I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] PATAH HATI



Caesar dan Shaila saling menyelami perasaan mereka masing-masing dalam sebuah pelukan terakhir malam itu. Caesar seolah memiliki firasat bahwa ini akan menjadi terakhir kalinya ia dapat menyentuh Shaila.


Bagaimana mungkin Shaila meminta Caesar untuk tetap menjadi sahabatnya hari ini dan seterusnya, padahal kemarin hingga saat ini hati Caesar masih menjadi milik Shaila.


Dan bagaimana mungkin Caesar tidak akan berpikir bahwa Shaila akan menjadi milik orang lain suatu hari, jika Caesar bukan orang yang memiliki Shaila.


***



***


Ceklak


Rosie membuka pintu kamarnya, dia bersiap untuk tidur setelah mengantar Shaila hingga ke depan apartment sebelum naik Mobil bersama Glenn.


Saat Rosie merapikan selimutnya untuk bersiap membungkus tubuhnya, Rosie merasakan ada benda aneh di bawah tubuhnya. Rosie membangunkan tegak tubuhnya kembali, lalu memeriksa benda yang terasa mengganjal tersebut.


"Kotak cincin? Amplop surat?


Rosie melihat kotak cincin berlapis kain bludru berwarna ungu emerald dan amplop surat berwarna putih polos yang di sudut kanan atasnya bertuliskan,


"To: Rosie"


Rosie masih penasaran siapa yang meletakkan kotak cincin dan surat di bawah selimutnya. Rosie membuka amplop dan di dalamnya terdapat dua lembar surat yang ditulis tangan.


***


*Hai Rosie...


Aku harap kamu tidak terlalu terlambat membaca surat ini. Surat ini sengaja aku tulis, karena aku tidak bisa mengatakan langsung padamu. Aku tahu kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku sampai harus menulis surat. Kenapa tidak perlu langsung menghubungimu saja, alasannya karena aku tidak ingin mendengar pertanyaan ataupun pembelaan darimu baik sekarang ataupun di kemudian hari saat kita bertemu lagi.


Aku ingin meminta bantuanmu untuk mengembalikan cincin yang ini pada Caesar, sebab aku bukan lagi seseorang yang berhak menyimpannya lagi. Mungkin sepertinya aku sangat egois dan keras kepala karena Caesar tetap memintaku untuk menyimpannya, tapi aku tidak bisa. Setiap kali aku melihat cincin itu, aku selalu teringat dengan semua kebaikan dan ketulusan Caesar padaku. Dan itu membuatku tersiksa dengan rasa bersalahku yang memilih untuk berpisah dengannya.


Sejak aku yang memutuskan berpisah, Caesar tidak pernah lagi mau mengatakan sesuatu padaku. Tapi aku tahu ada banyak kata-kata yang ingin ia sampaikan padaku. Hanya saja mungkin dia tidak mampu mengatakan padaku.


Jika nanti dia mempertanyakan bagaimana perasaanku, sebenarnya aku hancur. Hanya saja aku tidak memiliki pilihan lain untuk berpisah dengannya. Latar belakang keluarga kami sangat berbeda. Mungkin Caesar bisa memahami, tapi tidak dengan keluargaku. Jadi jika kami terus bersama, aku tidak sanggup terus mendengar penolakan dari keluargaku terhadap dirinya.


Sejujurnya sejak dulu aku menyukainya, dan pada beberapa tahun belakangan ini aku pun juga mencintainya. Tapi dalam setiap kebahagiaanku saat sedang bersamanya, aku selalu dirudung perasaan yang seolah mengingatkan diriku untuk sadar bahwa kami hidup dalam keyakinan yang berbeda. Saat aku meyakinkan diriku dan mencoba membiasakan cara pandang hidupku seperti dirinya, namun justru aku semakin merasa semakin jauh dengan prinsip hidup keluargaku. Pada akhirnya aku lebih memilih untuk kembali ke jalan yang benar yang diyakini oleh keluargaku yang disebut sebagai Hijrah.


Cincin ini adalah hadiah anniversary pertama kami, saat Caesar menyematkan cincin ini dia mengatakan bahwa mungkin di anniversary kami yang kedua, dia akan menyematkan cincin pertunangan kami. Tapi aku terlalu pengecut untuk menghadapinya. Jadi dengan bantuanmu, aku ingin mengembalikannya pada Caesar.


