I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 26



Meskipun sudah memasuki waktu jam pelajaran olahraga di lapangan,Aneska masih tetap menjalani tugasnya karena guru olahraga menyuruh Anes untuk tetap melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Disaat teman-teman sekelasnya sedang asyik berolahraga,Aneska masih disibukkan dengan aktivitas hukumannya itu. "Ck!Kakak kelas sialan emang!" gerutunya.


"Anak-anak semua ayo sudah berkumpul!" Teriak pak Joni kepada siswa nya. "Anak-anak semuanya sudah berkumpul disini?"


"Anak-anak...Emang saya anak bapak?" pertanyaan Arkana mengundang gelak tawa teman-temannya. "Suruh siapa ketawa?"


"Sudah sudah,kamu ini marah-marah terus!" ucap Pak Joni kepada Arkana.


"Kalau semuanya sudah berkumpul maka pembelajaran olahraga akan bapak mulai sekarang.Karena bapak harus menghadiri rapat dadakan,maka kalian dipersilahkan untuk bermain bola basket secara bebas sampai jam pelajaran habis" kata Pak Joni.


"Serius pak?" tanya Arkana yang terlihat seperti kecewa.


"Iya,maaf kan bapak teman-teman semuanya"


"YESSS!!!YUHU!!" seru Arkana yang sangat bahagia.


"Bapak pikir kamu akan sedih karena saya tidak bisa mengajar hari ini" ucap pak Joni kesal. "Yasudah kalau begitu silahkan kalian berolahraga,jangan ada yang ke kantin jika jam pelajaran saya belum habis"


"Iya pak"


Saat pak Joni berjalan meninggalkan mereka,semua siswa langsung menyibukkan diri dengan bermain olahraga basket bersama secara berkelompok.Sedangkan Divia sejak tadi terus mencuri-curi pandang kepada Aneska yang sedang sibuk membersihkan halaman sekolah.


"Jangan diliatin terus" ucap Rafael tiba-tiba hingga mengejutkan Divia yang sedang terdiam.


"Ngagetin aja Lo"


"Anes gak apa-apa,dia juga sama lagi olahraga" kata Rafael.


"Tapi gue ngerasa gak enak aja gitu,gue sahabat nya tapi gak bisa berbuat apa-apa terhadap dia" kata Divia.


"Dih apaansi melow banget Lo" ucap Rafael sambil menyenggol tubuh Divia menggunakan siku nya. "Gak apa-apa,jadi orang jangan gak enakan.Aneska juga bisa ngerti kok"


"Tapi tetep aj-"


"Udah mendingan Lo gabung buat main basket sama mereka deh dari pada galau-galauan kayak gini" Rafael langsung mendorong tubuh Divia agar wanita itu mau bergabung bersama siswa yang lain.


Arkana sedang asyik berlarian kesana kemari saat bermain basket dengan teman-temannya.Tiba-tiba ia tidak sengaja melihat Aneska yang sedang kelelahan karena membersihkan halaman sekolah yang terlalu luas.


Karena terlalu dalam memperhatikan Aneska,ia tidak sadar bahwa posisinya saat itu sedang berada di tengah-tengah lapangan basket.Sebuah bola sepak menghantam kepalanya hingga ia jatuh tersungkur di tanah,tentu Arkana langsung meringis kesakitan sementara teman-temannya langsung menghentikan aktivitas mereka.


"Eh kenapa lo?" tanya Rizan yang bergegas menghampiri Arkana,begitu juga dengan Rafael.


"Sakit anjing!" bisiknya sambil mengusap-usap kepala.Lalu Arkana bangkit dan menatap ke arah lapangan futsal yang sedang di pakai oleh siswa kelas 10.


Arkana mengambil bola tersebut lalu berjalan ke arah mereka dengan wajah yang penuh amarah. "Siapa yang nendang bola ke kepala gue?" tanya Arka.


"S-saya bang,ma-maaf ya bang gak sengaja" ucap salah satu siswa laki-laki gugup.


"Lo mau unjuk bakat sama temen-temen lo,kalo Lo bisa nendang bola sampe ke kepala gue?" ucap Arkana sambil menarik baju olahraga bagian leher siswa tersebut.


