I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] KASUS GIE KWAN



Dua hari kemudian,


Setelah rapat tertutup yang diadakan oleh Eric dan para dewan di mansion Eric. Sesuai dugaan, Gie Kwan mendapat surat panggilan dari Corrupt Practice Investigation Bureau Singapore, yaitu Badan Investigasi independen milik pemerintah yang menangani kasus korupsi.


Gie Kwan diperiksa karena dicurigai melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang untuk bekerjasama dengan corporation yang memenangkan tender atas proyek pembangunan yang didanai oleh pemerintah di lingkungan Otoritas Bangunan dan Konstruksi yang merupakan agen di bawah Kementerian Nasional Pembangunan.


Pada awalnya Gie Kwan memenuhi panggilan dari CPIB, dan bersedia diperiksa karena ia merasa tidak bersalah. Sikapnya yang tenang dan berwibawa selama proses pemeriksaan dan investigasi, membuat para anggota Tim investigator tidak dapat menemukan celah rasa bersalah dari Gie Kwan. Bahkan anggota Tim investigator ada yang meragukan pengakuan dari Hardy corporation.


***



***


Hardy Corporation, adalah perusahaan konstruksi yang memenangkan tender dalam pembangunan Gedung milik pemerintah. Hardy corporation dilaporkan melakukan tindak kecurangan dalam realisasi pembangunan yang tidak sesuai dengan anggaran dan sketsa yang telah diajukan sebelumnya kepada pemerintah. Dan baru diketahui adanya kejanggalan setelah Gedung yang menjadi proyek tersebut tidak selesai tepat waktu, terlambat hampir satu tahun dari estimasi waktu yang telah ditentukan. Bahkan dana yang telah digelontorkan mengalami penggelembungan dari proposal anggaran yang telah ditetapkan pada saat tahap perencanaan.


Namun CPIB terus menggali kasus ini hingga mereka mengetahui bahwa Hardy Corporation tidak bekerja sendirian. Jason Chang, sebagai direktur dari Hardy corporation tadinya berusaha menutupi, namun karena posisi mereka semakin terdesak, pada akhirnya dia menyatakan bahwa dia bekerja sama dengan oknum dari kantor Otoritas Bangunan dan Konstruksi (BCA : Building and Construction Authority)


Kerja sama yang antara Hardy corporation dan oknum tersebut sudah terjalin sejak pemerintah melakukan seleksi perusahaan yang akan dipilih untuk melakukan pembangunan proyek tersebut. Dalam kesepakatannya, pihak Hardy corporation mentrasfer sejumlah uang sebagai bentuk support agar perusahaan mereka memenangkan tender. Mereka masih memiliki bukti transfer sejumlah uang yang dikirimkan ke rekening yang dimaksudkan.


Namun setelah dilakukan penyelidikan, rekening yang dimaksudkan tersebut ternyata adalah hanya milik seorang masyarakat sipil yang sudah meninggal, sekaligus nomor rekening tersebut telah ditutup oleh pihak bank.


CPIB sebenarnya memang meyakini tindakan kecurangan tersebut sudah mulai tercium sejak tiga tahun belakangan ini, namun mereka juga harus tetap memiliki bukti yang otentik untuk dapat membongkar mafia korup di dalam proyek yang digarap oleh Otoritas Bangunan dan Konstruksi.


Status Gie Kwan saat ini masih sebagai saksi, dan bukan tidak mungkin statusnya akan berubah. Karena meskipun secara tak kasat mata Gie Kwan korupsi, namun selama proses pembangunan proyek tersebut terbubuhi tanda tangan Gie Kwan selaku Chairman dari Kantor Otoritas Bangunan dan Konstruksi.


Bagi CPIB, menghadapi Gie Kwan seolah harus bersiap menghadapi hampir 1/4 jumlah pejabat yang ada di jajaran parlemen pemerintahan saat ini. Semua orang tahu bahwa partai yang menaungi Gie Kwan, yaitu Partai Kwan Democrats memiliki jumlah anggota dewan fraksi yang paling banyak di hampir setiap komisi di parlemen.


Eric, sebagai Menteri Pembangunan Nasional, yang membawahi agen Otoritas Bangunan dan Konstruksi yang dipimpin oleh Gie Kwan, juga turut diperiksa untuk dijadikan saksi sekaligus diinvestigasi jikalau dia turut terlibat di dalamnya. Karena jika Eric terbukti melakukan pembiaran adanya kecurangan, padahal ia mengetahui adanya korupsi di lingkungan kementeriannya, maka ia pun juga akan terjerat pasal. Begitu juga dengan pejabat dewan yang terlibat dalam penyusunan proposal anggaran.


