
Suasana pagi hari di sekolah sudah cukup ramai,mereka disibukkan oleh aktivitas nya masing-masing diantaranya ada yang membersihkan kelas, membersihkan lapangan,menyiram tanaman dan beberapa siswa laki-laki yang berlarian kesana kemari.
Arkana, laki-laki itu dengan santai nya berjalan menginjak lantai yang masih basah karena baru saja selesai di pel.Tidak hanya satu kelas,tetapi sepanjang jalan menuju kelas nya.Mereka tentu kesal,tetapi tidak ada yang berani menegur Arkana.
"Untung ganteng!"
"Untung suami gue!"
"Yaelah baru juga selesai di pel"
"Plis gue kesel tapi gak berani ngomelin!"
"HAI ARKANA!" teriak salah satu siswa yang langsung berlari menghampiri Arkana.
Kinandita Raveena,ia adalah siswa kelas 11 IPA 1 dan juga termasuk Fangirl Arkana.Sejak kelas 10 SMA Kinan terus mengejar Arkana dan berusaha untuk mendapatkan hatinya.
Arkana muak karena ia sangat berlebihan dalam bertindak,ditambah lagi saat itu status Arka yang sudah mempunyai kekasih yaitu Lily.Tapi keadaan berubah saat Lily telah meninggal dunia,Arka kesepian.Karena itu Arka mau menjadikan Kinan sebagai pacarnya meskipun ia sendiri tidak memiliki rasa sedikit pun terhadap Kinandita.
Hubungan itu hanya berlangsung selama dua minggu,Arka memutuskan nya karena ia sudah sangat merasa bosan.
"Kita putus ya"
"Loh kenapa?Aku lakuin kesalahan apa?" tanya Kinan.
"Kamu gak ngelakuin kesalahan apapun kok" ucap Arka sambil membelai rambut wanita itu.
"Jadi kamu putusin aku tanpa alasan?"
"Iya,sekarang aku lagi pengen sendiri aja.Gak mau pacaran dulu"
Itulah alasan yang Arkana berikan kepada Kinan, meskipun beberapa hari kemudian ia kembali menjalin hubungan dengan wanita lain yang berbeda sekolah.
Kinandita Raveena.
"Yaampun Arka tumben kamu pagi-pagi udah dateng?" tanya Kinan yang terus mengalungkan tangannya di lengan Arkana.
"Ngapain si lo gelendotan kayak monyet" kata Arkana yang berusaha melepaskan genggaman tangan Kinan dengan kasar.
"Ih kamu kok gitu si ngomong nya, sebentar aja aku kangen banget sama kamu"
Melihat tingkah Kinandita, seluruh siswa perempuan yang melihat adegan itu hanya saling berbisik satu sama lain dan menatap sinis ke arah wanita tersebut.
"Boleh nampol muka nya gak si?"
"Gatel banget jadi cewek"
"Liat,pacar gue gak nyaman itu"
"Lepasin gak" ucap Arkana datar,lalu ia menatap wajah Kinan dengan mata elangnya.
Tentu saja Kinan langsung melepaskan genggaman tangannya perlahan karena ia takut kalau Arkana akan memaki dirinya di hadapan banyak orang.
"Sabar Kin,sabar.Nanti juga pasti dia bakal luluh lagi kok sama Lo" kata Rosalina, sahabat Kinan.
"Kita tunggu aja waktunya" Sahut Syifa.
"Liat aja,gak akan ada yang bisa dapetin Arkana selain gue.Kalau gue gak bisa dapetin Arkana, berarti cewek manapun juga gak boleh ada yang dapetin dia" kata Kinandita. "Selena mana?"
"Belum dateng,masih di jalan kayaknya"
"Ngapain lo liat-liat!! Beres-beres yang rapih!!" Teriak Kinan kepada siswa yang sedang memperhatikannya sejak tadi.
...•••...
"Nes" panggil Aditya.
"Iya?"
"Pagi ini ada rapat,kumpul di ruang OSIS ya.Rapat di mulai 20 menit sebelum bel masuk" kata Aditya.