Aku minta maaf padamu, Rosie...


Aku tidak bermaksud membebanimu dengan segala kepentingan ini. Tapi aku yakin kamu sanggup menyampaikan ini pada Caesar.


Terimakasih, Rosie...


Kamu sudah membaca surat ini dan setidaknya kamu juga mungkin akan memikirkan untuk menyampaikannya pada Caesar*.


Salam,


Shaila*


***


Tes,


Titik air mata Rosie tidak sengaja menetes ke lembaran terakhir surat yang dibacanya. Tangannya yang sejak tadi masih gemetar karena dia cukup terkejut dan baru mengetahui bahwa Caesar dan Shaila ternyata telah berpisah. Padahal mereka berdua adalah orang yang selama ini menjadi semangat dan motivasi Rosie. Dan malah kali ini Shaila justru memintanya untuk mengembalikan cincin anniversary-nya kepada Caesar.


Sungguh beban yang berat bagi Rosie.


"Rosie, kenapa belum tidur?" Tiba-tiba Gunawan datang tanpa suara derap langkah yang didengar Rosie sehingga Rosie kaget dengan kedatangan ayahnya.


"Kenapa kamu menangis?"


Rosie yang baru menyadari bahwa dirinya belum menyeka air matanya, langsung mengusap matanya berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya. Tapi sudah terlambat, Gunawan terlanjur tahu bahwa anaknya saat ini sedang menyembunyikan sesuatu.


"Katakan, ada apa?"


"Tidak papa, bukan apa-apa. Oh iya... Rosie keluar sebentar ya..."


"Mau ke mana?"


"Rosie ada perlu dengan kak Caesar..."


Rosie beranjak dari tempat tidurnya meninggalkan ayahnya yang masih dengan memasang wajah penasaran.


-------------------------------------


Caesar sedang duduk meringkuk dengan selimut di sofa kamarnya, pandangan matanya kosong. Wajahnya tanpa ekspresi. Di samping sofa tempat dia duduk, terdapat sebuah kabinet kecil yang diatasnya ada sebuah frame foto terbuat dari kayu yang posisinya terbalik tertutup ke bawah. Sebenarnya itu adalah foto Caesar bersama Shaila saat dia wisuda.


Tangan Caesar menggenggam sebuah kamera mirror-less, dan di depan sofa terdapat meja yang diatasnya mac-book Caesar sedang menyala. Menampilkan folder-folder yang berisi foto dirinya dan Rosie yang hanya tinggal beberapa file.


Tampaknya ia baru saja menghapus sebagian besar foto Shaila bersamanya. Terutama foto yang memperlihatkan kedekatan mereka selama hidup bersama di Miami.


Tok...Tok...


"Kak Caesar, ini Rosie...."


Caesar sedikit terkejut dengan suara Rosie yang tidak biasanya dia mengetuk pintu kamar Caesar hampir tengah malam begini.


Caesar membuka pintu kamarnya dengan sedikit terhuyung karena dia masih pusing dengan pengaruh anggur yang dia minum beberapa jam yang lalu.


"Ada apa Rosie?"


Rosie tidak mengatakan apa-apa, tapi dia langsung menunjukkan kotak cincin yang dititipkan padanya oleh Shaila.


Caesar tentu saja langsung mengenali kotak cincin itu. Karena di atas kotak itu terdapat bordiran huruf "CS" yang eksklusif dipesan Caesar untuk menyimpan cincin yang dia berikan kepada Shaila.


"Dari mana kamu mendapatkan ini? Shaila yang memberikannya padamu?"


Rosie menggeleng,


"Tidak, kak Shaila yang menitipkan padaku, agar aku bisa menyampaikan ini kepada Kak Caesar. Dia memintaku mengembalikan ini..."


"Ambil saja, aku tidak ingin melihat barang itu."


Caesar membalikkan badannya untuk kembali merebahkan tubuhnya ke sofa.


Rosie terkejut dengan reaksi Caesar yang seolah dengan mudahnya menolak cincin tersebut.


"Tapi kak, bukankah kamu tidak ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan Kak Shaila padamu?"


Caesar menghentikan langkah kakinya.


Rosie tahu itu akan berhasil.


"Kak Shaila--"


"Masuk saja, jangan bicara di depan pintu." Caesar menyuruh Rosie masuk ke dalam kamarnya.


