I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 65



Sudah hampir satu minggu Aneska berbaring di kasur pasien nya itu.Ia merasa bosan saat melihat langit-langit ruangan,dinding dan juga selang infus yang terus menempel di lengannya.


"Apa gak boleh keluar ruangan sama sekali?" tanya Aneska kepada Divia yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Dengan cepat wanita itu langsung berjalan menghampiri Aneska karena tidak mau melewatkan kesempatan saat Aneska mau berbicara dengan nya terlebih dahulu.


"Gak boleh Nes,Lo harus tetap disini sampai pulih"


"Kata siapa?" tanya Arkana yang harus aja keluar dari toilet di dalam ruangan tersebut.


"Kata...Kata gue lah" jawab Divia.


"Udara jam 7 pagi masih belum tercemar polusi,ayo kita keluar sekalian berjemur biar cepet sembuh" ucap Arkana kepada Aneska.


"Serius?Beneran boleh keluar?" tanya Aneska antusias.


"Hmm,ayo"


Dokter tidak melarang hal tersebut,wajah Aneska sangat berbinar-binar saat kursi roda yang di kendalikan oleh Arkana terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju taman yang ada disana.


Mereka melihat beberapa pasien serupa sedang duduk santai menikmati udara segar tersebut, terdapat pasien anak-anak juga yang sedang berlarian kesana kemari dengan ceria.


"Wah" ucap Aneska terperangah saat melihat pepohonan dan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.


"Kenapa?" tanya Arkana.


"Gak,gak apa-apa" laki-laki itu hanya tersenyum kecil.


"Mulai hari ini,kamu boleh perlakukan aku kayak pacar kamu sendiri.Jangan sungkan buat minta bantuan atau apapun yang kamu mau,oke?" tanya Arkana.


"Itu..cukup canggung,tapi mungkin sedikit demi sedikit pasti bisa"


"Iya,aku ngerti"


"Tapi,dimana orang tua aku?" tanya Aneska.


"Ya?" sontak Arkana langsung terdiam dengan wajahnya yang bingung harus mengatakan apa.


"Dari aku baru sadarkan diri sampai hari ini,aku belum liat mereka.Bukan seharusnya yang pertama kali aku liat itu kedua orang tua aku?" tanya Aneska lagi.


"Itu...emm...kebetulan orang tua kamu lagi ada perjalanan bisnis ke luar negeri,udah hampir tiga minggu ini"


"Oh gitu,tapi mereka tau kalau aku ada dirumah sakit?"


"Hm,mereka tau"


"Terus.." Aneska seperti ingin menyampaikan sesuatu namun ia terlihat sangat ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa?" Arkana bertanya dengan suara lembutnya sambil merendahkan posisi tubuh di hadapan Aneska.


"Orang itu..."


"Orang itu?"


"Dimana laki-laki itu sekarang?" tanya Aneska setelah berusaha untuk mengatasi keraguannya.


"Laki-laki?" tanya Arkana bingung.Dengan cepat Aneska langsung menunjuk luka perban di kepalanya dan juga beberapa luka ringan yang berada di wajahnya.


"Kamu tenang aja,dia udah masuk penjara buat jalanin hukuman yang setimpal"


"Beneran?"


"Hmm,kamu gak perlu khawatir lagi.Dia gak akan berani buat jahatin kamu lagi,bahkan siapapun gak akan aku biarin buat jahatin kamu"


"Emang kamu siapa?Anak presiden?" tanya Aneska sambil tersenyum kecil.Seketika Arkana langsung terdiam saat melihat senyuman tulus di wajah Aneska,ia merasa senang.Sangat senang.


"Hm,makanya kamu harus mau nikah sama aku biar bisa jadi menantu presiden" beo Arkana dan wanita itu hanya tertawa.


...•••...


Satu minggu berlalu,malam itu Aneska sedang tertidur lelap ditemani oleh Erika di sampingnya.Tentu Arkana,Bintang dan Rizan serta Rafael juga berada di sana.


Ketiga laki-laki itu sedang sibuk dengan aktivitas nya masing-masing.Bintang dan Rizan sedang asyik memainkan game online nya, Rafael sedang tertidur pulas dan Arkana sedang terdiam menatap langit-langit ruangan tersebut.


