
RAHASIA
***Tetap berbuat baik lah pada semua orang meski mereka tidak memberimu kebaikan.
Ya, Benar!
Namun... bukan manusia namanya jika tidak memiliki batas kesabaran.
Dan setiap manusia memiliki keterbatasan yang berbeda, tergantung bagaimana mereka menjalani hidup.
Maka jangan bandingkan setiap kesabaran seseorang dengan orang lain ataupun dirimu sendiri.
Jika kita tidak pernah tahu bagaimana ia menjalani setiap detik hidupnya.
Dan aku paling benci dibanding-bandingkan!
-- Caesar***--
-----------------------------------
Kring....
Kring....
Sebuah telepon berdering di sebuah sudut dalam ruang bimbingan konseling siswa.
Lalu seorang guru wanita mengangkat telepon tersebut.
"Halo? Yes.... I understood. Leave this for me. He just arrived here. Oke I will handling anything for a while."
Guru wanita tersebut menutup telepon. Lalu dia berbicara dengan seorang anak laki-laki berusia 12 tahunan yang duduk di depan meja kerjanya.
"Barusan Prof Yue menghubungi kami untuk memastikan apakah kamu sudah datang atau belum. Dan karena beliau sedang ada pertemuan di Kantor pusat, jadi sementara aku yang akan menanganimu, Regal."
Anak laki-laki yang duduk di depan guru wanita tersebut hanya diam menunduk tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak ia memasuki ruang bimbingan konseling siswa.
"Regal, jika kamu keluar kelas dan tidak mengikuti pelajaran satu kali lagi, maka kami akan memanggil kedua orang tua kamu. Sangat langka seorang siswa tingkat pertama sudah membolos. Dan poin pelanggaran untuk membolos adalah sebesar 5 poin. Itu termasuk pelanggaran sangat berat."
Regal hanya diam tanpa menunjukkan wajahnya ke hadapan gurunya. Guru wanita yang bernama Mrs Jang itu seolah kehabisan kata-kata menghadapi Regal yang hanya diam. Bagi Mrs Jang, lebih mudah menghadapi anak berandal daripada anak yang hanya bersikap diam penuh misterius.
"Oke, jika kamu tetap diam seperti itu, rasanya aku juga tidak perlu banyak bicara. Aku akan membuat surat untuk...."
"Anda bisa memanggil kakakku..." Regal tiba-tiba memotong kalimat gurunya.
"Kakakmu?" Mrs Jang sambil mengerutkan alisnya membaca dokumen yang ada di mejanya. Kemudian ia menelpon seseorang.
Dengan wajah yang masih menunduk, ia menyembunyikan senyum seringai saat ia membayangkan kakaknya akan datang menemuinya di ruang bimbingan konseling.
"Aku sudah menghubungi wali kelas XI untuk meminta ijin agar kakakmu diijinkan datang ke sini."
Tidak berapa terdengar seseorang mengetuk pintu.
Tok...
Tok...
"Come in!" Mrs Jang menjawab.
Lalu seorang siswa laki-laki berperawakan tinggi kurus membuka pintu dan memasuki ruang Bimbingan Konseling.
"hmm, sekarang kamu sudah datang."
Siswa tersebut berjalan menuju meja Mrs Jang lalu berdiri di belakang kursi yang bersebelahan dengan kursi yang diduduki Regal.
"Anda memanggil saya?"
"Yes, silahkan duduk di kursi itu, Caesar..."
Caesar memasang ekspresi tenang dan tetap elegan di wajahnya. Ia fokus menatap ke depan menghadap Mrs Jang. Tanpa sedetik dan sedikitpun melirik apalagi menoleh ke Regal. Meski dalam hatinya ia tahu bahwa adiknya membuat ulah lagi yang melibatkan dirinya, meski ia sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu.
Melihat Caesar duduk di sampingnya, Regal menatap kakaknya dengan wajah tampak senang dan antusias. Dia memang tidak pernah berada sedekat ini dengan kakaknya.
"Oke langsung saja saya jelaskan kenapa aku memanggilmu kemari. Caesar, adikmu Regal sudah membolos pada saat jam mata pelajaran olahraga. Hal ini sudah dua kali terjadi. Mengingat reputasimu di sekolah ini sangat baik, dan sebagai seorang champion yang memenangkan kompetisi Sains, kami meminta pertimbangan sekaligus mengingatkan padamu bahwa jika satu kali adikmu membolos maka ia akan mendapat poin. Prof Yue memberikan kesempatan kepada Regal agar mau memperbaiki diri."
