I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 22



Lima menit sebelum bel berbunyi,semua siswa sudah berada di dalam kelas untuk menunggu kedatangan guru mata pelajaran masing-masing.Sambil memanfaatkan waktu,Aneska menghampiri satu persatu temannya untuk menagih uang kas mingguan karena tugasnya sebagai bendahara kelas.


Lagi-lagi di awal Minggu Arkana dan kedua sahabatnya selalu menjadi siswa terakhir yang masuk ke dalam kelas sebelum dimulainya pembelajaran.Aneska menatap ketiganya sekilas,ia merasa lega karena mereka tidak terluka sedikitpun bahkan hari ini mereka masuk sekolah tanpa membawa masalah semalam.


"El,Ikan bayar uang kas dulu ya" kata Aneska.


"Oh berapa?" tanya Rafael.


"Rp.15.000"


Semuanya berjalan lancar bagi Aneska sampai akhirnya ada satu nama yang belum mendapatkan tanda ceklis yang berarti sudah membayar. "Arka,bayar uang kas" ucap Aneska datar.


"Bayar uang kas Mulu"


"Mulu?Ini baru Minggu pertama gue tagih uang kas"


"Nanti aja, besok besok" ucap Arka sambil mengayunkan tangannya tanda mengusir. "Piuh piuh!"


"Sekarang aja biar sekalian"


"Kalo gue bilang besok ya besok"


"Apa bedanya sekarang sama besok?Akhirnya bayar juga kan?" tanya Aneska.


"Hari ini gue lagi males ngambil duit di kantong" ucap Arka dengan santainya.


"Yaudah sini gue ambilin"


"Dih,modus Lo" Aneska menghembuskan nafas sambil memutar kedua bola matanya dengan jengah.Lalu ia memutuskan untuk mengalah dan kembali duduk di kursinya karena guru mata pelajaran sudah datang.


Di tengah-tengah pembelajaran,Bu Albet selaku guru matematika kembali memberikan beberapa soal untuk melatih perkembangan materi siswa nya.Bedanya kali ini ia memberikan soal yang sama untuk seluruh siswa tanpa memilih-milih antara yang aktif atau tidak.


"Dua puluh menit dari sekarang!" ucap Bu Albet.


"Loh Bu, sebentar banget" keluh Divia.


"Tambahin dong Bu waktunya"


"Diskon waktu Bu!"


"Cepat kerjakan sekarang,sekali lagi ibu mendengar keluhan maka waktu akan dikurangi menjadi 10 menit" seketika kelas langsung hening saat mendengar perkataan Bu Albet.


"Lagi lagi dan lagi" dengan kesal Bu Albet berjalan menghampiri Arkana yang sedang tertidur nyenyak di tempatnya. "Arka bangun!" ia masih tidak menghiraukan.


"Baik anak-anak cukup sekian pembelajar-" saat mendengar kata penutup itu,Arkana langsung terbangun karena mengira bahwa jam pelajaran matematika sudah berakhir.


"Kamu tidur lagi?" tanya Bu Albet.


"Ngantuk Bu" ucap Arkana dengan wajahnya yang masih setengah sadar.


"Kalau mau tidur ya di rumah,sekolah tempat untuk menimba ilmu.Kamu apa tugas yang sa-" belum menyelesaikan perkataannya,Arakan langsung memberikan buku tulis miliknya kepada Bu Albet karena ia tahu apa yang dibicarakan oleh nya.


Dengan wajah Terheran-heran Bu Albet membuka lembaran demi lembaran buku tersebut hingga menemukan sepuluh soal yang ia berikan. "Kalo gini saya boleh lanjut tidur kan?" tanya Arkana.


"Gimana...bisa?" gumam Bu Albet yang terperangah ketika melihat sepuluh soal yang sudah terisi dengan jawaban tepat. "Kamu punya kisi-kisi ya dirumah?" tanya Bu Albet.


