
Shaila menyalakan ponselnya menghubungi Caesar. Berharap Caesar mengetahui dan mendengar bahwa saat ini Regal sedang menemuinya.
Sementara di tempat lain,
Caesar sedang berbincang di kamar perawatan Rosie bersama dengan Gunawan. Saat dia merasakan getaran ponselnya, ia melihat ponselnya.
"Shaila??"
Caesar melihat Gunawan dan Rosie sedang asyik berbincang, dia berinisiatif untuk pergi keluar menerima telepon dari Shaila.
"Uhm... Saya permisi angkat telepon sebentar..."
Rosie melihat Caesar tampak terburu-buru mengangkat telepon. Namun ia tak curiga sedikitpun karena memang Caesar selalu menghindar jika ia menerima panggilan telepon dari pasien atau teman dokter lainnya.
"Halo, Shaila... Ada apa?"
Caesar mengerutkan dahinya mendengar sesuatu yang berada di seberang panggilan teleponnya.
"Ada apa ini? Mengapa rasanya seperti suara Regal? Shaila bertemu dengan Regal?"
Caesar tidak bisa berbicara lagi, ia hanya fokus pada apa yang ingin ia dengar dari sesuatu yang terjadi pada Shaila dan Regal di seberang panggilan telepon tersebut.
***
***
"Ya... aku sudah bertemu dengan gadis bernama Yuri... Bagaimana kamu tahu?"
"Dia tunanganku... Dan dari dia pasti kak Shaila tahu alasan mengapa kami berpisah?"
Shaila diam sejenak.
"Jadi kalian berpisah karena dia mencintai Caesar dan ingin menikah dengannya?"
Regal mengangguk.
"Tentu saja tidak se-sederhana itu... Sejak awal dia memang mencintai kakakku ketimbang aku."
"Lalu mengapa kamu menerimanya?"
"Saat itu sedang dalam masa pemulihan, aku tentu taknbisa menolak apa-apa yang sudah direncanakan orang tua kami. Begitu juga dengan dia. Jadi kami adalah orang yang dipaksa untuk saling menerima satu sama lain. Tapi apa yang terjadi malah kami berdua tetap tidak bisa saling mencintai. Bahkan tunanganku itu masih diam-diam mencoba merangkai hubungan dengan kakakku. Sampai pada akhirnya...." Regal pura-pura tidak bisa meneruskan kalimatnya untuk memancing Shaila.
Namun Shaila tetap diam. Dia tidak bereaksi apa-apa. Wajahnya tetap datar. Melihat hal tersebut, Regal seolah tidak puas mengejar Shaila.
"Apakah kak Caesar tidak mengatakan padamu apa yang terjadi pada malam anniversary pertunanganku di New York?"
"Hmhhh... "
Shaila mendenguskan nafasnya.
"Regal... Aku sudah tahu semuanya... Aku lelah sejak tadi melihat kepura-puraanmu. Aku rasa kamu sendiri juga lelah sejak tadi memasang topeng di wajahmu... Katakan dengan jujur apa tujuanmu datang ke sini... aku tidak punya waktu dengan basa-basimu."
Melihat Shaila yang tampak kesal, Regal malah justru tersenyum seolah senang dengan sikap Shaila yang mulai tidak sabar menghadapinya.
"Hahaha..." Regal tertawa kecil sambil menutupi sebagian wajahnya dengan kelima jari tangan kirinya.
"Apa yang kamu tertawakan? Apa yang lucu? Kamu pikir dengan mempermainkan hidup seseorang itu sangat lucu bagimu?"
Bukannya marah, Regal justru semakin terpingkal dengan sikap Shaila yang semakin menunjukkan kekesalan pada dirinya.
"Jadi Kak Caesar sudah menceritakan semuanya padamu... hmm, seharusnya aku tidak perlu pura-pura kaget karena tentu saja dia akan memberi tahumu segalanya. Karena kamu adalah kekasihnya..."
"Anak ini... sejak kapan dia menjadi orang yang tidak sopan seperti ini? Tampaknya aku harus berhati-hati bicara dengannya atau itu akan menjadi bumerang bagiku dan Caesar." batin Shaila.
"Regal... Aku mengerti mungkin kamu masih kesal pada Caesar. Tapi bukankah sebaiknya kamu tidak perlu melakukan hal sejauh itu? Aku sangat tahu bagaimana Caesar berjuang selama kamu menjalani treatment. Dia melakukan banyak hal untuk menebus kesalahannya padamu. Dia sama sekali sudah tidak memiliki rasa benci padamu. Hanya rasa bersalah dan ingin menebus semuanya. Itulah yang terjadi..."
"Kamu bicara seperti itu seolah kamu tahu segalanya tentang kakakku..."
"Tentu saja aku tahu, karena selama hampir sepuluh tahun ini aku sudah bersama dengannya, tumbuh dewasa bersamanya, dan aku melihat sendiri perubahannya selama ini. Dibandingkan orang lain, akulah yang paling mengenal dirinya. Jadi percayalah padaku, semua yang aku katakan tentang Caesar adalah benar. Aku tidak bermaksud membelanya, tapi itu memang benar adanya..."
Regal seperti mendapatkan angin segar mendengar ucapan Shaila yang meyakinkan dirinya. Dia merasa sepertinya keputusannya menemui Shaila hari itu adalah langkah yang tepat untuk mencari tahu. Tapi bukan mencari tahu tentang bagaimana Caesar sebenarnya.