"Rapat? Dadakan banget"
"Cuma bahas beberapa masalah aja kok"
"Yaudah bareng aja"
Aditya dan Aneska pergi bersama menuju ruang OSIS untuk mengikuti rapat dadakan itu.Saat mereka sampai di pintu kelas,Arkana datang dan mereka saling menghalangi jalan masing-masing.
Tentu saja Aneska masih teringat tentang peristiwa kemarin sepulang sekolah,ia menatap wajah Arkana sambil tersenyum kecil namun laki-laki itu tidak membalas senyuman nya dan menerobos masuk ke dalam kelas dengan menarik tubuh Aditya.
Wajah Anes seketika berubah menjadi kesal,padahal niat nya baik ingin menyapa Arkana tanpa ada maksud apapun.
Arkana melihat ada sebuah Tote bag berwarna hitam di atas meja nya.Ia menengok kesana kemari karena bingung.Saat ia buka ternyata Tote bag itu berisi jaket komunitas nya yang kemarin ia pinjamkan kepada Aneska.
"Wangi" ucap Arkana setelah mencium jaketnya lalu ia melemparkan Tote bag itu ke sembarang tempat seolah-olah tidak akan membutuhkannya lagi.
"Eh Arka,tumben lo udah nangkring duluan disini" kata Rizan yang baru datang bersama Rafael.
"Gue sendiri aja gak tau"
"Punya gebetan ya Lo?" tanya Rafael.
"Gebetan matamu"
"Kemarin kemana Lo? Tau-tau ngilang gitu aja" ucap Rafael
"Apa urusan nya sama lo?,terserah gue lah mau pergi kemana pun"
"Jangan bilang lo balik lagi buat ngikutin Aneska lagi?" tanya Rizan curiga.
"Nah loh!"
"Dih!Ngapain gue ngikutin dia,kurang kerjaan banget.Kemarin nyokap gue tiba-tiba telpon,dia suruh gue pulang cepet" kata Arkana yang berusaha memberikan alasan kepada dua temannya itu.
"Tumben banget Tante Erika suruh Lo pulang cepet?"
"Iya emang ngapa?Masalah?Udah ah banyak bacot Lo berdua!" teriak Arka yang langsung berjalan keluar kelas meninggalkan mereka.
"Yaudah kenapa lo jadi marah-marah hah?" tanya Rafael dan tidak ada jawaban dari Arkana.
...•••...
"Maaf banget nih temen-temen,saya adakan rapat darurat.Karena kemarin saat pulang sekolah tidak sengaja saya bertemu dengan pak Budi yaitu bapak kepala sekolah SMA GAMA.Beliau mengatakan kepada saya bahwa sekolah kita akan kedatangan menteri pendidikan bulan depan.Maka dari itu beliau meminta saya dan kalian untuk mempersiapkan semua kebutuhan acara.Nah tujuan dari adanya dapat ini adalah saya ingin meminta pendapat kalian, kira-kira acara apa yang cocok untuk kita perlihatkan kepada menteri pendidikan nanti?" Aditya memberikan penjelasan nya dengan sangat singkat,gaya bicara nya yang sopan membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan terkagum-kagum.
Aneska,gadis itu mendengarkan dan mengerti dengan perkara yang Aditya maksud.Meskipun begitu,ia tidak mengatakan pendapat nya kepada Adit karena masih sibuk menatap wajah tampan ketua OSIS yang sangat berwibawa itu.
"Saya mau dengar pendapat kalian" kata Aditya.
Tidak ada jawaban karena beberapa dari anggota nya Masih sibuk menatap gagah Aditya.
**BRAKKKK**!!
Suara keras itu membuat lamunan mereka langsung membuyar seketika.Aditya memperlihatkan keseriusan nya saat sedang menjalani rapat OSIS bersama anggota. "Saya bertanya kenapa kalian diam saja?"
"A-aaa iya lupa" ucap Anes gugup.
