I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] MASA DEPAN



"Shaila, mengapa kau tak mengatakan pada abang?"


"Shaila tidak berani cerita. Karena Shaila juga tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi abang mengenalnya?"


Sharif mengangguk.


"Dia dulu memang adalah kekasih Rasyid. Tapi mereka sudah putus. Yang aku dengar dari teman-temanku, Rasyid mulai pacaran dengan Maira sejak mereka tinggal di Inggris. Bahkan mereka juga sempat tinggal bersama."


"Aku awalnya tidak mengenal dia siapa, tapi saat dia mengatakan banyak hal tentangku, aku pikir dia hanya sahabat dekat Abang Rasyid."


"Jadi karena ini kau memilih menghindari Rasyid?"


Shaila menggeleng,


"Itu hanya salah satunya bang... Sedangkan tanpa adanya kak Maira pun, Shaila juga banyak merasa terkekang dengan sikap Abang Rasyid. Lagipula banyak hal yang dimiliki kak Maira dibandingkan denganku bang..."


"Tapi Rasyid memilihmu. Rasyid putus dengan Maira bukan karena dirimu. Mereka putus sebelum kau bertunangan dengan Rasyid."


"Tapi tetap saja... Abang Rasyid memutuskan dia setelah dekat denganku."


Masalah Shaila dan Rasyid semakin pelik, bahkan Shaila sendiri memutus komunikasi dengan Rasyid. Sharif semakin pusing menjadi mediator mereka berdua.


"Shaila, kau dan Rasyid harus menyelesaikan berdua. Jika Rasyid tidak bisa datang ke Singapore, maka kau yang akan Abang ajak ke Inggris untuk menyelesaikan secara langsung dengan Rasyid."


Shaila mengangguk.


***



***


Seminggu setelah kelulusan,


Shaila ikut Sharif kembali ke Inggris. Sambil menunggu surat penerimaan dari Harvard terbit, Shaila berencana sekalian mengambil liburan di sana selama dua minggu.


Sharif memberitahu Rasyid jika ia akan datang bersama Shaila. Rasyid terdengar senang dia akan bertemu dengan Shaila.


Namun ternyata rencana keberangkatan Sharif lebih maju dua hari dari rencana. Hal itu karena Shaila harus mengurus semua dokumen di sekolahnya pada tanggal yang tiba-tiba ditentukan bersamaan dengan rencana kepulangan Shaila dari Inggris. Akhirnya Shaila dan Sharif berangkat dua hari lebih awal dari rencana.


Sesampainya di London, Sharif menghubungi Rasyid, sekedar memberi kabar bahwa mereka telah sampai di London. Tapi Rasyid tak bisa dihubungi.


Akhirnya Sharif memutuskan untuk mengajak Shaila menuju Oxford, ke tempat asrama Sharif. Besok saja mereka akan meneruskan perjalanan menuju Manchester.


Dari sinilah tangan Tuhan mulai menunjukkan tabir kepada Shaila.


Pada saat Sharif menuju asramanya, Sharif mendapat telepon dari teman sekamar Sharif, Junhyuk. Dia mengalami kecelakaan di Birmingham. Sharif tak bisa meninggalkan Shaila sendirian, tapi ia juga tak bisa mengabaikan teman sekamarnya yang sudah begitu baik selama ini pada Sharif selama mereka sama-sama merantau di Oxford.


"Junhyuk mengalami kecelakaan, dia saat ini berada di Birmingham. Aku diminta menjemputnya. Aku harus ke sana karena dia tidak memiliki keluarga dan teman di sana."


"Kita berangkat malam ini?"


"Ya. Birmingham lebih dekat ke Manchester daripada Oxford. Jadi sebaiknya kau langsung bawa saja kopermu. Aku akan sewakan kau hotel di Birmingham."


"Tapi Abang akan kembali ke Oxford malam ini juga?"


"Aku akan membawa Luke temanku satu lagi, dia yang akan membawa Junhyuk kembali ke Oxford. Setelah urusanku selesai, aku akan menemanimu dan besok kita langsung berangkat ke Manchester."


Sharif mengambil ponselnya dan tampak menghubungi seseorang.


"Aku sudah menghubungi Luke, sebentar lagi dia akan ke sini."


