I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] ENAM TAHUN



"Sial!! Dia sengaja menghidupkan apinya! Lari!!!"


"Hahahahaha...!"


BOOOOMMM!!!!!!!


"Aaaaaahhhh!!!!"


....


....


....


"Gelap... Panas... Aku tak bisa melihat apapun... Tubuhku tak bisa bergerak...."


....


....


....


***



***


"Hei Rosie... Rosie...!" Seorang nurse beberapa kali sedikit menggoncang tubuh gadis yang terbaring di bed ruang perawatan rumah sakit.


"Hah.... hah....hah...!" gadis tersebut tampak terbangun dengan nafas terengah-engah seperti seusai berlari maraton.


"Jean... how do you feel now?" Tanya nurse yang berkulit hitam ras negroid tersebut.


"I'm fine,..."


"Are you sure? Please tell me if you have any problems dear..."


"Thanks nurse Medela..."


"Oh dear...."


Nurse tersebut merengkuh tubuh Rosie yang penuh dengan balutan perban di seluruh wajahnya.


Rosie membalas pelukan nurse Medela.


"*Tidak ada tempat yang paling hangat selain keluarga.


Namun bagi diriku yang saat ini sudah menjalani kehidupan sebagai orang lain, tidak memiliki tempat yang disebut sebagai keluarga.


Enam tahun telah berlalu sejak aku meninggalkan kehidupanku yang lama, kehidupan yang harus aku lupakan, kehidupan yang harus aku tinggalkan.


Tapi tak ada pilihan lain bagiku selain mengikuti semua yang mereka inginkan, karena aku hanya menginginkan kehidupan yang semestinya.


Kini aku kembali hidup,


Menjalani kehidupan orang lain*."


Rosie merupakan pasien istimewa di Miami Hospital, dia sudah hampir enam tahun menjadi pasien tetap di sana. Jika dalam kondisi normal, ia tinggal di panti sosial yang juga dikelola oleh Rumah Sakit.


Di Miami, Rosie ditemani oleh ayahnya yang merupakan satu-satunya keluarganya, yang juga tinggal di Panti Sosial dan bekerja sebagai tukang kebun di Rumah Sakit.


"Wan, it's for you!" seseorang memanggil ayah Rosie.


Pria paruh baya bernama Gunawan tersebut menoleh dan melihat salah satu rekannya membawakan sekotak makan siangnya.


Gunawan tersenyum sumringah dan segera merapikan pekerjaannya lalu menuju kotak makan siangnya.


Gunawan tampak bersemangat menyantap makan siangnya.


"Hei... don't be so rush, you have to take a breath if you eat... I'll never want grab your meal..." ucap Sam dengan nada bercanda karena melihat Gunawan begitu lahap makan seolah dia baru hari ini makan setelah beberapa hari.


Gunawan tersenyum karena tersipu malu. Tapi dia tahu Sam rekannya sesama tukang kebun tersebut hanya bercanda dan dia pun juga sering mengetahui bahwa Gunawan memang hanya makan saat di tempat kerja. Jika tidak sedang berada di tempat kerja, Gunawan akan jarang makan. Terlebih jika putrinya Rosie sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit.


Saat sedang tengah menikmati makanannya, ponsel Gunawan berdering.


Gunawan melihat ponselnya dan terkejut dengan nama yang tertulis di layar ponselnya. Gunawan segera menghentikan makannya dan merespon panggilan teleponnya.


"Halo..." ucap Gunawan dengan nada suara merendah.


"Pak Gunawan, bagaimana kabarmu hari ini?"


"Oh... Tuan Xing... kami di sini baik-baik saja, semua karena kebaikan Tuan Eric..."


"Bagaimana kondisi Rosie saat ini?"


"Saat ini... dia sehat... dia sedang menunggu konfirmasi tindakan operasi. Pihak rumah sakit mengatakan dia tinggal menjalani 2-3 kali operasi lagi untuk perbaikan kulit wajahnya..."


"Baguslah... Kemarin kami sudah mengkonfirmasi kepada pihak rumah sakit terkait operasi yang akan dilakukan kepada Rosie selanjutnya. Seperti biasanya, anda tidak perlu khawatir dengan biayanya. Tuan Eric yang akan menanggung semua biayanya."


"Terimakasih Tuan... Terimakasih banyak... "


"Kami juga sudah mengirimkan tunjangan anda bulan ini ke rekening anda."


