I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
Bab 24. Fragment




 


Fragment


Singapore,


Eric, Erica, dan Nyonya Julia hari ini memasuki ruang konferensi untuk melakukan konferensi pers terkait kasus skandal Eric. Disana sudah berkumpul jajaran shareholders, investor, dan pers. Eric sudah memantapkan mentalnya untuk menghadapi semua kemungkinan pertanyaan dari pernyataannya.


"Nana, doakan aku agar bisa menyelesaikannya hari ini," batin Eric.


Saat mereka memasuki ruangan, semua mata tertuju pada Eric. Pers yang sejak beberapa jam yang lalu menunggu mereka langsung mengambil foto Eric dan mulai menempati posisi mereka masing-masing ke depan meja konferensi di hadapan Eric, Erica, Nyonya Julia, Richo, dan Lawyer mereka.


Eric langsung membacakan statement-nya, setelah ia membuka salam dan menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh orang yang berada di ruang konferensi,


"Saya berdiri disini untuk memohon maaf atas semua kekacauan yang sudah saya perbuat selama beberapa tahun ini. Terutama kepada seluruh jajaran komisaris, shareholders, seluruh rekan pegawai Shine Grup, para investor, para konsumen kami, dan media pers. Saya hanya manusia biasa yang tidak lepas dari perbuatan dosa dan kesalahan. Saya mohon maaf jika saya mengecewakan anda semua. Silahkan kepada pers untuk bertanya kepada saya, saya akan berusaha menjawab dan mengkonfirmasi semampu saya,"


(pers)


"Apakah semua isu yang beredar di pemberitaan itu benar adanya? Terkait skandal anda dengan mantan sekretaris anda."


"Ya, saya tidak menyangkal semua isu itu. Memang benar bahwa saya pernah berhubungan dengan mantan sekretaris saya selama 4 tahun. Tapi kami sudah memutuskan hubungan sejak tujuh tahun yang lalu,"


(pers)


"Kabar bahwa pernikahan anda adalah karena perjodohan dengan latar belakang bisnis untuk ekspansi Shine Grup apakah itu benar?"


"Iya benar, kami memang dijodohkan, perjodohan kami karena saat itu Widjaya Grup sedang mengalami kemerosotan setelah Tuan Hari Widjaya sakit kronis, atas dasar balas budi, Shine Grup mengakuisisi Widjaya Grup dan terjadilah perjodohan itu. Dan pada saat itu saya masih menjalin hubungan dengan mantan sekretaris saya. Namun dia pergi ke Australia karena pilihannya sendiri."


(pers)


"Jika anda sudah putus hubungan, lalu kenapa terjadi skandal di Hotel Marina? Dan apakah kecelakaan yang terjadi malam itu memang berkaitan dengan skandal itu?"


Eric menghela nafas dalam, bibirnya mulai bergetar karena pikirannya kembali melempar ingatannya pada kejadian malam tragis itu.


"Iya.... itu semua adalah kesalahan saya. Saat itu saya hanya ingin memastikan mantan sekretaris saya kenapa 7 tahun yang lalu dia meninggalkan saya. Namun saya tidak menduga bahwa kecerobohan saya membuat saya hanyut dalam perasaan lama. Namun istri saya mengetahui semuanya.... Dan mengenai kecelakaan itu...."


Eric terdiam sejenak, namun Pers terus memborbardirnya dengan pertanyaan,


(pers)


"Apakah kecelakaan itu disengaja atau dimanipulasi oleh anda dan selingkuhan anda untuk istri anda?"


"Atau mungkin kecelakaan itu upaya bunuh diri dari istri anda?"


"Apakah kejadian kecelakaan mertua dan Kakak ipar anda juga merupakan hasil manipulasi?"


"Apakah anda memang ada niat ingin menyingkirkan istri anda?"


"Apakah anda tidak merasa bersalah pada istri anda?"


Suasana ruang konferensi mendadak menjadi riuh karena Eric masih terdiam menanggapi pertanyaan dari pers. Eric diam bukan karena takut ataupun gugup. Tapi dia tiba-tiba ingat Nana dan Caesar.


Pertanyaan para pers semuanya mengandung judgement terhadap dirinya, Eric berpikir mungkinkah Nana dan Caesar juga memiliki pemikiran dan penilaian yang sama seperti para pers ini terhadap dirinya.


