
Caesar menatap wajah gadis yang saat ini sedang terbelalak melihatnya. Caesar tahu, jika memang gadis itu adalah anak pak Gunawan yang lain, pasti dia tidak akan begitu terkejut melihatnya.
Rosie yang masih terpaku hanya bisa melotot melihat setiap detail garis wajah yang beberapa tahun lalu ia kenali dan sampai saat ini pun masih sangat bisa dikenalinya.
"Mungkinkah... dokter yang saat itu masuk ke kamarnya itu... adalah Caesar?" ucap Rosie dalam hati.
Beberapa detik kemudian, Xing datang.
"Ada apa ini?" Xing setengah terkejut melihat Gunawan berdiri di depan pintu kamar dan di depannya ada Shaila.
Jantung Xing berdetak sangat kencang secara tiba-tiba hingga ia bisa merasakan nyeri sekilas dalam dadanya.
"Jangan-jangan..." Xing setengah berlari menerobos masuk ke dalam kamar Rosie dengan melewati Gunawan yang mematung di depan pintu hingga Gunawan menabrak pintu di sampingnya.
Drakk..!
Caesar menoleh saat mendengar seseorang menabrak pintu.
Xing tertegun melihat Caesar yang sudah berdiri di depan Rosie sambil memegang tangan Rosie. Sedangkan Rosie hanya menunduk pasrah.
***
***
"Tuan Caesar... mengapa anda di sini..." Xing bertanya dengan nada tenang dan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Pak Gunawan, siapa gadis ini?" Caesar mengabaikan pertanyaan Xing dan memanggil Gunawan.
Gunawan menoleh namun hanya diam.
"Tuan Caesar Saya bisa jelaskan dia ada----" Xing mengajukan dirinya pada Caesar tapi Caesar menyelanya.
"Pak Gunawan, siapa gadis ini? Apakah dia adiknya Jasmine?" Caesar terus memburu jawaban dari Gunawan.
Xing melirik Gunawan. Gunawan menelan ludah karena takut dengan suasana mencekam saat ini.
"Di..Dia... Rosie. A..adiknya Jasmine..." Gunawan terbata-bata mengucapkannya karena gugup yang luar biasa.
"Bohong!!!" Bentakan Caesar mengagetkan orang-orang yang ada di tempat tersebut.
Petugas hotel yang tadi mengantarkan Caesar dan Shaila meringis pergi karena dia tidak ingin ikut campur dalam masalah pelik yang dihadapi tamunya.
Xing menarik baju petugas Hotel tersebut,
"Don't report to manager or security officer, understood!"
"O..ok..."
Xing tampak menghampiri Profesor Nick yang sudah merasa kebingungan sejak ia datang dan melihat adegan Xing dan Caesar. Meski profesor Nick memang adalah Direktur departemen pelayanan Miami Hospital, ia tentu tidak mengenal Shaila dan Caesar yang merupakan dokter internship.
Profesor Nick akhirnya pergi setelah Xing menjelaskan kondisi yang saat ini terjadi. Xing meminta driver hotel untuk mengantarkan Profesor Nick dan akan menghubungi Profesor Nick jika urusan dengan Tuannya saat ini sudah terselesaikan.
Xing kembali ke kamar Rosie dan menyuruh Shaila untuk menunggu di luar. Shaila setuju, sementara di dalam kamar tersebut ada Rosie, Caesar, Xing dan Gunawan.
"Sekarang biar saya yang menjelaskan pada anda, Tuan..." Xing tanpa basa-basi memulai pembicaraannya dengan Caesar.
Xing tidak gentar, karena ia sudah mempersiapkan semuanya sebelum ia masuk kamar Rosie. Beberapa menit yang lalu saat ia meminta Shaila berada di luar. Xing sambil menyalakan earphone bluetooth yang terhubung dengan Eric.
Dan apapun yang dikatakan Xing saat ini, adalah merupakan salinan ucapan Eric yang ia dengar dari dari earphone-nya.
"Aku sudah tahu kebohongan kalian. Jadi jangan terus mengarang cerita yang hanya semakin membuatku curiga pada kalian."
"Tuan muda, saya tahu anda saat ini salah paham. Tidak ada yang mengarang cerita. Rosie memang benar putri Pak Gunawan. Itu benar. Jika kalaupun anda ingin membuktikan dengan menguji tes DNA, dan hasilnya dia memiliki DNA yang identik dengan Jasmine, tentu saja karena mereka saudara sekandung."