Tidak berapa lama teman yang dimaksud Sharif pun datang. Bersama dengan mobil Luke, akhirnya Sharif dan Shaila pergi ke Birmingham pada malam itu juga.


Perjalanan dari Oxford menuju Birmingham ditempuh kurang lebih satu setengah jam.


"Rasyid masih tidak bisa dihubungi. Maksudku agar dia menemanimu dulu sebelum urusanku selesai."


Sharif berkali-kali menghubungi Rasyid namun tak terhubung.


Akhirnya Sharif menyewakan hotel untuk Shaila di dekat Rumah Sakit tempat Junhyuk dirawat. Shaila hanya menurut saja pada Sharif.


"Abang... tidak perlu menghubungi Abang Rasyid, Shaila tak apa sendirian di hotel. Lagipula tempatnya juga ramai di pusat kota, jadi Shaila tak apa menunggu Abang di sini sendirian."


"Kau benar tidak apa-apa?"


Shaila mengangguk dengan wajah ceria agar abangnya bisa lebih tenang meninggalkan dirinya. Meski ia tahu ekspresi wajah Sharif memperlihatkan ketidak- tenangan sama sekali.


"Sebelum aku pergi, aku akan antar kau ke kamar dulu."


"Baiklah..."


Setelah resepsionis memberikan kartu kepada Shaila, Sharif mengantar Shaila menuju kamar yang akan ditempati.


Tidak ada yang menyangka,


Pada saat Sharif dan Shaila keluar dari lift, mereka berdua bertatap muka langsung dengan Rasyid,


Yang sedang menggenggam tangan Maira.


----------------------------------


Flashback End


----------------------------------


Shaila masih menatap cermin dirinya, tangan Shaila gemetar, tiba-tiba dia merasa mual.


"Hooeeekk... Hooeeekk..."


Shaila bersusah payah mengambil obat anti depresan di kotak P3K yang tidak jauh dari wastafel. Lalu segera meminumnya.


"Seharusnya aku tidak perlu lagi memikirkan masa lalu itu. Aku tidak mau mengingatnya."


Shaila membasuh wajahnya berulang kali dengan air untuk menyadarkan pikirannya hingga rambut dan sekujur tubuhnya basah.


Shaila memukul mukul kepalanya dan menjambak rambutnya. Namun ingatan itu masih terus jelas tergambar di isi kepalanya.


Dia terus mengingat bagaimana saat dia berhadapan dengan Rasyid dan Maira di Lift, saat Rasyid terkejut bukan kepalang melihat Shaila bersama Sharif ternyata berada di hotel yang sama pada saat itu. Ketika Rasyid menyebut nama Shaila, lalu Maira langsung menarik kepala Rasyid dan menciumnya. Seolah ia sengaja memperlihatkan pada Shaila.


Shaila tak bisa berhenti mengingatnya. Pertama kalinya ia mencintai seseorang dengan sangat dalam, dan pertama kalinya juga ia terluka dengan begitu menyakitkan.


Sejak saat itu Shaila tidak ingin lagi bertemu dengan Rasyid. Dia sudah tidak ingin lagi memiliki hubungan apapun dengan Rasyid.


Pada akhirnya Rasyid meski Rasyid tidak menikah dengan Maira, Shaila masih tetap mengingat Rasyid dan Maira sebagai pasangan yang menjijikkan di dalam pikiran Shaila.


Ponsel Shaila menyala dan bergetar,


Shaila meraih ponselnya dan melihat Caesar sedang berusaha menghubunginya melalui video call. Shaila hanya menatap layar ponselnya, dan membiarkan ponselnya terus menyala sampai panggilan berakhir.


"Maafkan aku Caesar, kau tidak boleh melihatku seperti ini..."


Ponsel Shaila kembali menyala, Caesar menghubungi lagi. Kali ini Shaila meletakkan ponselnya dan membalutnya dengan handuk tebal di atas kabinet toilet.


---------------------------------------


Dua bulan kemudian,


Seorang dokter membuka perban yang membalut wajah Rosie. Dia mengamati wajah Rosie yang masih memiliki imperfection dan perlu diperbaiki. Caesar yang juga berada di samping Rosie mendengarkan dengan seksama penjelasan dan saran dari dokter ahli bedah plastik tersebut.