"Bisa kan fokus sebentar aja?Waktu kita pagi ini gak banyak loh"
"Iya maaf kak" ucap beberapa siswa kelas 10.
"Saya tanya lagi,apa pendapat kalian?" tanya Aditya lagi.
"Dit menur-" perkataan Aneska langsung terpotong oleh suara bel masuk yang sudah berbunyi. "Ssstt!Bel sialan" gerutu Anes.
"Kita lanjut nanti pulang sekolah,jangan lupa kumpul lagi disini.Harus fokus,aktif dan tepat waktu" kata Aditya tegas.
"Iya Kak"
Anggota yang lain sudah berjalan keluar ruangan, sementara Aneska masih terdiam duduk disana karena ia bingung kenapa jantung nya berdebar-debar saat melihat ketegasan Aditya tadi.Padahal sebelumnya ia bersikap biasa saja jika berada di dekat Adit.
"Lo gak akan masuk ke kelas?" tanya Aditya. "Mau bolos?Atau sakit?"
"O-oh i-iya,ini gue ke kelas sekarang"
Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong kelas,suasana saat itu sudah mulai sepi karena para siswa sudah masuk kedalam kelas untuk mengikuti pembelajaran.
"Soal yang tadi jangan diambil hati ya,gue sengaja bersikap kayak gitu biar kalian tetep fokus sama topik yang lagi kita bicarain" Aditya memberikan penjelasan kepada Aneska karena ia takut wanita itu akan salah faham dengan sikap nya tadi.
"Oh santai aja kali Dit,gue juga ngerti kok.Lo kan ketuanya,berarti harus tegas dalam segi apapun" kata Aneska.
Jantungnya semakin berdegup kencang,ia bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.Kenapa perasaan itu muncul disaat Aditya memperlihatkan ketegasan nya.
Tapi pesona Aditya saat bersikap tegas memang sangat berbeda, ketampanan dalam dirinya semakin menjadi-jadi di mata wanita.
...•••...
"Kalian paham dengan materi yang sudah ibu sampaikan?" tanya Bu Albert yang merupakan seorang guru matematika.
"Paham Bu" jawab mereka kompak.
"Beneran?"
"Iya Bu"
"Oke,jika kalian sudah paham ibu akan membuat lima soal dengan masing-masing cara yang berbeda" Bu Albert langsung menghapus materi dan contoh soal yang ia sudah ia sampaikan di papan tulis tadi.
"Ibu akan menunjuk lima orang untuk mengisi masing-masing soal ini,sebagian dari siswa aktif dan sebagian lagi dari siswa yang pemalas" Lanjutnya.
Kalimat terakhir yang di ucapkan Bu Albert membuat siswa yang suka bermalas-malasan langsung waspada mereka takut jika guru killer itu akan menunjukkan salah satu dari mereka untuk maju kedepan mengisi soal singkat namun rumit jawaban tersebut.
"*Gak boleh keliatan nih gue, bisa-bisa di tunjuk nanti"
"Plis jangan saya Bu,plis banget ini mah"
"Aduh kalo gue di tunjuk gimana nih?Malu lah gue kalo keliatan bego di depan ayang beb Arka*"
"Nomor satu ibu akan menunjuk raja matematika di kelas ini,Aditya silahkan" ucap Bu Albert sambil tersenyum ramah.
"Iya Bu"
"Nomor dua ratu matematika kita,Aneska" Anes langsung berjalan ke depan kelas tanpa ada keraguan sedikitpun dalam dirinya.
"Kamu juara olimpiade tahun lalu kan?" tanya Bu Albert.
"Iya Bu"
"Silahkan" ucapnya. "Nomor tiga..." Bu Albert masih mencari-cari siapa siswa pemalas yang akan ia tunjuk untuk mengerjakan soal selanjutnya.Tentu saja hal itu membuat jantung para siswa semakin berdebar-debar.
Sorot mata Bu Albert terhenti saat melihat Arkana yang sedang tertidur nyenyak dengan kelapa menunduk.Sejak jam pertama hingga detik itu ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang Bu Albert sampaikan. "Arkana"
"*Hufttt..."
