
Saat Arkana dan Rafael sedang sibuk mencari laki-laki misterius tersebut, tiba-tiba ponsel Arka berbunyi karena menerima panggilan dari Rizan.Dengan cepat ia langsung menerima panggilan tersebut.
"Halo Jan,kenapa?" tanya Arkana.
"Lo dimana?" tanya balik Rizan.
"Masih di sekolah,kenapa?Aneska udah sadar belum?"
"Itu dia,mending Lo cepet ke rumah sakit sekarang.Kondisi Aneska lagi gak baik-baik aja,malahan kondisinya terus memburuk" kata Rizan.
"Yaudah gue sama Rafael ke sana sekarang.Lo kirim alamat rumah sakit nya"
"Oke".
"Kenapa?" tanya Rafael.
"Kita ke rumah sakit sekarang" Merangkul Rafael dan berjalan cepat menuju mobil Arkana.
...•••...
Sepanjang perjalanan Rafael mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata meskipun kondisi jalan sedang ramai pengendara.Mereka tidak peduli yang penting bisa dengan cepat sampai di rumah sakit.
"Ayo buruan" ucap Arkana setelah 30 menit kemudian.Mereka berlari secepat mungkin untuk sampai di ruang IGD.
Saat mereka sampai disana sudah ada Bu Tesa,Rizan dan Bagas disana sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut.
"Dok,gimana keadaan Aneska?" tanya Arkana saat seorang dokter yang menangani Aneska keluar dari ruangan tersebut.
"Pasien mengalami pendarahan yang sangat hebat,akan saya jelaskan nanti.Yang terpenting sekarang kami akan melakukan operasi dibagian perut,karena pasien sudah kehilangan banyak darah dan jenis darah pasien juga sedang tidak ada maka kami membutuhkan beberapa kantong darah untuk pasien"
"Apa golongan darah nya dok?" tanya Bu Tesa.
"AB"
"Golongan darah saya O,setau saya golongan darah O bisa untuk semua jenis golongan darah kan dok?" tanya Arkana lagi.
"Iya betul,tapi kami sangat membutuhkan banyak darah dan sebaiknya tolong carikan satu orang lagi yang memiliki golongan darah AB atau O".
"Udah dok,ambil aja darah saya semua" kata Arkana.
"Kamu gila?" tanya Bu Tesa.
"Gak ada waktu buat berdebat,ayo dok sekarang"
"Silahkan masuk"
Arkana berbaring disebelah Aneska dengan kasur terpisah dan juga pembatas tirai untuk menutupi agar Arakan tidak melihat tindakan para dokter saat melakukan operasi.
"Berapa banyak darah yang hilang sus?" tanya dokter disela-sela aktivitas mereka.
"Kurang lebih sekitar 2 liter darah dok"
"Tolong hubungi staf lain untuk mencarikan golongan darah AB atau O,karena kita tidak bisa mengambil darah pria itu sebanyak 2 liter"
"Gak apa-apa kok dok,saya anak kuat" ucap Arkana dengan suaranya yang melemah.
Operasi berjalan selama tiga jam lamanya,Aneska masih belum tersadar meskipun tim medis sudah berhasil mengangkat peluru dan menutupi luka pada arterinya.Ia masih membutuhkan banyak waktu untuk tersadar.
Sementara Arkana sedang tertidur lelap karena rasa lemas yang ia dapat setelah mendonorkan darahnya yang berjumlah kurang lebih 2 liter.Ia merasa sangat pusing.Tetapi perlahan rasa sakit di kepalanya itu mulai menghilang karena pengaruh makanan dan obat yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
"Silahkan bawa pasien ke ruang rawat inap"
"Baik dok" beberapa suster tersebut langsung membawa Aneska ke ruang rawat inap untuk mendapatkan perawatan intensif.
"Jangan lupa,pria yang ada disana juga"
"Baik dok"
"Tunggu dok!" panggil Arkana.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut.
"Saya boleh kan satu ruangan sama Aneska?"
