
Regal menarik tangan Jasmine dengan sangat kencang, genggamannya begitu erat sampai Jasmine harus menahan sakit selama ia berjalan mengikuti langkah Regal yang semakin cepat.
"Ahh!"
Kaki Jasmine tersandung.
Regal melepaskan genggaman tangannya, dan menghentikan langkahnya. Namun Regal masih tidak menoleh menghadap Jasmine.
Regal menundukkan kepalanya.
Jasmine memegangi pergelangan tangannya yang tampak merah. Namun kesakitan yang ia rasakan seolah meluntur, saat ia mendengar isakan Regal.
Jasmine memberanikan diri untuk berjalan ke arah hadapan tubuh Regal. Jasmine tampak ragu namun jelas di matanya ia menaruh iba pada kondisi Regal saat ini.
Regal menangis.
***
***
Plakkk!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Steven.
"Dasar anak haram! Berapa kali aku katakan padamu untuk jangan membuat masalah! Sekarang apa yang kamu lakukan?!"
"Suamiku, cukup! Steven sudah babak belur begini... Mau sampai bagaimana kamu akan menghajarnya?"
"Lihat! bahkan kamu bukan ibu kandungnya, kamu masih saja membelanya!"
"Bagaimanapun juga, dia adalah putra kita satu-satunya! Sudah suamiku, cukup!"
Gie Kwan menghempaskan tangan istrinya, lalu melanjutkan menghajar Steven.
Pukulan di wajah, kaki, tangan, dada, punggung, dan perut. Seluruh anggota tubuh Stevan tidak ada yang luput dari pelampiasan amarah ayahnya.
"Kamu tahu, keluarga Shine itu siapa?! Susah payah aku membangun manner yang berkelas dan disegani di depan Eric Shine. Sekarang kamu malah menunjukkan kebrandalanmu!! Apa kau masih bisa disebut anggota keluarga Kwan!!!" Gie Kwan meneriaki Steven yang sudah jatuh tersungkur dengan wajah pasrahnya.
"Cukup!!! Kamu akan membunuhnya!!!" Nyonya Kwan mendorong tubuh Gie Kwan lalu memeluk Steven untuk melindungimu Steven dari pukulan Gie Kwan.
"introspeksi dirimu! Sementara kamu harus tetap di rumah!"
Tuan Gie Kwan sebetulnya belum puas melampiaskan amarahnya. Hanya saja melihat istrinya terus melindungi Steven, dia pun memilih menghentikan tindakannya. Gie Kwan merapikan kembali kemeja dan ikat pinggangnya. Lalu pergi meninggalkan ruangan tempat Steven dan Nyonya Kwan tersungkur.
"Steven.... kamu tahu watak ayahmu... mengapa kamu melakukan hal yang memancing amarahnya..." Nyonya Kwan mengelus pipi Steven yang lebam dan berdarah.
Steven hanya diam dan mencoba bangun. Namun ia tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir.
"Jangan dengar ucapan ayahmu tentang dirimu tadi, dia hanya emosi..." Nyonya Kwan berkata dengan lembut sambil memapah Steven.
Steven kali ini tidak memiliki tenaga untuk menghempaskan tangan Nyonya Kwan. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima rangkulan dan pelukan Nyonya Kwan.
Tapi kata "Anak Haram" yang dilontarkan oleh ayahnya adalah hal yang paling menyakitkan bagi Steven.
Tak perlu diingatkan, sampai kapanpun Steven juga masih ingat dengan jelas bagaimana ibu kandungnya yang sejak Steven lahir menjadi single mom dan mengurus Steven seorang diri, tapi tiba-tiba ibunya membawa Steven yang masih berusia 5 tahun ke keluarga Kwan. Pada saat itu Tuan Kwan tidak mau menerima kehadiran Steven.
Namun Nyonya Kwan yang saat itu masih dalam proses pemulihan setelah operasi pengangkatan ovarium dan divonis tidak akan bisa memiliki anak selamanya, tanpa ragu menerima kehadiran Steven. Karena bagaimanapun juga, keluarga Kwan butuh keturunan. Dan Steven masih dipertimbangkan sebagai darah daging Gie Kwan sendiri, meski tidak lahir dari rahim Nyonya Kwan.
Dan meskipun Nyonya Kwan tahu Steven dilahirkan secara diam-diam oleh wanita mantan kekasih suaminya, namun ia begitu hangat menyambut Steven dan menganggapnya sebagai putranya sendiri.
