I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 45



Setelah mendapat kabar buruk dari Divia,Arkana langsung bergegas menuju rumah sakit bersama Rafael meskipun hari sudah larut malam.Kondisi Aneska melemah,tetapi tim medis belum bisa menemukan penyebab nya sampai detik itu juga.


Kondisi jalanan yang senggang membuat keduanya sangat leluasa untuk berkendara dengan kecepatan tinggi.Tidak ada kata rem bagi Arkana,bahkan Rafael sendiri pun bergidik ngeri saat melihat aksi ugal-ugalan yang dilakukan oleh pria tersebut.


Hanya terdengar suara langkah kaki Arkana dan Rafael di sepanjang koridor menuju ruang ICU dimana tempat Aneska sedang di tangani secara intensif.


Terlihat Divia yang sedang duduk di depan ruangan tersebut sambil menahan Isak tangisnya. "Gimana kondisi Anes sekarang?" tanya Arkana panik. "Jawab gue!" Teriaknya.


"Ka sabar,jangan teriak-teriak kayak gini.Kasian pasien lain" ucap Rafael yang berusaha menenangkan amarah Arkana.


"Kenapa bisa gini?" tanya Arkana lagi.


"Gue gak tau Ka,kondisi tubuh nya memburuk waktu Anes lagu tidur nyenyak.Bahkan dokter juga belum tau penyebab nya"


Arkana langsung menoleh ke arah kaca di mana ia bisa melihat kondisi Aneska dari kejauhan.Wanita itu sedang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit yang mengandalkan berbagai macam jenis alat bantu untuk mempertahankan nyawanya.


"Dokter nya kemana?" tanya Rafael kepada Divia.


"Mereka ada di ruangannya,baru aja mereka keluar sekitar 10 menit yang lalu"


"Yaudah Lo gak boleh nangis,kasian Aneska nya" ucap Rafael sambil merangkul tubuh Divia agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.



Arkana tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari wajah Aneska.Mata nya memerah penuh dengan emosi,lalu mengeluarkan air karena sangat takut jika harus kehilangan perempuan yang ia sayangi untuk kedua kalinya.


"Kamu gak akan pergi kan Nes?" bisik Arkana yang masih berdiri meratapi kondisi Aneska. "Bertahan satu hari aja,satu hari buat selamanya".


Awalnya ia masih terlihat sedikit tegar,namun di detik-detik terakhir setelah mengucapkan kalimat nya ia langsung berjongkok dan menangis tanpa suara. "Ya Allah tolong kasih kesembuhan buat Aneska" gumamnya.


"Ka..." Rafael yang sedang berusaha menenangkan Divia langsung berjalan menghampiri Arkana dan memeluknya sahabatnya. "Jangan nangis,gue jadi ikut sedih"


"Kalo Anes pergi tinggalin gue gimana?" tanya Arkana disela-sela tangisannya.


"Gak,Lo gak boleh ngomong gitu" ucap Rafael. "Div,Lo udah hubungi orang tuanya Aneska belum?"


"Sampai saat ini mereka belum bisa dihubungi,mereka lagi ada di luar kota"


"Gue mau mati aja rasanya" rengek Arkana sambil terus menendang-nendang di lantai layaknya seorang anak kecil.


"Gue yakin,malam ini Aneska pasti bakal siuman" Rafael terus berusaha untuk menenangkan sahabat nya. "Kita tunggu aja"


Karena tidak sanggup untuk menenangkan dua orang yang sedang dalam emosional,Rafael terus berusaha menghubungi Rizan agar laki-laki itu datang kesana untuk membantu nya.Namun hingga lebih dari puluhan panggilan tidak ia jawab,mungkin karena laki-laki itu sedang tertidur pulas.Wajar saja karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam.


Divia sudah tertidur pulas di kursi yang berada di depan ruangan tersebut, sementara Arkana dan Rafael sedang duduk termenung di lantai dengan wajah yang tidak karuan.


