Shaila. Namun rupanya Shaila pun juga bersikap sama.
Rosie ingin sekali bertanya, namun dia takut mengucapkan pertanyaan itu kepada Shaila. Pada akhirnya, Rosie hanya berusaha mengalihkan suasana tegang tersebut dengan menawarkan sup kepada Shaila.
"Sup sehat sudah siap..." Rosie tersenyum dengan riang.
"Ah... terima kasih..."
Melihat ekspresi Shaila yang tidak lagi ceria seperti saat awal dia datang, sepertinya dugaan Rosie benar bahwa Shaila dan Caesar sedang memiliki masalah.
-------------------------------------
Caesar berdiri sendirian di balkon kamarnya.
Dia sedang memegang segelas anggur sambil sesekali meneguknya.
"Di sini rupanya..."
Glenn tiba-tiba masuk ke kamar Caesar.
"Ckk, sudah berapa kali aku bilang untuk jangan datang sembarangan ke kamar orang."
"Kamu sendiri tidak menguncinya... Lagipula biasanya kamu tidak se-insecure begini..."
Glenn berjalan ke arah Caesar dan sedikit terkejut melihat Caesar membawa gelas yang hanya tersisa sedikit anggur di dalamnya. Lalu mata Glenn berpindah melihat meja kecil minimalis yang diatasnya ada sebuah botol anggur yang sudah berkurang setengah isinya.
Glenn mencoba mendekati Caesar. Glenn tahu sahabatnya itu sangat jarang bahkan hampir tidak pernah terlihat lagi mengkonsumsi anggur sejak Caesar menjalin hubungan dengan Shaila.
"Ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya ingin minum saja."
"Menurutmu?"
"Haish.... Jadi kamu tidak mau cerita padaku? Oke oke... tapi aku akan membela Shaila jika kalian memang bertengkar. Hah! Hadapi saja hidupmu!" Glenn memarahi Caesar dengan setengah bercanda.
Caesar tersenyum melihat sikap Glenn yang memarahinya seperti biasa meski Glenn tidak tahu masalahnya, memang seperti itulah Glenn.
"Glenn... Coba kamu tanya sendiri pada Shaila." Caesar menggoda Glenn.
"Oh boy! Aku tidak terlalu akrab dengannya. Dia tidak akan mungkin mengatakan padaku untuk urusan sensitif semacam itu."
Caesar tersenyum mendengar jawaban Glenn yang terdengar seperti orang pasrah yang tak bisa berbuat banyak.
"Dia tidak pernah terbuka padaku, apalagi padamu." Caesar mulai bicara serius.
Caesar meneguk habis anggur yang tersisa sedikit di gelasnya lalu meneruskan kalimatnya.
"Aku selalu berpikir Shaila adalah gadis yang sangat berbeda dari gadis yang lain. Dia adalah gadis yang tertutup, tak tersentuh, dan sulit didekati. Dan pada saat aku bisa dekat dengannya, menjadi teman baiknya, sahabat yang selalu ada untuknya, hingga akhirnya aku menjadi kekasihnya. Ada rasa bangga yang luar biasa memilikinya. Dia itu.... seperti sebuah permata yang sangat jarang kamu temukan di manapun.... Tapi...."
Caesar sejenak menghentikan kalimatnya, dia menundukkan kepalanya bertumpu pada kedua lengan yang berpegangan pada pembatas balkon.
"Ternyata aku terlalu percaya diri bahwa Shaila suatu saat akan menjadi milikku... Dia sampai saat ini pun belum bisa menerimaku. Dan sampai akhir pun dia tak akan menerimaku... karena kami tidak se-iman..."
Caesar mendongakkan wajahnya ke atas. Glenn langsung menyadari bahwa sahabatnya itu telah putus dengan Shaila. Glenn semakin berjalan mendekat pada Caesar dan menepuk bahu sebelah Caesar.
"Perjuanganmu sudah terlalu banyak, Caesar. Kamu tidak kurang untuk memperjuangkan Shaila. Jika Shaila memang tidak bisa kamu miliki, sudahlah... sebaiknya berhentilah. Itu juga demi kebaikan kalian berdua. Dua ikan dari air yang berbeda, tidak akan bisa menyatu hidup bersama, akan ada salah satunya yang akan mati."
"Jadi kamu juga berpikir bahwa aku tidak akan bisa memiliki Shaila sampai akhir?"