"Terimakasih Mrs Jang, kali ini saya akan memberikan bimbingan padanya untuk tidak mengulanginya." Caesar menjawab dengan tenang dan wajah yang menyejukkan.
"Baiklah, kali ini aku tidak akan membuat surat untuk orang tua. Tapi jika Regal melakukannya satu kali lagi, maka kami akan mengundang orang tua kalian datang ke sekolah."
Mrs Jang berdiri dan mengambil salah satu folder yang ada di lemari folder di belakangnya. Lalu mengeluarkan satu bendel kertas yang terdiri dari tiga lembar kertas.
"Regal, cap jempolmu di sini untuk mengkonfirmasi pelanggaranmu. Jangan sampai ada satu lagi cap jempol pelanggaran di lembaran yang ketiga. Kalian bisa kembali ke kelas sekarang."
Regal dan Caesar keluar secara bersamaan dari ruangan. Setelah keluar dari pintu ruang bimbingan konseling, ekspresi Caesar yang sejak tadi tampak ramah dan tenang, langsung berubah menjadi tatapan dingin dengan mata yang tajam sambil langsung melengangkan langkahnya meninggalkan Regal.
"Kak Caesar....!"
Langkah Caesar terhenti, namun kepala dan wajahnya tetap menatap lurus ke depan. Kedua tangannya masuk ke dua saku celananya.
Caesar yang sejak tadi bersikap humble Dan ramah di depan Mrs Jang, merubah sikapnya menjadi arogan dan dingin.
"Sudah ku katakan untuk tidak melibatkanku dengan urusanmu, aku tidak ingin semakin terlibat dalam hidupmu. Selesaikan sendiri masalahmu."
Hati Regal terasa nyeri mendengar ucapan Caesar. Tapi yang bisa ia lakukan hanya mengepalkan tangannya dengan semakin erat. Bibir tipisnya pun juga semakin mengatup dengan sebagian dalamnya yang hampir tergigit.
Sikap itulah yang selalu Caesar tunjukkan untuk adiknya. Dan begitulah hubungan Caesar dan Regal.
Entah sejak kapan dan sampai berapa lama.
***
------------------------------------
"Katakan padaku, apa salahku?"
Bukk!
Regal memukul kantung pasir yang menggantung di halaman belakang rumahnya. Keringat mengalir dari setiap pori kulit tubuhnya hingga membasahi hampir seluruh rambut, wajah, dan punggungnya. Anak laki-laki yang tidak tampak berusia 12 tahun itu terus memukuli kantung pasir tersebut semakin keras.
Dari sebuah kamar lantai dua, tampak Caesar mengamati sikap Regal yang sangat terlihat sedang meluapkan amarahnya. Wajah datarnya sangat bisa menyembunyikan perasaannya saat ini.
Regal terus meluapkan amarahnya pada kantung pasir seberat 20 kilogram sampai boxing gloves yang membungkus tangannya terlempar ke tanah. Regal menjatuhkan dirinya terlentang di atas rumput sambil memejamkan matanya dengan nafas yang masih terengah-engah karena kelelahan.
Caesar masih berada di kamarnya sambil terus memperhatikan Regal.
(Flashback)
"Caesar mau bantu daddy menjaga mommy dan adikmu?" Eric berjongkok di hadapan Caesar yang masih berusia 6 tahun
Caesar mengangguk. Kemudian Eric memeluk Caesar.
"Janji ya...." Eric sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Caesar.
Caesar tersenyum dan membalasnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking ayahnya.
"Tuan Eric, Nyonya Nana sudah sadar." dokter memanggil Eric.
Eric segera berdiri dan berjalan setengah berlari masuk ke kamar mereka dan langsung duduk di samping tubuh Nana yang terbaring di tempat tidur.
"sayang... kamu masih pusing?"
Nana tersenyum dan menggeleng kepalanya dengan pelan.
"Bagaimana kondisi anak kita?"
Nana berusaha mengeluarkan suaranya meski terdengar masih serak.
"Anak kita kondisinya baik-baik saja, tapi kamu harus bedrest selama masa kehamilan ini." suara Eric sedikit tenang sambil mengelus kening Nana.
"Maafkan aku ya, Karena kondisiku begini..."
"Kenapa kamu harus minta maaf, ini adalah ujian kita. Kamu begini juga karena aku. Aku yang salah... Tapi kita harus menghadapinya. Aku akan selalu menjamin keselamatan kamu dan anak kita. Mulai sekarang kamu fokus saja pada kandunganmu. Untuk hal lainnya biar aku yang urus."
