I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
[SEASON 2] TAK TERDUGA



"Regal... Terimakasih." Jasmine mengucapkan dengan lirih


"Aku tidak melakukannya demi kamu. Jangan berlebihan. Aku memang berkonflik dengannya." Regal lalu pergi begitu saja tanpa memberi isyarat apa-apa.


"Regal tunggu."


Jasmine tidak tinggal diam. Dia mengejar Regal yang sudah keluar dari kelas Lalu menuruni tangga.


Regal mendengar, namun ia memilih tidak mendengar panggilan Jasmine.


"Sial, kenapa dia mengikutiku. Apa dicekik tidak membuatnya jera?" Keluh Regal dalam hatinya.


Setelah Regal selesai memutar menuruni anak-anak tangga, dia pun membalikkan berhenti.


Jasmine yang fokus menuruni anak tangga justru tidak melihat Regal sudah berdiri diam di anak tangga terakhir.


"Bukkk"


Jasmine menabrak punggung Regal.


"Apa kamu selalu terbiasa ceroboh dengan tindakanmu?"


"Maaf...."


"Untuk apa kamu mengejarku? Kamu tidak malu dilihat anak lain? Seolah seperti aku mencampakkanmu."


"Tidak. Aku tidak melihat siapapun yang melihat kita."


"Katakan! Lalu pergi."


Regal masih tidak menoleh ke arah Jasmine yang ada di belakangnya.


"Fiuh, anak angkuh ini. Kalau bukan demi kelompok, aku tidak akan sudi." Jasmine mengumpat dalam hati.


Jasmine berjalan ke arah depan pandangan Regal.


"Maaf, tapi aku mohon kamu jangan keluar. Jika kamu keluar dari grup, itu akan mempengaruhi performa grup. Dan nilai kami juga akan kena imbasnya."


"Jadi kamu masih ingin terjadi keributan seperti tadi? atau bahkan ingin yang lebih parah? Tidak!"


"Kalau begitu kamu silahkan cari anak lain yang mau bertukar denganmu."


"Tidak! Cari sendiri."


Regal melangkah pergi. Dia sudah muak dengan study group-nya. Kenapa harus ada Steven. Dia sudah menganggapnya tidak ada. Tapi malah sekarang menjadi teman satu grup.


Jasmine mengikuti Regal dari belakang. Dia menunggu Regal berubah pikiran. Tapi ternyata itu hanya harapan Jasmine semata.


Regal tetap berjalan. Bahkan saat ini dia sedang bertekad bulat untuk tidak mau berhubungan dengan Steven.


"Besok aku yang akan bicara dengan Mrs.Neena" Regal sambil terus berjalan dengan langkah yang semakin cepat setelah melihat Joni sudah berada di depan gerbang untuk menjemputnya.


Dan pemandangan adegan Jasmine dan Regal menciptakan asumsi baru bagi orang lain.


Steven dan Caesar.


Yang keduanya secara tidak sengaja melihat mereka dari kejauhan.


***



***


-------------------------------------


Jasmine membuka pintu pagar sebuah mansion yang menjadi tempat tinggalnya selama ini dari pintu bagian samping mansion yang hanya cukup untuk satu orang. Dari pintu samping itu langsung berhadapan dengan salah satu bagian ruangan mansion yang ditempati para pelayan dan supir.


Di salah satu sudut ruangan itu Jasmine melihat ayahnya sedang makan makanan berkuah dalam sebuah mangkuk.


"Papa,..." sapa Jasmine.


"Jasmine,... kenapa kamu ke sini? Harusnya kamu...."


Jasmine memeluk bahu laki-laki paruh baya yang sedang duduk tersebut.


"Jasmine kangen papa..."


Pria usia 40 tahunan itu tersenyum, gurat wajahnya yang tampak lebih tua dari usianya karena perjalanan hidup yang ditanggungnya.


"Jasmine, kembalilah ke mansion. Nyonya Wilson akan mencarimu. Papa di sini cukup makan dan istirahat. Kamu jangan terlalu pikirkan papa. Fokuslah untuk membantu Nyonya dan sekolahmu."


"Iya papa... Jasmine nanti akan ke sini lagi."


