I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 61



"Udah" ucap Erika sambil memasukkan flashdisk ke laptopnya.Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk Erika berhasil membuka alat sadap tersebut.


"Udah?" tanya Gio.


"Iya udah,sekarang kita denger" rekaman suara mulai terdengar,Erika sengaja mempercepat durasi agar tidak membuang-buang waktu.


Saat mendengar suara Aneska yang terus memohon,mereka semua langsung terdiam dan fokus mendengarkan suara rintihan permohonan tersebut.Darah di dalam tubuh Arkana semakin mendidih saat mendengar pukulan demi pukulan yang Aditya berikan kepada Aneska.


Sementara Faranisa hanya meneteskan air matanya dan menahan suara tangisan karena merasa sakit hati jika harus mendengarkan suara rintihan Aneska yang terdengar sangat menyakitkan baginya.


"Mah tolong percepat" ucap Arkana yang tidak sanggup mendengar tangisan wanita nya itu.


Rekaman dipercepat sampai waktu dimana Arkana dan anggota geng COZTRA pergi meninggalkan Aditya seorang diri di dalam ruangan tersebut dengan luka parah di tubuhnya.


Mereka mendengar suara beberapa orang yang kembali masuk ke dalam seolah-olah sedang membantu laki-laki tersebut untuk pergi melarikan diri dari tempat itu.


"Apa itu suara kalian?" tanya Gio.


"Bukan,kita semua pergi bareng-bareng saat itu juga" kata Arkana.


"Kita bawa dia ke klinik ilegal di pinggiran kota" itulah ucapan dari salah satu laki-laki yang membantu Aditya pada hari itu.


"Klinik pinggir kota?" tanya Gio.


"*Klinik ilegal di pinggiran kota ada banyak,kemana kita harus bawa bos?"


"Klinik muji,disana peralatan medis nya lengkap"


"Ayo cepet bawa dia sebelum terlambat*"


"Bos?Apa itu anak buah mereka?" tanya Erika.


"Ia,mereka anggota geng itu tapi panggil Adit dengan sebutan bos"


"Tapi kenapa,ah lupain gak penting" Ical Faranisa kesal.


"Ngomong-ngomong,kenapa kamu tau tentang dia?" tanya Erika kepada Gio.


"Kebetulan orang tua kita menikah Tante"


"Oh gitu"


"Aku rasa rekaman nya udah cukup mah" kata Arkana.


"Terus kamu mau apa?" tanya Erika.


"Boleh aku pinjem laptop nya sebentar?"


"Oh tentu boleh" dengan cepat Erika langsung beranjak dari duduknya dan mempersilahkan putra tercinta nya itu untuk duduk dengan nyaman disana.


"Kita cari dimana lokasi klinik muji" namun nama tempat itu tidak ada dalam pencarian internet,mungkin karena beberapa orang yang terlibat juga tidak mau melibatkan diri dengan para pihak hukum yang ada di negara ini.


"Yaudah tanpa internet gue yakin bisa" ucap Arkana. "Mah aku pamit dulu ya"


"Oh iya hati-hati" kata Erika.


"Lo disini aja sama nyokap gue" kata Arkana kepada Faranisa.


"Gue ikut aja deh"


"Kamu disini aja sama tante, perempuan jangan ikut campur"


”Yaudah kalau gitu,tapi kalian hati-hati ya"


...•••...


Dengan di temani Gio,mereka pergi menulusuri wilayah pinggiran kota untuk mencari lokasi dimana klinik tempat perawatan Aditya berada.Arkana sangat yakin sekali bahwa laki-laki itu masih hidup dan berada di suatu tempat untuk memulihkan luka berat nya akibat ulah Arkana.


Tak lupa Arkana dan Gio juga menghubungi beberapa anggota geng masing-masing untuk membantu mereka menemukan lokasi tersebut.


Aneska masih berbaring dan memalingkan wajahnya karena tidak mau melihat keberadaan Divia disisinya.Sementara wanita itu masih menangis kecil karena kesedihan akibat Aneska yang kehilangan separuh ingatan nya.


"Nes lo gak bercanda kan?" tanya Divia tetapi wanita itu masih memalingkan wajahnya. "Gue sahabat Lo, kemana-mana kita selalu berdua"


"Lo gak inget juga siapa Arkana?" tanya Divia lagi. "Arkana itu apa ya,gue harus sebutnya apa"


"Intinya bisa dibilang Arkana itu pacar Lo, meskipun kalian gak pacaran tapi kalian deket banget.Jadi Lo gak boleh lupain dia,Lo harus inget siapa dia" lanjutnya.


"Nes" ucap Divia sambil yang sedikit menyentuh lengan Aneska,sontak wanita itu langsung menarik tangannya karena tidak mau disentuh oleh siapapun.


"Lo harus tenang,karena gue gak akan berbuat macam-macam"


"Lo lupa ingatan, berarti tugas gue sebagai sahabat Lo adalah berusaha sedikit demi sedikit biar Lo bisa inget sesuatu lagi meskipun kemungkinan nya cuma 0,9%" Divia terus melontarkan ocehan kepada sahabatnya itu.


"Gue tau gak enak rasanya kalau harus ada di posisi Lo,makanya ayo kita kerja sama biar ingatan Lo bisa kembali" perlahan Aneska langsung menoleh ke arah Divia dengan tatapannya yang mulai melunak.


