I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] OPERASI TERAKHIR



Rosie di ruang perawatan membaca buku diary milik Rayne sembari menunggu kabar dari Caesar yang baru saja dihubungi oleh dokter Gale.


Selama beberapa saat membaca buku diary Rayne, Rosie mulai memahami bahwa Rayne sebenarnya adalah gadis yang introvert. Dari beberapa catatan yang ditulis Rayne pada saat ia masih berusia tiga belas tahun, Rosie membaca bahwa Rayne seringkali mengungkapkan keinginannya menjadi anak yang diadopsi oleh sebuah keluarga yang lengkap. Namun ia tidak pernah seperti teman-teman lainnya, yang mendapatkan kesempatan untuk diadopsi.


Dalam tulisan Rayne, dia memang beberapa kali mengalami sakit mendadak seperti tiba-tiba pingsan di kelas, di lapangan olah raga, dan kadang pada saat ia sedang berjalan. Sebenarnya dia merasakan bahwa tubuhnya sangat lemah. Sehingga ia tidak bergabung dengan klub sekolah dan tidak memiliki banyak teman. Akan tetapi dia selalu mendapatkan perhatian dari anak-anak welfare house. Dia banyak menghabiskan waktu melukis untuk anak-anak welfare house.


"Di dunia yang seperti ini, terkadang Tuhan menghidupkan orang-orang seperti kita, entah apa tujuannya. Tapi perjalanan hidupmu yang menyakitkan sudah berakhir, Rayne... Sebentar lagi aku akan membuat hidupmu semakin berarti untuk orang lain. Dan mewujudkan apa yang belum terwujud selama kamu hidup..."


Rosie bergumam sendiri sambil memeluk buku diary Rayne, tanpa disadari air mata Rosie menetes membasahi beberapa lembar kertas buku diary Rayne.


***



***


Malam harinya,


Rosie yang sedang duduk di kamar perawatan yang sudah ditemani oleh ayahnya, didatangi oleh dua orang perawat dan akan membawa Rosie menuju ke ruang khusus yang di sana beberapa tim dokter sudah bersiap untuk melakukan meeting sebelum dilakukan tindakan operasi. Rosie hanya mengikuti arahan kedua perawat tersebut menuju ruang khusus.


Sesampainya di sana, Rosie langsung disambut oleh Caesar yang mengajak Rosie masuk ke ruangan tersebut, yang ternyata di dalam ruangan khusus tersebut sudah ada sekitar lima belas tim dokter yang terdiri dari dokter spesialis bedah plastik, dokter spesialis bedah kulit, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis bedah saraf, dan beberapa dokter lainnya.


Pada meeting tersebut ketua tim dokter yang merupakan dokter spesialis bedah plastik terbaik di Massachusetts, membuat sebuah rancangan gambar virtual yang menampilkan ganbar disain wajah Rayne secara tiga dimensi yang kemudian dicocokkan dengan lapisan gambar wajah virtual Rosie. Karena wajah Rosie hanya terjadi kerusakan pada lapisan kulit epidermis dan saraf kulit yang membuat Rosie selama ini tidak bisa merasakan rangsangan pada kulitnya, maka Rosie tidak perlu melakukan operasi transplantasi wajah secara total.


Beberapa dokter sudah melakukan pemeriksaan pada wajah Rosie yang hampir 80% telah sempurna pada area bagian tulang dan otot rahang karena sebelumnya Rosie memang telah menjalani operasi rekonstruksi rahang dan mulut bagian bawah di Miami. Sedangkan untuk hidung dan mata Rosie masih utuh dan berfungsi dengan baik.


Sehingga untuk operasi kali ini tim dokter akan melakukan transplantasi jaringan kulit bagian pipi, bagian mulut, dagu, pelipis, alis, daun telinga, dan kulit di bagian ujung luar kelopak mata.


Para tim dokter mulai membuat rencana rancangan wajah Rosie secara virtual 3D mulai dari wajah asli Rosie saat ini hingga pada saat nanti ketika wajah Rayne ditransplantasikan pada Rosie. Mereka mulai mencocokkan ukuran luas permukaan jaringan kulit yang akan diambil dari wajah Rayne yang sekiranya bisa efektif menutupi luka pada wajah Rosie.


Pada rancangan rekonstruksi wajah virtual tersebut kemungkinan wajah Rosie setelah dioperasi hasilnya tidak mirip sepenuhnya dengan Rayne, karena wajah Rayne tidak secara total ditransplantasikan ke wajah Rosie. Terlebih lagi Rosie hanya membutuhkan sekitar 60% dari luas permukaan jaringan kulit untuk menggantikan jaringan kulit wajahnya yang rusak. Jadi kemungkinan Rosie memiliki kemiripan dengan Rayne masih begitu kecil.