Caesar menyipitkan bawah matanya seolah ia merasa lucu dengan penjelasan Xing.
"Aku tidak perlu susah melakukan tes DNA. Hanya dengan menatap Rosie aku sudah bisa memastikannya. Dan apakah kamu tidak tahu Xing? Seberapa dekat hubunganku dengan Jasmine? Beberapa tahun lalu, bahkan saat Pak Gunawan tengah tertidur, Jasmine sendiri yang mengatakan bahwa ia saat ini adalah anak satu-satunya yang tersisa dari Pak Gunawan. Dia memiliki adik, itupun laki-laki, dan sudah meninggal bersama ibunya saat dilahirkan."
Xing terkejut, begitu juga dengan Eric yang sedang online mendengarkan Caesar. Gunawan tidak bisa berkata apa-apa, dalam hatinya ia membenarkan Caesar karena memang yang diucapkan Caesar adalah benar adanya.
"Sudah ku bilang, semakin kalian mengarang cerita, kalian akan semakin menggali kebohongan kalian sendiri. Dan aku pasti mengetahuinya." Caesar menatap Xing dengan tatapan meremehkan yang membuat Xing bungkam.
"Sekarang apakah kamu menyesal sudah menceritakan itu padaku, Jasmine?!" Caesar melanjutkan ucapannya sambil melirik ke arah Rosie. Namun Rosie memalingkan wajahnya, ia tak ingin Caesar melihat ekspresi gugupnya.
"Tuan, jika memang anda meyakini seperti itu, lantas saat ini apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan berusaha membongkar jati diri Rosie dan Pak Gunawan? Bukankah selama bertahun-tahun ini anda sudah memiliki hidup yang tenang tanpa mereka?" Xing mencoba berunding dengan Caesar, pastinya itu adalah kalimat yang dilontarkan Eric di seberang sana. Xing hanya meneruskan ucapan Eric.
"Lalu kenapa kalian harus berbohong. Katakan pada daddy yang saat ini bicara denganmu, Xing. Kenapa dia harus tega membohongi anaknya selama ini. Memalsukan kematian seseorang, mengganti identitas, dan begitu banyak usaha, waktu, dan uang yang susah payah ia lakukan demi membohongi anaknya? Aku baru tahu daddy adalah orang yang seperti itu."
"Xing, hubungkan aku dengan Caesar..." Ucap Eric.
"Tuan muda, Tuan Eric ingin bicara dengan anda..." Xing mematikan saluran bluetooth-nya dan memberikan ponselnya kepada Caesar.
Caesar menerima ponsel Xing,
"Ini aku, daddy...."
"Caesar..." suara Eric terdengar parau.
"Katakan!" Caesar tidak sabar sekaligus bercampur dengan kekesalannya pada Eric.
"Baiklah..." Eric bersuara dengan nada merendah.
"Kamu sudah terlanjur mengetahuinya. Daddy tidak ada pilihan lain kecuali menjelaskan padamu. Ini semua adalah yang daddy rencanakan selama bertahun-tahun. Awalnya daddy pikir telah berhasil menahanmu untuk tidak pergi ke Harvard kala itu. Karena saat itu alasannya agar kamu tidak memiliki kemungkinan bertemu dengan Gunawan. Kamu pasti... tidak menyangkanya, kan?" suara Eric semakin parau
Caesar menghembuskan nafasnya sambil memejamkan matanya. Ia tidak menyangka jika ternyata sejak awal Eric sudah merencanakan semuanya
"Ini semua daddy lakukan karena daddy ingin melindungi semuanya.... Terutama dirimu dan Regal.... Saat hari di mana bom itu terjadi, kamu tidak tahu betapa frustasinya daddy karena prediksi daddy meleset. Orang-orang Gie Kwan ternyata melakukan bom bunuh diri, yang daddy pikir mereka akan melakukan penculikan atau penyanderaan. Maka dari itu daddy memintamu untuk mencari adikmu, yang pada saat itu daddy juga meminta bodyguard mengawasimu. Tapi ternyata daddy malah hampir mendorongmu ke jurang kematian. Daddy tahu semua itu adalah otak Gie Kwan, tapi daddy tidak punya bukti. Jadi daddy hanya memilih diam dan berfokus pada kesembuhan kalian. Namun saat itu, Steven menghubungi daddy bahwa pada hari saat Steven diamankan oleh bodyguard ayahnya, ada satu orang yang bisa menjadi saksi kunci. Yaitu Jasmine. Salah satu ajudan Gie Kwan kemungkinan mengetahui wajah Jasmine dan menjadikan Jasmine sasaran mereka untuk dibunuh agar kejahatan mereka tak tersisa bukti sampai ke akarnya. Sehingga, mereka memancing Regal agar Jasmine juga turut terbunuh menjadi korban yang seolah-olah dia adalah korban yang kebetulan."