"Emang keliatan gitu?" tanya Arkana. "Saya gak ada waktu buat baca buku"


"Tapi gimana bisa kamu selesaikan semua soal ini dengan sangat cepat?" tanya Bu Albet.


"Bisa lah Bu,saya kan punya otak"


"Tapi teman-teman kamu saja baru akan memulai pekerjaan nya"


"Berarti mereka gak punya otak" cetus Arkana.


"Enak aja" bisik Divia.


Mendengar perkataan Arkana seketika teman-teman sekelasnya langsung menoleh ke arah Arka dengan wajah yang serba salah,mereka tersinggung tetapi tidak berani menegur.


"Kamu jangan asal bicara" ucap Bu Albet.


"Maaf"


"Sekarang ibu akan memberikan lima soal lagi untuk kamu,Jika berhasil menyelesaikan nya dengan tepat maka ibu akan mengizinkan kamu untuk tidur selama waktu pembelajaran saya" kata Bu Albet menantang.


"Serius?Kalo ingkar janji saya bakar sekolah ini loh Bu" kata Arkana bersemangat.


"Iya saya akan tepat janji,karena kamu bisa saja menjawab tidak tepat" ucapnya yang kembali berjalan untuk menuliskan soal di papan tulis.


Lima menit kemudian Bu Albet selesai menuliskan soal lalu Arkana maju ke depan untuk mengisinya dengan wajah tanpa beban.Semua mata tertuju pada tangan Arkana yang cepat dalam menuliskan jawaban demi jawabannya.


Waktu belum mencapai sepuluh menit namun Arkana sudah bisa menyelesaikan semua soal tersebut. "Udah Bu" ucapnya sambil memberikan spidol milik Bu Albet.


Bu Albet memeriksa semua penyelesaian yang Arkana tulis,ia langsung terperangah dan menjatuhkan spidolnya karena lagi-lagi Arkana sama sekali tidak membuat kesalahan dalam penyelesaian maupun jawabannya.


"Yes!" seru Arkana.


"*Hah!Gimana bisa?"


"Tuh kan pacar gue pinter banget"


"Julukan king of mathematics di kelas kita beralih ke tangan Arkana ini mah!"


"Fiks tahun ini dia harus jadi ketos sekaligus perwakilan olimpiade matematika di sekolah kita"


"Makin tergila-gila gak sih?"


"Aduh mau sungkem sama bokap nyokap nya*!!"


"Kamu pernah ikut olimpiade matematika sewaktu SMP?" tanya Bu Albet penasaran.


"Engga"


"SD?"


"Engga juga"


"Orang tua kamu siswa berbakat dulu?" tanya Nya lagi.


"Hmm,orang tua saya siswa berbakat" ucap Arkana sambil tersenyum tulus.


"Gimana bisa kamu secepat ini dalam menyelesaikan soal"


"Tapi rahasiain ini dari kepala sekolah ya bu" bisik Arkana.


"Kenapa?"


"Saya gak mau ikut olimpiade tahun ini"


"Loh kenapa? Bukannya bagus kalau kamu ikut,nama jelek kamu bisa bagus karena prestasi yang kamu miliki"


"Silahkan"


...•••...


Bel istirahat sudah berbunyi,semua siswa berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin sementara Aneska masih berada di dalam kelas untuk menghitung jumlah uang kas yang akan ia setorkan kepada wali kelas. "Nes buruan,nanti keburu bel masuk kita gak sempet makan loh.Gue laper nih" ucap Divia.


"Sebentar lagi kok,atau Lo duluan aja sama yang lain.Nanti gue nyusul,gak lama kok" kata Aneska.


"Lo sama gue aja" sahut Salsa.


"Yaudah deh,gue sama salsa duluan ya.Jangan lupa nanti nyusul"


"Iya"


Aneska sedang sibuk menghitung jumlah uang kas dan Aditya sedang sibuk menghitung jumlah buku yang akan ia bawa ke ruang guru. "Lo mau ke ruang guru Nes?" tanya Adit.