Lalu Eric membayangkan Nana dan Caesar sedang duduk di hadapannya, melihatnya, dan seolah sedang menunggu jawaban darinya.


"Sejujurnya....., sejak saya mengetahui istri saya mengandung anak saya, bagaimana ia berjuang sendiri demi menyembunyikannya dari saya karena saat itu memang saya masih belum mencintainya, saat itu hati saya mulai terbuka untuknya. Dia adalah wanita terhebat yang pernah saya miliki. Dia selalu bisa membuat saya mengandalkannya. Dan sejak anak kami lahir, sejujurnya saya sudah jatuh hati padanya... namun saya masih berusaha memungkirinya. Dan tentang kecelakaan itu, saya tidak pernah sekalipun bermaksud sengaja menyakitinya atau membiarkannya melihat kebobrokan saya. Dan saya tidak pernah menginginkan kecelakaan itu terjadi. Begitupun dengan istri saya, dia tidak mungkin sengaja melakukan upaya bunuh diri, karena saya tahu dia sebenarnya sangat mencintai putra kami. Mengenai kecelakaan ibu mertua dan kakak ipar saya, itu semua di luar kuasa saya. Saat itu polisi juga sudah menginvestigasi bahwa saya tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu. Kejadian itu adalah perbuatan yang entah disengaja atau tidak, oleh mantan sekretaris saya. Namun dari sekian kejadian itu semua, saya anggap ini adalah hukuman dan karma bagi saya."


Erica dan Nyonya Julia tersenyum melihat Eric yang dengan ksatria mampu mengakui dan mengungkapkannya di depan umum.


(pers)


"Lalu setelah semua ini terjadi, dan kabarnya istri anda mengalami amnesia dan disabilitas. Apakah anda akan menceraikannya?"


Eric kembali melihat bayangan Nana. Tangan Eric mengepal erat dan ia mengatur nafasnya yang semakin tidak beraturan.


"Saya..... sangat mencintai istri saya. Jika saya memilih, saya tidak akan pernah menceraikan dia sepanjang hidup saya.... Namun jika Tuhan berkehendak lain, saya akan lebih memilih membahagiakan istri saya, dengan menyerahkan semua keputusan kepadanya...."


------------------------------


Di waktu yang sama, di lain tempat.


Praaaaanggg!!!


Nana tiba-tiba menjatuhkan piring yang dipegangnya. Jantung Nana tiba-tiba berdebar sangat kencang.


"Ada apa ini?"


Nana berusaha mengambil piring tersebut dengan bertumpu pada kedua kakinya yang masih belum tatah untuk berdiri atau melangkah.


Brukkkk!!!


Nana terjatuh,


"Oh my God! Miss Nana...!"


Grace terkejut melihat Nana sudah tersungkur di atas lantai dengan pecahan piring yang berserakan, dan beberapa pecahannya menancap di tangan Nana hingga berdarah.


Brian yang kebetulan saat itu baru pulang dari klinik langsung mendengar suara Grace dan melihat Nana yang sedang dibopong Grace. Dia melihat tangan dan lengan Nana sudah berceceran darah.


"Nana...!"


Nana menoleh ke arah Brian sambil tersenyum namun masih menahan sakit karena lukanya. Brian menggendong Nana dan mendudukkannya di tempat duduk di sampingnya.


"Grace, apa yang kamu lakukan?!"


"Saya tadi baru saja dari toilet dan Miss Nana juga tidak memanggil saya, dokter..."


"Cepat segera ambilkan emergency kit di meja depan!"


"Baik dokter..."


"Kak Brian, jangan membentak kak Grace, ini semua salahku, lagipula aku tidak apa-apa..."


"Kamu terluka seperti ini, apanya yang tidak apa-apa?! Kalau ada apa-apa kamu harusnya minta tolong pada Grace, jangan ceroboh melakukan semuanya sendiri...!"


Nana hanya menghela nafas tanpa mengeluarkan kata-kata. Namun ekspresi wajahnya tampak sedikit kecewa.


"Kak Brian...."


"Ya..??"


"Aku bukan anak kecil..."


"Kak Brian, sampai kapan kakak akan memperlakukan aku seperti ini? Selama disini aku selalu diperlakukan seperti anak kecil yang seolah tidak bisa apa-apa. Aku sudah tahu kalau sekarang aku berusia 29 tahun, meskipun yang aku miliki hanyalah sebatas memori saat usia 19 tahun. Tapi aku harus menerima kenyataan bahwa aku saat ini adalah wanita berusia 29 tahun."


