I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 16. Kehancuran Kedua





Kehancuran Kedua


Tok...tok...tok...


Eric terbangun karena suara ketukan pintu, dia baru ingat semalaman tertidur di sofa kamar Nana setelah dia meratapi kebodohannya sampai tertidur. Namun mimpi semalam membuatnya merasa sangat gelisah, melihat Nana hilang diantara cahaya putih. Pertanda apa sebenarnya itu?


Eric membuka pintu kamar Nana dan disana Bibi Niken sudah berdiri membawakan sarapan.


"Saya nggak lapar bi, saya mau langsung berangkat ke Rumah Sakit."


"Tapi Tuan tadi malam juga belum makan. Tuan harus menjaga kesehatan..."


"Saya sehat-sehat aja kok bi, terimakasih perhatiannya."


Eric langsung berjalan menuju kamarnya dan mandi.


Beberapa menit kemudian Eric keluar dengan membawa koper pakaian berukuran 24 inchi yang di dalamnya berisi pakaian dan beberapa peralatan lainnya. Bibi Niken sudah tahu jika Eric memang jarang sekali pulang ke Rumah itu semenjak Eric tinggal di apartment selama Nana di Rumah Sakit dan Caesar berada di rumah Nyonya Julia.


"Tuan kapan akan kembali ke rumah ini lagi?"


"Nggak tahu bi, kalau saya kangen rumah ini, pasti akan kesini. Tapi untuk saat ini saya mau dekat dengan Nana dulu."


Bibi Niken hanya memandangi langkah Eric yang terasa berat, majikannya itu pasti merasa sangat kehilangan tanpa istrinya di rumah. Bibi Niken juga merasakan sejak di rumah tidak ada Nana, rasanya seperti tidak ada kehidupan. Nana bagaikan nafas bagi rumah Eric. Baru saja dalam beberapa tahun terakhir ini rumah terasa hangat sejak Caesar lahir, karena Eric dan Nana semakin terlihat saling peduli satu sama lain. Tapi sekarang terasa dingin kembali, sama seperti dia dan Nana ketika baru datang ke rumah itu. Hampa....


Eric masuk ke dalam mobil dan menyetir sendiri. Memang selama Eric tinggal di apartment, dia tidak lagi menggunakan jasa Joni sebagai sopir pribadinya. Eric menyuruh Joni untuk tinggal di rumah Julia dan menjadi sopir pribadi Caesar.


Eric tidak menyadari Edis sedang mengikuti mobilnya. Edis selama hampir tiga bulan ini memang tidak pernah bertemu dengan Eric semenjak terakhir kali dia dicampakkan oleh Eric saat semua kebohongannya diketahui oleh Eric. Dan selama itu juga Edis selalu mencari keberadaan Eric di perusahaan, di rumah pribadi, bahkan dia nekat menyelidiki di rumah Nyonya Julia, namun hasilnya Nihil. Semalaman Edis tidak pulang, dia terus mengawasi Eric saat dia melihat mobil Eric masuk ke rumah tersebut. Hingga pagi hari ini Edis bahkan belum makan samasekali sejak kemarin. Tekadnya hanya ingin bertemu dengan Eric.


Edis mengikuti Eric yang ternyata menuju National University Hospital. Edis berpikir pasti Nana dirawat disini. Dia baru menyadari kenapa sebelumnya tidak terpikirkan oleh Edis bahwa Eric berada di Rumah Sakit, selama ini Edis mengira Eric tidak akan memiliki perhatian pada istrinya, namun ternyata Edis salah.


Edis mengikuti Eric masuk ke Rumah Sakit hingga menuju ke unit instalasi tempat Nana dirawat. Edis sebenarnya tidak berniat untuk ingin tahu keadaan Nana, namun dia berubah pikiran karena dia melihat Eric yang sudah berubah terhadap dirinya.


Saat Edis mengawasi diam-diam, tidak beberapa lama Edis melihat beberapa orang keluar dari ruangan tersebut, satu diantaranya adalah Eric, sedangkan yang lainnya adalah satu orang laki-laki sebaya dengan Eric, seorang dokter laki-laki yang juga sebaya dengan Eric dan satunya seorang wanita yang seusia Nyonya Julia. Mereka tampak berbincang di depan pintu ruangan tersebut hingga kemudian mereka berjalan pergi dari ruangan tersebut ke arah berlawanan dengan posisi Edis. Muncul niat Edis untuk mendekati ruangan tersebut, namun karena instalasi tersebut ruang yang tertutup, sehingga Edis mencari informasi ke perawat yang bertugas disana. Ternyata berdasarkan informasi perawat tersebut memang benar ruangan itu adalah tempat istri Eric dirawat.


"Saya adalah sekretarisnya Tuan Eric, tadi saya diberitahu untuk menggantikan dia menjaga istrinya selama dia keluar."