"Baik Tuan Terimakasih...."


"Tetap hubungi kami jika ada masalah apapun Pak Gunawan, jangan bertindak gegabah tanpa persetujuan kami.... Selama anda kooperatif, kami akan selalu menjamin kehidupan anda dan Rosie..."


"Baik Tuan, saya mengerti..."


Pria di seberang telepon memutus panggilannya. Gunawan tampak murung dan membereskan makan siangnya.


"I'll take a leave first, Sam... Sorry..."


"Did something happen to your daughter?"


"Yes, my daughter will undergo surgery again..."


"Calm down, I'm sure your daughter will recover this time soon."


"Thank you Sam..., you are indeed my friend"


"Ok, take care Wan..."


Gunawan pergi menuju loker karyawan Rumah Sakit untuk membersihkan diri dan berganti pakaian kemudian pergi ke instalasi tempat Rosie dirawat.


Di diinstalasi perawatan,


Rosie sedang menatap ke luar jendela kaca. Pemandangan dari atas gedung lantai sepuluh memang luar biasa sehingga membuat Rosie sejenak menghilangkan tekanan yang ada di dalam pikirannya.


Gunawan masuk ruangan dan melihat Rosie yang sedang melamun menatap luar jendela.


"Kamu sudah siap, nak?"


Rosie mengangguk dan meraih tangan Gunawan untuk menenangkan dirinya.


"Papa... sudah makan?" Rosie bertanya pada ayahnya dengan nada suara lirih karena mulutnya masih sulit digerakkan.


"Sudah..."


Rosie melihat wajah ayahnya yang tampak sedih dan murung. Selalu saja seperti itu setiap Rosie akan menjalankan tindakan operasi.


"Papa tidak perlu khawatir, Rosie selalu siap. Lagipula ini bukan pertama kalinya, jadi Rosie semakin tenang setiap menghadapi tindakan operasi..."


Gunawan menatap anaknya selama berbicara, Rosie masih tampak kesulitan berbicara karena balutan perban yang masih menempel di hampir seluruh bagian wajahnya.


"Jasmine...."


"Papa...." Rosie menggelengkan kepalanya isyarat agar Gunawan jangan meneruskan ucapannya.


"Papa harus yakin Rosie sebentar lagi akan sembuh dan kembali normal..."


Gunawan perlahan matanya mulai berair. Setiap kali ia melihat putrinya harus menjalani operasi yang entah sudah ke berapa kalinya sejak enam tahun lalu.


Mungkin saat ini jauh lebih baik karena operasi kali ini adalah operasi rekonstruksi wajah yang sudah mulai menampakkan hasil luar biasa yang membuat putrinya memiliki wajah hampir seperti orang normal pada umumnya. Meski kini wajahnya sudah jauh berbeda dan hampir sulit dikenali karena berubah total dari wajah aslinya.


Beberapa tahun lalu adalah masa-masa terberat bagi Gunawan dan putrinya, saat ia harus pergi meninggalkan Singapore demi kesembuhan putrinya.


Eric adalah satu-satunya orang yang bertanggung jawab menjamin biaya pengobatan Rosie sekaligus menjamin kehidupan mereka di Amerika. Namun Gunawan dan Rosie lebih memilih tinggal di Panti Sosial karena di sana mereka lebih merasa aman dan memiliki keluarga.


Beberapa jam kemudian,


Rosie bersiap memasuki ruang operasi, Gunawan berusaha menguatkan mental putrinya. Meski sudah berkali-kali ia menjalani operasi, namun ia selalu merasa takut kehilangan.


Setelah pintu operasi ditutup, Gunawan semakin merasa gelisah. Dia mondar mandir di sekitar ruang operasi.


"Pakcik Gunawan...? Rosie hari ini menjalani operasi lagi?" seorang dokter muda wanita menyapa dan menghampiri Gunawan.


"Ohh... Miss Shaila..." Gunawan membungkukkan badannya menyalami Shaila.


"Sudah saya bilang jangan panggil Miss... Panggil saya Shaila. Pakcik seumur dengan abi saya..." Shaila sambil tersenyum ramah.


Shaila melihat raut kekhawatiran seorang ayah di wajah Gunawan.


"Pakcik tidak perlu khawatir, Rosie gadis yang kuat. Saya yakin Rosie bisa mengatasi seperti operasi-operasi sebelumnya."


