
Semua mata tertuju pada mobil mewah yang Arkana gunakan untuk pergi ke sekolah bersama Aneska.Jarang melihat Arkana menggunakan mobil ke sekolah,maka kini mereka sangat tidak yakin bahwa Arkana tidak bermain-main dengan hubungan nya saat ini.
"Kok tumben Lo gak ke markas dulu?" tanya Bagas saat mereka tidak sengaja bertemu di parkiran.
"Iya nih, gue harus jemput Anes tadi"
"Kalau pulang sekolah Lo bisa kan?" tanya Bagas lagi.
"Kita liat aja nanti"
Sepanjang lorong sekolah,Arkana terus menggenggam erat tangan Aneska. "Arka lepas dong,malu tau banyak yang liat"
"Kamu malu jalan sama aku?" tanya Arkana sinis.
"Bu-bukan gitu maksudnya,tapi gak Haris pegangan tangan kayak gini kan?"
"Yaudah,tapi kalau pulang sekolah boleh ya?" ucapnya sambil tersenyum dan wanita itu hanya tersipu malu.
"Nes sorry ya semala gue gak nginep di rumah Lo,ada saudara gue datang dari luar kota soalnya" ucap Divia saat mereka sudah sampai di dalam kelas.
"Gak apa-apa kok,santai aja"
"Pulang sekolah ada waktu gak Nes?" tanya Aditya yang berjalan menghampiri wanita itu.
"Gak ada,mau ngapain Lo?" tanya Arkana sinis.
"Tadinya gue mau ajak Anes ke toko buku,buat beli beberapa buku perlengkapan OSIS"
"Gak usah,ajak yang lain aja!"
"Yaudah kalau Lo gak bisa Nes,gue minta temenin yang lain aja"
"Bagus" ucap Arkana.Wanita itu hanya tersenyum kecil sambil menatap wajah laki-laki tersebut.
"Maaf ya Dit"
"Iya gak apa-apa,gue ngerti kok.Lo juga harus istirahat cukup"
"Soal Kinandita kemarin,gue denger mereka bakal pindah sekolah deh" bisik Divia.
"Loh kenapa?"
"Mungkin karena kejadian kemarin, kayaknya dia gak bisa nahan malu sih" kata Divia. "Andai aja kemarin gue ada sama Lo,udah gue sambit juga muka tuh cewek"
"Untung Lo gak ada" ucap Aneska.
"Gak usah banyak bacot,gue tendang juga Lo lama-lama" gerutu Arkana kesal.
Tak lama datang kedua sahabat Arka yang langsung duduk di tempatnya.Rizan terlihat sangat kesal karena ia berfikir bahwa Arkana akan datang ke markas terlebih dahulu.Namun ternyata tidak.
"Kenapa muka lo di tekuk gitu?Gak dikasih uang jajan sama pak Samuel?" tanya Arkana.
"Dia kesel karena udah hampir satu jam nunggu Lo di markas,eh taunya Lo langsung pergi ke sini"
"Yaelah Jan, Biasanya juga gue sering pergi duluan tapi lo santai aja"
"Rizan,sorry ya gara-gara gue Arkana jadi gak bisa kumpul sama kalian dulu" ucap Aneska yang merasa tidak enak hati kepada teman-teman Arkana.
"Eh ngga,bukan gitu maksud gue Nes.Sumpah Lo jangan merasa gak enak hati gitu" ucap Rizan.
"Lo gak salah kok,Rizan cuma bercanda tadi"
...•••...
Karena kursi di kantin sangat penuh saat jam istirahat,Arkana memutuskan untuk membeli makanan dan membawanya ke taman sekolah untuk menikmati makanan tersebut bersama Aneska.
Wanita cantik itu langsung mematikan ponsel saat Arkana datang bersama makanan yang ia pesan. "Makanan datang!"
"Wah,hore!" seru Aneska sambil menepuk-nepuk tangan seperti anak kecil.
"Main yang banyak" laki-laki itu terus menatap Aneska yang sedang memakan lahap roti coklat kesukaan nya.
