I'M Sorry, Wife

I'M Sorry, Wife
EPILOG




***


Epilog


Malam sebelumnya,


Setelah Nana keluar dari rumah Eric dan langsung melaju pergi. Eric masih mematung pada posisinya.


Mungkinkah aku saat ini memang benar-benar kehilangan Nana...


Wanita yang selama ini sudah membuatku jatuh cinta setengah mati...


Wanita yang mampu menjatuhkanku ke dalam jurang yang sangat dalam hingga aku tak berdaya untuk keluar dari sana...


Wanita yang benar-benar sudah membuatku menjadi pria paling lemah ketika berhadapan dengannya....


"Daddy...." tiba-tiba suara Caesar terdengar dari atas tangga.


Eric menoleh ke arah Caesar. Caesar sangat terkejut melihat wajah ayahnya yang pucat bagai tak berdarah dan mata yang sudah memerah. Caesar segera menuruni anak tangga lalu berlari menuju Eric dan memeluknya.


"Daddy.... Caesar sayang daddy, Caesar tidak akan meninggalkan daddy..."


Ucapan Caesar malah membuat Eric semakin sesak dan tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menangis. Bukan menangis untuk mengasihani masib dirinya sendiri yang sudah ditinggalkan oleh Nana, tapi menangisi kebodohannya yang tidak bisa menjaga keutuhan keluarganya.


Menangisi masa depan Caesar yang akan hidup terpisah dari ibunya...


Menangisi kehidupan Nana selanjutnya yang mungkin akan semakin jauh darinya...


Meski Eric berusaha membesarkan hatinya untuk tetap bertahan mencintai Nana walaupun kelak Nana bersama orang lain. Namun bukankah manusiawi jika seseorang menangis karena merasa kehilangan.


Eric memeluk putranya dan mencium setiap inchi kepala Caesar.


"Maafkan daddy, Caesar.... maafkan daddy... daddy sudah gagal menjadi seorang penanggung jawab keluarga kita..."


"Apakah mommy akan pergi lagi?"


"Mommy dari dulu tidak pernah pergi meninggalkan kita, daddy-lah yang tidak bisa menjaga mommy dengan baik..."


"Apakah mommy dan daddy masih mencintai?"


Eric tidak bisa menjawab pertanyaan Caesar. Dia tidak yakin apakah Nana mencintai dirinya atau tidak.


"Apakah mommy bilang tidak mencintai daddy? Apa daddy pernah bilang kalau daddy sangat mencintai mommy?"


Tiba-tiba Eric tersentak.


Benar!


Selama ini ia terlalu pengecut untuk mengakui dia mencintai Nana dan terlalu pecundang untuk mengatakan pada Nana. Dia tidak pernah mencoba menyatakan secara langsung dan terbuka pada Nana bahwa dia mencintainya. Dia hanya pernah mengatakan satu kali itupun disaat Nana sedang tertidur di ruang perawatan sebelum pergi ke Amsterdam.


"Kamu benar sayang, daddy akan mengatakannya pada mommy bahwa daddy masih sangat mencintai mommy..."


Eric bersiap pergi ke apartemen Nana malam itu juga. Tapi kemudian tiba-tiba Eric mendapat telepon dari Brian.


"Halo, ada apa Brian?"


"Bisa bertemu di Heaven? (nama sebuah restoran jepang)"


"Maaf Brian, ada hal mendesak yang harus aku selesaikan."


"Apa Nana sudah menemuimu?"


"Darimana kamu tahu?"


"Temui aku dulu, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu. Ini menyangkut Nana."


"Menyangkut Nana? Baiklah, aku akan kesana."


Eric langsung tanpa ragu pergi menemui Brian yang sudah menunggunya di sebuah restoran Jepang.


10 menit kemudian,


Eric sudah sampai di Heaven untuk menemui Brian. Salah satu pelayan restoran tersebut mengantar Eric ke salah satu ruangan VIP. Restoran Jepang tersebut memiliki ruang VIP dengan sekat-sekat ruangan yang sering digunakan sebagai ruang pertemuan pribadi yang santai.