Rosie yang baru pertama kalinya memasuki kamar Caesar, melangkah dengan hati-hati dan sungkan.


"Duduklah... jangan berdiri di situ."


"Kak Caesar, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi aku sangat terkejut dengan keputusan kalian..."


"Bukan aku yang memutuskan," suara Caesar terdengar dingin.


"Ya... aku sudah tahu dari penjelasan Kak Shaila. Dia sebenarnya juga tidak ingin mengakhiri hubungan tersebut, hanya saja..."


"Dia tidak punya pilihan lain. Ya, aku sudah tahu kalau itu. Itu adalah kalimat yang sama dengan yang dia ucapkan padaku."


"Tapi apakah kamu tahu bahwa dia sebenarnya hancur? Dia juga mencintaimu. Dia bahkan tidak sanggup mengembalikan benda ini padamu secara langsung. Itu karena dia tidak tahan melihatmu bersedih sebab dia semakin merasa sangat bersalah..."


"Apa kamu baru saja menunjukkan simpatimu pada Shaila?"


"Hah? Apa?"


Rosie terkejut mendengar ucapan sinis Caesar. Tidak biasanya Caesar bersikap dingin seperti itu. Caesar yang sejak dulu ia kenal sebagai orang yang hangat dan ramah, tiba-tiba bisa berubah menjadi orang sedingin es.


"Shaila yang membuat keputusan itu sendiri. Dan aku adalah orang yang ditinggalkan, terluka. Tapi mengapa kamu hanya simpati pada Shaila? Kamu tidak melihat bagaimana perasaanku juga?"


"Aku...." Mulut Rosie terhenti.


Rosie berpikir sejenak, itu memang benar bahwa saat ini yang paling terluka adalah Caesar. Jadi jika Rosie semakin membahas tentang Shaila, maka itu akan semakin melukai Caesar.


"Kak Caesar... aku memang tidak tahu apa yang terjadi pada kalian lebih tepatnya. Tapi saat ini baik kak Caesar maupun kak Shaila juga terluka."


"Rosie... aku ingin sendirian sekarang... Jadi aku mohon kamu kembalilah ke kamarmu."


Rosie terkejut akhirnya Caesar memintanya keluar dari kamarnya. Rosie sadar bahwa Caesar telah berubah. Namun Rosie tidak bisa berbuat banyak, dia bukan orang yang dekat dengan Caesar. Jadi dia tidak ingin menjadi orang yang semakin menjengkelkan bagi Caesar.


"Baiklah kak, aku akan pergi. Aku minta maaf jika aku sudah mengatakan hal yang membuatmu terluka..."


Rosie berjalan keluar dari kamar Caesar. Sedangkan Caesar tetap diam di tempat sambil memandangi cincin yang berada di meja. Hatinya semakin pedih. Padahal baru beberapa saat yang lalu ia menghapus semua fotonya bersama Shaila. Kini dia melihat benda yang mengingatkan dia tentang moment yang paling berharga bersama Shaila.


Tiga bulan yang lalu adalah moment anniversary mereka. Saat Caesar masih berada di Miami.


"Rosie..." Caesar memanggil Rosie yang hampir keluar melewati pintu.


Rosie yang masih mendengar panggilan Caesar pun menoleh.


"Rosie... jangan libatkan dirimu. Kamu tidak ada hubungannya dengan masalahku dan Shaila."


Rosie terdiam, ternyata Caesar masih memahami apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Rosie hampir saja berpikir bahwa karena dirinyalah yang membuat Caesar jauh dengan Shaila. Jika saja Caesar tidak menemani Rosie di Boston, mungkin Shaila tidak akan memiliki kesempatan untuk memikirkan hal yang rumit sehingga ia memutuskan untuk berpisah dengan Caesar.


"Kak Caesar... terima kasih banyak atas semua pengorbananmu... seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini padaku sehingga kamu tidak kehilangan kak Shaila."


"Sudah ku bilang ini tidak ada hubungannya denganmu. Shaila memilih berpisah karena latar belakang keluarga kami. Dia sendiri yang memilih untuk tidak mengajakku berjuang bersama menghadapi perbedaan hidup kami. Dan itu sudah terjadi sejak kami memutuskan untuk bersama. Jauh sebelum aku bertemu denganmu. Jadi jangan salahkan dirimu. Mungkin juga... "


"Mungkin juga?"