"Yaudah kalau gitu" ucap Arkana. "Tapi saya belum tau apa yang terjadi sama Aneska"
"Kalau begitu mari ikut ke ruangan saya,sus bawa pria tersebut ke ruangan saya"
"Baik dok"
...•••...
"Apa yang terjadi dok?" tanya Arkana.
"Pasien mengalami luka tembak di perut bagian atas,peluru tersebut mengenai aorta atau pembuluh darah yang berada di sekitarnya" kata dokter.
"A-aorta?Apa itu dok,saya gak pernah dengar sebelumnya"
"Aorta adalah pembuluh darah utama dan terbesar yang berada di dalam tubuh manusia.Jika peluru mengenai aorta maka akan terjadi pendarahan yang sangat hebat"
"Terus dok?" tanya Arkana penasaran.
"Jika siuman nanti,pasien pasti akan merasakan sakit di bagian perut,punggung dan dada,terasa mual lalu sering muntah,keringat dingin dan sesekali tidak sadarkan diri"
"Itu efek nya dok? Sebanyak itu?"
"Tidak"
"Tidak? Maksud nya masih ada lagi?" tanya Arkana terkejut.
"Iya.Pasien juga akan sedikit kesulitan bernafas,dan kehilangan nafsu makan"
"Ya Allah dok,saya gak tega denger nya.Apa gak ada efek yang bisa diatasi?" tanya Arakan lagi.
"Ada satu yaitu tekanan darah rendah,itu karena darah yang anda donor kan"
"Kalau yang lain?"
"Kita tunggu saja bagaimana perkembangan pasien selanjutnya" kata dokter. "Tapi di samping itu,setelah siuman pasien harus banyak mengonsumsi makanan sehat dan hanya meminum air mineral serta meminum semua obat yang saya berikan secara rutin"
"Iya dok"
"Kalau begitu mari saya antar ke kamar"
"Gak apa-apa dok,saya kuat jalan kok.Serius"
"Jika membutuhkan bantuan,panggil saja suster terdekat disana"
"Iya, makasih dok"
Arkana terus menatap wajah Aneska yang masih terbaring tidak sadarkan diri.Wajah cantik itu kini memucat,Arkana hanya terdiam membisu.Dalam hatinya masih bertanya-tanya tentang siapa orang yang tega melakukan hal seperti itu kepada Aneska.
"Siapapun orangnya,kenapa harus Anes?padahal di panggung itu ada kita berdua" batinnya.
Sementara kedua sahabat Arkana masih menatap mereka di balik kaca luar ruangan,mereka hanya saling menatap karena beluk pernah melihat Arkana sepeduli itu kepada wanita.
Awalnya mereka fikir Arkana hanya akan bermain-main saja, tetapi sampai saat ini mereka sadar bahwa Arkana benar-benar tulus menyukai Aneska.
"Nes maaf ya" ucap Arkana tiba-tiba,tentu kedua temannya tidak akan bisa mendengar sedikitpun perkataan Arkana dari luar sana.
"Gak tau sih maaf buat apa,ya tapi maaf aja" lanjutnya. "Gue gak ngerasa bersalah,tapi gue janji bakal cari orang itu sampai dapet.Gue pastiin dia akan bayar semua apa yang dia lakuin ke Lo"
"Makanya bangun ya,Lo harus jadi saksi saat gue balasin dendam lo ke dia"
"Ah males nih,di cuekin terus dari tadi" Arkana masih dalam ocehannya, tiba-tiba ia terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Tak lama terdengar suara Arkana yang sedang menahan tangisannya,ia merasa sangat menyedihkan karena tidak bisa menjaga Aneska. "Nes,maafin gue ya.Gue gak bisa jagain Lo" ucapnya sambil meneteskan air mata derasnya.
"Lo gak boleh kayak gini,gue sayang banget sama lo.Makanya bangun biar lo bisa balas rasa sayang gue ke Lo"
"Lo harus tetap sehat biar bisa terus bareng-bareng sama gue,gue janji bakal ikut kemanapun lo pergi.Akan turutin apa yang Lo mau"
Arkana menggenggam erat tangan Aneska yang sedang tertanam jarum infus.Sesekali ia meletakkan jari jemari lentik Aneska di pipinya.