Hanya membutuhkan waktu tiga jam bagi Arkana untuk bisa menemukan tempat yang sedang ia cari.Gio dan Arkana mencurigai salah satu tempat kumuh yang berada di antara kios-kios pinggir jalan.Mereka tidak bisa bertindak gegabah karena Arkana sangat yakin bahwa di sekitar tempat itu para polisi dan penegak hukum yang lainnya sedang memantau tempat tersebut.


Perlahan Arkana dan Gio berjalan memasuki tempat tersebut,namun mereka hanya bisa terdiam saat melihat tempat itu tampak kosong.Ada beberapa kasur rawat dan alat medis yang cukup lengkap,namun tidak ada satu orang pun disana.


Terdengar suara gerungan mobil dari luar sana,sontak Gio langsung berlari ke arah jendela dan ia melihat sebuah mobil yang di tumpangi Aditya serta teman-temannya sudah pergi melarikan diri.


"Itu dia!" teriak Gio,sontak mereka berdua langsung pergi keluar ruangan kumuh tersebut dan memacu kendaraan nya dengan kesepakatan tinggi.Tak lama terdengar suara sirine polisi yang berada di belakang keduanya.


Benar firasat Arkana bahwa Aditya memang sedang masuk ke dalam daftar buronan polisi, mengingat dirinya sudah memberi perintah kepada Alfredo untuk membocorkan semua kejahatan nya kepada pihak kepolisian.


Karena mustahil untuk terkejar, Mereka memutuskan untuk mengambil jalan pintas dan mencegatnya di persimpangan jalan agar mereka lebih mudah tertangkap.


Para polisi itu langsung membekuk Aditya dan empat orang temannya yang berada di dalam sana.Kondisi Aditya memang terlihat parah,tetapi dia masih sanggup untuk berfikir dan berjalan.Ingatannya pun masih terpampang dengan sangat jelas.


"Sini Lo anjing!!" ucap Arkana yang langsung menarik baju Aditya dan menghantam wajah pria tersebut.


"Sudah sudah sudah" para polis tersebut langsung memisahkan mereka sebelum ada perkelahian fatal.


"Lepasin!" teriak Arkana.


"Sudah!"


"Capek-capek saya cari dia,terus sekarang hari di lolosin gitu aja?" tanya Arkana.


"Semua ada hukumnya,kami akan memproses kasus ini sebagaimana mestinya"


"Nggak!Dia harus hilang ingatan dulu baru saya biarin bapak bawa dia"


"Arka,Lo gila?" tanya Gio. "Udah biarin aja dia dibawa sama polisi"


"Gak,gak bisa.SINI LO ANJING!"


"Sebaiknya anda membawa pria ini untuk pergi menjauh dari tempat ini,kamu berjanji akan menindak lanjuti kasus berantai tersebut"


"Iya pak, sebelumnya kami berterimakasih banyak.Ayo buruan cabut" bisik nya kepada Arkana.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit Arkana terus melontarkan kata-kata kasarnya kepada Gio karena ia sangat merasa kesal jika harus meloloskan Aditya begitu saja.Mengingat sudah hampir beberapa waktu ini dirinya terus berusaha untuk mendapatkan laki-laki brengsek tersebut.


"Lo mau mati?" tanya Arkana kepada Gio.


"Mau,tapi nanti ada waktunya" kata Gio tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


"Gue bikin Lo mati secepatnya" ucap Arkana. "Arrgggh setan!"


"Gue tau Lo kesel,tapi dia juga bakal jalanin masa hukumannya.Gue seneng waktu denger kabar itu"


"Gue gak perduli dia mau dipenjara atau apapun,yang gue mau dia mati atau paling enggak ingatannya ilang kayak Aneska" ucap Arkana. "Gue pernah denger ucapan salah satu pemeran di serial drama genre psikopat yang sering nyokap gue tonton"


"Apa?" tanya Gio.Laki-laki itu sengaja merespon pertanyaan Arkana agar emosi nya bisa sedikit mereda.


"Mata dibalas mata,gigi dibalas gigi,darah dibalas darah" ucapnya. "Dan sekarang ungkapan yang mau gue kasih tau yaitu Darah di balas darah dan amnesia dibalas amnesia"


"Lo gak usah sama-samain antara serial drama sama kehidupan nyata Lo,lagian lo juga bukan psikopat jadi gak usah ngada-ngada"


"Tau dari mana kalau gue bukan psikopat?" tanya Arkana dengan sorot mata nya yang terlihat menyeramkan.


"Hasshh ngapain lo liatin gue kayak gitu?" tanya Gio gugup.


"Kadang seseorang harus lebih menyembunyikan identitas aslinya,orang yang terlihat lemah belum tentu lemah,orang yang terlihat kuat belum tentu kuat,bisa jadi orang yang terlihat kuat justru punya sifat yang lebih menyeramkan dari apa yang Lo tau sebelumnya" ucap Arkana.


"Mau gue tampol muka Lo?Udah berapa kali Lo ucapin kata-kata si psikopat itu sejak SMP? Udah basi,Lo bisa tipu orang lain tapi nggak dengan gue,Rafael dan Rizan"


"Ah Lo masih inget ternyata" sontak Arkana langsung menormalkan kembali tatapannya. "Ngomong-ngomong jangan bersikap seolah-olah Lo tau banyak tentang gue.Inget,Lo musuh gue.Status kita sekarang musuhan"


"Oke,oke.Tau gue juga,makanya sekarang Lo turun disini" Gio memberikan candaannya dengan balutan wajah datar yang terlihat serius.


"Apaansi maksud gue sekarang kita masih temenan,tapi nanti kalau udah di rumah sakit kita musuhan lagi"


"Cih,dasar" gumam Gio dengan senyum tipisnya.