"Ada apa Brian? Katakan masalah apa yang menyangkut tentang Nana. Darimana kamu tahu kalau dia tadi menemuiku?"


"Aku hanya menebak, kalau dia pasti akan segeran menemuimu setelah mendengar kabar dari Grace, dan ternyata dugaanku benar. Nana salah paham."


"Salah paham? Apa maksudnya?"


"Maaf Eric, semua ini memang berhubungan denganku. Grace baru saja memberi tahuku bahwa tadi saat Nana ke rumah sakit ingin menemuiku, aku sedang ada jadwal operasi dan baru saja selesai jam 8 malam tadi. Grace mengatakan bahwa dia tadi memberi tahu Nana tentang insiden beberapa hari lalu yang aku alami saat mengoperasi pasien ODHA yang mengalami kecelakaan. Nana pasti mengira bahwa aku terinfeksi HIV, karena Grace sendiri juga yang memberitahu Nana informasi yang salah. Aku belum sempat menemui Nana, tadi aku ke apartemennya tapi dia belum datang. Dan ponselnya juga mati."


Eric sangat kaget mendengar penjelasan Brian.


"Jadi begitu.... Dugaanmu mungkin benar Brian, karena Nana mengatakan dia akan memilih menjalani hidup denganmu. Aku sebenarnya terkejut karena beberapa hari lalu Nana masih datang padaku dengan pandangan menggebu mengatakan dia akan membalas dendam padaku. Tapi pandangannya tadi terlihat sedikit lebih melemah dan mengatakan dia akan menyerah dengan balas dendamnya dan memilih hidup damai bersamamu. Aku tidak tahu apa yang mendasarinya berubah pikiran secepat itu."


"Dia bilang begitu?"


Eric mengangguk lesu sambil menjatuhkan pandangannya ke dalam air yang berada di cangkirnya.


"Nana meminta surat pengajuan perceraian itu, dia mengatakan besok dia akan ke Kantor Penasehat Pernikahan dan Perceraian. Jika memang Nana memilihmu pada akhirnya karena kehendaknya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Asalkan Nana tetap terlindungi dan terjaga..."


Brian terkejut mendengar jawaban Eric.


"Eric, apa kau tidak merasakan bahwa Nana masih mencintaimu?"


Eric mengangkat wajahnya yang tertunduk.


"Eric, Nana pernah mengatakan padaku saat selama di Amsterdam dia terus memikirkanmu. Aku sempat berusaha mengalihkan pikirannya, tapi hasilnya malah dia justru memberontakku. Itulah kenapa akhirnya aku mengijinkanmu datang ke Amsterdam sekaligus ingin menguji reaksi Nana saat bertemu denganmu. Tapi feeling-ku memang benar. Apalagi setelah kejadian Nana setelah tenggelam itu, aku melihat dia sangat kooperatif denganmu. Namun aku benar-benar tidak tahu kenapa keesokannya dia berubah defensif terhadapmu. Bahkan saat aku berusaha meluruskan pandangannya terhadapmu, dia malah menghindariku seolah aku membelamu."


"Apa kamu tidak pernah menanyakannya padamu? kenapa dia bisa tiba-tiba bersikap seolah sangat membenciku?"


Brian menggeleng.


"Dia selalu menghindariku. Baru kemarin itu dia menemuiku tapi aku malah tidak bisa menemuinya. Dan justru mendapat kesalah pahaman seperti ini."


"Nana juga tidak mengatakan yang sejujurnya padaku. Dia hanya mengatakan bahwa dia akan merenggut semua yang aku miliki seperti aku yang telah membuatnya kehilangan segalanya...."


Brian terdiam sejenak.


"Apa kamu besok akan datang ke kantor Penasehat Pernikahan dan Perceraian?"


