
***
Love is Wife
Sudah satu minggu ini Nana dan Eric tinggal satu rumah.
Namun sikap canggung keduanya masih terlihat. Bahkan saat sedang bersama pun, Nana lebih sering memperhatikan Caesar sebagai pengalihan ketika dia merasa canggung terhadap Eric.
Dan selama satu minggu ini Nana tinggal di rumah Eric, ia selalu tidur dengan Caesar. Meski Eric sudah menempatkan barang-barang Nana di kamarnya agar mereka bisa satu kamar.
Namun sejak Nana tinggal di rumah tersebut dan lebih perhatian kepada Caesar, sifat Caesar menjadi sangat posesif kepada Nana. Eric bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bisa bicara berdua dengan Nana, kecuali saat mereka di kantor. Tapi itupun juga Eric tidak bisa leluasa bertemu Nana karena kesibukan keduanya. Terlebih Eric sekarang sering mengikuti konferensi bersama Tuan Lee.
Suatu malam,
"Gak mau...! Caesar nggak mau tidur di kamar Caesar! Pokoknya maunya tidur di kamar mommy!"
"huh... Dasar bocah, dia memang sangat posesif..." Eric bergumam dalam hati.
"Daddy mau Caesar tidur sendiri di kamar Caesar, supaya mommy bisa menemani daddy kan? No...no...no...!"
"Kamu kan sudah seminggu ini tidur sama mommy terus..." keluh Eric.
"Kalau begitu, silahkan daddy tanya ke mommy saja. Malam ini pilih Caesar atau daddy?!" Caesar dengan lantang percaya diri bahwa Nana pasti akan memilih dirinya.
Kemudian Nana datang sambil membawa segelas susu untuk Caesar. Sepasang ayah dan anak itu pun mendadak memasang wajah innocent.
"Kalian sedang apa?" tanya Nana.
"Mmm... nggak apa-apa...." Eric beralasan.
"Mommy, kata daddy malam ini.... humpph" Eric membungkam mulut Caesar. Tangan Caesar meronta ke arah Nana.
"Kak Eric jangan begitu!" Nana meraih tubuh Caesar lalu memeluknya.
"Mommy....." Caesar memasang wajah memelas.
"Caesar tidak apa-apa kan? ini susunya, setelah ini tidur ya..." sambil menyerahkan segelas susu kepada Caesar.
"Okeh mommy..." Caesar menggandeng Nana ke kamarnya lalu menoleh ke Eric.
"Night,... daddy.... wekk" sambil menjulurkan ujung lidahnya dan mengerjapkan matanya mengejek Eric.
Eric terbelalak melihat tingkah putranya sangat posesif terhadap Nana.
Nana menoleh ke arah Eric dan tersenyum. Seketika hati Eric terasa sangat sejuk. Sepertinya dia memang tidak pernah puas memandangi wajah Nana.
Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Eric tertidur di sofa depan televisi ruang keluarga. Sejak Nana mengalami koma, Eric sering mengalami insomnia dan tidak pernah tidur nyenyak di kamarnya sendiri.
Eric seringkali mengalami mimpi buruk yang membuatnya cemas dan selalu gelisah.
Mimpi buruk Eric selalu berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Nana dan keluarganya. Karena hal yang paling ditakuti Eric adalah Nana pergi meninggalkannya.
Begitu juga dengan malam ini,
Eric kembali bermimpi tentang kejadian kecelakaan 1 tahun silam yang menimpa Nana, Eric melihat Nana dengan tubuh yang berdarah-darah terjepit diantara mobil yang terguling.
"Tidak.... jangan lagi...." Eric terus menggigau dalam tidurnya.
Eric tampak sangat gelisah dan ketakutan. Tubuh dan wajahnya penuh keringat.
Nana kebetulan sedang keluar kamar dan mendengar suara Eric. Ia mencari Eric ke kamarnya namun kosong, lalu ia menuju ruang keluarga dan melihat Eric tidur di sofa dengan penuh peluh keringat.
"Kak Eric... Kak Eric...."
Nana menggoyang tubuh Eric namun Eric tetap menggigau. Nana pergi mengambil air dan washcloth lalu mengompreskan pada wajah Eric.
Eric merasakan sensasi sejuk di wajahnya. Lalu membuka matanya, dia melihat Nana duduk di sampingnya. Lalu Eric bangun dan duduk di samping Nana.
"Nana.... " wajah Eric masih tampak ketakutan.
Nana masih menempelkan washcloth ke wajah Eric untuk mengusap keringatnya.
"Kak Eric kenapa?" Nana bertanya dengan wajah sedikit cemas.
Eric menghela nafas panjang lalu menghembuskanya dengan tersengal-sengal.
"Aku bermimpi tentang kecelakaan itu lagi... bayangan kejadian kecelakaan itu.... melihatmu saat itu...." Eric tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Jadi kamu masih tidak bisa melupakan kejadian itu?"
Eric mengangguk, dan menundukkan wajahnya.
Nana tiba-tiba memeluk Eric dan mengelus dada Eric.
"Aku disini baik-baik saja bersama kalian..."