Caesar seperti ragu akan mengatakannya.


"Mungkin juga, dia memang tidak pernah mencintai aku. Dia hanya merasa nyaman denganku. Tapi aku bisa merasakan bahwa dia tidak benar-benar ingin memilikiku. Karena di hatinya sudah menjadi milik orang lain..."


Rosie terkejut mendengar ucapan Caesar.


"Tapi Kak Shaila tidak mengatakan bahwa dia mencintai orang lain..."


"Dia tidak akan sepenuhnya jujur padamu. Bahkan padaku saja dia masih menyembunyikan banyak hal yang seharusnya aku berhak tahu. Salah satunya adalah keluarganya. Tapi Shaila selalu berusaha menyembunyikan persahabatannya denganku dari abangnya. Abangnya tidak pernah menyukaiku. Bahkan untuk sekedar berteman."


Akhirnya Caesar mengatakan pada Rosie, mengeluarkan apa yang ada di hatinya yang selama ini dia tahan.


"Aku pikir dengan terus membuktikan pada Shaila bahwa aku tulus padanya, dia akan bersedia berjuang bersamaku. Tapi kenyataannya... yah, seperti ini...."


Caesar tersenyum menertawakan dirinya sendiri.


"Shaila tidak tahu jika abangnya pernah mendatangiku dan memohon untuk menjauhi Shaila. Karena Shaila sudah memiliki seorang tunangan, dia bahkan mengatakan bahwa orang itu sangat mencintai Shaila. Dia juga memiliki sesuatu yang tak pernah bisa aku miliki. Saat itu aku tahu bahwa menjadi sahabat Shaila itu sudah cukup bagiku. Tapi saat menjelang kelulusan Shaila, aku melihat dia begitu galau dan semakin sering bersedih. Aku tahu dia ada masalah. Tapi dia tidak pernah mengatakan padaku. Dan akhirnya aku tahu dia dan tunangannya akhirnya putus. Entah kenapa alasannya Shaila tidak pernah menceritakan padaku, dan aku juga tidak pernah bertanya. Hingga akhirnya hubungan kami semakin dekat dan aku pun memutuskan untuk mengejarnya ke Harvard."


"Jadi... itu alasan mengapa kak Caesar bersikeras mengambil kedokteran di Harvard?"


"Ya... Bahkan di tengah terpaan masalah yang menimpa keluargaku enam tahun lalu, termasuk yang melibatkan dirimu juga, aku masih terus berjuang untuk menepati janjiku dan membuktikan pada Shaila bahwa aku tidak main-main dengan perasaanku terhadapnya."


"Aku... aku tidak pernah terpikir kamu bisa melakukan itu semua. Lalu kenapa kamu akhirnya pergi ke Boston dan meninggalkan kak Shaila?"


"Sebenarnya Shaila sudah tahu semuanya. Selama ini dia selalu mendukungku, dia juga membantuku mencarimu, mencarikan dokter terbaik, dan mencarikan pendonor wajah juga untukmu.... Kemungkinan selama aku tidak bersamanya, ada sesuatu yang membuatnya terus berpikir untuk mengakhiri hubungan ini."


Caesar dan Rosie sama-sama diam.


Mereka saling berpikir, kemungkinan alasan Shaila memutuskan berpisah dari Caesar.


Namun dari semua alasan yang terjadi, pada akhirnya tetap membuat Caesar kehilangan Shaila. Luka hati Caesar sangat pedih tak terbayangkan. Selama hampir sepuluh tahun ia hanya mencintai seorang wanita, menjadikan wanita tersebut sebagai tujuan hidupnya, semangat hidupnya, bahkan ia bisa berpijak di tempat saat ini adalah karena Shaila. Shaila adalah alasan bagi Caesar bahwa ia memiliki harapan untuk dicintai dan mendapatkan kebahagiaan dari rasa cinta. Di tengah kenyataan pelik bahwa kedua orang tua Caesa lebih fokus demi kebahagian Regal.


"Rosie...."


"Iya kak?"


"Apakah suatu saat kamu akan meninggalkan aku juga?"


Mata Rosie langsung terbelalak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Caesar.


***



***


------------------------------


***Halo sobat pembaca***


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**