"A-ampun bang,maafin saya"


Melihat keributan itu,Aneska langsung melepaskan peralatan kebersihan nya dan berjalan cepat menuju keramaian itu.Matanya terbelalak saat melihat siswa yang sedang bertengkar ternyata Arkana.


"Lo mau bikin malu gue di depan banyak orang?" tanya Arkana.


"E-engga bang"


BUGGGH!!!


Siswa itu mendapatkan satu pukulan dari Arkana di pipinya hingga membiru.Semua siswa terkejut terutama siswa perempuan.Mereka menahan teriakannya agar tidak terdengar sampai ke ruang guru.


"Ka udah ka" ucap Rafael yang berusaha untuk menghentikan Arkana.


"Gak sengaja katanya" sahut Rizan.


"Lepasin ah!" teriak Arkana memberontak.


Siswa laki-laki itu terus berusaha menghindar dari Arkana,tetapi tenaga Arka cukup kuat hingga ia tidak bisa melarikan diri dari genggaman Arkana.


"Arkana!" ucap Aneska. "Arkana stop!!"


BUGGHH!!


"AUUU!!" pukulan kedua yang Arkana berikan tidak tepat sasaran,pukulan yang jauh lebih keras itu mendarat tepat di wajah Aneska hingga bibirnya terluka dan hidungnya mengeluarkan darah.


Sontak siswa teman sekelas Anes langsung berteriak histeris saat melihat luka tersebut,tetapi dengan cepat Anes langsung menutupi hidung nya dan berusaha untuk menenangkan teman-teman perempuan nya agar teriakan mereka tidak terdengar oleh guru yang sedang mengajar di kelas.


"Suuuttss!!Jangan teriak-teriak,nanti kalo ada guru yang tau gimana?gue gak apa-apa kok" kata Aneska.


"Ka apaan si Lo" ucap Rafael kesal sambil mendorong bahu Arkana.


"Nes" panggil Arkana pelan.


"Gak apa-apa" kata Aneska.


"Buruan kita ke unit UKS sekarang" ajak Divia.


"Sebentar,tapi gue minta jangan ada yang lapor ke guru manapun.Oke?" kata Aneska.


"Yaudah obatin aja dulu"


"Oke?" tanya Aneska.


"Iya iya engga" ucap temannya yang lain.


Divia dan Aneska berlari menuju UKS untuk mengobati luka tersebut sebelum darah yang keluar bertambah banyak.Sambil berlari Aneska mendongakkan kepala dan menutup hidung menggunakan tangannya agar darah yang keluar dapat berkurang.


"Awas Lo ya,urusan Lo sama gue belum kelar!" ucap Arkana sambil mendorong kasar siswa tersebut lalu berlari untuk menyusul Aneska bersama Rafael dan Rizan.


"Jangan pada bacot ya lo semua,nanti Arkana gue bisa-bisa dapet hukuman kalo kalian kasih tau ke guru nanti" ucap salah satu siswa perempuan.


"Tapi pegel tau pundak gue"


"Udah nurut aja"


"Gini rasanya mimisan ya?" tanya Aneska.


"Emang Lo belum pernah mimisan?"


"Belum sih,ini pertama kali"


"Sekeras apa Arkana pukul muka Lo sampe idung Lo keluar darah kayak gini" ucap Divia dengan suara prihatin nya. "Lagian lo ngapain sih ikut campur segala,jadi kena imbasnya kan?"


"Kenapa kalian diem aja?Anak orang bisa luka parah kalo kalian diemin ulah Arkana" kata Aneska.


"Tapi sakit gak?" tanya Divia.


"Pake nanya lagi Lo"


BRAKKK!!!


Pintu ruangan terbuka dengan kasar,lalu Arkana dan kedua sahabatnya langsung masuk ke dalam untuk melihat kondisi Aneska. "ASTAGFIRULLAH!!" teriak Divia yang terkejut.


"Lo gak apa-apa?" tanya Arkana yang langsung duduk di ranjang pasien tempat Aneska berada.Arkana menatap wajah Aneska,tetapi wanita itu tidak karena posisi wajahnya yang masih mendongak.


"Hmmm"


"Lo ngapain sih pake ikut-ikutan segala?Lo kan lagi anteng bersih-bersih tadi" kata Arkana.