Pria itu mengangguk sambil tersenyum.


Kemudian Jasmine meninggalkan ruangan itu menuju koridor ruangan yang menembus rumah utama di mansion tersebut.


"Jasmine, Nyonya Wilson sudah menunggumu di ruang studinya." salah satu pelayan menghampiri Jasmine.


"Baik, aku akan segera ke sana."


Jasmine berjalan menuju ruang study pribadi Nyonya Wilson.


"Tok, Tok..."


"Come in..." terdengar suara dari dalam ruangan.


Jasmine membuka pintu, tampak Nyonya Wilson sedang duduk di sofa besar yang berada di sebelah lemari buku.


"Come, sweety... sit down here..."


Jasmine tanpa ragu melangkahkan kakinya menuju sofa panjang di depan sofa besar yang diduduki Nyonya Wilson.


Nyonya Wilson menunjuk sebuah buku yang telah terbuka di meja depan sofa panjang yang akan diduduki Jasmine.


"Lanjutkan ke Bab 5...." ucap Nyonya Wilson.


Jasmine membawa buku tersebut ke atas pangkuannya. Dia siap membacakan buku yang belakangan hari ini dibaca oleh Nyonya Wilson.


Nyonya Wilson adalah seorang wanita keturunan Tionghoa murni yang memiliki nama asli Tang Xingyun. Dia dibesarkan dari keluarga yang sangat memegang tradisi China kuno. Namun sejak menikah dengan suaminya yang berdarah Amerika murni, George Wilson. Nyonya Tang pindah mengikuti suaminya ke Singapore dan mengganti namanya menjadi Yuna Wilson.


Nyonya Wilson pernah bersekolah di salah satu universitas di Shanghai dan mengambil jurusan sosial. Dan karena itulah dia juga memiliki hubungan dekat dengan Tuan Lee, yaitu seorang tokoh politik yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri. Karena mereka dulu adalah kawan sejak di universitas.


Nyonya Wilson sekalipun tidak terjun langsung dalam dunia politik, menjadi teman dekat Perdana Menteri tentunya mengantarkan dia berhubungan dengan banyak tokoh politik lainnya. Termasuk Eric Shine dan Ghie Kwan.


"Jasmine, apakah hari minggu besok kamu ada acara dengan temanmu atau sibuk mengerjakan tugas?" Tanya Nyonya Wilson sembari meletakkan cangkir teh yang sudah berkurang hampir setengahnya.


"Ada tapi saya bisa mengerjakannya tengah malam sebelumnya jika memang anda membutuhkan saya Nyonya...."


"Sebenarnya ini hanya perjamuan minum teh biasa. Tapi rasanya tidak enak kalo tidak ada yang menemani..."


"Apakah itu di kediaman Tuan Lee?"


"Iya, tapi kali ini tidak hanya kami berdua. Dia mengundang saudara dan beberapa teman dekatnya yang juga adalah pejabat."


"Tapi apakah saya layak?" Jasmine bertanya dengan polosnya.


Nyonya Wilson tertawa dengan sikap lugu Jasmine.


"Mereka juga manusia, anakku.... Kamu cukup berpenampilan seperti mereka. Kamu pasti sudah sangat layak membaur bersama mereka."


Jasmine hanya mengangguk.


Dia mengira bahwa Nyonya Wilson mengajaknya sebagai seorang asisten atau pelayan yang menemani Nyonya Wilson.


Namun Jasmine salah duga....


------------------------------------


Minggu pagi,


08:20 waktu Singapore.


Di mansion Keluarga Lee


"ini adalah putri angkatku." Tangan Nyonya Wilson tertangkup di kedua bahu Jasmine.


Jasmine terkejut. Sangat terkejut.


Baru kali ini Jasmine sungguh keberatan dengan sikap Nyonya Wilson. Tadinya Jasmine mengira dia berjalan mengikuti Nyonya Wilson, hanya sebagai asistennya.


Tapi justru dia diakui sebagai anak angkat Nyonya Wilson??!!


Jasmine sungguh tidak pernah menyangka dirinya akan berhadapan dengan para kaum pejabat elite. Bahkan membayangkannya saja pun tidak pernah.