Perawat tersebut awalnya ragu, namun Edis berhasil meyakinkan perawat tersebut dengan memberikan ID cardnya sebagai jaminan. Lalu Edis diijinkan masuk.


Saat Edis masuk, dia melihat tubuh seorang wanita terbaring di bed dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Edis berjalan perlahan mendekati bed Nana. Meski dia tidak melihat dengan jelas wajah Nana karena tertutupi alat ventilator oksigen, namun Edis bisa melihat sosok tubuh dari seorang wanita yang membuat Eric berpaling darinya. Edis melihat dengan detail setiap inchi tubuh Nana mulai dari ujung jari Nana sampai ujung rambut. Entah Edis harus bahagia atau iba dengan kondisi Nana saat ini, namun baginya Nana adalah wanita yang telah menghancurkan masa depan hidupnya yang telah ia impikan bersama Eric.


"Aku tidak mengenalmu, aku juga tidak pernah mengganggumu, tapi kenapa kamu tiba-tiba muncul dan merusak segalanya yang aku miliki. Maaf, tapi aku harus mengambil Eric kembali...."


Edis keluar dari ruangan tersebut dan mengambil ID card-nya di lobi ruangan perawat. Saat dia berjalan hendak pergi, tiba-tiba seseorang menarik lengannya dengan kasar hingga ia terseret ke belakang, yang ternyata adalah Eric.


Eric menyeret Edis ke koridor dan membawanya keluar dari unit perawatan.


"Eric lepaskan aku!"


Eric terus menyeret lengan Edis hingga ke tempat parkir.


"Eric! Sakit! Kenapa kamu kasar sekali!"


"Edis! Apa kamu sudah lupa dengan perkataanku beberapa waktu lalu?! Kalau kamu berani muncul di hadapanku, aku tidak segan membuatmu menghilang!"


"Eric, kenapa kamu bisa sekejam ini padaku?"


"Kejam?! Iya, aku akan semakin kejam padamu jika kamu berani datang lagi kemari. Istriku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Dan sekarang kamu lancang datang kemari! Untuk apa?!"


"Eric, aku cuma mau kita kembali seperti dulu. Itu saja...."


Edis memohon dengan isak tangis yang sesenggukan. Sebagai laki-laki tentu saja Eric tidak tega melihat seorang wanita menangis. Eric pun mulai melemahkan nada bicaranya melihat Edis yang menangis seperti tak ada harapan.


"Edis, aku cuma mau kamu berhenti mengharapkan aku. Aku sudah bukan Eric yang dulu lagi. Sekarang aku adalah seorang suami sekaligus seorang ayah, dan istriku juga sedang membutuhkan aku. Kamu tidak tahu betapa besarnya rasa bersalahku pada istriku. Kamu sudah lihat kan keadaannya bagaimana, akulah yang menyebabkan semua ini terjadi padanya. Jika bukan karena kejadian malam itu, mungkin dia tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Aku tidak menyalahkanmu Edis, aku masih bisa melindungimu dan membiarkanmu hidup tenang selama kamu menjauh dariku. Aku juga ingin memulai hidupku sendiri."


"Tapi Eric, aku juga membutuhkanmu... Aku tidak tahu harus bagaimana menjalani hidupku. Selama tujuh tahun ini aku selalu memikirkan bagaimana cara agar aku bisa kembali padamu, kamu boleh mengatakan aku pembohong. Tapi perasaanku terhadapmu selama ini bukanlah sebuah kebohongan...."


"Sudahlah Edis.... kamu bisa membenciku jika kamu melihatku sebagai seorang bajingan. Tapi aku saat ini lebih tidak rela meninggalkan keluargaku. Maafkan aku Edis..."


Edis semakin hancur mendengar ucapan Eric. Sepertinya memang tidak ada harapan lagi baginya untuk kembali bersama Eric. Dia sudah tidak memiliki daya untuk membujuk Eric apalagi membuat Eric kembali padanya.


Eric pergi meninggalkan Edis yang masih berdiri dengan isakan tangis yang semakin menjadi-jadi. Edis jatuh terduduk dengan menepuk dadanya yang sudah terasa sangat sesak hingga seolah ia tak bisa lagi bernafas. Dia melihat Eric terus melangkah menjauh darinya tanpa menoleh sedikitpun.