Semakin lama-lama rasa kantuk datang menghampiri Arkana,ia berusaha menahannya namun tidak bisa.Perlahan matanya mulai tertutup,namun tiba-tiba seseorang datang menghampiri dan membuat nya kembali membuka mata.


"Kenapa tidur disini?Kamu gak boleh tidur disini,kalau kamu sakit gimana?Siapa yang jagain aku" ucap Aneska dengan berbagai alat bantu yang masih menempel di tubuhnya.


"Anes?" gumam Arkana terperangah sambil mendongakkan kepalanya. "Anes kamu udah sadar?" wanita itu hanya tersenyum.


"Ini beneran kamu kan?" tanya Arkana yang langsung bangkit dari duduknya dan menggenggam tubuh Aneska dengan sangat berhati-hati.


"Gak kok,aku gak kritis.Aku baik-baik aja, buktinya sekarang aku bisa datang buat tegur kamu"


"Yaudah kamu masuk lagi,diluar dingin" kata Arkana.


"Enggak mau,aku mau jalan-jalan ke taman.Kamu mau temenin aku?" tanya Aneska.


"Gak,ini udah malem.Kami harus istirahat"


"Aku mau Arkana" wanita itu menatap wajah Arkana dengan sangat dalam hingga laki-laki itu merasa bahwa dirinya harus menuruti kemauan Aneska.


"Yaudah,Tapi sebentar aja ya"


"Iya"


"Ayo aku bantu" Arkana berjalan sedikit demi sedikit memapah Aneska untuk menuju taman.Sesampainya disana,wanita itu hanya menarik nafas lega sambil tersenyum manis.


"Janji sebentar aja ya"


"Iya" ucap Aneska. "Itu anak kucing ya?" tanya Aneska kepada Arkana.


"Iya"


"Kenapa dia ada di tengah jalan?Kalau ketabrak gimana?"


"Sebentar lagi juga pasti pergi"


Aneska langsung membuka alat bantu nafas dan selang infus lalu memberikan nya kepada Arakan. "Tolong pegang dulu sebentar"


"Eh kamu mau ngapain?Kamu harus selalu pake ini" ucap Arkana.


"Sebentar aja kok,aku cuma mau bawa kucing nya ke pinggir jalan" Aneska berjalan menghampiri kucing tersebut untuk memindahkan nya.


Namun sialnya tiba-tiba datang sebuah truk besar yang berjalan ugal-ugalan,Aneska tidak sempat menyelamatkan diri sementara Arkana yang baru melangkah lari langsung terdiam saat melihat wanita nya tertabrak truk dengan kondisi yang sangat menggemaskan di hadapannya. "Nes" ucap Arkana yang terus menatap tubuh Aneska yang sudah berlumuran darah.


"ANESKA!!!!ANESKA RABELLA!!!" Teriaknya. "ARRGGGHHHH!!!'


Ia terus berteriak histeris karena mendapati Aneska yang sudah tidak bernyawa.Detak jantung nya berhenti,begitu juga dengan denyut nadi nya. "ANESKA!!"


"Arka kenapa Lo?Bangun bangun!" ucap Rafael yang panik saat melihat sahabatnya tetsi berteriak ketika sedang tertidur pulas.


Laki-laki itu langsung membuka matanya dengan nafas terengah-engah serta keringat yang bercucuran.Arkana terus menoleh kesana kemari saat melihat dirinya sedang duduk di lantai bersama Rafael sementara Divia yang sedang berdiri menatap Aneska di dalam ruangan sana.


"Aneska" ucap Arkana yang langsung beranjak dari duduknya untuk melihat kondisi Aneska.


"Apa dia semalam keluar?" tanya Arkana.


"Apa maksud Lo?Dari semalam Anes belum sadar,kan Lo tau itu" ucap Rafael. "Lo mimpi ya?"


"Engga.Lupain aja"


Arkana langsung menghembuskan nafas lega saat menyadari bahwa peristiwa itu hanyalah mimpi nya saja.Hingga saat ini pun ia sangat bersyukur selagi Aneska masih bisa bernafas.