Steven yang telah diserahkan ke keluarga Kwan lalu ditinggalkan oleh ibunya karena menikah dengan pria lain, tidak memiliki pilihan lain selain mencoba berperan sebagai anak yang baik di keluarga Kwan. Walaupun Steven tidak pernah menganggap Nyonya Kwan sebagai ibunya. Selalu berpura-pura penurut di depan Gie Kwan, tapi bersikap dingin kepada Nyonya Kwan saat di belakang Gie Kwan.
***
***
Di sisi lain, tepatnya di ruang study rumah keluarga Kwan. Gie Kwan sedang berbicara dengan salah satu ajudannya.
"Sialan! Prankkk!"
Gie Kwan memporak-porandakan seluruh isi meja yang ada di hadapannya.
"Bertahun-tahun ini aku yang selalu ditolaknya dan berusaha merendah hanya demi nama partai keluarga Kwan. Jika bukan demi Perdana Menteri Lee, aku tidak akan sampai bersabar sampai sejauh ini. Dan sekarang Steven malah mencari gara-gara dengan putranya."
"Apa yang akan kita lakukan besok Tuan?"
"Segera lakukan sesuai intruksiku besok, sebelum media mendapatkan berita tentang Steven dan Tuan muda Shine. Besok aku akan menemui Eric Shine secara pribadi di kediamannya untuk meminta maaf."
"Baik Tuan,"
Ajudan Gie Kwan segera pergi dari ruangan tersebut setelah ia mendapat perintah darinya.
Gie Kwan masih berusaha meredam amarah di dadanya. Tentu ia sudah lama memendam semua rasa sakit hati terhadap Eric selama bertahun-tahun ini.
Keluarga Kwan memiliki kekerabatan dengan Tuan Lee yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri selama dua periode. Dan baru tiga tahun lalu jabatan Tuan Lee digantikan oleh Perdana Menteri yang baru.
Sejak Tuan Lee mengangkat Eric secara pribadi menjadi salah satu wakil Menteri di kabinetnya saat itu, adalah pukulan besar bagi keluarga Kwan yang merupakan pendukung dari Tuan Lee. Keluarga Kwan pada awalnya mengandalkan Gie Kwan sebagai successor. Tapi pada tahun itu Gie Kwan terlibat skandal perselingkuhan dengan sekretarisnya dan meninggalkan wanita tersebut dalam kondisi hamil, yang tidak lain wanita itu adalah wanita yang melahirkan Steven.
Karena skandal itulah, pada akhirnya Gie Kwan tidak mendapatkan jabatan apa-apa di kabinet Tuan Lee, karena dianggap tidak bersih dan sangat berisiko mencoreng nama kabinet Tuan Lee. Tentu saja partai keluarga Kwan luar biasa kecewa terhadap Gie Kwan. Itulah sebabnya Gie Kwan dianggap sebagai successor yang gagal bagi partai yang didirikan oleh keluarga Kwan sendiri.
Tidak sampai disitu, Gie Kwan semakin terpuruk saat partai keluarga Kwan malah menawarkan posisi successor kepada Eric Shine. Pastinya itu membuat Gie Kwan saat itu merasa terbuang dari keluarganya sendiri. Bagai gayung tak bersambut, Eric justru menerima tawaran partai Kwan dan dengan niat baik Eric merangkul Gie Kwan sebagai salah satu ketua sekretariat partai.
Akan tetapi Gie Kwan tidak menganggap demikian. Bayangkan bagaimana perasaan Gie Kwan saat itu, dia yang seharusnya menjadi successor bagi partai Kwan, malah justru menjadi anak buah bagi orang luar yang sama sekali tidak berhubungan darah dengan keluarga Kwan tapi malah selalu dielukan oleh keluarganya sendiri. Itu merupakan sebuah bentuk penghinaan besar bagi dirinya.
Selama ini di depan semua orang, Gie Kwan harus memasang topeng sebagai orang yang menjunjung loyalitas dan integritas terhadap hubungannya dengan Eric. Hampir semua rekan politik di parlemen memiliki anggapan bahwa berdirinya Gie Kwan di kabinet sebagai Menteri saat ini adalah karena jasa Eric Shine. Hal itu terlalu melekat dalam pandangan orang-orang di seluruh parlemen. Sehingga setiap pencapaian yang diraih Gie Kwan selalu disimpulkan sebagai jasa Eric Shine.
Di hati Gie Kwan, ia sudah terlampau sakit hati dengan semua pelabelan itu. Dan sekarang, dengan adanya kasus perkelahian Steven dan Regal, tidak akan menunggu lama bagi semua dewan di parlemen bahkan masyarakat luas untuk menganggap Gie Kwan sebagai orang yang tidak tahu balas budi pada Eric Shine.
Membayangkan apa yang akan terjadi besok, sudah membuat Gie Kwan merasa kesal dan marah.