"Gak tau,gue juga gak yakin"


"Sakit gak?" tanya Arkana lagi.


"Ya sakit lah goblok!" ucap Rizan tiba-tiba.


"Maafin gue" rengek Arakan,suara bicara lelaki itu membuat kedua sahabatnya beserta Divia langsung menatap ke arah Arkana dengan tatapan bingung dan Terheran-heran.Bagaimana bisa ia berbicara dengan suara yang seperti itu kepada Aneska.


"Iya gue maafin" kata Aneska.


"Udah" perintah Divia yang mengatakan agar Aneska bisa berhenti mendongak.


"Arggh gimana bisa lo bikin muka cantik nya dia jadi kayak gitu" kata Rizan sambil meringis karena ia membayangkan rasa sakit yang Aneska rasakan.


"Btw kapas disini habis,gue harus beli dulu di koperasi.Kalian jagain Aneska disini ya,jangan macem-macem" kata Divia.


"Iya kita jagain" kata Rafael.


"Jangan macem-macem?Lo pikir kita mau ngapain Anes hah?Negatif Mulu otak Lo" ucap Rizan kesal.


"Ya gue kan cuma ngingetin aja"


"Sini biar gue obatin" ucap Arkana yang hendak membersihkan darah Aneska di bibirnya.


"Gak usah biar Divia aja nanti" Aneska ingin mengambil kapas yang sedang Arkana genggam,namun laki-laki itu tidak akan membiarkan nya.


"Anggap aja ini sebagai permintaan maaf gue"


"Gue maafin kok,udah biar Divia aj-"


"Ssssttt!" desis Arkana kesal hingga membuat Aneska langsung terdiam.


"Yaudah kita keluar aja kali ya" ucap Rafael yang mulai paham akan suasana.


"Gak usah disi-"


"Yaudah sana cabut" Arkana memotong perkataan Aneska hingga wanita itu langsung membelalakkan matanya saat mendengar perkataan Arakan barusan.


"Yaudah yuk cabut Jan,cabut cabut" bisiknya sambil mendorong tubuh Rizan keluar ruangan.


"Tap-"


"Udah gak usah banyak ngomong"


"Tapi gak enak kalo cuma berdua di ruangan sepi kayak gini" kata Aneska,Arka hanya terdiam sejenak.


"Gue gak bakal mesumin Lo,jadi tenang aja"


"Bukan masalah itu,cuma gak-"


"Banyak ngomong Lo,apa harus gue cium biar lo diem?" tanya Arkana.Pertanyaan nya itu benar-benar membuat Aneska langsung membungkam mulut nya rapat-rapat.


"Ck!Kalo masalah pukul cewek gue jadi ngerasa bersalah banget tau gak?" lanjut Arkana sambil membersihkan darah di bibir Aneska.


"Tapi kan Lo gak sengaja,jadi gak perlu ngerasa bersalah"


"Lagian Lo ngapain ikut-ikutan?"


"Gue gak mau lo kena masalah lagi kalo sampai laki-laki tadi luka parah karena ulah Lo" kata Aneska.


"Lo lakuin itu demi gue?" tanya Arkana dengan wajahnya yang terlihat seperti sedang mengejek. "Lo suka sama gue?"


"Dih!Gak usah kepedean Lo.Ini tuh sebagai bentuk rasa balas Budi tau gak?Tau balas Budi gak Lo?" tanya balik Aneska.


"Balas Budi buat apaan?Emang gue pernah lakuin hal apa buat lo sampe lo rela balas budi kayak gini?"


"Karena lo sering bantu gue kalo lagi kesusahan,terutama waktu malam itu di halte busway.Meskipun menurut lo itu gak ada apa-apanya,tapi menurut gue Lo berjasa banget sih malam itu" kata Aneska sambil menundukkan kepalanya.


"Emang kenapa sih lo sampai setakut itu sama hujan malam?Padahal kan itu cuma hujan biasa doang" kata Arkana.


Aneska menarik nafas panjangnya lalu ia bersedia menceritakan semua tentang ketakutan nya itu.Mulai dari kejadian yang menimpa dirinya dan sang kakak saat malam itu.