Rosie dijadwalkan untuk melakukan operasi satu kali lagi dua minggu kemudian, operasi tersebut bukan lagi untuk konstruksi bagian dalam wajah, karena tulang wajah Rosie semuanya sudah terbentuk sempurna. Kali ini dokter akan melakukan penggantian jaringan kulit epidermis yang telah rusak di beberapa area wajah Rosie. Menurut ketua tim dokter ahli bedah plastik, wajah Rosie memiliki bekas luka bakar 60%. Maka dokter memutuskan untuk melakukan transplantasi wajah kepada Rosie. Hal tersebut juga dinilai lebih efektif untuk mempercepat proses penyembuhan karena mengingat usia Rosie yang masih dua puluh tahun dengan kolagen kulit yang masih bagus, sehingga penyatuan jaringan kulit akan lebih sempurna.


"Kamu harus bersabar ya Rosie... karena transplantasi hanya akan bisa dilaksanakan jika kita atau tim dokter telah menemukan seorang pendonor wajah."


Rosie hanya mengangguk dan diam. Dia perlahan mengeluarkan cermin kecil dari kantong sakunya. Perlahan dia mendongakkan cermin kecil yang ada di dalam genggaman tangannya sehingga terlihat wajah yang selama ini tertutupi dengan balutan perban.


Caesar melirik Rosie dan melihat apa yang dilakukan Rosie. Namun ia membiarkannya. Dia melihat Rosie perlahan meneteskan air matanya sambil mengusap pipinya, bibirnya, dan kelopak matanya yang tak lagi mulus seperti dulu. Bahkan ia tak lagi memiliki alis.


Bisa dibayangkan apa yang dirasakan Rosie di saat usianya yang masih dua puluh tahun, di saat banyak anak gadis seusianya memiliki kesenangan make-up dan membuat segala treatment untuk mempercantik wajahnya, namun Rosie justru kehilangan wajahnya.


Caesar menghampiri Rosie,


"Jangan dilihat lagi..."


Caesar mengambil kaca yang dipegang Rosie.


"Aku tidak apa-apa..." jawab Rosie lirih.


"Setidaknya kau sekarang sudah bisa makan, minum, dan berbicara dengan normal."


"Sebenarnya aku menangis bukan karena bersedih, aku justru bahagia, ini sudah sangat lebih baik. Karena rahangku sudah terbentuk sempurna, jadi wajahku sudah bisa dibilang simetris."


Caesar tertawa mendengar kalimat yang diucapkan Rosie.


"Jadi kau merasa wajahmu sebelum operasi rahang, wajahmu tak beraturan?" canda Caesar.


"Ya.... aku melihat wajahku seperti balon, menggelembung bulat oval tanpa bentuk dan kontur."


Caesar semakin tertawa. Namun Rosie tidak tertawa.


"Aku sudah ratusan kali menjalani operasi. Sebenarnya dengan kondisi seperti ini pun aku tidak masalah. Bagiku wajah tidak penting. Memiliki organ yang bisa berfungsi dengan baik seperti manusia normal lainnya, itu sudah cukup aku syukuri...."


Caesar menatap Rosie dengan tatapan yang begitu penuh arti. Dulu Caesar hanya mengenal Nana sebagai perempuan yang paling kuat ketika mendapat ujian hidup. Namun saat ini gadis yang sedang ada di depannya ternyata memiliki kekuatan dan kelapangan hati yang lebih luas.


Jika Nana dulu meski kehilangan kedua orang tuanya, yaitu kakek nenek Caesar. Namun Nana masih mrmiliki pendukung yaitu Eric, ayah Caesar yang saat itu sudah bertobat dan juga Brian yang selalu mendampingi Nana.


Tapi Rosie tidak seberuntung Nana.


Rosie hanya memiliki seorang ayah yang bahkan dia hanya mampu bekerja untuk makan sehari-hari. Dan musibah yang dialami Rosie bisa dikatakan lebih tragis daripada Nana. Rosie memang tidak mengalami hilang ingatan, namun ia kehancuran fisiknya cukup membuatnya dimaklumi jika ia mengalami frustasi. Tapi Rosie gadis yang kuat, dia mampu bertahan dan menguatkan dirinya untuk tetap bersikap tenang dan menerima segala treatment tanpa banyak keluhan. Mungkin jika orang lain yang mengalaminya, belum tentu bisa bersikap yang sama seperti Rosie.