Ingatan Edis kembali mengingat masa lalu saat dulu papanya berpesan untuk jangan pernah kembali ke Singapore terlebih lagi mendekati perusahaan Shine. Namun Edis justru penasaran dengan keterkaitan Shine Grup dengan kematian ayahnya. Saat lulus kuliah dari Hongkong Edis kembali ke Singapore untuk mencari tahu tentang Shine Grup. Edis saat itu melamar pekerjaan sebagai sekretaris di Shine Grup. Pertama kalinya dia bertemu dengan Eric yang saat itu masih baru saja menjabat sebagai Presiden Direktur. Edis sejak awal sudah terkesan dengan penampilan Eric yang sempurna sebagai seorang laki-laki dan berusaha keras agar diterima bekerja di Shine Grup. Edis masih ingat betul saat dia harus bersaing dengan beberapa pelamar yang ternyata memiliki channel dengan petinggi di Shine Grup. Namun Edis adalah satu-satunya pelamar biasa yang dipilih oleh Eric. Itulah pertama kali Edis jatuh cinta pada Eric, dia melihat kepribadian dan sikap Eric terhadapnya sangat hangat dan berbeda terhadap karyawan lain. Seiring berjalannya waktu ia semakin dekat dengan Eric. Bahkan malam pertama mereka adalah saat mereka berdua sedang bertugas ke Maldives. Sejak saat itu Eric melamar Edis dan berjanji akan menikahinya meski Eric tahu Edis sudah menjalin hubungan dengan kekasihnya di Hongkong. Pada akhirnya Edis meninggalkan kekasihnya dan memilih bersama Eric.


Sejak awal Edis dan Eric sepakat untuk tidak mempublikasikan hubungan mereka, bahkan ibunya Edis baru tahu hubungan mereka setelah setahun berhubungan, ibunya Edis selalu memperingatkan Edis untuk menjauhi Eric. Tapi Edis tetap bersikukuh menjalani hubungannya meski ia tahu ternyata Ayah Edis adalah salah satu orang yang pernah membuat Shine Grup terpuruk. Selama Edis menjadi kesayangan bagi Eric, ia meyakini bahwa tidak akan ada yang bisa membuat siapapun menyingkirkannya. Namun rupanya Nyonya Julia tahu siapa Edis sebenarnya, tapi pada saat itu Nyonya Julia tidak melakukan tindakan apa-apa meski sudah mengetahui hubungan mereka. Edis semakin arogan dan menguasai Eric, sampai dia bisa mengendalikan Eric untuk melawan ibunya.


Namun kini Edis baru menyadari bahwa dia sudah kalah....


Tidak ada yang bisa ia lakukan karena Eric sudah tidak mempercayainya, dia lebih memilih keluarganya. Malam itu saat di hotel sebenarnya Edis memang sengaja ingin menguasai Eric kembali, karena saat itu Eric masih memberi celah bagi Edis. Namun setelah tragedi kecelakaan malam itu, Eric semakin berubah dan menjauh darinya. Eric rupanya memang sudah tidak mencintainya lagi....


Edis berdiri dan berusaha berjalan dengan sekuat tenaganya yang masih tersisa setelah lelah meluapkan tangisnya. Dari arah seberang dia melihat mobil Eric keluar dari barisan parkir. Edis yang sudah kehilangan akal sehatnya lalu berlari menuju mobil yang masih berputar arah. Edis berlari menuju arah depan mobil dan bersiap menabrakkan dirinya ke mobil Eric, dia sudah tidak ada harapan lagi dan tidak tahu bagaimana lagi menarik simpati Eric.


Kevin memang saat itu meminjam mobil Eric untuk mengantar Mama Lisa kembali ke apartment Kevin karena semalam Mama Lisa menginap di Rumah Sakit. Kevin sangat kaget saat melihat ada wanita yang tiba-tiba berlari menuju arah depan mobil yang ia kemudikan.


Karena moment itu sangat tidak terduga, Kevin langsung banting setir ke kanan untuk menghindari wanita tersebut hingga lupa bahwa saat ini dirinya berada di tempat parkir lantai 4. Mobil Eric yang dikendarai Kevin menabrak tembok pembatas dengan sangat keras hingga tembok jebol dan terjun bebas dari lantai parkir.


"Duaaaarrr!!"


Di waktu yang sama,


Eric sedang menemani Nana di dalam ruangannya, tiba-tiba jari telunjuk kiri Nana bergerak. Eric terkejut melihatnya. Namun tidak lama alat detector jantung Nana membunyikan suara alarm. Eric panik dan menghubungi perawat yang berjaga.


Nana tiba-tiba menghela nafas tinggi seolah tidak bisa bernafas dan hal itu membuat Eric semakin panik. Dia terus menghubungi perawat dengan penuh emosi. Sesaat kemudian beberapa orang perawat dan seorang dokter datang dan memeriksa keadaan Nana. Melihat kondisi Nana yang ternyata kritis, mereka membawa Nana ke ICU. Eric semakin cemas melihat keadaan Nana, padahal selama tiga bulan ini Nana sudah melewati masa kritis. Tapi kenapa sekarang kembali kritis? Mungkinkah pertanda mimpinya semalam....