Kasus ini terus bergulir selama lebih dari satu minggu sejak pemeriksaan Gie Kwan dan penetapan Jason Chang, direktur Hardy corporation sebagai tersangka pelaku penyuapan. Namun Jason Chang tidak ingin membusuk sendirian di penjara. Ia merasa terjebak dan terkhianati, padahal dia telah melakukan banyak mengeluarkan uang dan usaha untuk memuaskan para pejabat yang selama ini bersembunyi di belakang layar.


Jason Chang dan Tim lawyernya berusaha semakin gencar bekerja sama dengan Badan Investigasi untuk membongkar akar pohon mafia korupsi yang mengkhianatinya. Hingga pada akhirnya mereka berhasil mendapatkan hasil dari rekaman CCTV saat pertemuan Jason Chang dengan pejabat eselon empat dari Otoritas Bangunan dan Konstruksi di sebuah restoran salah satu hotel di Singapore menunjukkan bahwa kesepakatan itu terjadi pada tahun lalu. Pada suatu kesempatan, setelah pertemuan berakhir, pejabat eselon empat tersebut sedang menelpon seseorang dan melaporkan sesuatu.


Tanpa menunggu lama, pejabat eselon empat yang beberapa hari lalu telah diperiksa dan mengaku tidak mengenal Jason Chang, tidak lagi bisa berkutik. Dia tak punya pilihan selain mengaku. Namun dia bersikukuh bahwa dirinya sendiri yang memiliki inisiatif untuk menerima gratifikasi dari perusahaan Jason Chang.


Tapi secara logika, bagaimana mungkin seorang pejabat eselon empat dengan jabatan yang hanya kepala departemen bisa dengan mulus meloloskan tender perusahaan yang mengerjakan proyek besar yang di mana penyusunan proposalnya disetujui oleh dewan pusat. Tentu saja dia hanya sebagai tumbal.


Gie Kwan kembali dipanggil oleh Badan Investigasi untuk diperiksa kedua kalinya. Namun kali ini, Gie Kwan mulai menunjukkan sikap yang tidak kooperatif.


Eric tidak tinggal diam saat mengetahui Gie Kwan mulai melakukan penghindaran pada investigasi yang sedang dijalankan oleh CPIB. Penghindaran yang dilakukan Gie Kwan semakin menguatkan bahwa ia memiliki keterlibatan pada kasus ini. Sebagai ketua dewan pimpinan partai Kwan, Eric pun mengambil langkah untuk melindungi posisi partainya dan posisi dirinya sendiri.


Berkali-kali Eric harus menghadap ke dewan pembina partai dan melakukan pertemuan tertutup dengan seluruh petinggi partai untuk mencari solusi agar ia bisa melindungi anggota partai yang berada di jajaran parlemen kabinet pemerintah eksekutif dan dewan parlemen legislatif.


"Sudah kuduga dia akan terlibat dalam masalah ini. Tapi tentang keterlibatannya menyangkut gratifikasi dari pihak corporation untuk memenangkan tender itu yang tidak aku sangka." Tuan Hsie Kwan yang merupakan salah satu dari tiga Founder Father partai Kwan tampak marah besar.


"Aku pikir kejadian 14 tahun lalu itu sudah cukup membuatnya jera. Ternyata memang dasar sifatnya sudah hitam. Dia tidak akan hanya mencemarkan nama partai. Aku berani bertaruh bahwa dia akan membawa-bawa nama partai dengan kasus ini. Terutama dirimu Eric." Tuan James Kwan yang merupakan petinggi partai juga turut memanas.


"Sebenarnya saya hanya berusaha menutup mata saat Gie Kwan melakukan rapat dengan beberapa pejabat eselon 4 tanpa sepengetahuan saya. Itu wajar jika seorang Direktur Otoritas melakukan rapat tertutup dengan anggotanya. Sehingga saya tidak terlalu mencurigai apa yang dilakukan Gie Kwan." Eric memberikan penjelasan dengan tenang.


"Uang yang pernah ditransfer kepada partai dari Gie Kwan, apakah sudah dipastikan itu bukan merupakan pencucian uang?" Tuan James tampak semakin cemas.


"Dalam tiga tahun terakhir setelah penanda tanganan tender tersebut, Gie Kwan sempat memberikan donasi secara berkala, jika ditotal sebanyak 25 juta dolar kepada Partai. Tapi jika memang kita tidak terbukti tidak terlibat dalam praktik korupsi yang dilakukan Gie Kwan, kita hanya akan dituntut untuk mengembalikan uang sejumlah itu. Untuk masalah itu tidak perlu khawatir, karena saat ini saldo kas partai ada sekitar 20 juta dolar. Selebihnya, saya akan membantu memberi pinjaman dari Shine Group."