Brian terus memberikan treatment pada luka Nana tanpa menoleh sedikitpun pada Nana.


"Kak Brian, bukankah seharusnya kakak membantuku membangun diriku kembali agar aku perlahan bisa mandiri dan bersikap normal seperti wanita 29 tahun pada umumnya? Faktanya meskipun aku kehilangan memori dari lompatan waktu selama 10 tahun, tapi aku sudah menjalani kehidupan dalam tahun - tahun itu, mulai dari aku kuliah di New York, aku menjadi seorang arsitek, aku menjadi direktur perusahaan, bahkan aku sudah menikah dan menjadi seorang ibu. Aku mau kemampuan itu kembali padaku. Aku tidak mau memulai kehidupan sebagai orang yang berusia 19 tahun. Aku mau hidup normal."


"Nana, kamu masih perlu waktu."


"Waktu apa? Aku cuma kehilangan memori, aku tidak kehilangan kapabilitas otakku. Aku juga tidak kehilangan kewarasan. Kenapa seolah kak Brian menjauhkan aku dari hal-hal yang mendorongku kembali mendapatkan kehidupan yang berhubungan dengan memori 10 tahun yang hilang itu."


"Nana, aku tahu kamu kuat. Aku tahu kamu wanita yang cerdas. Tapi kamu tetap wanita yang rapuh. 10 tahun memori yang hilang itu semuanya adalah tentang kepahitan dalam hidupmu. Dan aku tidak akan membiarkanmu hidup seperti itu lagi. Ini adalah janjiku kepada Kevin."


Nana hanya diam setelah mendengar ucapan Brian. Saat ini memang hanya Brian tempat bergantung bagi Nana. Namun justru karena itu Brian terlalu protektif pada Nana. Seolah Brian tidak memberi kesempatan bagi Nana untuk melanjutkan hidupnya seperti sebelumnya, Brian selalu menempatkan Nana sebagai seseorang yang harus selalu bergantung padanya.


Pada akhirnya Nana bertekad akan berusaha untuk tidak bergantung pada Grace maupun Brian. Nana terus berusaha agar ia bisa berjalan kembali. Setidaknya ia ingin membuktikan bahwa dia tidak lemah dan mampu melakukan aktivitas tanpa bantuan mereka.


Terkadang Brian melihat bagaimana usaha keras Nana, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena Nana sangat keras kepala. Sifat aslinya memang tidak pernah berubah, keras kepala dan penuh ambisi.


-----------------------------


Satu bulan kemudian,


Di kantor Shine Grup,


Eric duduk di kursi kerjanya sambil memandangi ponselnya. Sudah lebih dari satu bulan ini Nana berada di Amsterdam. Brian dan Eric terakhir berkomunikasi adalah dua minggu lalu. Eric dilema jika menghubungi Brian, dia sudah berjanji untuk tidak mengusik ketenangan Nana lagi, jika bukan Brian yang menghubunginya. Tapi bagaimanapun juga, Eric tidak bisa menahan kerinduannya pada Nana. Hanya melihat beberapa foto pernikahan mereka, dan foto yang ada di sosial media Nana yang terkahir kali update hampir delapan bulan yang lalu.


Eric beranjak dari kursinya dan memandangi setiap ruangan kerjanya. Dalam batin Eric, seharusnya apa yang ia miliki saat ini adalah milik Nana. Ruangan ini seharusnya adalah milik Nana.


"Tok, tok, tok...."


"Masuk,"


Erica masuk ke ruangan Eric dengan membawa beberapa dokumen.


"Ini adalah laporan nilai saham kita. Setelah konferensi pers yang kita lakukan, nilai saham yang sempat menurun sekarang dalam beberapa minggu ini mulai merangkak naik. Dan para investor yang sempat menarik diri dari perusahaan kita, beberapa diantaranya membuat rencana pertemuan untuk bekerjasama."


"Itu bagus...."


Eric hanya menanggapi dengan wajah lesu. Erica melihat wajah Eric yang masih tampak muram, dia tahu pasti ada masalah dengan Nana.


"Apakah ada kabar dari Nana?"


Eric hanya menggeleng.