"Terimakasih Shaila..." ucap Gunawan


"Pakcik sudah makan?"


"Sudah tadi pagi..."


"Eih... sekarang sudah jam 4 sore, pakcik sudah harus makan lagi..."


"Kalau begitu tunggu sebentar Pakcik..."


Tanpa berpikir terlalu lama Shaila pergi membelikan roti smoke beaf untuk Gunawan di kantin Rumah Sakit.


Saat dia sedang berjalan kembali ke ruang operasi, dia bertemu dengan Caesar.


"Aku sudah mencarimu kemana-mana..." Wajah Caesar tampak sedikit kesal.


"Baby, kamu kan bisa menghubungi ponselku..."


Caesar menarik jas snelli Shaila dan merogoh sakunya.


"See...! Ponselmu mati...!" Caesar sambil menunjukkan ponsel Shaila yang mati.


Shaila seketika tertawa dan merasa konyol dengan sikap Caesar yang terlihat begitu kesal yang kemungkinan telah menghubungi dirinya namun tidak tersambung.


"Hahaha... Jadi kamu pasti mengirimi message ratusan teks, baby..."


"Haish, lupakan. Yang penting aku sudah menemukanmu. Ayo kita pulang...."


Caesar menarik tangan Shaila yang hampir satu tahun menjadi kekasihnya itu.


"Wait... wait... Aku sedang membelikan seseorang roti smoke beaf. Tunggu aku akan mengantarkannya dulu."


"Who is she or he?"


"Dia pakcik, don't be jealous... baby..."


Caesar mengikuti langkah Shaila menuju ke ruang operasi.


"Kamu tidak pernah cerita punya pakcik di sini?"


"Bukan... lebih tepatnya dia adalah ayah dari seorang pasien yang menempati instalasi perawatan yang menjadi tanggung jawabku"


"Yang kamu baru dipindahkan ke sana?"


"Yap... putrinya bernama Rosie. Dia dari Singapore juga. Rasanya dia dari keluarga yang kurang mampu. Pakcik sendiri bekerja sebagai tukang kebun dan tinggal di Panti Sosial yang dikelola rumah sakit ini. Jadi saat aku tahu dia berasal dari Singapore, aku sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluargaku."


"Jika dia tidak mampu, mengapa dia bisa sampai di rumah sakit ini dan mampu membayar biaya rumah sakit?"


"Dia pernah cerita bahwa dia memiliki donatur yang bertanggung jawab membiayai biaya pengobatan putrinya. Tapi dia tidak mau menceritakan kronologi apa yang menimpa putrinya. Dia juga tampak sangat insecure dan menutup diri dari orang lain. Bahkan rekam medik Rosie sendiri dimasukkan ke dalam data pasien khusus. Aku hanya tahu dia berada di instalasi perawatan tempatku bertugas, tapi hanya Profesor Nick dan asistennya yang diperbolehkan memeriksanya."


"Hmm... menarik sekali..."


"Selalu ada banyak cerita menarik di Rumah Sakit, baby.... Ah, kamu tunggu di sini dulu ya..."


Shaila meminta Caesar menunggu di depan pintu luar koridor instalasi. Sementara ia masuk ke dalam pintu koridor ruang operasi.


"Pakcik, ini untukmu... makanlah selagi menunggu Rosie... Pakcik harus jaga kesehatan ya..." Shaila menyerahkan bungkusan kertas yang berisi Roti smoke beaf hangat dan sebotol air mineral.


"Terimakasih banyak Shaila..."


"Saya pamit pulang dulu pakcik..."


Shaila pergi meninggalkan Gunawan. Saat Shaila membuka pintu, Caesar sedang menghadap ke pintu sedangkan Gunawan belum membalikkan tubuhnya sepenuhnya. Sehingga Caesar sekilas melihat wajah Gunawan saat Shaila membuka pintu.


***



***


------------------------------------


Caesar dan Shaila kembali ke apartment yang sudah mereka tinggali bersama kurang lebih baru tiga bulan, meskipun mereka sudah menjalin hubungan hampir satu tahun.


Walaupun mereka tinggal satu apartment, mereka tetap memiliki kamar yang berbeda. Sebenarnya apartment itu merupakan milik Caesar yang dibeli dari tabungannya sendiri. Bahkan Eric dan Nana tidak tahu jika Caesar sudah memiliki Apartment di Miami.