Para petinggi partai saat ini bisa bernafas lega dengan penjelasan Eric. Namun mereka masih memiliki ketakutan dengan trik yang mungkin akan dilakukan Gie Kwan demi menyelamatkan dirinya sendiri. Bukan tidak mungkin jika Gie Kwan sudah menyiapkan perangkap dan jebakan untuk siapapun yang akan dijadikan tumbalnya. Termasuk rekan partainya, ataupun keluarganya sendiri.


"Perhatian, barusan aku dapat kabar dari salah satu dewan, bahwa Gie Kwan saat ini ditangkap di bandara oleh polisi karena hendak melakukan perjalanan ke luar negeri dengan menyewa pesawat jet pribadi." ucap Tuan Donie Lim yang merupakan salah satu anggota dewan sekaligus sekretaris partai Kwan.


"Apa?!!!" Beberapa orang di dalam gedung pertemuan hampir bersamaan mengeluarkan ekspresi tercengang.


"Kita harus bertindak cepat, mulai sekarang kita harus membuat surat pernyataan sebagai bukti bahwa Gie Kwan telah dipecat secara tidak hormat dari Partai Kwan!!!" Tuan Hsie Kwan mengetok palu dan membuat isi ruang pertemuan mulai ricuh.


Kericuhan tersebut tentu saja bukan untuk melindungi Gie Kwan, namun mereka harus bersiap menghadapi konsekuensi yang akan terjadi pada mereka jika tanpa diduga Gie Kwan akan mencatat nama mereka sebagai sasaran untuk membalas mereka.


Hanya berselang beberapa menit setelah surat pemecatan anggota partai dikeluarkan, Gie Kwan yang masih berada di ruang karantina kantor badan investigasi telah menerima informasi terkait pemecatannya langsung dari pegawai Tim Badan Investigasi yang menerima surat pernyataan bahwa Gie Kwan telah dipecat dari partai.


"Saat ini, tidak ada yang menjamin anda. Meski status anda saat ini masih menjadi saksi, namun dengan sikap anda yang tidak kooperatif seperti ini, kami hanya perlu mendapatkan bukti apakah status anda akan tetap atau berubah."


"Beraninya kamu bicara seperti itu padaku! Kamu hanya pegawai rendahan yang bahkan tidak setara dengan eselon 4!!! Sedangkan saya adalah eselon 2!!"


"Maaf Sir, saya tidak bicara sembarangan dan hanya menjalankan tugas. Kami juga telah menyampaikan pemberitahuan kepada anda melalui surat panggilan tersebut bahwa selama periode pemeriksaan peradilan belum usia, anda tidak diperbolehkan melakukan perjalanan ke luar negeri, sekalipun itu perjalanan dinas dan bahkan untuk pengobatan atau semacamnya." pegawai tersebut berbicara dengan tenang dan tegas.


"Lalu apa sekarang aku boleh pulang? kalian memperlakukan aku sebagai tahanan di sini!"


"Saat ini anda masih dalam karantina, tidak boleh ke manapun sampai persidangan yang akan diselenggarakan besok lusa. Anda masih bisa tetap menghubungi keluarga anda, mereka pun juga diperbolehkan menemui anda di sini." ucap pegawai tersebut.


Gie Kwan terlihat sangat kesal.


"Mereka benar-benar mencampakkan aku lagi, setelah semua kebaikan yang telah aku berikan pada mereka."


Merasa dikhianati dan terisolasi dari partainya sendiri, Gie Kwan sangat tertekan sendirian dalam menghadapi kasus ini. Hingga pada akhirnya ia pun ingin melaksanakan rencana yang selama ini telah ia persiapkan jika kondisi seperti sekarang ini, sebagai risiko yang pernah ia bayangkan benar-benar terjadi.


Tidak hanya Eric, beberapa petinggi partai pun tentu saja akan menjadi sasarannya.


--------------------------------


Steven diantar sekolah oleh sopir yang biasa mengantarnya sekolah, namun kali ini ia tidak ditemani oleh dua bodyguard yang biasa mengawasinya.


"Paman Fu, hari ini kenapa mereka berdua tidak ikut?" Steven bertanya pada sopirnya.