"Kalau begitu, tentunya kak Shaila juga sudah sangat paham siapa wanita yang namanya ada di dalam sertifikat pernikahan milik Caesar?"
Di tempat lain,
Caesar menelan ludah dengan membelalakkan matanya karena terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Regal. Caesar sangat mencemaskan jawaban yang akan keluar dari mulut Shaila.
"S-siapa.... maksudmu?" Shaila makin gugup dalam detik-detik ini.
Regal langsung menatap Shaila dengan mata yang tajam bagaikan sebilah pisau yang siap menghunus lawan bicaranya.
"Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama mungkin kakakku sedang melindungimu agar kamu tidak terseret dalam masalah ini sehingga ia memilih wanita secara random untuk dinikahinya. Atau... mungkin dirimu yang sebenarnya sengaja menjodohkan kakakku dengan wanita itu, yang artinya kamu pasti juga mengenal siapa wanita yang bernama Rayne Swan...!"
Shaila diam. Dia tidak mampu berkata apa-apa lagi menghadapi Regal yang terus menghimpitnya dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang menjebaknya. Shaila menyadari bahwa Regal sedang menggiring dirinya untuk membuka mulut bahwa dia juga mengenal Rayne.
Jika Shaila mengiyakan salah satu asumsi Regal. Baik dirinya mengakui asumsi Regal yang pertama maupun yang kedua, tetap saja keduanya akan berujung pada kesimpulan Regal yang akan menilai dirinya bahwa ia mengetahui siapa Rayne.
"Kenapa diam kak Shaila? Apa keduanya tidak benar? Atau semuanya benar?"
"Aku rasa aku tidak perlu menjawabmu, Regal..."
Regal menyendarkan punggungnya ke kursi sofa sambil menyilangkan kedua tangannya dengan santai.
"Tampaknya aku sudah tahu jawabannya..." ucap Regal sambil tersenyum.
Shaila semakin geram melihat ekspresi wajah Regal yang menjengkelkan. Sampai ia ingin sekali menyiramkan segelas air yang ada di meja depannya ke wajah Regal.
"Sejak kapan anak ini jadi pandai memprovokasi?" batin Shaila.
"Regal.... jika kamu sudah tahu jawabannya, lalu apa yang akan kamu lakukan? Bukankah bagus jika Caesar sudah menikah sehingga kamu tidak perlu melibatkan dirimu untuk menjodohkan kakakmu dengan mantan tunanganmu itu..."
"Sebagai adik tentu saja aku akan mencari tahu siapa yang menjadi kakak iparku. Apakah dia layak masuk ke keluarga Shine, atau sebaliknya..."
Entah mengapa hati Shaila terasa sakit mendengar ucapan Regal. Dia seolah kembali mengingat ucapan kakaknya, Sharif. Saat Sharif mengatakan hal yang serupa kepada Shaila tentang kelayakan Caesar yang masuk sebagai anggota keluarganya hanya karena status sosial dan religiusitas.
"Tahu apa kamu tentang status seseorang. Entah dia layak atau tidak, hanya orang yang menjalankannya lah yang bisa merasakan kelayakan itu sendiri. Jangan mengeksklusifkan diri hanya karena dirimu memiliki kemampuan. Caesar tidak pernah memandang siapapun seperti itu. Lagipula dia juga sudah tidak peduli dengan status keluarga Shine. Dia memiliki kehidupan pribadi sendiri. Jadi seharusnya kamu juga tidak mencampuri kehidupan pribadinya." Shaila dengan reflek memukulkan kepalan tangannya ke meja.
"Ya... teruslah terbawa emosimu, Shaila... Semakin kamu membela Caesar di depanku. Semakin banyak yang bisa aku analisa darimu untuk meyakinkan asumsiku selama ini..." batin Regal dengan terus menatap Shaila yang terbawa emosi.
Sementara di seberang panggilan telepon,
Caesar mengepalkan tangannya dengan erat mendengar semua provokasi Regal kepada Shaila.
"Aku tahu Regal pasti tidak akan melepaskan aku begitu saja meskipun masalah perjodohan ini sudah selesai."
Caesar memejamkan matanya sejenak sambil menghela nafas. Dia mulai berpikir keras lagi. Satu-satunya yang ada di dalam pikiran Caesar saat ini adalah bagaimana menghindari Regal agar ia bisa tetap melindungi identitas Rosie.
***
***
---------------------------------
Halo kawan-kawan,
Terima kasih banyak atas kesetiaan kalian membaca novel ini.
Tidak lupa saya mengajak kalian untuk bergabung dengan "GROUP CHAT AUTHOR" agar kita semakin dekat dan menjalin komunikasi.
Segala informasi dan pemberitahuan novel, update, dan revisi akan saya bahas di Group Chat.
Oh iya, tentu saja SETIAP HARI ADA REWARD berupa KOIN atau POIN dari author atas apresiasi kalian membaca novel ini.
Juga jangan lupa baca karya novel author yang lain ya...
- Klik profil Author
- Lalu klik Karya
- Pilih judul novel
Selalu dukung karya author,
LIKE & FAVORITE
GABUNG GROUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
Dukungan kalian sangat Luar Biasa 👍🏻