
Aditya memberhentikan mobilnya di salah satu halaman rumah yang lingkungan nya begitu sepi,rumah itu terletak sangat jauh dari kata keramaian.Sebenarnya Aditya tidak tinggal disana, tetapi rumah itu tetap miliknya yang biasa digunakan ketika sedang beraksi.
Laki-laki itu sengaja tidak menutup mulut Aneska karena tidak akan ada orang yang bisa mendengar suaranya sekalipun ia berteriak. "Gue mohon lepasin gue Dit"
Aditya tidak menghiraukan permintaan Aneska,ia terus menarik tangan Aneska untuk masuk kedalam dengan sangat kasar.Saat memasuki rumah itu, suasana nya memang sangat berbeda.Ditambah lagi dengan beberapa hiasan dinding yang terlihat tak wajar membuat perasaan Aneska semakin tidak karuan.
Aditya mengunci semua pintu dan jendela di setiap penjuru ruangan,setelah itu ia kembali menarik paksa Aneska untuk membawanya masuk kedalam gudang.
"Gue gak mau,lepasin gue Dit.Kenapa sekarang Lo jadi kayak gini?Tadi di sekolah Lo baik-baik aja" ucap Aneska.
"Apa yang udah Lo tau tentang gue dari cewek itu?" tanya Aditya.
"Cewek itu?"
"Gak usah pura-pura bego, kesalahan terbesar Lo adalah berani ikut campur urusan orang lain.Kenapa gak dari kemarin aja lo mau pergi sama gue?Jadi gue gak perlu main kasar kayak gini"
"Maksud Lo,Lo udah rencanain ini semua?"
"Siapa sih yang gak suka sama sama cewek modelan lo gini, seharusnya gue yang lebih berhak dapetin Lo dibanding dengan siapapun.Apalagi orang itu Arkana"
"Plis,jangan apa-apain gue.Terserah kalau Lo mau pukul gue,tapi gue mohon jangan lakuin sesuatu yang diluar batas.Lo gak boleh lakuin itu sama perempuan"
"Siapa Lo ngatur-ngatur gue?" Aditya langsung menjambak rambut Aneska dan melemparnya dengan kasar untuk masuk ke dalam gudang.
Aditya mengunci pintu dari luar dan bersiap-siap untuk melancarkan aksinya kepada Aneska hari ini. "Dit,keluarin gue dari sini!!!"
Aditya menghisap sebatang rokok dan begitu menikmati nya.Asap rokok mulai bertebaran dimana-mana,sebagai tambahannya ia meminum segelas minuman keras yang tersedia di dalam lemari. "Padahal gue mau nikahin Lo dulu,tapi karena ulah Lo sendiri gue harus ngelakuin hal ini lebih cepat dari waktunya" gumam Aditya.
"Gue harus bisa pergi dari sini sebelum dia berbuat macem-macem sama gue.Tapi gimana caranya,disini gak ada jendela satupun" ucap Aneska.
BRAKKKK!!!
Melihat bayangan tubuh laki-laki itu saja sudah berhasil membuat sekujur tubuh Aneska terasa bergetar hebat.Tidak ada yang bisa menolong nya di situasi seperti ini, ditambah lagi Aditya telah merusak ponselnya tadi.
"Minum" Aditya memberikan segelas minuman alkohol kepada Aneska.Tetapi wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Apa harus gue kasarin baru Lo mau minum?"
"Engga gue gak mau" ucap Aneska tanpa sadar air matanya mulai menetes.
Seperti tidak ada rasa simpati dalam diri Aditya, laki-laki itu langsung menggenggam erat dagu Aneska dan memaksanya untuk meminum minuman keras tersebut. "Gue gak mau Adit!!"
Tubuh Aneska sudah bersandar pada dinding di belakangnya dengan posisi tubuh yang duduk terkulai di lantai kotor itu, ditambah lagi dengan kedua kaki dan tangannya yang masih terkunci.
"Ini energi buat lo,Lo pikir gue mau main sendiri?" bisik Aditya.