Caesar terduduk lemas di atas kasur. Ia menatap Jasmine yang masih berdiri bersandar di tembok.
"Kenapa daddy baru memberi tahuku sekarang..?"
"Sejak daddy tahu bahwa Jasmine memiliki harapan hidup, daddy terpikir untuk mewujudkan harapan Gie Kwan bahwa rencananya telah berhasil. Maka dari itu, daddy membunuh Jasmine secara hukum. Dan satu-satunya orang yang tahu hanya Xing. Selama enam tahun terakhir ini daddy berusaha menyembunyikan dari kalian, bahkan mommy juga tidak tahu. Tidak bukan karena daddy ingin menyelamatkan kalian. Daddy berjanji akan melepaskan Jasmine jika ia telah seutuhnya menjadi Rosie, sesuai janji daddy pada Gunawan. Asalkan Gunawan tidak lagi kembali ke Singapore. Jika Gie Kwan sampai tahu Jasmine masih hidup, dia akan terus menganggap Jasmine sebagai bom waktu yang suatu saat akan meledakkannya. Dan yang paling utama adalah adikmu. Butuh bertahun-tahun bagi kami memulihakan mental Regal. Meski pada akhirnya dia sembuh saat ini, namun sesekali trauma itu datang dan menyiksanya. Kehadiran Jasmine hanya akan membuatnya kembali mengarungi masa-masa kelamnya. Selamanya ia akan selalu mengingat hal menakutkan dalam hidupnya. Dan daddy yakin kamu tidak berharap hal itu terjadi pada Regal..."
Caesar masih membisu. Selama ini ia tidak tahu bahwa ayahnya menanggung rahasia yang cukup pelik semacam itu.
"Caesar.... bisakah daddy memohon satu hal padamu?"
"Apa itu?"
"Tinggalkan Jasmine... Anggap semuanya seperti kemarin, seperti sebelum kamu bertemu dengan Jasmine. Biarkan keluarga Gunawan dan keluarga kita tenang dengan dunianya masing-masing...."
"Daddy... bisakah aku membantumu?"
"Untuk menjaga rahasia ini, aku akan membantumu menghidupkan Rosie seutuhnya."
"Tidak! daddy tidak akan mengambil risiko membahayakan dirimu sendiri. Sejauh ini saja daddy masih sangat takut kalau saja suatu saat orang-orang yang berkontribusi dalam treatment Jasmine, akan membuka mulut mereka tanpa sengaja. Bagaimana mungkin daddy akan melibatkanmu? Memikirkannya saja sudah membuat daddy merasa enggan. Tidak!
"Daddy tidak perlu khawatir. Aku akan menanganinya. Aku akan kembali ke Massachusetts dengan membawa Rosie bersamaku. Di sana dia akan mendapatkan operasi bedah plastik yang terbaik."
"Caesar, daddy hanya ingin kamu melupakan Rosie. Tinggalkan dia...."
Caesar menatap wajah Rosie yang sejak tadi memalingkan muka menghindari tatapan Caesar. Caesar berdiri dan mendekatkan wajah Rosie menatap dirinya.
Rosie tidak bisa menghindari tatapan Caesar. Kini mata Caesar dan Rosie saling beradu. Caesar bicara dengan Eric namun matanya masih terus menatap Rosie.
"Daddy, kita akan bertaruh. Jika Rosie bersedia ikut denganku, maka daddy harus menyerahkan segala urusan tentang Rosie padaku..."
"Caesar jangan gila! Kamu pikir kamu sedang apa?!"
"Daddy tidak percaya padaku, maka aku akan membuktikannya."
"Caesar, jika kamu ingin membantu daddy. Biarkan Rosie melanjutkan treatment-nya dengan tenang."
"Maafkan aku daddy, bukan hanya daddy yang memiliki tanggung jawab pada keluarga pak Gunawan. Aku pun juga memiliki tanggung jawab janji yang harus aku tepati. Rosie ada padaku. Dan aku akan menjamin dia akan mendapatkan hidup yang layak."
"Caesar....!"