"Ngga"
"Loh kenapa?Aku pikir kamu juga beli makanan"
"Aku mau liatin kamu makan aja" ia terus menatap wajah Aneska hingga wanita itu terlihat sangat gugup.
"Jangan diliatin kayak gitu dong,kan jadi malu"
"Malu kenapa?Emang suap kamu besar?" laki-laki itu tersenyum mengejek.
"Ya kalau gak besar,susah makan nya gimana?"
"Perasaan beberapa bulan lalu kamu gak ada malu-malunya makan lahap di depan aku,hampir semua menu kamu habisin"
"Kamu jangan ungkit itu dong,Sekarang kan udah beda" Aneska memalingkan wajahnya malu. "Udah ah,gak jadi makan nya"
"Jangan dong,yaudah aku gak liat nih" Arkana mengalihkan pandangannya kearah depan sambil melihat beberapa siswa laki-laki yang sedang memainkan bola sepak.
"Makasih loh" ucap Aneska tiba-tiba.
"Buat apa?"
"Buat...ya buat semuanya.Makasih udah belain aku terus,udah jaga aku,selaku kasih apa yang aku mau"
"Gak usah berterimakasih juga kali,hal kayak gini kan wajar.Kamu kan pacar aku" Arkana berbicara tanpa menatap wajah Aneska sedikit pun.
"Emang kita pacaran?Kapan kamu nembak aku?Kapan aku bilang kalau aku mau jadi pacar kamu?" tanya Aneska.
"Iya juga ya,tapi apa harus di perjelas lagi?Gak perlu deh kayaknya" Aneska hanya tersenyum.
"Kita emang gak pacaran,tapi kamu punya aku" tanpa disadari Arkana menyandarkan kepalanya di bahu Aneska.
"Heh,kamu gak bisa liat tempat ya? Ini di sekolah tau" bisik Aneska yang sedikit menoyor kepala laki-laki itu.
"Oh iya lupa"
"Pacaran aja terus" cetus Bu Tesa yang sejak tadi sudah berdiri di belakang mereka.Sontak keduanya langsung menoleh ke belakang karena terkejut.
"Hah ibu?" gumam Aneska.
"Kalian gak bisa bedain mana sekolah,mana tempat pacaran?"
"Ibu kayak gak pernah muda aja" ucap Arkana.
"Arka" bisik Aneska.
"Lebih baik mana menurut ibu?Pacaran di tempat sepi terus tertutup atau di tempat rame terbuka kayak gini?"
"Gak ada yang bagus dua-duanya.Dari pada pacaran-pacaran kayak gini,lebih baik sekarang ibu bawa kalian berdua ke KUA untuk di nikahkan.Mau?" tanya Bu Tesa.
"Mau,ayo Bu"
"Arka" bisik Aneska lagi.
"Gak apa-apa Nes, itung-itung hemat biaya nikah nanti" ucap Arkana.
"Kamu apaan si" refleks saat mendengar perkataan laki-laki itu,Aneska langsung mencubit pinggang Arkana hingga ia sedikit meringis kesakitan.
"Kamu kok cubit-cubit?Nanti aku gigit nih"
Bu Tesa langsung mengernyitkan dahi nya karena bingung dengan kelakuan dua remaja yang ada di hadapan nya.Bukannya merasa takut dan meminta maaf,mereka justru semakin memperlihatkan kemesraan nya di hadapan sang guru konseling tersebut.
"Ibu ngapain si disitu terus?Emang gak ada siswa bermasalah?Ganggu nih" ucap Arkana.
"Sudah salah,kamu berani berkata seperti itu lagi.Anak siapa sih kamu!" teriak Bu Tesa kesal.
"Anak mama Erika dan papa Bintang" Arkana tersenyum manis.
"A-ahhh!!Ya ampun saya lupa, bilang sama orang tua kamu.Sebaik nya mereka segera pergi memindahkan kamu ke sekolah lain secepat mungkin.saya pusing jika harus terus menerus menghadapi siswa jiplakan seperti mereka di sekolah ini.Saya berharap kelak,kamu tidak akan memasukkan anak kamu untuk bersekolah di sini" setelah mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya,Bu Tesa langsung pergi meninggalkan mereka dan memutuskan untuk mengalah.