Steven menundukkan kepalanya. Ini memang sudah 5 hari setelah ayahnya ditangkap di bandara karena dicurigai berusaha melarikan diri ke luar negeri. Dan sejak saat itu ayahnya tidak pulang karena masih dikarantina.


"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan papa sekarang?" gumam Steven.


Steven sampai di sekolahnya, sebelum ia turun dari mobil, ia mengenakan topi untuk menutupi wajahnya. Sejak tiga hari lalu Steven melakukan itu. Namun bukan karena Steven malu atau takut menghadapi teman-temannya. Melainkan karena ia tidak ingin melihat wajah orang-orang yang dilewatinya yang berisiko akan membuatnya emosi. Dia tidak ingin semakin terjerat kasus yang nanti akan mempersulit posisi ayahnya.


Namun baru Steven melangkahkan kakinya memasuki kelasnya,


"Itu Steven!" bisik salah satu siswa pada seorang teman di sampingnya.


"Sejak ayahnya masuk headline, dia jadi tertutup." Siswa yang lain turut berbisik.


"Memang belum diputuskan, tapi kalo memang benar, itu akan memalukan!" Bisik siswa yang lain membalas.


Pertama kalinya bagi Steven menjadi pusat perhatian di sekolahnya, bukan sebagai seorang yang memiliki kharisma ditakuti oleh teman-temannya seperti biasanya, melainkan menjadi sasaran pembicaraan yang memalukan. Bahkan kedua teman yang selama ini menjadi anak buahnya, mereka pindah tempat duduk dan menghindari Steven.


"Apa-apaan ini..." ucapnya dalam hati.


Jasmine menoleh ke arah Steven dengan perasaan iba. Sejak berita tentang ayahnya merebak ke seluruh penjuru negara dan bahkan sudah ada demonstran yang melakukan aksi untuk menekan hukuman terkait kasus Gie Kwan, Steven memang lebih banyak diam. Pertama kalinya Jasmine merasa kasihan pada Steven. Tapi karakter Steven yang untouchable membuat Jasmine tidak tahu bagaimana membantu Steven.


Pada saat jam makan siang, semua siswa keluar kelas karena kelas akan ditempati oleh siswa Grade lain dan menuju kantin untuk antre makanan. Namun setelah semua siswa yang sekelas dengan Jasmine datang ke kantin, Jasmine tidak melihat Steven.


"Apa kalian melihat Steven?" Tanya Jasmine kepada Tania.


"Nope!" Tania menjawab dengan cuek.


Jasmine berdiri dan berjalan menuju kelas kembali. Saat keluar kantin, Jasmine berpapasan dengan Regal, tapi sayangnya Jasmine tidak menyadari keberadaan Regal.


Regal mengira bahwa Jasmine mungkin hanya mengambil sesuatu yang tertinggal di kelas sebelumnya. Regal pun terus berjalan menuju kantin.


"Hai Regal...!" Sapa Tania.


Seperti biasanya, Regal hanya tersenyum lalu kembali fokus pada apa yang sedang dia kerjakan. Tapi melihat di depan Tania ada dua piring dengan makanan yang masih utuh, dia pun penasaran.


"Satunya itu, milik siapa?" Tanya Regal.


"I...itu milik Jasmine, ha..hhanya saja dia pergi mencari St..ssteven." ucap Ajhay.


Regal langsung menghentikan makannya. Dia meletakkan sendoknya dengan keras hingga hampir melempar sendoknya di piring di depannya, membuat Ajhay dan Tania sekaligus siswa yang di dekat meja mereka terkaget.


"Dasar pencari masalah!" Regal beranjak pergi dengan wajah setengah kesal.


Tania dan Ajhay hanya saling pandang dan seolah semakin tidak mengerti drama yang dimainkan oleh teman-temannya. Mereka berdua pun meneruskan makan tanpa merasa curiga apapun yang mungkin akan terjadi pada Jasmine, Regal, dan Steven.


***



***


-----------------------------------------------------


Preview Episode Selanjutnya:


Gie Kwan dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus korupsi dan gratifikasi. Namun Gie Kwan melakukan kasasi dan meminta bantuan kepada Eric untuk melakukan kesaksian palsu yang dapat mendukung Gie Kwan terbebas dari kasus tersebut.


Namun atas desakan para petinggi partai dan anggota dewan, akhirnya Eric menolak permintaan Gie Kwan.


Hingga akhirnya, Gie Kwan didakwa dengan hukuman 7 tahun penjara dan harus membayar denda sebagai kompensasi kerugian pemerintah.


Bersamaan dengan itu, terjadi ledakan bom bunuh diri di depan sekolah Regal.


***Halo sobat pembaca***


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**