"Aku sudah muak dengan semua ini... Bisakah aku mengakhiri semua ke-bulshit-an ini?"
---------------------------------
Di rumah Eric,
Nana mengompres wajah Regal dengan hati-hati dan sangat perlahan bahkan hampir seolah tidak menyentuhnya.
Eric menatap Regal dengan tatapan yang sangat mendalam. Sekilas ia tampak seperti akan memarahi Regal, bahkan Regal tidak berani menatap mata Eric. Memang ini pertama kalinya bagi Regal pulang dalam keadaan babak belur, apalagi Nana saat pertama menyambut Regal sepulang sekolah sempat menangis melihat kondisi wajah Regal.
Caesar baru pulang, ia masuk rumah melalui pintu utama. Saat ia melewati ruang keluarga, ia berhenti sejenak dan melihat Regal setengah berbaring dengan Nana yang duduk di samping Regal sambil mengompres.
Eric menyadari kehadiran Caesar. Lalu ia menoleh ke arah Caesar yang sedang menatap Regal dengan wajah datar, tanpa empati.
Eric berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah Caesar.
"Ikut daddy ke atas." Eric setengah berbisik tepat di samping telinga Caesar.
"Apakah kakakmu baru saja datang?" Nana bertanya pada Regal.
Regal tidak menjawab, tapi sebenarnya ia tahu Caesar baru saja di sana, berdiri melihat ke arahnya.
Sementara di lantai atas,
Eric duduk berhadapan dengan Caesar.
"Caesar, daddy setuju kamu pergi ke Surabaya ke rumah keluarga ibumu pada saat Natal nanti... Kamu bisa kembali kapanpun yang kamu mau."
"Apa ini maksudnya, daddy tidak akan menyuruhku kembali ke Singapore?"
"Itu yang daddy baca dari wajahmu saat ini. Kamu seperti orang lain saat masuk ke dalam rumah ini, terutama saat melihat adikmu."
"Aku tidak menyangka daddy akan langsung berubah hanya setelah melihat Regal dalam kondisi seperti ini."
"Caesar, jangan menguji kesabaranku..."
"Katakan saja bahwa daddy saat ini meminta pertanggung jawabanku sebagai kakak! Lalu menyalahkanku atas kelalaianku melindungi Regal!"
"Caesar jangan berteriak di rumah ini...."
"Tidak, aku sudah memendam terlalu lama kekesalan ini, dan daddy tahu itu! Aku tidak tahan lagi, dengan setiap suasana rumah ini! Bukankah ini yang daddy inginkan dariku! Aku harus selalu diam dan harus memahami setiap ketidak adilan yang aku terima. 13 tahun dad... aku harus mengalah.... Apa kamu tahu semakin sering aku harus melapangkan dadaku untuk memahami posisiku, semakin aku membenci dia setiap kali melihat kenapa daddy dan mommy juga tidak menuntutnya mengalah sepertiku..."
Pada saat Caesar meluapkan segala amarah di dalam hatinya kepada Eric, Nana yang hanya ingin menyapa Caesar dan menyusul di ruang study Eric, belum sampai dia sempat masuk, dia harus mendengar semua ucapan Caesar yang marah pada Eric. Nana mendengar dengan sangat jelas karena pintu ruangan itu kebetulan masih terbuka.
Nana terpaku, dengan bibirnya yang hanya mampu dia gigit, namun air matanya tak terasa mengalir begitu saja mendengar semua ungkapan Caesar.
"Ya Tuhan.... Caesar...." Nana mengatupkan kedua tangannya pada mulutnya.
Selama ini Nana memang telah menyadari jika Caesar tidak sepenuhnya menerima kehadiran Regal. Namun apa yang baru saja ia dengar tetap saja mengejutkan Nana, karena ternyata Caesar sebegitu bencinya terhadap Regal.
Nana sudah berusaha untuk memberi cinta yang adil bagi Regal dan Caesar, tapi itu menurutnya. Sedangkan bagi Caesar selama ini, kasih sayang Nana masih berat sebelah.
---------------------------------
Hari berikutnya,
Gie Kwan mendatangi kediaman Eric dan Nana. Sebelumnya, Gie Kwan sudah menghubungi Eric atas itikad baiknya untuk meminta maaf kepada keluarga Shine. Gie Kwan datang bersama dengan Nyonya Kwan dan Steven.
Eric juga menghadirkan Regal dan Nana, juga Caesar di ruangan tempat mereka berkumpul.
"Steven, minta maaf pada Regal, juga kepada Tuan Shine."