Nana sudah masuk ke dalam ICU, sedangkan Eric tidak diperbolehkan masuk. Hampir dua jam Nana berada di dalam ICU, namun Eric sama sekali tidak melihat Brian masuk ke dalam, padahal dia sendiri yang mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab atas kondisi Nana. Eric sudah menyumpah serapah Brian dalam hati. Kalau sampai Nana tidak bisa melewati masa kritis ini, dia akan membuat Brian menyesal.


Setengah jam kemudian dokter keluar dari ICU dan menyatakan Nana sudah dalam keadaan stabil. Eric sudah diperbolehkan masuk ke dalam untuk melihat kondisi Nana. Eric langsung menggenggam tangan Nana dan menangis,


"Terimakasih Nana, kamu sudah mau bertahan atas hidupmu."


Eric mengelus kening Nana yang masih koma dan mencium tangan Nana. Dua setengah jam tadi membuat dunia Eric serasa berputar dan terbalik.


Dokter dan perawat akan memindahkan Nana ke ruang perawatan kembali. Saat mereka hendak masuk ke ruang perawatan Nana, Eric melihat Brian sedang bersandar di tembok dengan lesu. Eric tidak menunggu lama langsung menyambar jas dokter Brian dan mencengkeram kerah baju Brian.


"Kemana saja kamu?! Apa kamu tahu bagaimana Nana melewati masa kritisnya barusan?! Dia sekarat!!!"


Brian hanya menunduk seolah tidak mendengarkan bentakan Eric. Dia hanya memejamkan mata dan seolah pasrah.


"Brian!! Apa kamu sengaja? seharusnya aku tidak percaya kepadamu!"


Eric terus meneriaki Brian, hingga Brian akhirnya tidak tahan menatap wajah Eric. Wajah Brian terlihat sayu seperti orang yang putus asa.


"Eric, Kevin dan Mama Lisa barusan mengalami kecelakaan di gedung belakang."


"Apa?!"


Eric melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah Brian.


"Mobil yang mereka kemudikan terjun dari parkir lantai 4. Dan..... mereka tidak bisa diselamatkan."


Eric terbelalak dan perlahan mundur hingga menjatuhkan dirinya bersandar di tembok. Dia seolah tidak ingin mempercayai kalimat yang keluar dari mulut Brian.


Terakhir kali Eric tahu mobilnya tidak ada masalah apapun, sehingga dia memaksa Kevin untuk menggunakan mobilnya karena mobil Kevin sedang di bengkel. Eric sekarang merasa justru dia yang seolah sengaja mengantarkan Kevin dan Mama Lisa kepada maut.


Brian mengantar Eric ke ruang jenazah, yang disana terbujur jasad Mama Lisa dan Kevin. Eric tidak sanggup membayangkan wajah mereka yang beberapa jam yang lalu dia temui dalam kondisi sehat, sekarang mereka sudah menjadi sosok yang berbeda.


Eric mengingat kembali ucapan Kevin yang paling dia ingat,


(flashback ucapan Kevin)


"Apa kamu mencintai Nana?"


"Aku hanya ingin melindungi Nana dan membuatnya tidak merasakan sakit lagi."


"Aku mohon ceraikan Nana, walaupun aku harus bersujud memohon kepadamu Eric."


"Tolong jangan belenggu lagi Nana..."


(Flashback off)


Brian menepuk bahu Eric yang masih mematung di depan jenazah Mama Lisa dan Kevin.


"Eric, bukan hanya kamu yang merasa kehilangan. Aku adalah orang yang paling kehilangan. Mereka adalah keluargaku. Polisi saat ini masih menyelidiki penyebab kecelakaannya. Tapi jika memang mobilmu yang bermasalah.... Aku tidak mau mengatakan ini, tapi dengan kata lain kamulah yang bertanggung jawab atas kematian mereka."


Brian melangkah pergi meninggalkan Eric, namun menghentikan langkahnya di depan pintu lalu menoleh ke belakang,


"Eric, sejujurnya aku tidak suka melihat caramu yang pura-pura kehilangan, karena sejak awal kamulah yang menyengsarakan hidup Nana dan sekarang merenggut keluarganya."


Eric mengepalkan tangannya sendiri mendengar ucapan Brian. Tapi yang dikatakan Brian tidak salah. Memang benar jika dipikirkan lagi ini semua berakar dari kesalahan dan keegoisan Eric. Belum selesai rasa bersalahnya terhadap Nana yang masih koma, kini dia menanggung beban mental sebagai penyebab utama atas segala kesengsaraan dan penderitaan yang selama ini dialami Nana dan keluarganya.


(Suara hati Eric)


"Nana, akankah kamu memaafkan aku... Dosaku terhadapmu dan keluargamu sungguh tak termaafkan. Kamu sudah banyak menderita karena aku.



---------------------------------


Bagaimana reaksi Eric mengetahui bahwa penyebab kecelakaan yang menimpa Mama Lisa dan Kevin sebenarnya adalah Edis?


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....