"Aku masih perlu menata hatiku. Sebenarnya saat ini aku mau menemuinya, aku ingin menanyakan kepastian perasaannya terhadapku."


"Besok aku akan menemuinya di Kantor Penasehat." ucap Brian dengan mantap.


--------------------------------


Kembali pada hari ini,


Nana masih memeluk pinggang Brian, lalu Brian melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nana yang sejajar dengan dadanya.


"Nana.... keputusanmu ini... semoga tidak membawa penyesalan bagimu..."


Nana menengadahkan wajahnya menatap wajah Brian dengan masih dalam posisi memeluk pinggang Brian.


"Nana.... Sebenarnya aku kemari untuk memberi tahumu tentang semua kesalahpahaman ini."


Nana melepaskan pelukannya, lalu mengeryitkan dahinya.


"Kesalahpahaman tentang apa kak?"


"Apa yang kamu dengar dari Grace itu perlu aku luruskan. Kemarin malam Grace mengatakan bahwa kemarin siang kamu datang ke Rumah Sakit. Lalu dia menceritakan tentang insiden yang terjadi 5 hari lalu, maaf semua ini salahku kemarin tidak bisa menemuimu..."


Nana menggeleng dengan tersenyum lembut.


"Kak Brian sama sekali tidak salah. Apa yang dikatakan kak Grace kemarin... Aku yakin kakak mampu menghadapi, dan.... aku memutuskan akan mendampingimu sampai...."


Tiba-tiba Brian memotong kalimat Nana,


"Nana, ini yang aku sebut kamu sudah salah paham.... Jangan katakan kalau kamu akhirnya memutuskan bercerai dengan Eric karena kamu mengira aku terinfeksi HIV?"


Nana mengangguk ragu,


"hahhh.... sudah kuduga... Grace wanita ceroboh itu..." Brian mendenguskan nafasnya.


"Nana, Grace mengatakan fakta yang salah. Aku sudah melakukan tes HIV dan hasilnya negatif. ODHA yang aku operasi saat itu statusnya baru satu bulan lalu. Dan darah yang saat itu terpapar ke mataku, ternyata tidak sampai masuk ke dalam lapisan mukosa retinaku. Grace memang tidak tahu jika aku sudah melakukan pemeriksaan tiga hari setelah insiden itu, karena setelah aku dinyatakan negatif, kepala Departemen langsung memberiku ijin jadwal praktek operasi lagi. Minggu depan aku akan melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan bahwa aku benar-benar negatif."


Nana tersenyum lega, lalu tiba-tiba wajahnya kembali murung.


Brian terbelalak lalu memejamkan matanya dan kembali mendenguskan nafasnya.


"Nana.... kenapa kamu bisa menarik kesimpulan seperti itu?"


"Aku sudah mendengar sendiri apa yang kalian katakan pada malam itu, sehari sebelum kak Eric kembali ke Singapore. Aku mendengar sendiri dia mengatakan bahwa dia sudah menandatangani surat pengajuan perceraian. Lalu apa ada kebenaran yang lain lagi dibalik semua itu?"


Brian mengangguk, sambil senyum kecil. Lalu mengelus rambut Nana seperti dulu yang sering dilakukan Kevin terhadap Nana.


"Seharusnya dari awal kamu bertanya padaku untuk mencari tahu kebenarannya..."


"Tapi kak Brian selalu seolah membela kak Eric... Jadi aku rasa aku harus mencari tahunya sendiri."


"Lalu apa kamu sudah menemukan jawabannya? Atau hanya kesimpulan yang berasal dari prasangkamu sendiri?"


Nana tertunduk karena tidak bisa menjawab pertanyaan Brian.


