I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] KEBOHONGAN



Sejak Caesar diberi pilihan untuk mencari pendonor wajah oleh Tim dokter bedah plastik yang bertanggung jawab terhadap operasi Rosie, Caesar disibukkan untuk mencari data-data pasien penyakit terminal dari beberapa rumah sakit di beberapa negara bagian di Amerika Serikat.


Shaila pun juga turut membantu usaha Caesar mencari pasien di beberapa rumah sakit tempat kawan-kawan seangkatannya sedang menjalani internship. Memang tidak mudah mendapatkan pendonor wajah, terlebih lagi dengan kriteria pasien terminal yang berusia remaja hingga dua puluh tahunan. Selain itu banyak sekali diantara mereka yang memiliki keluarga yang tidak rela wajah putrinya didonorkan kepada orang lain.


Selama hampir satu bulan mereka mencari, namun masih belum mendapatkan kepastian pendonor wajah tersebut.


Namun Rosie sangat bersabar dengan kondisinya saat ini, dia tetap menjalani kehidupannya seperti biasanya. Dia bahkan tidak malu keluar ke supermarket, taman Kota, atau ke tempat publik lainnya. Meski tidak sedikit orang yang memperhatikan wajahnya. Rosie sangat bisa memaklumi karena dipandang aneh oleh orang lain. Justru Gunawan dan Caesar yang sedikit khawatir dengan kondisi mental dan perasaan Rosie.


***



***


"Minggu depan aku akan ke Boston."


Shaila berbicara via telepon dengan Caesar sambil meneguk segelas kopi dengan mac-book yang menyala di depannya.


"Benarkah?"


"Iya... aku ke Boston lebih dulu sebelum aku kembali ke Singapore. Aku ingin bertemu dengan Rosie dan pakcik. Lagipula aku sudah mendapatkan sertifikat dari rumah sakit hari ini."


"Lalu... kapan kamu akan kembali ke Amerika? Kamu sudah membuat surat lamaran ke rumah sakit?"


"Huh.... bagaimana aku jelaskan ya..."


"Apa maksudnya?"


"Caesar... aku.... sepertinya aku akan masuk ke rumah sakit tempat Abangku bekerja."


"Apa?! Kenapa tiba-tiba?"


"Aku tidak tiba-tiba, selama studi aku selalu mengatakan kalau aku dan Abang Sharif akan mendirikan klinik bersama. Abangku dokter spesialis penyakit dalam, dia sudah buka praktik di klinik mandirinya kurang lebih tiga tahun ini. Jadi aku mungkin akan bantu-bantu dia melayani pasien umum."


"Kamu pulang karena ayahmu kan? Ayahmu sakit, lalu kakakmu memaksamu pulang ke Singapore?"


"Ya.... itu juga alasannya...."


"Shaila... aku mungkin tidak mengerti bagaimana tradisi keluargamu, tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar dan belajar memahami dengan baik saat kamu bersedia cerita padaku."


"Banyak hal yang kamu tidak tahu, Caesar...."


"Lalu bagaimana aku akan tahu jika kamu tidak pernah terbuka denganku..."


"Caesar..."


Shaila sedikit menegaskan suaranya memotong kalimat Caesar hingga Caesar mengheningkan suaranya.


"Apa yang kamu harapkan dariku?"


"Apa? Apa maksudnya? Pertanyaanmu sangat aneh."


"Jawab dulu."


"Tentu saja dirimu, hatimu, jiwamu, dan segalanya yang ada padamu..."


"Kamu tahu jelas alasanku dari dulu mengapa aku selalu menolakmu. Tapi kamu justru tetap mengharapkan aku. Apa kamu serius denganku Caesar?"


"Shaila... Apa selama ini kamu pikir aku bercanda? Seperti perasaan anak-anak remaja puber yang hanya ingin bersenang-senang? Aku tidak akan membuang waktu hanya untuk bercanda selama hampir sepuluh tahun ini Shaila..."


"Ya.... kamu benar. Harusnya aku tidak perlu meragukanmu..."


"Ada apa Shaila? Katakan padaku. Kenapa kamu tiba-tiba bersikap aneh seperti ini?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan bagaimana perasaanmu padaku.


Sejenak Shaila diam, dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia tak sampai hati mengeluarkan kalimat.


"Mungkin sebaiknya aku akan mengatakan langsung padanya..." Shaila bergumam dalam hati.


Caesar tahu selalu ada yang disembunyikan Shaila padanya. Dan Caesar juga tahu itu pasti ada kaitannya dengan keluarga Shaila.