Aneska langsung membulatkan matanya. "Plis jangan lakuin itu"
Akhirnya Aditya berhasil memasukkan segelas minuman keras tersebut kedalam mulut Aneska.karena melihat wanita itu masih kuat,Aditya kembali memberikan nya dua gelas lagi hingga Aneska merasakan pengar yang sangat luar biasa.
"Lo udah mabuk?" tanya Aditya dengan bibirnya yang menyeringai.
"Jangan lakuin itu" gumam Aneska.Aditya membuka borgol yang ada ditangan dan kaki Aneska,lalu perlahan membuka kancing teratas seragam wanita tersebut.
Masih sedikit tersadar Aneska langsung mendorong tubuh Aditya sekuat tenaga nya yang masih tersisa.Dengan cepat laki-laki itu langsung menggenggam erat kerah seragam Anes dan membanting tubuh wanita tersebut hingga kepalanya terbentur dinding dengan sangat keras.
Sementara itu di markas,Arkana masih asyik berbincang dengan teman-temannya tanpa terlintas sedikitpun dibenak Arkana untuk mengkhawatirkan kondisi Aneska saat ini.
"Kok tiba-tiba gue gak mood gini ya" ucap Arkana tiba-tiba.
"Apaan si, sok-sokan gak mood segala.Udah kayak cewek aja Lo" ejek Rizan.
"Udah ketularan virus Aneska dia" sahut Bagas.
"Bacot Lo semua" Arkana menghubungi Aneska,namun ponselnya tidak aktif.Berkali-kali ia menghubungi namun tetap saja masih sama.
"Kenapa ya?" tanya Arkana.
"Paling habis baterai" kata Rafael.
"Apa iya?"
"Iya,udah positif thinking aja"
"Cari siapa?" ucap teman Arkana dari luar sana,membuat beberapa orang yang ada di dalam langsung menoleh saat mendengar suara tersebut.
"Arkana ada?"
"Ada di dalem,tapi mau apa?"
"Siapa tuh yang nanyain Lo" ucap Arsenio.
"Paling Anes" kata Bagas.
"Bukan itu bukan suara Anes" kata Arkana.Laki-laki itu langsung berjalan keluar rumah.
"Arka"
"Lo...Lo yang pernah siram Anes kan?Yang gak bersihin lantai waktu itu?" tanya Arkana. "Ngapain Lo kesini?"
"Gak peduli,bukan itu yang mau gue bahas" ucap Faranisa.
"Apa?"
"Aneska"
"Kenapa?"
"Mendingan Lo sekarang buruan bantuin dia"
"Ya Aneska kenapa!" Teriaknya dengan kesal.
"Cerita nya panjang,gak bisa gue ceritain sekarang!"
"Ceritain versi pendek nya aja"
"Aditya,dia bukan orang baik" ucap Faranisa.
"Terus?"
"Aneska dibawa sama dia ke suatu tempat.Gue yakin banget kalau Aneska lagi gak baik-baik aja sekarang!Lo harus tolongin dia sekarang juga!" teriak Faranisa histeris.
"Anjing" gumam nya.Arkana langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaketnya. "Kita pergi sekarang!"
"Kemana?" tanya Rizan.
"Gak usah banyak bacot!Ikut kalau Lo mau,terus diem disini kalau Lo gak mau"
"Ya kan gue cuma nanya"
"Udah-udah,dia kayaknya lagu emosi banget.Mending sekarang kita ikutin aja" ucap Rafael.
"Lo tau tempatnya?" tanya Arkana kepada Faranisa.
"Lo ikut sama Rafael buat tunjukin jalan"
"Oke"
Anggota geng COZTRA yang jumlahnya lebih dari 10 orang itu langsung bergegas menuju tempat yang akan Faranisa tunjukkan dalam misi penyelamatan Aneska sebagai primadona ketua mereka.
...•••...
"Kepala gue sakit!!Sakit banget!!" teriak Aneska.
"Udah gue bilang Lo tinggal diem aja, nikmatin kenikmatan yang gue kasih!" ucap Aditya sambil menarik rambut Aneska.
"Arka,kamu dimana?" gumam Aneska dengan mata sayu nya.
PLAKKKK!!