"Alhamdulillah"
"Aduh panik banget gue*"
"ARKANA!" teriak Bu Albert dengan tegas namun laki-laki itu masih tidak menghiraukan.
PRAAKKK!!!
Sebuah penghapus papan tulis melayang dan mendarat tepat di pipi Arkana hingga ia langsung terbangun secara tiba-tiba.Dengan cepat Arkana langsung beranjak dari tempat duduk nya dengan tangan yang menggenggam erat penghapus tersebut seakan-akan ia ingin melemparkan kembali benda tersebut ke arah semula. "Hsssh,....BANG-!"
Perkataannya terhenti saat melihat seorang guru killer sedang berdiri tegap sambil menatap tajam ke arah dirinya. "Eh ibu" ucap Arka yang langsung kembali duduk dengan tenang.
"Kerjaan kamu dari tadi tidur terus, sebenernya kamu ke sekolah mau menimba ilmu atau tidur?"
"Belajar sambil tidur" Ucap Arkana yang mengundang gelak tawa para teman-teman nya.
"Katakan sekali lagi!!"
"Belajar Bu"
"Cepat maju ke depan lalu isi soal nomor tiga!"
Tanpa berkata apapun Arkana langsung maju ke depan sambil membawa penghapus tersebut lalu menaruhnya di meja guru.
"Ibu yakin kamu tidak akan bisa menjawab soal tersebut karena kamu juga tidak memperhatikan materi yang ibu sampaikan"
Arka hanya melirik guru killer tersebut dengan raut wajah malasnya saat mendengar ocehan Bu Albert yang tiada henti.
"Soal nomor empat,Divia"
"Hah?Saya Bu?" tanya Divia.
"Memang ada Divia selain kamu?" tanya Bu Albert.
"Tapi saya gak bisa Bu"
"Kalau kamu tidak bisa,kenapa sejak tadi kami terus menoleh ke belakang dan mengobrol dengan Rizan?Apakag yang kalian bicarakan lebih penting dari pembelajaran ini?"
"Ngga Bu"
"Maju sekarang!!"
"I-iya Bu"
"Rizan kamu juga maju untuk mengisi soal terakhir"
"Lah saya?Kok saya Bu?Kan masih banyak siswa lain, kenapa harus saya?" tanya Rizan.
"Karena kamu yang terlihat tidak memperhatikan sejak tadi.Maju sekarang juga atau saya beri hukuman!"
"Siap siap Bu!"
Saat Rizan akan mengisi soal tersebut karena,Arkana berjalan menghampiri Bu Albert untuk memberikan spidol yang baru saja ia pakai.
"Lah,mau kemana Lo?" tanya Rizan bingung dan Arkana hanya menepuk pundak Rizan sambil mengangguk kecil.
Aneska yang bingung langsung melihat soal yang Arkana selesaikan,ia langsung ternganga saat melihat soal tersebut sudah di selesaikan dengan baik oleh Arkana.
"Menyerah kamu?" tanya Bu Albert saat Arkana memberikan spidolnya.
"Bu" panggil Aneska sambil menunjuk papan tulis untuk memberitahu bahwa Arkana sudah menyelesaikan soal yang ia berikan.
Bu Albert langsung terdiam dan menatap Arkana dengan penuh kebingungan.Lengan Arkana pegal karena sejak tadi Bu Albert tidak mengambil spidol yang ia berikan,Arka langsung menaruh spidol tersebut di meja guru.
"Udah kan?" tanya Arkana.
"Perlihatkan telapak tangan kamu" Arkana menuruti nya.
"Lengan" Arkana menuruti.
"Saku baju"
"Liat aja" kata Arkana dan Bu Albert langsung melihat isi saku seragam Arkana.Ia tidak melihat kertas contekan,justru yang ia lihat hanya permen karet dan uang saku hariannya.
"Rafael sini" Rafael langsung berjalan menghampiri mereka.