Hampir dua jam Tim Dokter melakukan perencanaan, mereka pun akhirnya sepakat untuk mulai melakukan operasi pada malam itu juga. Karena dokter Gale yang merupakan dokter spesialis Kardiovaskular yang menangani Rayne, telah mengkonfirmasi bahwa Rayne sudah dinyatakan meninggal tiga jam yang lalu.


Untuk menghindari kerusakan jaringan sel pada wajah Rayne, karena terhentinya sirkulasi darah yang mengalir pada jaringan sel. Maka Tim dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi kurang dari dua jam kemudian. Sebab jika lebih dari enam jam, dengan berhentinya sirkulasi darah yang mengalir ke jaringan sel, maka jaringan sel akan rusak dan terjadi pembusukan.


Jika itu terjadi, maka jaringan kulit Rayne tidak akan bisa ditransplantasikan kepada Rosie, karena itu akan berisiko terjadinya infeksi yang akan dialami Rosie.


Kelima belas dokter yang tergabung dalam operasi Rosie akan secara bergantian bekerja melakukan operasi, karena kemungkinan waktu yang dibutuhkan dalam operasi transplantasi wajah sekitar Dua puluh empat jam.


Rosie mulai bersiap melakukan operasi, Rosie dibawa menuju ke ruang sterilisasi. Di ruangan tersebut seperti biasanya, dia harus berganti pakaian dengan baju operasi yang telah disterilkan sebelum menuju ruang operasi.


Caesar mengusulkan diri untuk menjadi dokter asisten pada proses operasi Rosie kali ini. Caesar memohon kepada dokter Jeanette, kepala Tim dokter bedah plastik untuk memasukkan dirinya menjadi Tim dokter operasi Rosie.


"Saya mohon dokter, jika saya dibutuhkan maka saya akan bekerja sebaik mungkin. Tapi jika tidak, maka saya setidaknya tidak akan menganggu pekerjaan kalian."


"Kamu sungguh ingin menemani adikmu itu?"


"Iya..."


"Saya tidak keberatan dengan keinginan kamu. Karena saya melihat kamu sudah bekerja keras demi adikmu. Tapi mungkin saya hanya bisa memasukkan dirimu sebagai dokter internship. Dalam aturannya, kamu tidak boleh melakukan tindakan apapun dalam proses operasi nanti."


"Jadi saya boleh?"


"Ya... Kamu boleh bergabung."


Caesar tersenyum senang dan berterimakasih pada dokter Jean. Meskipun dia hanya akan menjadi dokter asisten.


Caesar mengikuti prosedur menuju ruang sterilisasi, untuk mengganti seluruh pakaiannya dengan baju operatie kamer berwarna hijau yang telah disterilkan.


Caesar memasuki berjalan menuju ruang operasi yang hanya bersekat bilik dengan ruang sterilisasi. Beberapa perawat dan dokter asisten menyiapkan instrumen dan alat-alat bedah yang akan digunakan oleh para dokter bedah. Sementara para dokter bedah sedang berdiskusi di depan layar monitor yang menampilkan tampilan gambar wajah virtual 3D seperti yang ditampilkan pada meeting sebelumnya.


Saat dokter Jeanette selesai berdiskusi, dia pun mengumpulkan tim dokter untuk mengkonfirmasi kesiapan mereka dan menyatakan siap dilakukan operasi. Untuk sesi awal, ada sekitar sembilan dokter spesialis yang masuk ruang operasi. Sedangkan sisanya adalah dokter asisten, termasuk Caesar. Untuk tujuh dokter spesialis lainnya akan masuk pada sesi kedua.


Beberapa menit kemudian Rosie masuk, dia sudah terbaring di ranjang yang dibawa didorong oleh empat perawat.


Mata Rosie mulai mengelilingi seisi ruangan operasi yang di sana sudah ada beberapa dokter yang menyambut kedatangannya. Saat Rosie sudah menempati posisi yang telah ditentukan, para perawat mulai memasang beberapa alat yang akan menjadi penunjang sistem kerja organ tubuh Rosie. Agar kondisi Rosie tetap stabil selama operasi berlangsung.


Tiba-tiba Rosie merasakan seseorang menggenggam tangannya. Saat Rosie melihat ke samping tubuhnya, ternyata seseorang yang berpakaian baju operasi tersebut malah menyipitkan matanya, yang sepertinya dia tersenyum, tapi senyumnya tidak terlihat karena masker yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kak Caesar?" Rosie langsung bisa menyadari bahwa orang itu adalah Caesar.


Dokter Jeanette mulai berbicara kepada Rosie untuk memastikan kesadaran Rosie hingga beberapa saat kemudian Rosie mulai kehilangan kesadarannya.