"Perlu kamu ketahui Nana.... Surat pengajuan perceraian itu memang ditandangani oleh Eric sendiri. Tapi itu adalah aku yang mendesaknya sebelum aku tahu dan menilai dia banyak berubah demi dirimu.... Sebenarnya, itu semua juga atas kehendak Kevin.... Lebih tepatnya beberapa hari setelah kamu mengalami kecelakaan setahun yang lalu, Kevin yang mengajukan pendaftaran perceraian kalian dan memohon kepada Eric untuk menyetujui perceraian kalian. Dan itu tanpa sepengetahuan Mama Lisa, saat Mama Lisa tahu Kevin memberi ultimatum kepada Eric untuk menandatangani surat perceraian itu, Mama Lisa sangat marah pada Kevin."


"Benarkah....???" Nana tidak mampu menyembunyikan ekspresinya yang sangat kaget.


Brian mengangguk lalu melanjutkan ucapannya.


"Perlu kamu tahu, bahwa selama itu Eric selalu mengulur waktu untuk menandatangani surat itu. Dia selalu berdalih untuk menunggumu siuman dari koma dan meminta pertimbanganmu. Namun siapa yang menyangka saat kamu bangun, ternyata kamu mengalami amnesia. Dan aku yang saat itu selalu berada di pihak Kevin, terus mendesak dan memprovokasinya. Namun pada akhirnya dia mulai menunjukkan dan membuktikan bahwa dia sudah berubah. Lalu aku berusaha membuka mata dan menilai sikap Eric terhadapmu bahwa dia memang sebenarnya dengan tulus tidak ingin bercerai denganmu. Itu bukan karena Caesar, tapi lebih cenderung karena keinginan hatinya sendiri yang masih berat untuk melepaskanmu...."


Nana kembali bimbang dengan semua penjelasan Brian.


"Ucapan kak Brian... seolah membenarkan semua yang dikatakan ibunya Edis..." gumam Nana.


"Ibunya Edis?" Tiba-tiba Brian menimpali mendengar kalimat Nana yang sebenarnya lirih namun tetap terdengar Brian.


"Beberapa minggu lalu aku menemui ibunya Edis untuk meminta kesaksiannya dalam membuat tuntutan kepada kak Eric agar aku bisa menjatuhkan dia. Namun ibunya Edis tidak bersedia dan justru mengatakan bahwa Eric sangat mencintai istrinya, yaitu aku. Dia juga menjelaskan kronologis kejadian saat aku memergoki Edis dan kak Eric di hotel Marina sebelum aku mengalami kecelakaan."


"Nana.... kenapa kamu harus melakukan itu?"


Brian menggenggam bahu Nana dan sedikit merundukkan punggungnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Nana yang ketinggiannya selisih hampir dua puluh sentimeter lebih rendah dari Brian.


"Sekarang aku tanya sekali lagi padamu Nana, jika kamu tidak menjawab dengan sejujurnya mungkin kamu akan menyesal."


Nana hanya menatap wajah Brian yang saat ini tegak lurus dengan wajahnya.


"Nana.... apa kamu benar-benar ingin bercerai dengan Eric? Apa kamu sama sekali tidak mencintainya?"


Nana mengalihkan pandangannya, lalu melepaskan genggaman bahu Brian.


Nana tidak tahu harus menjawab apa.


"Katakan kalau kamu tidak mencintai Eric!"


Nana semakin memalingkan wajahnya dan kali ini Nana membalikkan tubuhnya dan sedikit menjauh beberapa langkah.


Namun pada saat itu juga Nana melihat sesosok pria memperhatikannya. Dia tidak tahu sejak kapan pria itu berdiri disana. Entah apakah sejak tadi pria itu melihatnya bersama Brian atau tidak.


Brian melihat Nana yang berdiri mematung menghentikan langkahnya.


"Pria yang berdiri disana itu, adalah orang yang paling kamu benci kan?"


Ucapan Brian jelas tertuju pada pria yang saat ini menghadap mereka yang tak lain adalah Eric. Dan Brian yakin Nana saat ini juga sedang melihat Eric.


Nana memejamkan matanya sejenak, lalu air matanya mengalir di kedua matanya.