"Caesar bulan depan mulai libur panjang, dan dia sebentar lagi akan masuk elementary school. Ada baiknya jika Caesar bisa bertemu dengan ibunya."


Eric tiba-tiba tersentak lalu wajahnya berubah menjadi sedikit bersemangat.


"Maksudmu aku akan mengajak Caesar ke Amsterdam?"


"Tentu saja. Mungkin kalau untuk alasan Caesar, dokter Brian akan mengijinkan bertemu dengan Nana."


Eric mendadak wajahnya cerah, sinar matanya mengandung banyak harapan jika dia masih bisa bertemu dengan Nana.


"Aku akan menyerahkan semua urusan kantor nanti padamu dan Richo. Aku akan membujuk Brian agar mengijinkan Caesar bertemu Nana."


Erica mengangguk, dia tahu kakaknya yang sedang jatuh cinta dan memendam kerinduan pada istrinya. Namun ia tidak habis pikir dengan Brian yang semakin terobsesi dan overprotektif terhadap Nana semenjak mereka berada di Amsterdam.


------------------------------


"Halo... Brian?"


"Ya, ada apa Eric?"


"Aku hanya ingin menanyakan perkembangan Nana. Apa dia baik-baik saja?"


"Ya... dia tidak ada masalah apapun disini. Dia sangat bahagia. Dia sudah mulai belajar memasak, membuat beberapa lagu instrumen piano, dan melukis. Dan dia juga sudah mulai bisa memakai tongkat."


"Syukurlah... aku sebenarnya menghubungimu karena ingin meminta ijin padamu, bulan depan Caesar libur kelulusan. Dia akan masuk ke elementary school, apakah boleh jika dia ingin menemui ibunya?"


Brian terdiam sejenak, ia tahu sebenarnya Eric memang hanya mencari alasan agar ia bisa bertemu dengan Nana. Namun Caesar juga butuh ibunya.


"Aku tidak melarangmu menemui Nana. Namun aku harap kamu bisa menjaga sikap sehingga tidak menyakiti Nana lagi. Saat ini Nana sudah hidup normal, aku tidak mau kamu merusaknya."


Ucapan Brian sangat menampar Eric. Bahkan Brian pun menilai Eric hanya menjadi orang yang hanya bisa merusak Nana. Namun bagi Eric, dirinya memang pantas mendapat cercaan, apalagi Brian memang berhak mengatakan demikian.


"Terimakasih Brian, terimakasih atas ijinmu membolehkan kami bertemu dengan Nana."


Asalkan Eric bisa bertemu dengan Nana, dia akan menerima apapun perlakuan Brian terhadap dirinya.


------------------------------


"Daddy mau mengajak Caesar ketemu Mommy???"


"Iya... ketika libur sekolah nanti..."


Caesar memeluk Eric bahagia, bahkan Caesar sampai menangis di pelukan Eric. Rasa bahagia Caesar tidak bisa digambarkan lagi bentuk rupanya. Kebahagiaan seorang anak yang sangat merindukanmu ibunya. Meski ia tahu ibunya tidak mengenalinya. Namun bagi Caesar, pelukan Nana masih tetap sehangat saat mereka bersama.


Di lain tempat,


Nana sedang mengalunkan pianonya sambil menatap senja dari jendela ruangannya. Matanya terpejam menikmati setiap tekanan tuts piano yang ia tekan di sembarang tempat namun tetap menghasilkan alunan instrumen yang membuat siapapun akan mengerti bahwa hatinya sedang merindukan seseorang, tapi bahkan Nana pun juga tidak mengerti siapa sebenarnya yang ia rindukan.


Jiwanya masih merasa kehilangan, raganya pun juga masih merasakan kekosongan. Hatinya terasa sangat hampa, pikirannya terus melayang ke tempat lain yang dia bahkan tidak mengerti dimana.


Mungkin inikah yang disebut dengan jiwa yang tak memiliki arah....


Nana menghentikan tangannya, namun tiba-tiba ia merasakan desiran dalam hatinya. Ia tiba-tiba mengingat sebuah nama dan bibirnya mengucapkan sebuah nama


"Caesar...."



--------------------------------


Apakah Nana mulai mengingat satu per satu orang yang pernah hidup di dalam hatinya selama sepuluh tahun terakhir?


Mungkinkah ia kembali jatuh hati pada Eric, atau membuka hati untuk Brian?


Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik: "Like"👍 "Love"❤️ dan berikan rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....