Saat Rosie sudah dipastikan tidak sadar karena anestesi yang telah bekerja merasuk ke dalam darahnya, perawat datang membawa satu ranjang lagi yang diatasnya adalah tubuh Rayne yang telah terbujur tanpa nyawa. Kemudian lampu operasi mulai diaktifkan dan dokter mulai bekerja.


-----------------------------------


*Gelap.


Aku tidak bisa bernafas.


Aku seperti tenggelam di dalam air.


Byurrr.


Tunggu, seseorang datang menolongku?


Dia seorang gadis, apakah dia adalah seorang penyelamat?


Wajahnya...


Itu adalah wajahku sendiri!


Jika dia adalah aku,


Lalu aku siapa?


"Rosie... bukan. Kamu adalah Rayne mulai sekarang..."


Apa?


Aku Rayne?


Gadis itu mengatakan padaku bahwa aku adalah Rayne?


Hei... tunggu!


Jangan menjauh....


Bawa aku keluar dari sini....


Aku tidak bisa menggapai ke atas permukaan, bagaimana ini?


"Jasmine!"


Seseorang memanggilku.


Mama?


Kenapa mama ada di sini?


"Siapa kamu?"


Aku Jasmine.


"Bukan. Kamu bukan Jasmine. Di mana Jasmine?"


Aku Jasmine!


Aku Jasmine*!


----------------------------------


Ini sudah tiga hari sejak dia selesai menjalani operasi transplantasi wajah.


"Ah... wajahku rasanya terasa perih..." gumam Rosie dalam hati.


Rosie membuka lebar matanya meski terasa pinggiran kelopak matanya terasa kaku dan perih.


Ternyata Caesar sudah duduk di samping Rosie dan tersenyum melihat Rosie sudah mulai sadar.


"Selama beberapa minggu ke depan, mungkin kamu akan kembali tidak bisa menggerakkan wajahmu karena lukanya masih basah. Jadi dokter Jeanette menyarankan kamu tetap di rumah sakit untuk membatasimu bertemu banyak orang dan menghindari infeksi jika kamu terkena paparan debu dan udara bebas."


Caesar mengeluarkan buku note kecil lengkap dengan pulpen dan tali yang bisa dikalungkan.


"Ini untukmu, kamu akan kembali bicara dengan tulisan seperti beberapa bulan yang lalu. Bersabarlah..."


Rosie mengangguk dan menerima buku note kecil yang diberikan Caesar.


Rosie meraba wajahnya yang terbalut dengan perban. Sama seperti beberapa bulan. Hanya saja saat ini Rosie tidak merasa terlalu bersedih. Dia justru ingin cepat melihat keberhasilan operasinya kali ini, karena dia memiliki tujuan dan harapan hidup baru, sebagai Rayne.


"Apa kamu tidak penasaran bagaimana wajahmu nanti?"


Rosie mengangguk.


"Aku juga penasaran." Jawab Caesar.


"Setelah ini, aku akan mengganti identitasmu sebagai Rayne. Di Amerika, penggantian identitas tidak sulit dilakukan. Apalagi ada beberapa kondisi yang mendukung seperti ini. Nyonya pengurus welfare house akan mengurus semua data-data Rayne, dan aku akan mengurus datamu yang tentunya sebagai Rosie."


Rosie masih terus menatap Caesar dengan mata yang memelas seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Tenang, tidak akan ada kematian palsu. Jadi skenarionya nanti, di pengadilan kami akan mengungkap alasan yang sebenarnya mengapa kami meminta penggantian identitas Rosie menjadi Rayne yang telah meninggal. Hal itu sudah umum terjadi di sini. Apalagi jika kedua pihak antara keluarga Rayne dan kita sudah memiliki persetujuan. Itu justru tidak sulit."


Rosie mengangguk.


Tidak beberapa lama, Gunawan masuk ke kamar perawatan Rosie.


Melihat Rosie yang sudah membuka matanya, Gunawan menangis terharu.


"Rosie..."


Caesar menahan tubuh Gunawan.


"Wajah Rosie masih belum kering. Jadi sebaiknya anda jangan terlalu memancing emosi Rosie yang membuatnya harus mengeluarkan ekspresi wajahnya."


"Ahh... maafkan saya Tuan..."


Rosie hanya diam melihat ayahnya diingatkan oleh Caesar. Tapi di dalam hatinya dia sedang menyemangati ayahnya untuk sedikit bersabar sedikit lagi.


Rosie mengepalkan tangannya dan menunjukkan pada ayahnya, isyarat untuk mengatakan "Semangat papa, bersabar sedikit lagi. Kita berjuang bersama."