Mendengar jawaban Nana, Eric menggenggam tangan Nana yang sejak tadi menyentuh dadanya.
Eric menatap ke dalam mata Nana,
"Nana.... selamanya kamu adalah istriku..."
Nana mengangguk dan menyentuh pipi Eric.
Eric langsung mencium lembut bibir Nana yang hanya memasrahkan dirinya. Nana seolah merasakan getaran hebat dalam tubuhnya yang seolah ia semakin ingin meluapkan perasaannya pada Eric. Nana pun memeluk Eric dan mengusap kepala Eric.
Melihat reaksi Nana yang menerima tindakannya, Eric menghentikan ciumannya. Eric menarik bibirnya dan melihat Nana yang masih memejamkan mata.
"Nana.... apa kali ini kamu mengijinkan aku?"
Nana membuka matanya lalu menatap mata Eric.
"Meski aku merasa ini yang pertama bagiku, tapi hati dan tubuhku seolah menarikku untuk menerimamu kembali..."
Eric mengelus rambut Nana dan mengangkat tengkuk leher Nana.
"Kali ini aku akan melakukannya dengan lembut, sayang...."
Mendengar Eric memanggilnya sayang, hati Nana terasa semakin menggebu.
"Katakan itu sekali lagi...." pinta Nana
"Yang mana? yang aku akan melakukannya dengan lembut?"
Nana mencubit lengan Eric.
"ihh... bukan itu... kenapa kamu merusak suasana hatiku."
Nana melepaskan pelukannya. Lalu Eric terlihat panik, karena menyadari ia sudah salah bicara dan merusak suasana hati istrinya.
"Yang mana?? seingatku aku cuma mengatakan begitu..." Eric dengan ekspresi setengah merengek.
"Lupakanlah, aku mau mengembalikan air kompresan di baskom ini dulu..." Nana akan beranjak dari sofa.
Saat Nana akan berdiri, Eric menarik pinggang Nana dari belakang hingga air dalam baskom tersebut tumpah di sofa dan mengenai baju Nana tepat di dadanya.
"Kak Eric, aku jadi basah begini..." Nana menghadapkan dirinya ke wajah Eric.
Melihat Nana basah hingga terjiplak bentuk dadanya,
"glek.." Eric menelan ludah
"Aku mau ganti baju dulu." Nana berdiri dan beranjak dari sofa.
Seketika Eric berdiri dan memeluk tubuh Nana lalu mencium bibir Nana. Eric semakin mengeratkan tubuhnya ke tubuh Nana.
Sedangkan Nana yang tidak melakukan tindakan defensif malah memberanikan diri membuka mulutnya.
Eric mengerti bahwa Nana sedang memberi sinyal pada dirinya untuk melakukan french kiss.
"Sayang, kamu benar-benar mengijinkan aku?"
Nana tidak menjawab namun kali ini ia membalas ciuman Eric.
Bibir tipis Eric mencoba mencium leher Nana, yang sama sekali tidak ada penolakan dari Nana. Perlahan Eric membuka satu persatu kancing piyama Nana, tetap tidak ada penolakan dari Nana.
Sampai akhirnya Eric merebahkan tubuh Nana perlahan di atas sofa.
Nana menggeliat saat Eric mencoba mencium dada Nana. Gerakan kaki Nana saat menggeliat secara tidak sengaja menggesek "adik kecil" Eric yang sejak tadi sudah menegang.
Tangan Eric terus mengelus paha Nana yang sangat halus bahkan hampir tidak ada bulu halus yang tumbuh di kulitnya yang tipis dan kenyal.
Menyadari saat ini ia terhanyut dalam keintiman bersama Eric, Nana mengangkat kepala Eric yang saat ini sibuk menciumi dadanya.
"Kak Eric, apakah itu akan sakit?"
"Maksudmu?"
"Aku sudah lupa rasanya, apakah itu akan sakit?"
"Saat ini aku akan melakukannya perlahan sayang... Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan sedikitpun. Biarkan aku yang melayanimu...."
Eric memang tidak akan pernah lagi memaksa Nana untuk memuaskan nafsunya. Justru sebaliknya ia akan membuat Nana menjadi wanita yang akan dilayaninya sepanjang hidupnya. Setiap kelembutan sikapnya merupakan refleksi dari cinta yang hadir dari dalam hatinya. Eric berharap Nana juga bisa merasakan setiap cinta yang dia berikan dari setiap sentuhannya.
Malam itu pun menjadi malam yang panjang bagi Nana dan Eric. Bisa dikatakan saat ini mereka sedang menikmati malam pertama setelah mereka bersama kembali.
Eric yang selama ini berusaha menahan kesabaran dan melapangkan hatinya selama hampir 2 tahun ini demi Nana, perjalanan yang tidak singkat bagi Eric.
Sebuah perjuangan yang tidak mudah bagi Eric. Dia bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak akan melakukan kebodohan yang akan menyakiti Nana dan keluarganya.
Bagi Eric, Nana dan keluarganya saat ini adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya...
***
***
Nana membuka mata, tampak semburan cahaya matahari masuk melalui kaca jendela dari balkon menembus gorden kamar.