"Maafkan aku daddy, aku sudah berkali-kali dibohongi, dan berkali-kali juga berusaha memaafkan dan percaya. Tapi kali ini aku tak mau dibodohi lagi. Daddy tenang saja, aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Terutama pada Regal. Itu tidak akan terjadi!"
Caesar memberikan ponselnya pada Xing. Lalu berjalan ke arah Gunawan.
"Di mana barang-barang kalian?"
"Tuan muda.... bukankah Tuan Eric tidak setuju kalau..." Xing berusaha menghalangi Caesar.
"Cegah dia Xing!" Eric terdengar berteriak di ponselnya.
"Minggir Xing.... Aku juga Tuanmu. Jika ayahku mengancammu dan memecatmu. Aku bisa menjadikanmu asistenku."
Xing tak berkutik dan diam di tempat.
"Maafkan saya Tuan Eric, saya sudah berusaha sesuai kapasitas saya. Yang bisa mencegah Tuan Caesar adalah anda sendiri..."
***
***
------------------------------------------
Eric sangat gusar. Siapa yang tidak ingin mencegah Caesar saat ini, tapi mustahil jika menggunakan pesawat jet tercepat sekalipun tidak akan bisa mencegah Caesar. Eric sudah hilang kendali atas Caesar.
Sejak awal ini memang salah Eric. Jika saja ia tak membohongi Caesar tentang kematian Jasmine, mungkin saja ini tidak akan terjadi. Tapi Eric sudah terjebak dalam dilema. Awalnya ia hanya ingin menanggungnya sendiri, namun pada akhirnya semuanya gagal karena kesalahannya sendiri.
"Ya Tuhan.... Ujian apalagi ini... Bahkan aku hanya ingin melindungi putra-putraku. Tapi mereka tak pernah mengerti...."
Eric tersungkur di meja kerjanya. Otaknya serasa panas karena aliran darah yang mendidih karena emosinya berdebat dengan Caesar. Hari ini adalah hari yang menguras setiap energi otak dan jantungnya, hingga ia seolah tak dapat lagi mengangkat tegak kepalanya, apalagi untuk berdiri.
"Jika hari ini Caesar bersikap demikian padaku. Bagaimana nanti saat Regal juga mengetahuinya. Akankah aku bisa menghadapinya...." lirih Eric.
Regal adalah putra kesayangan Nana. Eric membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai Regal tahu Jasmine masih hidup. Tim dokter psikiater dan psikolog yang menanganinya selama ini bekerja keras untuk menyembuhkan keterpurukan mental yang terjadi pada Regal.
Sejak Regal tersadar dari koma, nama yang keluar dari mulutnya adalah Jasmine. Bahkan Regal tidak bisa mengingat siapapun selain Jasmine selama beberapa minggu. Butuh waktu untuk menggali kembali akal sehat Regal. Setiap gadis yang berperawakan seperti Jasmine, dia akan langsung membawa lari gadis tersebut. Pertama kali Regal masuk mobil saat ia keluar dari Rumah Sakit, ia berteriak seolah di dalam mobil ada bom. Bahkan setiap Regal keluar dari pintu pagar, ia selalu mengalami paranoid.
Paranoid Regal sampai ke tahap Skizofrenia saat ia melihat pria paruh baya berada di dalam mobil duduk di kursi kemudi dengan jendela terbuka. Dia selalu membayangkan orang-orang itu membawa bom dan akan meledakkan dirinya. Hingga akhirnya Regal hampir membunuh orang-orang tersebut.
Eric dan Nana akhirnya terpaksa mengurung Regal di rumahnya selama hampir tiga tahun sampai Regal benar-benar dinyatakan pulih. Dan selama dua tahun belakangan ini, Regal sudah bisa dikatakan hidup dengan normal. Dia pun menjalani perkuliahan selama tiga tahun.
Dan atas saran psikolog yang menangani Regal, agar menumbuhkan perasaan cinta dan kasih sayang pada Regal, Eric dan Nana menjodohkan Regal dengan Yuri. Dan hubungan Regal dan Yuri sudah berjalan selama dua tahun terakhir ini.
Karena situasi saat ini membuat Eric takut Rosie akan kembali, maka secepatnya Eric akan melangsungkan pernikahan Regal dan Yuri.
***
***
--------------------------------------
Halooo kawan-kawan di manapun kalian berada,
STAY SAFE & KEEP HEALTH
***
***
**Halo sobat pembaca
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️**