"Kenapa Bu"
"Geledah saku celana Arka, semuanya"
Dengan santainya Arkana merentangkan tangan sambil memejamkan matanya menghadap Rafael. "Jangan pegang yang aneh-aneh Lo"
"Gak ada apa-apa Bu"
"Sekarang boleh duduk lagi kan?" tanya Arkana kepada Bu Albert.
"Kalian kembali duduk"
"Raja dan Ratu matematika,silahkan kerjain soalnya yang bener.Jangan sampe tahun ini gue yang ditunjuk jadi ketua OSIS sekaligus siswa yang ikut olimpiade matematika" ucap Arkana kepada Adit dan Anses.Maka Arkana langsung berjalan menuju tempat duduknya dan kembali menundukkan kepala untuk melanjutkan tidurnya.
Bu Albert tidak berkutik,ia langsung melihat kembali jawaban yang Arkana tulis di sana.Ia berulang kali mengecek uraian tersebut untuk mencari satu kesalahan yang Arkana berikan.Tetapi nyatanya jawaban Arkana memang benar tanpa ada kesalahan sedikitpun.
"*Demi apa pacar gue pinter?"
"Eh serius ini?Atau Kebetulan aja?"
"Ya Allah jadi tambah cinta gue sama dia"
"Tuh kan apa gue bilang,dia tuh sebenernya pinter*"
Aditya dan Aneska sudah menyelesaikan soal tersebut, sementara Divia dan Rizan masih berdiam diri di tempatnya tanpa menjawab satu huruf pun.
"Nes,Anes.Woy bantuin gue dong!" bisik Divia saat melihat Anes sudah tidak ada di tempatnya.
"Dit,Adit!"
"Cepat kerjakan!" teriak Bu Albert.
"I-iya Bu ini juga lagi di kerjain"
"Sudah bu" kata Rizan.
"Lah Jan,Ijan tolongin gue"
"Udah asal aja isinya yang penting bisa duduk lagi" bisik Rizan.
"Oke sekarang akan ibu cek jawaban teman-teman kalian"
"Nomor satu Aditya,ini masih ada kesalahan cara ya tapi jawaban nya tetap benar" lanjut Bu Albert.
"Iya bu akan saya perbaiki"
"Nomor dua...Anes"
"Iya Bu"
"Cara kamu sudah benar,sangat benar tapi kenapa hasilnya jadi salah begini?" tanya Bu Albert.
"Emang iya ya Bu?Coba saya hitung lagi" Setelah selesai menghitung ternyata memang jawaban yang Anda tulis salah,ia sedikit keliru saat akan menjumlahkan hasilnya. "Oh iya,maaf Bu saya keliru.
"Lebih hati-hati lagi ya"
"Iya Bu"
"Nomor tiga" Bu Albert langsung menoleh ke arah Arkana yang sedang tertidur dengan ekspresi wajah nya yang benar-benar sangat kebingungan.
"Ini sudah sempurna,tidak ada kesalahan apapun" Sontak seluruh siswa di kelas tersebut langsung menoleh ke arah Arkana dengan raut wajah yang tercengang sekaligus kagum terhadap laki-laki pemalas itu.
"Kok bisa?" tanya Divia.
Terlihat wajah ketiga sahabatnya yaitu Salsabila,Rizan dan Rafael hanya memberikan senyum kecil karena sudah mengetahui betapa pintar dan cerdas nya laki-laki pemalas yang satu ini.
"Cuma kebetulan mungkin Bu" kata Aditya.
"Kebetulan katanya Jan" bisik Rafel kepada Rizan.
"Nanti di ajak duel materi nangis lagi" bisik Rizan.
"Ibu juga masih bingung,lihat saja dia sejak tadi tidak memperhatikan materi yang ibu sampaikan tetapi bisa menjawab soal dengan cepat dan benar"
Bel istirahat berbunyi tanda pembelajaran matematika sudah usai,begitu juga dengan Arkana yang langsung terbangun dengan semangat.