"Aku akan menunggu kedatanganmu..." Caesar tanpa banyak bicara mengakhiri percakapannya lalu memutus panggilan teleponnya.


Shaila tersenyum kecut ketika Caesar memutus panggilan teleponnya. Dia tahu Caesar mungkin kesal atau marah kali ini. Selalu saja berakhir seperti ini jika Shaila selalu mempertanyakan keseriusan Caesar.


Shaila sebenarnya adalah orang yang pemilih dalam bersahabat. Namun sejak di Singapore, bertemu dengan berbagai macam orang yang berasal dari berbagai negara, membuat Shaila bisa lebih membuka pikirannya. Shaila selalu menjadi anak yang tertutup sampai kemudian dia bertemu dengan Caesar saat di Sekolah Menengah. Kedewasaan dan sikap ramah Caesar membuat Shaila pada akhirnya bisa menerima perbedaan di antara keduanya. Caesar yang selalu ada untuk Shaila, tulus dan setia mencintai Shaila, membuat pertahanan Shaila pada akhirnya runtuh.


"Bohong kalau aku mengatakan tidak mencintaimu, Caesar... Aku sangat mencintaimu. Apakah aku bisa membuatmu menjadi satu sepertiku. Atau aku yang akan menjadi sepertimu."


Shaila bicara sendiri sambil menggenggam ponselnya yang panggilannya sudah tidak terhubung dengan Caesar.


---------------------------------------


Shaila menepati janjinya.


Seminggu kemudian Shaila datang ke Boston. Shaila memang tidak menghubungi Caesar ketika ia sampai di Boston. Lebih tepatnya mereka terakhir kali saling berkomunikasi saat seminggu lalu. Setelah perselisihan kecil di telepon pada saat itu. Shaila hanya memberi tahu Glenn jika dirinya saat ini sudah berada di Boston.


"Hai Glenn... apa kamu ada di apartment? Aku sudah di Boston."


"Aku sedang di luar. Kamu sudah di Boston? Tapi Caesar tidak memberi tahuku kamu akan datang hari ini... Dia hanya mengatakan kalau dalam minggu ini Shaila akan datang."


"Ya... aku memang belum memberi tahu dia kalau aku berangkat hari ini."


"Kamu sengaja memberinya kejutan?"


"Hmm... mungkin bisa dibilang seperti itu."


"Caesar sedang mengantar Rosie ke Rumah Sakit sepertinya. Tapi aku tidak tahu kapan mereka akan kembali. Aku hubungi dulu mereka."


"Tidak... jangan... biarkan saja. Kabari saja aku jika kamu sudah sampai di apartment. Hari ini aku akan menginap di tempat temanku."


"Di mana? Boston?"


"Iya, di sekitar Massachusetts Hospital."


"Baiklah kalau begitu, tapi apakah perlu atau tidak aku memberi tahu Caesar kalau kamu ada di Boston?"


"Tidak.... Aku yang akan langsung ke apartment kalian nanti. Terima kasih Glenn..."


Glenn bingung dengan sikap Shaila. Tidak seperti biasanya Shaila seolah bersembunyi dari Caesar. Meskipun Shaila sudah berpesan pada Glenn agar tidak memberi tahu Caesar, tapi kenyataannya Glenn tetap memberi tahu Caesar. Glenn menghubungi Caesar.


"Apa kamu tahu Shaila sekarang sudah di Boston?"


"Apa?! Dia menghubungimu?"


"Ya... Ada apa dengan kalian? Apa kalian bertengkar?"


Caesar sejenak diam.


"Ya... kami terakhir saling berkomunikasi seminggu yang lalu. Di mana dia sekarang?"


"Dia mengatakan menginap di rumah temannya, di sekitar Massachusetts Hospital. Dia sebenarnya berpesan untuk tidak memberi tahumu. Dia nanti akan ke apartment jika aku sudah di sana. Tapi aku tetap menghubungimu karena aku merasa ada yang tidak beres dengan Shaila."


"Baiklah, terimakasih Glenn... aku akan segera menghubunginya."


Caesar kesal dengan ketidak jujuran Shaila. Bahkan Shaila tidak mengatakan pada Caesar jika ia sudah sampai di Boston. Caesar pun juga tahu Shaila tidak mrmiliki teman yang tinggal di Boston selain Caesar.


Caesar tahu Shaila berbohong.