"JANGAN!!!!!" teriak Aneska ditengah-tengah tidur lelapnya.Wanita itu sekarang sedang duduk di atas kasur dengan wajahnya yang terlihat pucat.


"Kamu mimpi buruk ya?" tanya Arkana sambil berjalan menghampiri kedua wanita tersebut.


Dengan nafas yang terengah-engah,Aneska menoleh kesana kemari dan ia juga menatap satu persatu wajah mereka yang sedang menatap balik ke arahnya.


"Dia mimpi buruk" ucap Rizan yang kembali mengalihkan pandangannya ke ponsel, begitu juga dengan Bintang.


"Lanjut tidur lagi,ini masih malam" kata Arkana.


"Iya,kamu gak perlu takut.Ada kita disini" sahut Erika.


"Aku masih hidup kan?" tanya Aneska tiba-tiba.Sontak para pria tersebut langsung menoleh kembali ke arah wanita tersebut.


"Tentu,kamu masih hidup" kata Erika.


"Aditya,dimana dia?" tanya Aneska lagi.


"Apa?" ucap Rizan yang langsung bangkit dari duduknya dengan wajah terperangah. "Gimana?apa dia tau Aditya?"


"Siapa yang udah ceritain tentang Aditya sama kamu?" tanya Arkana.


"Gimana bisa aku gak tau? Jelas-jelas dia siksa aku habis-habisan!" teriak Aneska histeris.


"Apa mungkin..." ucap Bintang ragu.


"Kenapa?" tanya Rafael.


"Siapa nama kamu?" tanya Bintang.


"Aneska Rabella" jawabnya. "A-AAA!"


Aneska langsung menggenggam erat kepalanya yang terasa begitu menyakitkan,suara dengungan itu membuat kepala Aneska seperti akan pecah.


"Kenapa?Aneska kamu kenapa?" tanya Erika.


"Panggil dokter buruan" ucap Bintang kepada Rizan.


Dokter memeriksa kondisi tubuh Aneska,mereka terlihat bahagia setelah menyimpulkan bagaimana perkembangan kondisi wanita itu saat ini. "Apa yang kamu rasakan?" tanya Dokter.


"Kepala saya kayak mau pecah dok" ucap Aneska. "Tapi,tadi saya mimpi"


"Apa itu?"


"Banyak,banyak banget"


"Bisa di ceritakan salah satunya?" tanya dokter lagi.


"Salah satunya" Aneska berusaha untuk mengingat. "Yang paling jelas itu mimpi terakhir saya,saya disiksa habis-habisan.Saya gak tau kelanjutannya karena langsung bangun gitu aja"


"Heh itu bukan mimpi" celetuk Rizan.


"Iya kan?itu kelihatan kayak nyata,nyata banget.Bahkan rasa sakitnya pun terasa nyata dok" Aneska terus berusaha untuk meyakinkan dokter dan orang-orang yang berada di sekeliling nya.


"Ah ini,ini saya mimpi kalau orang itu terus pukul kepala saya sampai berdarah.Tapi beneran kan sekarang kepala saya di perban?" tanya Aneska.


"Dok,ada apa ini?Apa ingatannya udah kembali?" tanah Erika.


Dokter hanya menganggukkan kepalanya, anggukan dokter tersebut membuat mereka langsung membelalakkan matanya karena terkejut.


"Kondisinya sudah membaik dan pasien mengingat peristiwa yang sudah ia lewatkan di hari-hari sebelumnya.Saya juga tidak menyangka bahwa ingatannya akan kembali dengan waktu yang secepat ini"


"Saya akan membuat resep obat yang baru,anda tinggal menebusnya di apotik"


"Iya dok, makasih"


Saat dokter sudah pergi meninggalkan ruangan,Rizan hendak memeluk erat tubuh Aneska namun Bintang langsung menarik jaket pria tersebut agar niatnya tidak berjalan lancar.


"Aku,udah sembuh?" tanya Aneska.


"Iya" ucap Erika dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Peluk aku,ayo peluk aku!" seru Aneska.Dengan cepat Arkana dan Erika langsung memeluk erat wanita tersebut bersamaan dengan rasa haru sekaligus bahagia yang meronta-ronta.