Dan selama perjamuan itu, tidak ada yang berani menyinggung siapa Jasmine dan bagaimana bisa menjadi anak angkat Nyonya Wilson. Mereka masih bermulut manis di depan Nyonya Wilson yang memang perangainya lemah lembut. Sehingga orang yang berbicara dengannya pun juga berbahasa yang sangat lembut.


Beberapa menit kemudian,


"Jasmine, ramah tamahnya pasti membuatmu bosan. Jika kamu mau makan sesuatu, ambil saja mana yang kamu sukai." Nyonya Wilson berbisik pada Jasmine.


"I..iya Nyonya, eh... Mami.."


Jasmine pun berjalan sendirian ke arah meja hidangan makanan. Sedangkan Nyonya Wilson masih terus mengobrol dengan beberapa pejabat yang berada di ruangan utama.


"Bagi pemerintah, amnesti terhadap pajak akan menjadi kesempatan untuk menarik kembali tax income yang seharusnya didapatkan oleh negara. Tapi bagi pengusaha memiliki anak perusahaan di Luar negeri, itu justru dimanfaatkan untuk mencuci harta mereka. Asal dengan meminjam nama orang lain, warga negara asli yang tinggal di negara tersebut, pemerintah pasti akan mengira perusahaan itu milik orang tersebut. Jadi tax amnesti bukan langkah efektif untuk mendisiplinkan para pengusaha nakal yang memiliki tunggakan pajak."


"Ya benar, itu juga terjadi sebaliknya. Saat ada pengusaha dari negara lain yang memiliki anak perusahaan di Singapore, mereka seharusnya membayar pajak ke negara ini, tapi mereka malah berdalih sudah membayar pajak ke negara mereka. Hanya karena di sini tidak membangun pabrik. Hanya anak cabang perusahaannya saja."


"Sepertinya memang tax amnesti memang tricky, menurutmu bagaimana Young Lady Wilson???"


Tiba-tiba kedua anak laki-laki yang sedang mengobrol di belakang Jasmine, menyebut nama Young Lady Wilson.


Jasmine tidak merasa sebagai seorang Young Lady Wilson,


"Ehm... Young Lady Wilson, as know as Jasmine...."


Jasmine langsung menoleh.


"Steven!"


"Hmmm.... Aku tidak menyangka kamu ternyata adalah putri angkat keluarga Wilson. Kesanmu lumayan juga. Tapi sekalipun kucing liar diasuh sebagai kucing rumahan, dia tidak akan pernah bisa berubah menjadi Ragdoll."


Steven menertawakan Jasmine bersama kedua temannya.


"Apa kau mengenalnya, Steven?" Tanya salah seorang dari teman Steven.


"Ya.... dia adalah salah satu murid teladan.... beasiswa!"


Steven melakukan penekanan pada kata beasiswa.


Jasmine tidak bergeming sedikitpun. Dia tahu setiap anak orang kaya apalagi yang memiliki kekuasaan seperti keluarga Steven Kwan.


Jasmine tidak perlu menunggu permisi langsung pergi meninggalkan circle tersebut.


Dia berjalan ke taman samping. Dia tidak peduli jika dia dinilai sebagai pecundang atau pengecut ataupun istilah lainnya yang mewakilinya. Di mata Steven dia memang sudah memiliki kesan yang tidak ada baiknya.


Yang terpenting bagi Jasmine, dia bisa meninggalkan circle yang memuakkan, dan menghindari perdebatan.


Jasmine sangat tahu diri untuk tidak ingin menyulitkan Nyonya Wilson yang membawanya ke sini.


"huff... ini baru menenangkan...."


Jasmine menghirup udara segar yang dipenuhi aroma tanaman arbei dan bunga mandevila yang merambat pada pergola besi yang berbentuk lengkungan di atas kursi taman yang diduduki Jasmine.


***



***


Jasmine memejamkan matanya sejenak, dia begitu terhanyut dengan suasana taman yang begitu sejuk dan damai.


"Apakah boleh aku duduk di sini juga, Young Lady?"


Jasmine membuka matanya untuk memastikan kalau-kalau suara itu sedang bertanya pada dirinya.


Ternyata benar.


