I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 9



Tangisan sendu Aneska sudah mulai mereda,mereka masih berdiam diri di jalan buntu yang sangat sepi itu.Melihat Anes sudah merasa lebih tenang,Arkana langsung melepaskan pelukannya untuk menghindari kesalahpahaman.


"Udah lepas,betah banget Lo"


"Siapa juga yang minta di peluk?Orang lo yang peluk gue duluan" gerutu Aneska yang langsung menghindar.


"Lo bau tau gak?" setelah mengatai Anes, laki-laki itu langsung berjalan pergi meninggalkan nya terlebih dahulu dan dengan cepat Anes langsung mengambil tas nya lalu berjalan cepat menyusul Arka.


"Cepet naik" perintah Arka yang memberikan tumpangan kepada Anes.Sementara wanita itu masih terdiam di tempat nya dengan penampilan yang lusuh,ia benar-benar terlihat sangat menyedihkan.


"Haish,kayak gembel tau gak Lo?" Arka kembali turun dari motornya lalu membuka tas untuk mengambil tisu basah yang selalu ia bawa kemanapun dirinya pergi. "Bersihin tuh muka Lo"


"Lo bawa tisu basah?" tanya Anes heran. "Buat apa?"


"Gak usah banyak nanya,buruan gue ada urusan nih" Anes menatap Arkana dengan tatapan nya yang terlihat sangat mencurigai pria tersebut.


"Lama Lo" Arka langsung membersihkan wajah Aneska menggunakan tisu basah dengan kasar,tidak ada kata kelembutan sama sekali.


"PUEHHH!!Masuk ke mulut gue nih!!" teriak Aneska sambil memalingkan wajah.


"Lagian suruh lap muka sendiri aja lama banget!" bentak Arkana.


"Sini,gue bisa sendiri!"


"Hsshh...Lo beneran kayak bibit gembel tau gak sih?Rambut lo meresahkan banget anjir,rapihin rapihin!" ucap Arkana yang menatap Anes jengah.


Aneska langsung berjalan mendekati motor Arka untuk mengaca di kaca spion,tapi sialnya tidak ada kaca spion di sana karena Arka sengaja melepasnya.


"Motor apaan si gak ada kaca spionnya?Motor bodong ya?" tanya Aneska.


"Enak aja lo ngatain motor bodong,eh Lo bisa gak sih bersikap sopan sama gue.Lo gak ada takutnya sama gue?" tanya Arka sambil bertolak pinggang.


Lagi-lagi Arkana gagal fokus dengan penampilan Aneska yang benar-benar seperti gembel jalanan.Seragam sekolah nya benar-benar kotor dan lusuh.Karena rasa empati nya dan tidak mau ada orang yang berfikir macam-macam tentang dirinya,Arka melepaskan jaket bertuliskan COZTRA yang sedang ia kenakan lalu memberikannya kepada Anes agar baju kotor nya itu tidak terlihat. "Pake nih"


"Tiba-tiba banget" ucap Anes heran.


"Pake aja cepetan!"


"Gak mau gue" tolak Anes.


"Daleman lo keliatan" ucap Arka yang menatap wanita itu dengan tatapan datar.Sebenarnya Arka berbohong,ia terpaksa berkata seperti itu agar Aneska mau memakai jaketnya meski terpaksa.


Sontak Anes langsung menutup tubuh nya dengan kedua tangan lalu membalikkan tubuh nya agar Arkana tidak bisa melihat. "Ya-yaudah mana sini!"


Bukannya memberikan dengan sopan,Arkana malah melemparkan jaket itu hingga mendarat tepat di kepala Aneska. "Helm nya mana?" tanya Anes.


"Lo pikir gue tukang ojek yang kemana mana selalu bawa helm dua?" tanya Arka datar.


"Ya masa gue gak pake helm sih,kita kan gak tau apa yang bakal terjadi nanti"


"Yaudah naik angkot aja sana" Arka langsung menjalankan motornya seolah-olah ingin meninggalkan Aneska.


"Jangan!!Kalo mau tinggalin gue jangan disini" ucap Aneska.


"Yaudah buruan naik"


Sepanjang jalan Arkana mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata hingga membuat Aneska sesekali berteriak histeris karena takut terjatuh dari motor gede tersebut.


"ARKANA!!JANGAN NANTANG MALAIKAT MAUT!!" teriak Aneska.


Mendengar teriakan Aneska,Arka langsung mengerem motornya secara mendadak yang membuat dahi Anes terbentur dengan helm Arkana.


"ADUHH!!!" seringai kecil terlihat dari wajah tampan Arkana,ia sengaja melakukan hal itu sebagai hiburan untuk dirinya sendiri.