Berani-beraninya Lo sebut nama laki-laki lain di depan gue. "Sakit Adit!!Sakit!!Bisa gak sih,gak usah pukul-pukul!!!" Teriaknya.
"Biar gue mulai" saat Aditya hendak membuka kancing kedua seragam Aneska,wanita itu kembali menendang tubuh Aditya dan dengan segera bangkit untuk membuka pintu sebisanya.
Aditya hanya berdecak kesal saat menghadapi tingkah wanita yang satu ini,ia masih menatap Aneska karena tidak perlu mengkhawatirkan jika wanita itu akan lolos karena pintu yang sudah ia kunci rapat-rapat.
"Kesini" ucap Aditya.
"Tolong!!! Siapapun tolong!!!" teriak Aneska.Merasa sudah sangat kesal,Aditya langsung mengambil balok kayu berukuran besar dan menghantam tubuh Aneska menggunakan balok tersebut.
Sontak Aneska langsung berteriak histeris karena merasakan kesakitan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Sakit!!!Gue mohon berhenti!!!"
Aneska sudah terbaring dilantai,perlahan ia merubah posisi tubuhnya menjadi setengah bersandar di dinding untuk menyeimbangi rasa sakitnya.Aditya berjalan menghampiri Aneska dan berjongkok di sampingnya.
"Lo tau alasan gue kenapa gak suka cerita tentang sychopath?" tanya Aditya,wanita itu masih terdiam.
"Ternyata Lo gak tau,biar gue kasih tau" bisiknya dengan sedikit tertawa. "Gue lebih suka bertindak dari pada membaca"
Seringai di bibir Aditya membuat Aneska langsung membelalakkan matanya,ia bisa memaknai perkataan Aditya barusan.Laki-laki itu baru saja berkata seolah-olah ia lebih suka melakukan tindakan seorang sikopat dari pada membaca alur cerita nya.
Aneska melihat laki-laki itu sedang menggenggam erat balok kayu yang tadi digunakannya untuk memukul tubuh Aneska. "Cukup,jangan pukul gue lagi" rintih Aneska sambil menangis.
BUUGGGHHH!!....
Aditya langsung menghantam kepala Aneska dengan sangat keras selama dua kali pukulan,wanita itu tidak menyerah ia terus berusaha untuk menghindar dari pukulan Aditya selanjutnya meskipun kondisi kepala yang sudah mengalir darah.
"Gue mohon stop"
"Ah gue lupa, ngomong-ngomong dimana luka tembak itu?Disini ya?" Aditya menunjuk bagian perut Aneska.
"A-apa maksud Lo?" tanya Aneska dengan suaranya yang perlahan mulai hilang.
"Sebelum Lo mati,ada satu hal yang mau gue kasih tau dan semoga Lo suka "Aditya tersenyum. "Luka tembakan ini hadiah dari gue,lucu bukan?"
"Aditya brengsek!' ucap Aneska dengan tangannya yang menggenggam erat kerah baju laki-laki itu hingga meninggalkan bercak darah di seragamnya.
"Apa?Brengsek?" tanya Aditya.
PLAKKKK!!
Satu tamparan keras itu membuat Aneska langsung tidak sadarkan diri dengan posisinya yang masih setengah bersandar.Aditya menghembuskan nafas lega lalu melemparkan balok kayu tersebut ke sembarang arah.
Ia mulai merendahkan tubuhnya dan duduk di pangkuan Aneksa dengan posisi yang saling berhadapan.Darah terus mengalir dari kepala Aneska hingga mengenai seragam berwarna putihnya.
Kesempatan besar bagi Aditya, laki-laki itu langsung ******* habis bibir seksi Aneska yang selama ini Arkana idam-idamkan namun ia tahan.
Sambil melakukan hal itu,Aditya meremas kuat paha Aneska dengan kukunya yang tajam hingga melukai kulit cantik wanita tersebut.Tidak ada perlawanan dari Aneska karena dirinya sudah tidak sadarkan diri.
Sementara itu diluar sana segerombolan geng COZTRA sudah mengepung rumah tersebut.Mereka sangat yakin karena melihat keberadaan mobil Aditya diluar sana.