"Kau memang mengagumkan, Jasmine..."


"Kak Caesar, tolong jangan sebut nama itu lagi..."


"Ah, maafkan aku... aku tidak sadar menyebut nama itu lagi."


"Sebenarnya, aku sudah tidak memiliki jiwa Jasmine di dalam diriku. Mungkin karena aku sudah terbiasa hidup dalam kehidupan Rosie, Jasmine adalah gadis yang ceria dan bersemangat, optimis dan pekerja keras. Tapi Rosie, dia gadis yang tegar, sabar, dan ikhlas. Ada perbedaan yang begitu jauh di antara kedua nama itu. Meski mereka berdua berada dalam satu tubuh."


Rosie kembali melamun sambil terus bicara.


"Apa mungkin aku memiliki kepribadian ganda... hahaha..."


Rosie tertawa sendiri seolah menghibur dirinya dengan menertawakan dirinya sendiri.


"Apa suatu saat kau ingin kembali hidup seperti dulu lagi?" tanya Caesar seketika menghentikan tawa Rosie.


"Hah...." Rosie menghembuskan nafasnya, lalu melanjutkan bicara,


"Rasanya.... itu sangat sulit... Aku mungkin akan menjalani hidup dengan normal. Tapi tidak akan seperti dulu. Aku pasti hidup menjadi orang yang baru. Bukankah itu hukum alam, jika seseorang mengalami kejadian besar dalam hidupnya, yang menjadi titik balik dirinya, dia pasti akan berubah menjadi orang yang berbeda. Kak Caesar sendiri juga banyak berubah."


"Aku??? Ya... tentu saja aku berubah menjadi lebih dewasa."


"Tapi apakah dia juga telah berubah?" Rosie menundukkan wajahnya.


"Dia.... maksudmu Regal?" Caesar mengatakan dengan hati-hati.


Rosie mengangguk.


"Dia.... Dia banyak berubah. Sama sepertimu..."


Kalimat singkat Caesar mengartikan banyak makna. Caesar hanya cukup memberi tahu Rosie jika Regal banyak berubah. Namun perubahan seperti apa, biarkan waktu yang akan menunjukkan sendiri pada Rosie bagaimana perubahan Regal. Jika saja Rosie tahu bahwa dialah yang menyebabkan Regal banyak berubah.


"Tapi kak Caesar... sepertinya ada yang tidak berubah dari dirimu..." kalimat Rosie tiba-tiba menyentakkan lamunan Caesar.


"Apa?"


"Hatimu. Hatimu tetap memilih Kak Shaila. Aku ingat dulu kalian bercanda begitu mesra saat di ruang siaran radio. Tapi karena saat itu aku tidak melihat jelas wajah kak Shaila, sehingga aku tidak mengenalinya."


Caesar tersenyum,


"Aku berharap hatiku juga tidak akan berubah untuknya. Selama hampir sepuluh tahun aku memiliki perasaan ini untuknya. Tapi... aku masih sulit membuatnya yakin."


"Apakah... karena kalian berbeda keyakinan?"


Caesar mengangguk.


"Aku tahu sejak awal Shaila selalu menolakku karena memang kami berbeda. Keluarga Shaila memiliki religius yang tinggi. Jadi dia tidak akan mungkin goyah..."


"Tapi bukankah hubungan kalian sudah setahun ini adalah sepasang kekasih...?"


"Ya.... mungkin saja dia telah berubah..."


Caesar langsung diam setelah mengucapkan kalimat singkat tersebut.


Sebenarnya Caesar sendiri masih yakin ada sesuatu yang disembunyikan Shaila darinya. Tapi Caesar tidak ingin berusaha terlalu menggalinya. Selama mereka menjalani hubungan mereka, Shaila hampir tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada Caesar. Meski Caesar sangat lama mengenal Shaila. Tapi Shaila selalu memiliki sisi di dalam hatinya yang tak dapat disentuh oleh Caesar.


***



***


----------------------------------


***Halo sobat pembaca***


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


Dan Jangan lupa gabung di GRUP CHAT AUTHOR


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**


-----------------------------------