"Rumah Lo dimana?" tanya Arka.


"APA!!"


"APAANSI GAK KEDENGERAN!!"


"RUMAH LO DIMANA!!!!!!" teriak Arkana kesal.


"OOOO...UDAH JALAN AJA NANTI GUE KASIH TAU ARAHNYA!!"


...•••...


Motor Arkana berhenti di depan rumah Aneska,wanita itu langsung turun dengan segera.Seseorang mengintip di balik jendela saat mendengar suara motor asing tersebut.


"Makasih ya" kata Anes.


"Hmmm" tanpa berkata lagi,Arkana langsung memutar arah dan pergi meninggalkan Aneska yang masih berdiri di tempatnya.


"Apa dia emang se gak sopan itu?" tanya Aneska kepada dirinya sendiri.Ia baru menyadari ternyata durinya masih memakai jaket milik Arkana,bahkan laki-laki itu juga lupa kalau jaket nya masih bersama Aneska.


Dengan cepat Anes langsung melepaskan jaket tersebut dan memasukkan nya kedalam tas karena ia tidak mau mama nya melihat barang anak nakal tersebut,karena di jaket itu terdapat tulisan nama geng motor yang Arkana ikuti.


Arkana lupa bahwa ia harus pergi ke markas untuk bertemu dengan teman-temannya,Arka malah bablas pulang ke rumah karena rasa lelah dan juga lapar sepulang sekolah.


Arkana menghentikan langkah saat dirinya masih berada di dekat pintu masuk.Ia mendengar suara tangisan Erika dari kejauhan,sontak Arkana langsung berlari secepat mungkin ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Erika.


"MAMA!!" teriak Arkana saat dirinya masih mendengar suara tangisan Erika yang semakin menjadi-jadi.


"Mama kenapa?" tanya Arkana yang akhirnya menemukan Erika sedang duduk di bawah sofa yang berada di ruang tv.


"Ma-mama.." Erika belum menyelesaikan perkataannya,ia tidak sanggup untuk berbicara karena jika ia berbicara rasa haru nya akan semakin menjadi-jadi.


"Mama berantem sama papa?" tanya Arkana.


"Ma-mama...HUAA!!"


"Mamah jangan nangis dong,bilang sama aku mama kenapa?Siapa yang udah bikin Mama nangsi?"


Tiba-tiba Arkana melihat Bintang yang sedang berjalan menuruni tangga dengan setelan jas hitam rapih nya.Tanpa memperdulikan istrinya yang sedang menangis,Bintang terus berjalan menuju ruang makan untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar.


Dengan wajah berapi-api Arkana langsung berjalan cepat menghampiri ayahnya,lalu menarik kerah baju Bintang tanpa rasa takut sama sekali. "Papa apain mama sampe nangis kayak gitu!!" teriak Arkana tepat di hadapan Bintang.


"Kamu berani bentak-bentak papa?" tanya Bintang santai.


"Kenapa harus takut?Papa udah bikin Mama nangis!" Arkana semakin menarik kerah baju Arkana.


"Lepasin,gak usah berlebihan" kata Bintang.


"Apa? Berlebihan?" tanya Arkana.


"Kamu kenapa sih?Lagi pubertas?Minggir ah papa mau makan" ucap Bintang sambil menangkis kedua tangan Arkana dengan santai.


"Jawab aku mama kenapa?"


"Tanya aja sama mama kamu sana"


"Ulah papa kan?!!!" teriak Arkana yang kembali menarik kerah baju Bintang.


Dengan perasaan jengkel nya Bintang menghembuskan nafas lalu menoleh ke arah Erika dan menunjuk televisi dengan jari tangan nya. "Kalau mau marah,marah sama aktor drakor nya sana"


Seketika wajah Arkana langsung pias,ia mulai melepaskan cengkraman nya perlahan lalu menatap Bintang sambil tersenyum kikuk.Sebagai bentuk pembalasan dendam,Bintang kembali menarik kerah seragam Arkana dan berteriak tepat di hadapan wajah nya. "MAU JADI JAGOAN KAMU HAH!!"


Bintang tidak marah,ia hanya meniru gaya Arkana tadi lalu melepaskan cengkraman tangannya dan duduk di meja makan untuk menikmati makan siang.


"Mama lagian ngapain sih nangis segitunya?" tanya Arkana.


"Ini tuh sedih banget,kamu mending mandi sana.Jangan ganggu mama"


Dengan wajah yang masam Arkana langsung berjalan menuju kamar,ia cemburu karena semakin hari Erika lebih memperhatikan drama Korea favoritnya dibandingkan dengan memanja putra tunggal nya yang tampan ini.