"Iya nih"


"Bareng aja gimana?Gue juga mau kesana nganterin buku"


"Yaudah yu"


Mereka jalan beriringan menyusuri lorong sekolah menuju ruang guru di lantai satu,tepat di belakang mereka Faranisa dan kedua temannya berjalan sambil terus memperhatikan keduanya. "Liat kan, lagi-lagi kita pergokin mereka jalan berdua" ucap Helia memanasi keadaan.


"Yang ke berapa kalinya sih ini?" tanya Kamala.


"Kayaknya mereka mau ke ruang guru deh,Adit bawa banyak buku sedangkan Anes bawa buku agenda kas" Faranisa masih berfikir positif.


"Yaudah kalo gitu ayo kita ke kantin" ajak Faranisa.


"Ke toilet dulu, tiba-tiba gue pengen pipis" ucap Helia.


"Gue juga sekalian mau touch up dulu nih,kalo ketemu Arkana adik kelas ku yang sangat tampan gimana?" tanya Kamala.


"Dih lebay banget Lo"


"Lo mau ke kantin?" tanya Aditya setelah mereka keluar dari ruang guru.


"Iya nih,mau susul Divia sama Salsa.


"Bareng aja gimana?Gue juga mau ke kantin"


"Oh y-yaudah ayo" ucap Aneska gugup karena ia merasa sangat senang.


Suasana kantin sangat ramai hingga mereka sepertinya tidak kebagian tempat duduk untuk menikmati makanannya.Tetapi untungnya ada beberapa siswa yang telah selesai dan mereka menduduki kursi tersebut.Aneska mencari-cari Divia dan Salsa namun tidak terlihat karena terlalu ramai.


"Divi sama Salsa kemana ya?" tanya Aneska kepada Aditya.


"Udah disini aja"


"Yaudah deh"


Setelah pesanan datang mereka langsung menikmati makanan tersebut dalam kondisi perut yang sangat lapar.Aneska makan dengan sangat anggun dan berhati-hati karena ada laki-laki yang ia sukai di hadapan nya.Sangat berbeda dengan cara makannya dengan Arkana beberapa waktu lalu.


Lagi-lagi dari kejauhan ketiga wanita itu melihat Aditya yang sedang makan bersama Aneska,mereka terlihat sangat akrab lebih dari Aditya dan Faranisa.


"Gue bilang juga apa,udah berapa kali sih gue kasih tau.Mereka itu pasti ada apa-apa" ucap Belia,wanita yang satu ini paling semangat jika harus memanas-manasi hati Faranisa.


"Labrak aja gimana?" tanya Kamala.


"Oke,tapi gak disini.Terlalu deket sama jangkauan guru" kata Faranisa. "Cabut, kecuali kalo kalian mau nonton mereka berdua" Lanjutnya yang langsung pergi meninggalkan keramaian di kantin.


...•••...


Suasana kantin sudah semakin sepi,Aditya pergi terlebih dahulu karena ia harus menemui pak Rama sebagai pemimpin OSIS di SMA GAMA.Karena sudah menghabiskan makanannya,Aneska memutuskan untuk kembali ke kelas sendirian tanpa menemukan Divia dan Salsa sejak tadi.


Keramaian di kantin kini beralih ke sepanjang lorong kelas dan lapangan upacara dan olahraga.Saat Aneska hendak masuk ke dalam kelas nya di lantai dua, tiba-tiba seseorang menyiramnya dengan segelas minuman berwarna hingga membasahi seragam nya.


"Ups! gak sengaja" cetus Faranisa.


"Oh,gak apa-apa kak" ucap Aneska sambil berusaha membersihkan sisa-sisa minuman tersebut. "Tapi kayaknya sengaja deh" lanjutnya sambil menatap wanita itu.


