I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] SEBAGAI PELAMPIASAN



"Apa? Kenapa tiba-tiba? Apa-apaan ini?" Regal seakan tak percaya dengan kabar yang dikatakan Eric.


"Caesar tidak langsung mengatakan pada daddy. Dia hanya memberi kabar kepada Joni. Lalu Joni mengatakan kepada daddy. Tapi kamu jangan bilang apa-apa dulu pada mommy, dia akan sangat khawatir. Karena Caesar ke Afrika dalam rangka pengabdian demi tujuan kemanusiaan. Tentu akan ada banyak risiko yang dihadapi Caesar."


Regal hanya terdiam mendengar kabar dari ayahnya. Dia tidak mengerti mengapa seolah dia merasa kesal dan dipecundangi.


Tidak ada rasa kepuasan sama sekali. Regal seperti kehilangan seorang lawan dalam arena pertandingan.


Regal tidak tahu dia harus bagaimana lagi jika Caesar tidak berada dalam lingkaran permainannya.


***



***


(Flashback)


Saat itu Regal menuju ke rumah sakit bersama ibunya, Nana dan Joni sebagai sopir mereka. Itu adalah pertama kalinya Regal keluar dari rumahnya selama hampir dua tahun sejak Regal sejak insiden bom terjadi. Selama lebih dari satu setengah tahun ini Regal seolah disekap oleh Eric sejak ia pulang dari rumah sakit. Sejak Regal pulang ke rumah Eric, dia hanya bertemu dengan psikiater dan para dokter yang merawatnya selama beberapa bulan di rumah sakit.


Sebelum hari itu, Regal memang telah menunjukkan sikap kooperatif dan tenang. Sehingga kali ini Regal tidak dikunjungi oleh psikiatri, melainkan Nana yang mengajak Regal untuk datang ke praktik dokter psikiatri. Nana berharap setidaknya Regal bisa sedikit menikmati udara segar.


Saat mereka sedang berhenti di lampu traffic, pandangan mata Regal tampak memandangi sesuatu. Nana yang terus memperhatikan gerak gerik putranya, merasakan sikap Regal yang seolah seperti mencari-cari sesuatu ke arah luar.


"Apa yang sedang kamu lihat, sayang?" Tanya Nana yang merasa bahwa putranya semakin serius.


Regal tidak mendengar ibunya sedang bicara apa. Regal terus fokus pada seseorang yang sedang berada di kursi kemudi di sebuah mobil yang berhenti selisih satu mobil dengan mobil yang saat ini ia naiki. Seseorang itu mengingatkan Regal pada sesuatu.


Regal langsung membuka lock pintu mobil dan segera keluar dari mobil. Nana yang mengetahui Regal tiba-tiba keluar, kaget dan panik.


"Regal, kamu mau ke mana?" Nana meneriaki Regal yang sudah berjalan cepat menjauhi mobil.


Saat Nana bergegas untuk mengejar Regal, lampu traffic menyala hijau. Suara klakson mobil yang berada di belakang mobil mereka langsung memberi peringatan agar mobil yang dikemudikan Joni tersebut jalan.


"Nyonya, kita harus cari parkir dulu..." ucap Joni dengan terburu-buru.


Nana tidak mendengar apa yang dikatakan Joni. Dia hanya fokus pada arah Regal yang terus berjalan menuju sebuah mobil.


"Joni, aku akan turun di sini saja..." Nana membuka pintu mobil yang belum selesai terparkir. Dia keluar dari mobil mengejar Regal.


Regal berjalan dengan semakin mempercepat langkahnya menuju mobil yang terparkir di toko buah. Mobil itu adalah sebuah mobil SUV tahun 2000'an hitam yang mirip sekali dengan mobil yang pada saat terjadi bom di depan sekolah Regal.


Regal berlari mendekati mobil itu seketika ia melihat seorang pria memakai topi dan jaket hitam masuk ke kursi kemudi Mobil tersebut.


Brakkk!!!


Regal menendang pintu mobil kemudi dengan satu kakinya hingga pintu mobil SUV tua itu penyok ke dalam. Sopir pria yang berusia sekitar 40'an tersebut terkejut melihat seseorang yang tiba-tiba menyerang mobilnya. Tidak sampai di situ, tanpa diduga Regal membawa sebuah pentungan yang dia ambil dari kios buah di dekat mobil tersebut terparkir dan memukulkannya ke kaca bagian depan mobil sampai kaca mobil tersebut pecah. Namun Regal nampak tidak puas dengan serangannya, dia terus bertubi-tubi memukul kaca hingga tak ada lagi pelindung kaca yang tersisa.


Sopir paruh baya yang di dalam mobil berusaha melindungi diri dengan menutupi wajahnya sambil berusaha mengeser tubuhnya ke arah pintu mobil untuk mengeluarkan diri. Dia ingin menyelamatkan diri dari amukan anak muda gila yang tak dikenalinya.


Beberapa orang di sekitar jalan tersebut hanya melihat karena mereka tak berani mendekati Regal yang sedang dengan brutal mengamuk tanpa alasan. Di antara mereka hanya bisa menghubungi polisi dan petugas keamanan yang bertugas di gedung sekitar tempat tersebut.


Nana tercengang melihat kebrutalan Regal. Dia sama sekali tidak mengira Regal tak terkontrol seperti itu. Nana berusaha mendekati Regal. Joni semakin panik karena ia tak tahu harus berbuat apa. Joni hanya terpikir untuk menghubungi Eric.


"Tuan Eric... cepat ke sini... saya tidak tahu apa yang terjadi. Cepat datanglah ke sini."