Steven dengan menahan rasa malu, ia berusaha membungkukkan badannya meski terasa berat bagi dirinya. Pantang bagi Steven meminta maaf, namun ia terpaksa melakukannya.
Yang ada di pikiran Steven, jika saat ini dirinya tidak bergantung pada keluarga Kwan, maka dia akan menjadi terlantar. Sedangkan Steven begitu banyak yang ingin ia balas di kehidupan ini. Dirinya tidak boleh menyerah untuk mendapatkan kekuasaan di masa depan agar bisa membalaskan pada orang-orang yang telah membuatnya menderita di masa lalu. Dan itu satu-satunya alasan mengapa Steven berusaha mendapat pengakuan dari Gie Kwan.
"Kamu sekarang boleh tersenyum, tapi aku akan menunggu saat di mana kamu berada di posisiku sekarang." Steven menggerutu dalam hatinya.
Regal melihat tatapan Steven. Dia tahu Steven tidak akan pernah tulus dengan permintaan maafnya. Regal sangat mengenal Steven.
"Apa kamu sedang mengumpatiku, Stev? Sepertinya kamu tidak tulus meminta maaf. Apa dengan cukup dengan begini sikapmu?"
Perkataan Regal membuat semua orang di ruangan itu agak tercengang. Terutama Gie Kwan, dia tidak menyangka Regal bersikap begitu angkuh.
"Regal, jaga bicaramu." Eric menegur Regal dengan ekspresi datar.
"Baiklah, aku maafkan kamu, Steven. Tapi aku tidak akan melupakannya."
"Regal..!" Eric menegur kembali dan kali ini lebih mempertegas intonasi suaranya.
Gie Kwan menyipitkan matanya menatap Regal. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan putra kedua Eric secara langsung, karena selama ini dia lebih sering bertemu dengan putra pertama Eric, Caesar. Menurut ekspektasi Gie Kwan, Regal tidak akan jauh berbeda dengan Caesar yang begitu menjunjung mannernya. Tapi ternyata untuk pertama kalinya dia membenarkan sikap Steven sebelumnya yang menghajar Regal, sebab Gie Kwan saat ini juga seolah ingin menampar mulut Regal.
"Ahahaha, Tuan muda kedua Shine memang orang yang suka bercanda... Tapi saya bisa menjamin bahwa Steven dengan tulus mengatakannya padamu." Gie Kwan memasang wajah ramahnya.
"Tuan Kwan, maaf atas kelancangan Regal. Dia biasanya tidak seperti ini. Hanya saja sepertinya memang permasalahan diantara kedua putra kita cukup pelik." Eric mengutarakan maksudnya.
"Oh... tidak masalah. Aku rasa memang wajar bagi anak yang terlalu sering dimanja, memiliki temperamen yang kurang sopan."
Eric terkejut dengan ucapan Gie Kwan.
"Kami mungkin memang belum bisa mendidik anak-anak kami dengan benar, tapi putraku. Tapi bukan berarti dia tidak akan menjadi anak yang lebih baik." Eric mengatakan sambil menatap Steven.
Gie Kwan jelas bisa membaca bahwa ucapan Eric ditujukan untuk menyindir dirinya.
"Maaf, Tuan Eric, jika memang asumsi saya pada putra anda salah. Sejujurnya, saya yang memang kurang mengenal Tuan muda kedua Shine..." Gie Kwan merendahkan suaranya dan membungkukkan badannya.
Sampai pada titik ini, Gie Kwan terus menahan dirinya untuk tidak lebih jauh memprovokasi Eric. Dia tahu bahwa bukan cara yang baik jika memprovokasi Eric secara terang-terangan. Dia memilih untuk mengalah dan merendah.
----------------------------------
Waktunya Diskusi!!!
Pertanyaan 1:
Menurut kalian apakah tindakan Eric membela Regal adalah benar? Lalu bagaimana seharusnya yang dilakukan Eric terhadap ketidaksopanan Regal kepada keluarga Kwan?
Pertanyaan 2:
Tuan Kwan akhirnya mengerti bahwa Eric memang cenderung membela anak keduanya, Regal. Semakin dia mengerti titik kelemahan Eric Shine. Kira-kira rencana apa yang akan dilakukan Tuan Kwan untuk membalas Eric Shine?
***Halo sobat pembaca***
Terimakasih telah membaca novel ini,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian untuk tetap setia dengan novel ini**.
Jangan lupa,
DOWNLOAD NOVELTOON di playstore atau appstore
👆KLIK👆
❤️ FAVORITE
👍🏻 LIKE
☑️ VOTE POIN Sebanyaknya
💰 TIP KOIN Seikhlasnya
FOLLOW IG @raghfa.jie
THANK YOU ❤️❤️❤️**