"Shaila sudah mengatakan tidak bisa menerimamu. Jika dia masih memberimu kesempatan, setidaknya ada harapan. Kalian bukan orang pertama yang mencintai seseorang berbeda keyakinan. Ada banyak di luar sana yang pada akhirnya salah satu harus berpindah keyakinan karena mereka saling mempertahankan cinta mereka. Tapi apakah Shaila memberimu kesempatan untuk menarikmu pada keyakinannya?"
"Aku sendiri yang mengatakan bahwa aku akan mengikuti keyakinannya. Tapi dia memilih untuk tidak menerimaku..."
"Jadi jelas dia tidak ingin memberimu harapan, Caesar. Dia sudah jelas tidak akan menerimamu. Shaila memiliki keluarga dengan religius yang tinggi. Pernah tinggal satu atap denganmu, meskipun kalian tidak pernah berhubungan, itu sudah melewati batas bagi Shaila. Dia pun juga selama ini pasti tersiksa menyembunyikan hubungan kalian di depan keluarganya. Jadi aku yakin keputusannya kali ini adalah hasil dari pemikiran matang yang sejak lama ia pikirkan."
Caesar terdiam mencoba menelaah semua ucapan Glenn. Ternyata kalimat yang disampaikan Glenn adalah buah pikiran yang selalu Caesar pungkiri. Dia selalu berusaha menutup mata dengan alasan itu, tapi kenyataannya memang semua yang terjadi adalah demikian.
Shaila dan keluarganya akan tetap menganggap Caesar sebagai orang dari dunia yang berbeda dari mereka. Dan mungkin saja orang tua Caesar juga tidak akan menerima Shaila, karena Shaila memiliki latar belakang keluarga yang berbeda.
***
Tuhan hanya satu...
Kita yang tak sama....
Haruskah kita saling berpisah...
Karena memiliki keyakinan yang berbeda...
***
-----------------------------------------
Jam sudah menunjukkan pukul 11 pm waktu setempat.
Shaila berencana untuk berpamitan pulang karena dia memajukan jadwal penerbangannya ke Singapore. Glenn diminta Shaila untuk mengantarkan Shaila. Caesar memilih tetap di kamarnya.
"Jaga dirimu baik-baik Rosie... Selalu kabari aku perkembangan kondisimu ya..." Shaila memeluk Rosie.
"Pakcik... jaga kesehatan ya... Shaila akan merindukan pakcik. Sayangnya kita harus memutus komunikasi demi keamanan kalian." Shaila bersalaman mencium tangan Gunawan sebagai rasa hormatnya kepada orang tua.
"Aku akan ke atas dulu menemui Caesar...." ucap Shaila saat Glenn bersiap untuk keluar.
Shaila naik ke lantai dua menuju kamar Caesar yang pintunya tertutup.
Tok...Tok...
"Caesar ini Shaila..."
Caesar langsung membuka pintu namun hanya separuh badannya.
"Boleh aku masuk?"
Caesar membuka lebar pintunya dengan ekspresi datar tanpa mengatakan apapun. Kemudian Shaila masuk ke kamar Caesar.
Caesar tetap berdiri di pintu dengan membiarkan pintunya tetap terbuka, namun ia menghadap ke Shaila.
"Caesar, Setelah ini kita akan tetap menjadi sahabat kan?"
Caesar diam, tapi dia tetap memandang wajah Shaila dengan sayu.
"Caesar... aku tahu ini jahat. Tapi aku melakukan ini agar kamu tidak terlalu sakit. Kita hanya akan bisa menjadi teman. Selamanya pun akan menjadi teman... Jika kamu terus diam, aku anggap kamu setuju dan baik-baik saja...."
Shaila melangkahkan kakinya keluar kamar namun Caesar tiba-tiba menarik tangannya dan memeluk tubuh Shaila dengan sangat erat sampai Shaila seolah tak bisa bernafas.
Caesar tetap tak mengatakan apapun. Di dalam hatinya sudah penuh luka nanah yang siap meletus. Agar dia tak terlihat terluka dan kesakitan di hadapan Shaila, Caesar memilih untuk tetap diam dan merasakan setiap inci tubuh wanita yang ia cintai selama hampir sepuluh tahun itu. Setelah ini, Caesar akan benar-benar melepaskan tubuh Shaila, hingga seluruh hati dan jiwanya.
Pelukan itu terasa sangat berbeda dari biasanya bagi Shaila.
Itu adalah pelukan perpisahan antara Caesar dan Shaila.
***
***
------------------------------------
**Halo sobat pembaca
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️******