Gunawan mengerti maksud dari gerak tubuh Rosie,


"Papa akan berjuang untukmu sayang. Maafkan papa tadi tidak bisa mengontrol emosi bahagia papa..."


Rosie mengangguk dan mengerti.


"Sementara kalian bersama dulu, aku akan keluar sebentar karena aku akan melaporkan kepada dokter Jeanette bahwa Rosie sudah sadar."


Caesar keluar dari kamar perawatan Rosie dan berjalan menuju ruang konsultasi dokter Jeanette.


Caesar menemui perawat asisten dokter Jeanette dan mengatakan bahwa Rosie sudah sadar. Nurse tersebut masuk ke ruangan dokter Jeanette dan selang beberapa detik dokter Jeanette keluar.


"Kenapa tidak langsung masuk ke ruangan saya atau menghubungi saya secara langsung?"


Caesar hanya tersenyum menanggapi dokter Jeanette. Dia hanya menghargai prosedur.


Dokter Jeanette menghubungi beberapa dokter bedah plastik yang kemarin ikut dalam proses operasi Rosie bersama dengan dokter neurologist dan dokter physiatrist. Mereka lalu datang ke kamar perawatan Rosie dan langsung memeriksa Rosie.


Dokter neurologist dan dokter physiatrist memeriksa fungsi indera penglihatan, penciuman dan kondisi fisik lainnya untuk memastikan bahwa semua indera Rosie berfungsi seperti yang diharapkan.


Sejenak mereka berbincang satu sama lain. Caesar, Gunawan, dan Rosie menunggu mereka mengkonfirmasikan kondisi Rosie.


"Untuk saat ini kami hanya bisa memastikan bahwa mata Rosie tidak memiliki masalah, kelopak mata Rosie mungkin masih bengkak saat ini, tapi dalam waktu dua minggu akan normal kembali. Sedangkan untuk penyatuan jaringan kulitnya masih belum bisa kami pastikan kecuali sampai lukanya mulai mengering dan kita bisa membuka perbannya. Tapi untuk saat ini karena jaringan wajahnya masih dalam proses penyatuan, kami tidak bisa membuka perbannya untuk menghindari infeksi."


"Kami akan pantau terus perkembangan Rosie, hingga dua bulan ke depan dia akan tetap dalam perawatan rumah sakit." ucap salah satu dokter lainnya.


"Terimakasih atas penjelasannya, dokter..."


Saat ini Rosie sangat bisa bernafas lega karena dia bisa mengandalkan Caesar. Tidak seperti operasi sebelum - sebelumnya di mana dia dan ayahnya harus berjuang sendirian meskipun mereka dalam jaminan Eric.


Caesar keluar dari kamar perawatan Rosie mengikuti dokter Jeanette dan rekan - rekannya. Pada saat Caesar masih berbincang sambil berjalan bersama mereka, ponsel Caesar tiba-tiba berdering. Namun Caesar mengabaikannya. Hingga ponselnya berdering lagi hingga ketiga kalinya.


Caesar menyempatkan diri melihat ponselnya pada saat para dokter seniornya tidak mengajak bicara dirinya.


Sebuah nomor asing masuk dalam panggilannya. Tapi dengan kode negara Amerika Serikat. Caesar pikir mungkin itu adalah pihak welfare house.


Dan pada saat Caesar menerima panggilan ponselnya,


"Halo kak Caesar, apa kamu hari ini sibuk?"


Caesar tampaknya mengenal suara pria di seberang panggilan teleponnya,


"Regal....?"


***



***


---------------------------------


***Penutup


Halo semuanya, para reader yang aku sayangi.


Turut prihatin dengan pandemi yang dialami oleh dunia belakangan ini, termasuk negara kita Indonesia.


Setiap harinya selalu ada kawan atau saudara kita yang mengalami positif covid19.


Setiap hari juga selalu ada yang meninggal dunia.


Sedikit doa terpanjat untuk kalian di manapun berada:


- Bagi kalian yang masih sehat,


Semoga selalu dilimpahkan perlindungan, kesehatan dan keselamatan.


- Bagi kalian yang menjadi pejuang garda depan sebagai petugas kesehatan, petugas keamanan,


Semoga dilimpahkan perlindungan, kekuatan, kesehatan, dan keselamatan dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan membalas pengabdian kalian.


- Bagi kalian yang telah berstatus ODP, PDP, atau yang telah terkonfirmasi positif,


Percayalah kalian pasti akan sembuh. Kalian tidak sendiri, ada banyak kawan dan keluarga kalian yang mendukung kalian. Kesembuhan kalian adalah harapan dan kabar baik bagi dunia, bahwa kalian adalah manusia kuat dengan kekebalan yang luar biasa.


Tuhan selalu bersama kita semua....


🙏🙏🙏🙏🙏***