Seorang wanita cantik yang masih tampak seperti wanita berusia awal tiga puluh tahunan sedang berdiri di depan tempat duduk Jasmine.


"Ah... silahkan...."


Jasmine buru-buru berdiri.


"Kamu tetap duduk saja, aku hanya ingin duduk sebentar setelah berkeliling taman ini,"


"Ohh..."


Jasmine tersenyum namun tidak keluar kalimat apapun dari mulutnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Anak seusia Jasmine masih belum bisa berbasa-basi dengan orang dewasa. Terlebih lagi, Jasmine berasal dari kelas sosial yang berbeda dengan orang-orang itu.


"Mommy, aku mencarinya kemana-mana... Ternyata di sini..."


Regal datang dengan wajah kesal dan lelah karena mungkin ia sejak tadi mencari-cari ibunya.


Jasmine lebih dulu menyadari anak laki-laki yang baru saja datang itu adalah Regal. Baru setelahnya Regal melirik gadis yang duduk di samping ibunya.


Regal sempat terkejut,


"Kamu?"


"I...iya... aku..."


"Kalian saling mengenal? Teman sekolah?" Nana angkat bicara.


Jasmine membungkukkan tubuhnya memberi salam pada Nana.


"Salam kenal Nyonya, nama saya Jasmine... Saya adalah----"


Belum selesai Jasmine mengucapkan kalimatnya,


"Jasmine... ah! di sini kamu rupanya..."


Nyonya Wilson memanggil dan menghampiri Jasmine, sekaligus dia bertemu dengan Nana dan Regal.


"Halo Nyonya Wilson," Nana menyapa.


"Halo Nyonya Shine... apakah anak saya memiliki masalah?"


"Oh tidak.... sama sekali tidak. Kami hanya kebetulan bertemu dan ternyata putri anda juga mengenal putra kedua saya." Nana menjelaskan.


Regal membungkukkan badannya memberi salam pada Nyonya Wilson.


Nyonya Wilson menyambut salam dengan tersenyum pada Regal dan Nana.


"Sepertinya saya harus undur diri dulu bersama putri saya. Saya permisi dulu Nyonya Shine..."


Jasmine kembali masuk ke mansion bersama Nyonya Wilson.


Nana kembali duduk di kursi taman bersama Regal.


"Aku tidak tahu sejak kapan Nyonya Wilson memiliki putri angkat."


"Maksud mommy?"


"Nyonya Wilson adalah dewan kehormatan di pemerintahan saat Tuan Lee menjabat sebagai Perdana Menteri. Bisa dibilang kehidupannya nyaris sempurna sebagai seorang wanita terhormat, jika saja dia memiliki keturunan."


"Oh iya? Jadi Jasmine adalah anak angkat Nyonya Wilson?"


"Iya, tadi dia memperkenalkan kepada para dewan saat ramah tamah, bahwa gadis itu adalah putri angkatnya."


Regal hanya diam. Dia rasa memang tidak perlu memberi tanggapan tentang Jasmine.


Hanya saja dia masih ingat saat Steven berusaha mencekik Jasmine.


"Bagus kalau seandainya dia itu hanya gadis biasa." Regal bergumam dalam hati.


***



----------------------------------------


Preview Episode Selanjutnya


Steven mulai curiga dan mencari tahu tentang hubungan Caesar dan Regal, dia pun memanfaatkan Noah untuk menggali informasi sebanyak yang ingin dia dapatkan.


Sementara Jasmine mulai kebingungan dengan study group yang mendapat sanksi karena tidak mampu mempertahankan anggota kelompoknya.


Bagaimana perjuangan Jasmine meyakinkan Regal dan Steven?


Dan apa lagi rencana yang akan dijalankan Steven untuk bermain-main dengan Regal beserta orang-orang di sekitarnya.


***Halo sobat pembaca***


Terimakasih telah membaca novel ini,


author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.


Jangan lupa,


DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore


👆KLIK👆


❤️ FAVORITE


👍🏻 LIKE


☑️ VOTE POIN Sebanyaknya


💰 TIP KOIN Seikhlasnya


FOLLOW IG @raghfa.jie


THANK YOU ❤️❤️❤️**