"Ada apa?" suara Eric terdengar panik di seberang telepon. Pikiran Eric langsung kacau karena ia sudah mengira pasti akan ada masalah dengan Regal saat dia membiarkan Regal keluar rumah hanya dengan Nana dan Joni.


Eric langsung bergegas meninggalkan meeting pada saat itu juga.


Di saat yang sama, Regal terus menyerang semakin bengis. Dia bahkan menyeret pria paruh baya yang sudah merunduk meringkuk di sudut pintu belakang. Pria itu berusaha melawan namun kekuatan Regal lebih tangguh. Entah dari mana Regal yang saat itu masih tujuh belas tahun mendapatkan kekuatan setangguh itu.


Buakk!


Buakk!


Dengan wajah datar, mata hitam pekat yang sama sekali tak membiaskan cahaya, berkali-kali Regal memukul wajah pria paruh baya yang mungkin sebaya dengan usia ayahnya tersebut.


Beberapa petugas keamanan datang dan berusaha memisahkan tubuh Regal yang sudah menindih tubuh sopir malang itu. Merasa tak punya daya membagi energinya untuk mempertahankan tubuhnya sambil memukuli sopir tersebut. Regal dengan sisa energinya akhirnya mencekik pria tak bersalah itu dengan sekuat tenaganya.


Pria malang itu meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangan Regal yang penuh dengan otot-otot yang menegang.


Namun dalam kaca mata Regal, pria itu sedang tertawa terkekeh menertawakan dirinya. Regal sangat mengingat tawa dan senyum jahat pria bertopi dan berjaket hitam yang saat itu duduk di kursi kemudi mobil SUV hitam, beberapa detik sebelum mobil itu meledak yang akhirnya mengakibatkan Regal melihat tubuh Jasmine terlempar dan terhempas ke tanah seperti boneka yang tak bernyawa.


Eric datang secara bersamaan dengan Caesar. Situasi sudah sangat kacau karena pria malang yang diserang Regal sudah mulai terkapar lemas. Eric langsung turun tangan membantu beberapa petugas keamanan yang mulai kewalahan memegangi Regal yang masih saja tak bisa dilerai.


"Regal! Sadar!!!" Eric berusaha menampar putranya dengan sekuat tenaganya. Namun meski darah mengucur dari ujung bibir Regal, tubuh Regal sama sekali tak gentar.


Melihat sopir tak bersalah itu sudah tak sadarkan diri, Caesar langsung mencekik Regal.


"Jika kekesalanmu tak bisa terbendung hingga segila ini. Jika kamu tak bisa bersedih dan menangisi orang yang telah meninggalkanmu, maka jangan kau pendam sendiri..." ucap Caesar untuk menarik perhatian Regal.


Caesar bisa merasakan kekuatan besar yang dikeluarkan Regal. Ia terpaksa harus mengeluarkan tenaga sekuatnya untuk mengimbangi kekuatan Regal. Namun tubuh Regal masih tetap pantang.


"Jika kamu tak bisa melampiaskan kemarahan dan dendammu pada orang yang sudah mati, jangan lampiaskan pada orang lain. Aku di sini! kamu bisa melakukannya padaku! Apa kamu lupa bahwa akulah tempat pelampiasanmu..!" Caesar terus meneriaki Regal.


Eric menatap ke arah Caesar yang berusaha memancing perhatian Regal dengan ucapan yang sama gilanya. Eric berpikir apakah Caesar tahu konsekuensi dia mengatakan demikian.


Namun perlahan tangan Regal sedikit melemas. Mata Regal pun perlahan menatap mata Caesar, seolah ia tertarik dengan ucapan Caesar.


Caesar kini bisa melihat dengan jelas mata Regal berwarna sangat merah seolah kelenjar air mata Regal membengkak karena sudah mencapai batas kemampuan menahan air mata yang telah lama sengaja ditahan Regal.


Regal melepaskan cekikan di leher pria malang yang sudah hampir mati tersebut. Lalu dengan sigap, petugas keamanan dan Eric memegangi tangan dan tubuh Regal agar ia tak menyerang orang lain lagi. Sementara pria yang diserang Regal tersebut lalu dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit oleh beberapa orang yang berada di tempat pada saat itu.


Wajah Regal nampak sangat pucat, hanya bagian matanya yang berwarna merona merah. Ia terus menatap mata Caesar.


(Flashback end)


Regal masih berdiri sambil mengepalkan tangannya di ruangan Eric.


"Caesar... aku tidak akan melepaskannya..." gumam Regal.


Eric sekilas mendengar Regal bergumam.


"Apa?" Tanya Eric yang ingin Regal memperjelas ucapannya.


Regal tersenyum,


"Aku akan usahakan untuk mengunjunginya ke sana..." Ucap Regal dengan wajah ramah menjawab pertanyaan ayahnya.


Eric hanya diam. Dia mengerti bahasa tubuh Regal, namun Eric hanya bisa melihat dan menunggu saja apa yang akan Regal lakukan nantinya.


***



***


Halo kawan-kawan,


Terima kasih banyak atas kesetiaan kalian membaca novel ini.


Tidak lupa saya mengajak kalian untuk bergabung dengan "GROUP CHAT AUTHOR" agar kita semakin dekat dan menjalin komunikasi.


Segala informasi dan pemberitahuan novel, update, dan revisi akan saya bahas di Group Chat.


Oh iya, tentu saja SETIAP HARI ADA REWARD berupa KOIN atau POIN dari author atas apresiasi kalian membaca novel ini.


Juga jangan lupa baca karya novel author yang lain ya...


- Klik profil Author


- Lalu klik Karya


- Pilih judul novel


Selalu dukung karya author,


LIKE & FAVORITE


GABUNG GROUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


Dukungan kalian sangat Luar Biasa 👍🏻