Sejak Caesar menempuh pendidikan di Harvard, ia sudah hidup mandiri dan perlahan melepaskan diri dari biaya kedua orang tuanya. Caesar telah sepakat bersama Eric untuk memindahkan sahamnya ke perusahaan lain yang dikelola Erica dan suaminya yang bukan merupakan bagian dari Shine Group.


Sejak insiden bom bunuh diri enam tahun lalu, Caesar memang lebih berfokus pada kemandirian dirinya. Hal itu ia lakukan karena dia tidak ingin terlalu membebani Eric dan Nana, agar mereka berfokus pada pemulihan Regal.


Eric hanya bisa mengikuti permintaan Caesar yang menginginkan berperan di belakang layar dengan memindahkan sejumlah saham yang dimiliki Caesar di Shine Group kepada perusahaan partner.


Dalam enam tahun, pertumbuhan saham yang dimiliki Caesar terus berkembang. Sehingga ia terus mendapatkan kekayaan dari share income dari perusahaan partner tersebut. Namun Caesar tetap memilih untuk tidak turut berkecimpung di dunia politik bisnis.


Caesar lebih memilih sebagai dokter.


"Baby, hari ini kamu mau makan apa? Aku mau ke supermarket, beli bahan makanan."


Caesar duduk menghadap ke arah televisi di home theater yang hanya berjarak delapan meter dari posisi Shaila di dekat lemari es.


Caesar tampak melamun.


"Baby.... Baby...."


Caesar bukan tak mengindahkan panggilan Shaila. Tetapi dia memang tidak mendengarnya, Karena saat ini pikiran Caesar sedang memikirkan wajah pria paruh baya yang sekilas ia lihat pada saat Shaila membuka pintu instalasi.


Wajah pria yang mengingatkan Caesar pada seseorang. Namun Caesar tak begitu yakin karena dia hanya melihat sekilas. Dan mustahil orang yang dia pikirkan sedang berada di Amerika.


"Mungkinkah.... Tapi rasanya tidak mungkin... Lagipula untuk apa? Untuk apa dia di sini? Bekerja? Bukankah paman sendiri yang bilang dia akan kembali ke Surabaya setelah pemakaman... "


Caesar terus tenggelam dalam lamunannya, sampai dia tidak menyadari Shaila sudah berkali-kali menepuk lengannya.


"Caesar...!" Shaila sambil memukul lengan Caesar.


Caesar terkejut mendengar Shaila memanggil namanya.


"Ada apa? Kenapa memanggil namaku?" ucap Caesar sambil mengerutkan alisnya.


"Itu karena kamu sendiri membuatku kesal. Kamu sedang memikirkan apa?"


"Ahh... nggak... aku cuma sedikit terdistract saja..." Caesar menghindari pandangan Shaila.


"Kalau begitu kamu istirahat saja... Belanjanya besok pagi saja..."


"Baiklah, terimakasih baby..."


Caesar merapatkan tubuhnya memeluk Shaila.


Sejenak mata Caesar dan Shaila saling menatap dan mendekatkan wajahnya satu sama lain.


Caesar berinisiatif lebih dulu memiringkan wajahnya dan mencondongkan bibirnya dengan maksud ia ingin mencium bibir Shaila.


Shaila tak menolak sama sekali. Dia memejamkan matanya dan membiarkan Caesar merekatkan bibirnya. Mungkin itu karena Shaila selalu menikmati ciuman lembut Caesar.


Hal itu pula yang membuat Shaila pada akhirnya menerima Caesar. Perangai Caesar yang lembut dan selalu memperlakukan Shaila seperti wanita yang dimuliakan.


Caesar perlahan merasa pinggang Shaila.


"Shaila...."


Caesar berbisik dengan sedikit meniupkan nafasnya ke telinga Shaila.


Shaila merasa geli sambil tertawa sedikit manja dengan menggeliatkan bahunya.


----------------------------------------


Caesar sempat sekilas melihat wajah Gunawan.


Kira-kira apa yang akan dilakukan Caesar jika dia benar-benar bertemu dengan Gunawan?


Lalu bagaimana reaksi Gunawan?


----------------------------------------


Stay Safe and Keep Health buat teman-teman ya...


***



***


**Halo sobat pembaca


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**