Nana hanya mengangguk setuju. Saat ini, ia hanya bisa mengandalkan Eric sebagai suaminya untuk menjaga dan merawatnya. Nana menyadari kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan lagi untuk melakukan hal-hal sesuka hatinya.
Nana tidak akan egois. Tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Tapi juga milik anaknya yang saat ini sedang dikandungnya, begitu pun Eric dan Caesar masih membutuhkannya.
Caesar hanya menatap Nana dari luar melalui pintu kamar yang terbuka. Tanpa ia sadari, air matanya keluar.
Caesar masih teringat dengan jelas gambaran memori saat ibunya tantrum di rumah sakit setahun yang lalu.
(flashback end)
Caesar menjapit pangkal hidungnya dengan kedua jarinya, sebenarnya dia tidak ingin mengingat hal tersebut, namun memory kejam itu terus menerus menggerus pikirannya.
Bayangan yang tergambar di kepala Caesar saat Nana masuk ruang operasi untuk melahirkan Regal, hingga saat Nana mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan Regal.
"Shit... kenapa aku harus mengingat malam mencekam itu lagi?"
Di tengah kekalutan pikiran Caesar, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
tok...
tok...
Caesar berjalan menuju pintu lalu membukanya. Nana berdiri di depan pintu.
"Caesar, boleh mommy masuk?"
Caesar menjawab dengan anggukan.
"Caesar, hari ini mommy mendapat telepon dari maminya Glenn, katanya kamu kemarin dipanggil ke ruang bimbingan konseling. Apa itu benar?"
Nana berjalan mendekati Caesar yang masih berdiri menatap Nana.
Caesar yang kini lebih tinggi kira-kira dua puluh sentimeter dari Nana, masih terus menatap ibunya dengan wajah datar, dingin, dan diam saja.
"Caesar, jika kamu ada masalah katakan saja pada mommy. Mommy tahu kini pemikiranmu sudah matang, tapi mommy harap kalau kamu ada masalah, bisakah kamu berbagi pada mommy?"
Caesar memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Dia memalingkan wajahnya dan membalikkan tubuhnya sampai menghadap ke jendela.
Tatapan Caesar kini menjurus pada tubuh Regal yang masih tiduran di rumput taman belakang.
"Bukankah mommy selalu ingin aku menjadi anak yang kuat sehingga aku adalah Kakak yang sempurna bagi anak itu."
Caesar bicara sambil melihat Regal yang tidak menyadari bahwa ia diamati oleh Caesar dari jendela kamar Caesar di lantai dua. Caesar sama sekali tidak menghadap Nana yang kini posisinya ada di belakang Caesar.
Nana pun juga tidak menyadari jika Caesar bicara sambil mengamati Regal.
"Caesar, Regal adalah adikmu sampai kapan kamu akan menyebutnya 'anak itu', dia bukan orang lain..."
"Ya... Karena orang lain itu adalah Aku..."
"Caesar...."
"Jika mommy ingin mencari tahu kenapa aku masuk ruangan konseling itu. Tanyakan sendiri pada anak brandalan itu!"
Caesar membalikkan tubuhnya kembali menghadap Nana.
"Tentu mommy tidak akan percaya kalau aku bilang bahwa Regal yang membuat masalah. Karena di mata kalian, dia selalu menjadi anak yang belum mengerti, dan aku adalah anak yang harus mengerti."
Deg!
Entah kenapa ucapan Caesar terasa menusuk di hati Nana. Dia tidak menyangka Caesar bisa mengatakan hal demikian.
"Mommy tenang saja, aku akan menjadi kakak yang sempurna untuk Regal...."
Caesar melirik sejenak ke wajah Nana, lalu mengambil jaketnya yang tersampir di kursi belajarnya.
"Mau kemana kamu Caesar?" Nana bertanya dengan suara sayu.
Caesar menghentikan langkahnya.
Dia menghela nafas lalu memejamkan matanya. Caesar hanya membisu.
Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu kamarnya, meninggalkan Nana yang masih berada di kamarnya.
----------------------------------
****Time to Talk**
Halo readers....
Sebenarnya apa yang terjadi pada Caesar sampai dia memiliki kepribadian yang sangat jauh bertolak belakang dengan karakternya saat masih kecil.
A. Karena Caesar merasa Nana kurang adil pada Caesar.
B. Karena dia tidak mau menerima Regal sebagai adiknya.
C. Karena ia ingin bersaing dengan Regal.
D. Tulis pendapat kalian di kolom komentar**.
****Halo sobat pembaca**
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON
di Playstore atau Appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️**