Nana merasakan sesosok tubuh yang masih memeluknya dari belakang. Nana tahu ini bukan mimpi, ia membalikkan tubuhnya dan melihat Eric masih terlelap dengan tubuh yang masih bertelanjang dada.
Nana ingat semalam awalnya ia dan Eric melakukan adegan percintaan mereka di atas sofa.
(flashback on)
Setelah Nana dan Eric mencapai klimaks bersama, Nana merasa haus dan mengambil air minum sambil mengintip Caesar dari pintu kamar untuk memastikan apakah Caesar masih terlelap.
Namun Eric tiba-tiba memeluk Nana dari belakang dengan tingkah manjanya seperti seorang anak yang sedang menginginkan sesuatu dari ibunya.
"Aku pikir kak Eric sudah tidur..."
"Terimakasih sayang..."
Nana tersenyum mengangguk sambil mengelus pipi Eric.
"Apa tadi itu terasa sakit?"
Nana menggeleng lalu membalikkan tubuhnya menghadap Eric.
"Sepertinya aku akan menginginkannya lagi...." Nana menggoda Eric.
Eric yang masih diburu hasratnya kepada Nana langsung mencium Nana.
"Jangan disini.... Nanti Caesar mendengar kita..." Nana seraya berbisik pada Eric.
Saat itu Eric lalu menggendong Nana mengajaknya masuk ke kamar mereka. Lalu melakukannya lagi di kamar.
(flashback end)
Nana tertawa kecil menertawakan kejadian semalam. Perlahan Nana menyentuh wajah Eric dengan lembut.
"Siapa yang akan menyangka tiba-tiba ia datang dan menjadi suamiku... Ayah dari anak-anak yang aku lahirkan..." Nana bergumam sambil menitikkan air mata bahagianya.
Kini ia tidak lagi sendiri atau merasakan kesepian tanpa keluarganya.
Kebimbangan itu pun menghilang bersama dengan datangnya cinta yang saat ini ia rasakan dari pria yang sedang terlelap di hadapannya.
Nana menciumkan keningnya di bibir Eric sambil tersenyum sendiri.
Eric menyadari sikap aneh manja Nana, lalu ia mengangkat tengkuk leher Nana dan mencium bibirnya.
Nana pun terkejut, dengan ciuman Eric yang tiba-tiba.
"Kak Eric, kamu sudah bangun?" Wajah Nana merona karena malu.
"Sudah tadi...."
"Trus kenapa diam saja?" Nana mengalihkan pandangannya menyembunyikan wajah malunya.
"Aku hanya ingin membiarkan istriku puas melihat wajahku. Apakah istriku sudah puas melihatku?"
Nana menggeleng sambil menggigit secuil bibirnya yang membuat Eric semakin tergoda dan gemas dengan wajah imut Nana.
"Kalau begitu aku akan kembali memuaskanmu..." Eric memasang wajah girangnya.
Eric membungkukkan tubuhnya dan masuk ke dalam bed cover yang sedang menyelimuti tubuh mereka berdua, entah apa yang ia lakukan.
"Ahhh... Kamu jahat! Apa yang kamu lakukan!" Nana tiba-tiba berteriak lalu buru-buru membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
Nana memejamkan matanya seolah ia tak berdaya dengan apa yang dilakukan Eric.
"Ahh... hentikan... Kak Eric...." wajah Nana memerah dengan nafasnya yang tersengal-sengal seolah ia berusaha menahan dirinya.
Eric keluar dari bed cover dengan posisi missionaris tapi tidak **** tubuh Nana. Dia menahannya dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan Nana, hingga posisi Nana saat ini hanya bisa terlentang.
"Kenapa rasanya aneh mendengarmu memanggil kak Eric? Bisakah kamu memanggilku sayang atau suamiku atau panggilan romantis lainnya."
"Sayang....."
"Katakan sekali lagi...." Eric sambil mencium Nana.
"Ah... sayang..."
Nana menggeliatkan tubuhnya karena foreplay yang dilakukan Eric sambil sesekali mengangkat dadanya yang naik turun karena nafasnya yang terengah-engah, hingga rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.
Nafas Nana menjadi tidak beraturan. Dan tentu saja hal itu semakin mengundang hasrat Eric dan membuatnya tergila-gila melihat gerakan tubuh Nana.
"I'm coming, baby..."
"wait..."
Eric meghentikan gerakan tubuhnya,
"Ada apa?"
"Pagi ini aku harus ke kantor. Aku ada janji dengan..."
Eric membungkam bibir Nana dengan ciumannya dan langsung melakukan penetrasi dengan lembut. Nana memejamkan matanya saat milik Eric perlahan memasuki tubuhnya.
Dan pagi itu pasangan suami istri yang telah lama terpisah ini memiliki sarapan yang penuh cinta.
Kamu milikku selamanya, Nana...
-----------------------------------------
Bagaimana kehidupan Caesar setelah kedua orangtuanya berkumpul lagi?
Jangan lupa dukung author dengan klik:
"Like"👍
"Love"♥️
Rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....