"Udah gue bilang,gue gak sengaja.Tapi yaudah lah,intinya gue kesini mau bilang sama lo.Jangan berani deketin Aditya lagi!" bisik nya tepat di telinga Aneska sambil mencengkram erat seragam wanita itu.


"Kenapa?Kenapa gak boleh deket-deket?Kita kan satu kelas" ucap Aneska.


"Lo ngerti gak sih apa yang gue bilang?Cukup jauhin Adit, terserah gimanapun caranya"


"Kenapa?Kakak suka sama Adit?" tanya Aneska.


"Gak usah ikut campur masalah itu ya!"


"Kok ikut campur?Gue kan cuma nanya"


"Cewek kayak lo tuh harus dikasih pelajaran banyak-banyak tau gak!" teriak Faranisa sambil menyiram Aneska dengan minuman yang sedang di genggam oleh Helia.


"Oh my God,jadi basah deh kasian tau Far" ucap Helia yang ikut menyiram Anes dengan minumannya yang lain.


"Bisa gak sih siram gue pake air biasa aja?Lo gak sayang beli banyak minuman cuma buat siram gue?" tanya Aneska.


Mereka sangat mengundang perhatian banyak orang,terutama teman sekelas Aneska.Mereka ingin melawan namun tidak berani karena mereka kakak kelas. "Anes!Anes Lo gak apa-apa?" tanya Divia yang baru saja datang bersama Salsa.


"Kalian apa-apaan sih?Kayak anak kecil tau gak?" ucap Salsabila.


"Kalian berdua gak usah ikut campur deh.Mending kalian cabut kalo gak mau kena sasaran kita!" Teriaknya.


"Hhh!Lo bertiga jagoan?Kok gue belum pernah liat kalian sebelumnya?Jagoan mana?Jagoan kelas?" tanya Salsabila meledek.


Helia hampir menampar wajah cantik Salsa,Namun dengan cepat ia langsung menahan pergelangan tangan nya hingga membuat Helia sedikit kesakitan. "Gak usah sok jagoan kalo akhirnya main drama di depan guru sama bokap nyokap lo pada"


"Lo berani sama kakak kelas?" tanya Kamala.


"Lo Kakak kelas doang kan?Bukan kakak gue,jadi kenapa harus takut?Umur emang beda tapi bisa gue pastiin nyali gue lebih dari dari lo pada" Ucap Salsabila dengan wajah datarnya.


"Pokoknya gue minta Lo jauhin Adit!Sekali lagi gue liat Lo deketin Adit,abis Lo sama gue" ancam Faranisa.


Tiba-tiba Arkana dan kedua sahabatnya datang untuk menyaksikan keributan para wanita itu. Bukannya melerai,Arka malah memungut beberapa botol minuman yang tergeletak di lantai dan melemparkannya ke wajah Faranisa dan kedua sahabatnya. "Gue ketua kelas nya,sebelum pergi usahain pel dulu sampe bersih.Lo pikir bersihin kelas gak capek?" ucap Arkana.


"Kalo Lo pada gak bersihin,jangan salahin gue kalo kelas kalian tiba-tiba bau spiteng.Gue gak main-main.Satu lagi,kalo mau ribut pilih-pilih orang dulu.Gue cuma mau kasih tau aja,dia jago bela diri.Pergi kalo gak mau tulang iga lo patah" lanjutnya sambil menunjuk Salsabila dan langsung masuk kedalam kelas.Saat berbalik badan ia menatap ke arah Aneska sekilas tanpa berbicara.


"Beruntung Lo ya kali ini,liat aja kalo Lo masih gak lakuin apa yang gue minta!" ucap Faranisa yang langsung pergi bersama kedua sahabatnya tanpa membersihkan lantai sesuai perkataan Arkana tadi.


"Baju Lo basah, kayaknya Lo harus beli ke koperasi deh" kata Divia.


"Yaudah Lo tolong beliin,biar gue anter Anes ke toilet" ucap Salsa.


"Makasih ya"


"iya sama-sama"