Caesar pergi menemui Rosie dan Gunawan. Caesar berusaha segera menyelesaikan segala keperluan Rosie lalu mengantarnya kembali ke apartment.


Selama di perjalanan, Rosie melihat Caesar tampak tidak sabar. Bahkan cara dia mengemudikan mobil juga tidak seperti biasanya. Rosie hanya bisa berpikir positif jika Caesar mungkin ada panggilan darurat dari salah satu pasiennya.


"Sudah sampai, ini kartunya. Masuklah dulu ke apartment. Aku akan kembali ke Rumah Sakit, ada sesuatu yang harus aku selesaikan."


"Iya, hati-hati kak..."


Rosie tanpa banyak protes menuruti Caesar. Dia pun kembali ke apartment bersama ayahnya.


Sementara Caesar masih terus bergelut dengan perasaan dan pikirannya terhadap Shaila. Caesar tahu Shaila berada di sebuah tempat yang biasa mereka kunjungi di sekitar Massachusetts Hospital. Namun ia tidak mendapati Shaila di sana. Caesar pun berusaha mencari Shaila dengan melacak IP address Shaila menggunakan aplikasi di ponselnya.


Hanya berselang lima menit, Caesar sudah mengetahui keberadaan Shaila. Dia berada di sebuah hotel di Boston.


Plop!


"Ah!" Shaila terbelalak melihat Caesar sudah duduk di depannya


"Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kau sudah di Boston, sayang?"


"Uhm... itu... aku sedang ada urusan dengan seseorang dulu. Aku nanti juga akan datang ke apartment." Shaila tampak gagap menjawab pertanyaan Caesar.


Seorang resepsionis memberikan kartu kamar pada Shaila. Dia mengatakan bahwa kamar yang dipesan Shaila sudah siap ditempati.


Caesar mengerutkan dahinya menatap Shaila. Tapi Shaila terus menghindari tatapan Caesar.


Caesar berdiri dan mengisyaratkan tangannya untuk mempersilahkan Shaila menuju kamarnya. Shaila mengerti maksud Caesar bahwa pembicaraan mereka sebaiknya dilanjutkan di dalam kamar saja.


Selama berjalan menuju kamar, Caesar tidak mengatakan sepatah katapun. Begitu juga dengan Shaila. Namun Shaila tidak melihat ada ekspresi kemarahan yang tergambar di wajah Caesar. Bahkan dia membawakan dua koper besar dan satu tas jinjing yang dibawa Shaila.


Saat Shaila membuka kamar yang ia sewa, dia tidak melarang saat Caesar turut masuk lalu Caesar duduk di kursi setelah meletakkan kedua koper dan tas Shaila.


"Sekarang jelaskan padaku..."


"Apa? Jelaskan apa?"


"Kamu tidak merasa ada yang perlu dijelaskan padaku?"


Shaila terdiam, dia lalu berpaling dari hadapan Caesar dan membuka salah satu kopernya.


"Aku lelah, aku mau mandi dulu lalu istirahat. Sebaiknya kamu pulang dulu, nanti sore aku akan datang ke apartment menemui Rosie dan pakcik."


Baru selesai Shaila bicara, Caesar memeluk tubuh Shaila dari belakang. Shaila terkejut dengan tindakan Caesar. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan pria yang berbahu lebar tersebut. Namun semakin kuat Shaila meronta, Caesar seperti sengaja semakin mengeratkan pelukannya.


"Caesar, sebaiknya kita jangan seperti ini..."


"Tidak, aku mau kita seperti ini!"


Shaila tercengang dengan jawaban Caesar. Sebelumnya tidak pernah sekalipun Shaila mendengar jawaban Caesar seperti itu.


"Kenapa kamu jadi seperti ini, Caesar?"


Caesar membalikkan tubuh Shaila menghadap dirinya sambil mencengkram bahu Shaila.


"Justru aku yang harus bertanya padamu. Mengapa kamu tiba-tiba menjadi seperti ini padaku!!"


Caesar penuh penekanan bicara dengan Shaila sambil menatap mata Shaila garis mata dan alis yang sayu. Dengan tatapan mata Caesar yang seperti itu, Shaila semakin tidak sanggup melihatnya.


"Katakan apa salahku, Shaila..." Caesar menatap wajah Shaila dengan ekspresi memelas.


Shaila diam, dia malah memejamkan mata agar tidak bisa melihat ekspresi Caesar.


"Apakah selama aku tidak bersamamu, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Shaila menggeleng.


"Apakah aku sudah membuat kesalahan tanpa ku sadari? Atau aku salah bicara? Atau.... karena aku hidup bersama Rosie?"