(suara hati Nana)


"Papa... mama... dari awal kalian menyerahkan aku kepadanya, meski aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu kepadanya, tapi saat ini.... aku benar-benar tidak bisa membencinya, ataupun kehilangan dirinya....."


Nana menengadahkan wajahnya ke atas langit, dengan mata yang masih terpejam. Sedangkan air matanya terus mengalir. Bibirnya terbata karena berusaha mengucapkan sebuah kalimat.


"Aku.... aku tidak bisa... aku tidak bisa membencinya...."


Nana langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sambil terus menangis.


Tiba-tiba Nana merasakan sesosok tubuh memeluknya...


Nana yang masih menutupi wajahnya hanya bisa pasrah dengan pelukan sosok tubuh itu.


Entah kenapa tubuh Nana sendiri malah justru merasakan kenyamanan dan ketenangan.


(suara hati Nana)


Tubuh ini....


Perasaan ini....


Kenapa aku seolah begitu merindukannya....


Nana membuka matanya dan perlahan mengangkat wajahnya.


Nana dengan jelas melihat Eric sedang menunduk menatap wajahnya.


"Kak Eric...."


Air mata Nana kembali bergulir, melihat wajah Nana yang seolah begitu mengiba, membuatnya tidak tahan untuk semakin merekatkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya.


Eric mencium bibir Nana...


Nana memejamkan matanya dan memeluk tubuh Eric.


Meski ia tidak mengingat apapun semua moment bersama Eric, namun Nana bisa merasakan kehangatan yang begitu menenangkan, seolah ia begitu merindukan kehangatan itu.


"Maafkan aku Nana... Terimakasih telah memberiku kesempatan lagi, Nana..."


Nana mengangguk sambil tersenyum dan mengusap-usapkan wajahnya ke tangan Eric yang merengkuh wajah Nana.


"Kita akan memulainya lagi Nana... Sekalipun ingatanmu tidak kembali, kita akan mengukir kembali dengan memori yang lebih indah. Sekalipun aku harus berkali-kali mengulang untuk mencintaimu di lapisan kehidupan dan masa yang berbeda... Aku akan melakukan yang terbaik untukmu dan keluarga kita..."


Nana mengangguk lalu Eric kembali mencium bibirnya.



Brian melihat Nana dan Eric yang pada akhirnya bisa menyadari perasaan mereka masing-masing.


"Hoi... kalian jangan lama-lama... cepat urus surat perceraian kalian, atau kalian akan benar-benar bercerai."


Nana dan Eric seketika menghentikan ciuman mereka lalu menoleh pada Brian. Sejenak mereka saling berpandangan.


"Itu tidak boleh terjadi!" Eric langsung menyambar tangan Nana dan menggandengnya berlari masuk ke Kantor Penasehat Pernikahan dan Perceraian untuk membatalkan pengajuan perceraian.


Brian tertawa kecil melihat tingkah Nana dan Eric. Lalu mengangkat wajahnya dan memandang langit.


"Hmmm.... tugasku sudah selesai, Kevin... Akhirnya aku bisa membuktikan bahwa aku yang paling mengerti Nana daripada dirimu.... Dasar kakak tidak berguna...."


Brian tersenyum sambil menitikkan air mata.


-----------------------------------


Halooo Sahabat Pembaca ❤️


Mohon maaf sekali atas keterlambatan update-nya.


Karena kesibukan author di real life yang tidak bisa ditinggal.


🙏🙏🙏🙏🙏


Sesuai permintaan sahabat pembaca, Author sedang menyiapkan EXTRA PART tentang kehidupan Nana dan Eric setelah mereka bersatu kembali.


NANTIKAN EXTRA PART NANA & ERIC.



Tetap setia membaca Novel ini,


Jangan lupa dukung author dengan klik:


"Like"👍


"Love"♥️


Rating "Bintang 5"⭐⭐⭐⭐⭐ya....