Dengan cepat mereka langsung menyebar ke berbagai penjuru halaman rumah tersebut untuk mencari celah masuk kedalam sana.
Tak mau menghabiskan banyak waktu,Arkana langsung memecahkan kaca jendela bagian samping dan menerobos masuk kedalam sana.Satu persatu ruangan mereka telusuri,tetapi Faranisa menunjuk ruang gudang sebagai tempat Aditya bersaksi.
Ruangan gudang dipilih Aditya karena ruangan tersebut kedap suara,Aditya tidak akan mendengar suara apapun dari dalam begitu juga sebaliknya.
"Ayo dobrak!" ucap Faranisa.
Arkana dan tiga orang yang lainnya langsung mendobrak pintu tersebut hingga terbuka dan rusak parah.Semua orang yang ada langsung terdiam saat melihat Aditya yang sedang menikmati bibir Aneska itu.
Arkana langsung menendang hebat kepala Aditya hingga laki-laki itu sedikit terpental. "LO LAGI NGAPAIN BANGSAT!!"
Tidak henti-hentinya Arkana melayangkan pukulan demi pukulan kepada Aditya.Sementara teman-teman Arkana hanya bisa menyaksikan nya.
"Ngeliatin apa Lo semua!!Balik badan gak!" teriak Faranisa karena ia menyadari bahwa beberapa kancing seragam Aneska terbuka karena ulah laki-laki bajingan tersebut.
"Ini ambil jaket gue" Rafael memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh Aneska.
"Ayo cepet bawa dia ke rumah sakit!" Rafael langsung membantu Faranisa untuk membawa Aneska ke rumah sakit dengan menaiki mobil Aditya.
"Gak ada otak Lo bangsat!!!" Arkana terus menginjak-injak tubuh Aditya,tetapi laki-laki itu malah terus tertawa.
"Dih,dia malah ketawa.Gue rasa separuh otaknya udah di donasiin deh" ucap Rizan.
Arkana menarik leher pria tersebut dengan tatapan emosional nya. "BANGSAT!"
"Lo tau gimana perjuangan gue tahan nafsu biar gak ngerusak dia?Lo tau gimana rapihnya gue jagain dia biar gak luka sedikitpun?" tanya Arkana. "Lo siapa anjing dateng-dateng malah rusak semuanya!Emang dari awal gue kurang respect sama lo"
"Lo ganggu tau gak?Lo semua ganggu" ucap Aditya dengan wajahnya yang sudah berdarah-darah akibat ulah Arkana. "Andai Lo semua Dateng dua jam lagi, mungkin gue udah berhasil nyoblos hari ini"
Arkana membuka matanya lebar-lebar,lalu ia membenturkan kepala yang berisi otak mesum itu ke dinding.Sama persis dengan apa yang telah dilakukan oleh Aditya kepada Aneska tadi.
"Apa jangan-jangan..." ucap Rizan tiba-tiba membuat Arkana langsung menolehkan kepalanya.
"Apa?Gak usah ngomong yang aneh-aneh lo" bisik Bagas.
"Engga, jangan-jangan dia yang udah tembak Aneska waktu itu" ucapnya. "Iya kan?Ngaku Lo bangsat!"
"HAHAHAH!Woy Rizan,gue pikir kepala Lo kosong gak ada otaknya" ucap Aditya.
"Gak usah ketawa Lo anjing" Arkana semakin memperbanyak pukulannya.
"Pisahin jangan sih?" tanya Marvel.
"Gak usah" ucap Arsenio.
"Tapi kalau mati gimana?"
"Bukannya dia pantes mati?Setelah ngelakuin kesalahan aja dia gak nyadar"
Setelah hampir 30 menit menghajar Aditya habis-habisan,Arkana merasa cukup puas karena laki-laki itu sudah terkapar tidak berdaya dengan darah yang mengalir dari dalam tubuhnya.
Arkana pergi meninggalkan rumah itu dan bergegas menyusul Rafael dan Faranisa yang sedang membawa Aneska menuju rumah sakit dengan dikawal oleh lima motor yang merupakan anggota geng COZTRA juga.