"Tidak..." Shaila terus menggeleng.


"Lalu apa???"


Shaila berusaha membuka matanya bermaksud untuk mencoba bicara baik-baik dengan Caesar. Namun Shaila malah melihat mata Caesar yang mulai memerah.


Shaila menghela nafas.


"Caesar... kamu tidak pernah memiliki kesalahan apapun. Kesalahan itu sebenarnya ada padaku..."


"Kenapa kamu seperti ini, Shaila.... sebelumnya komunikasi kita baik-baik saja. Kamu bahkan banyak membantuku untuk mencari pendonor wajah untuk Rosie. Lalu kenapa sejak seminggu lalu kamu tiba-tiba berubah?"


Shaila menggeleng,


"Aku tidak tiba-tiba berubah. Aku memang sebelumnya sudah memikirkan dengan matang semuanya... Dan ada hal yang sangat ingin aku beritahu padamu. Setelah ini, aku tidak akan kembali ke Singapore. Aku akan kembali ke Johor Bahru... Dan menetap di sana..."


Caesar bagaikan tersambar petir di siang hari. Tangan Caesar yang sejak tadi mencengkram bahu Shaila perlahan mulai melemas.


"Maafkan aku Caesar, aku sudah memikirkannya... Abah kondisinya sudah tidak bisa lagi bekerja di Singapore, abah ingin kembali menjalani hidup tenang di tanah kampung halamannya. Mereka juga telah membelikan rumah untukku di sana. Aku tidak bisa menolaknya, karena aku tidak bisa membangkang pada keputusan mereka."


"Jadi pada saat itu kamu mengatakan ingin kembali ke Singapore, itu adalah bohong? Shaila berapa banyak kamu sudah berbohong padaku. Kamu tahu aku tidak bisa marah padamu, maka kamu bisa berbohong sesukamu?"


"Tidak.... maafkan aku Caesar... aku tidak bermaksud berbohong padamu sedikitpun... sama sekali..."


"Kamu tahu aku selalu memaafkanmu, tapi apakah kamu tahu bagaimana sakitnya ketika aku berusaha membunuh segala kekecewaan, kekesalanku, hanya agar aku ingin terus percaya padamu. Tapi kamu terus berbohong, menyembunyikan banyak hal dariku, dan sekarang kamu mempermainkan aku."


"Aku tidak pernah mempermainkanmu!"


"Selama hampir sepuluh tahun aku menunggu, pada akhirnya aku bisa mendapatkanmu. Kamu tidak tahu seberapa besar harapanku padamu setelah aku bisa memilikimu. Aku pikir pada akhirnya kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku. Tapi ternyata itu hanya halusinasiku."


"Itu karena kamu selalu menawarkan aku ketulusan yang tidak bisa aku tolak. Bahkan kamu selalu berusaha menjadi pahlawan bagiku."


"Jadi sekarang kamu menyalahkan aku karena aku menyukaimu?"


Shaila dan Caesar bertengkar hebat. Emosi mereka benar-benar tak bisa terbendung satu sama lain.


"Caesar... Jika kamu..." Shaila tidak bisa meneruskan kalimatnya.


"Aku kenapa?"


"Lupakanlah... ini semua salahku. Seharusnya aku lebih tegas padamu. Dan menolakmu dari awal. Tidak perlu kita bersahabat dekat."


Shaila mengucapkan dengan suara yang bercampur dengan isakan. Dia menundukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.


"Caesar... Mari kita kembali seperti dari awal... Kita bersahabat saja..."


Caesar sontak menarik pergelangan tangan Shaila, menggenggam dan mencium tangan Shaila. Tanpa diduga Shaila, Caesar mendudukkan dirinya di bawah Shaila.


Shaila semakin tak sanggup melihat wajah Caesar. Shaila membiarkan tangan kanannya terus digenggam Caesar. Sambil terus menahan suara tangisnya yang sebenarnya sudah tertahan sejak tadi.


"Ku mohon Shaila.... Kamu adalah alasanku bisa bertahan di tengah segala pelik hidupku. Jika aku berpindah keyakinan sepertimu... Apakah kamu akan menerimaku sebagai masa depanmu?"


"Maafkan aku Caesar... Aku tak bisa terus berbohong padamu... Sejujurnya di dalam hatiku... Aku tak bisa menerimamu... Dunia kita berbeda."


***



***


--------------------------------------


**Halo sobat pembaca


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️****