
Erika dan Bintang datang menjenguk Aneska saat malam hari,karena Bintang tidak mempunyai banyak waktu disiang hari nya.Saat itu Aneska sedang tertawa kecil karena ulah yang Arkana lakukan, laki-laki itu terus berusaha untuk menghibur wanitanya.
Sementara Rizan dan Rafael hanya menyaksikan keromantisan itu dari sofa dengan wajah masam.
"Arka udah,perut aku sakit" ucap Aneska dengan sisa tawanya.
"Yaudah yaudah"
"Ekhemm!!" gumam Rafael.
"Terus aja terus" sahut Rizan.
"Siapa sih mereka?" tanya Arkana kepada Aneska.
"Gak tau nih"
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.Aneska sangat terkejut dengan kedatangan orang tua Arkana malam itu. "Aneska kamu baik-baik aja kan?" tanya Erika yang langsung berjalan menghampiri Aneska.
"Iya Tante"
"Kamu gimana sih,udah tau Anes sakit gini masih aja nanya" ucap Bintang.
"Apa sih kamu,diem!"
"Yaudah" Bintang langsung membalikan badannya dan berjalan menuju sofa untuk berkumpul bersama Rafael dan Rizan. "Halo brother!"
"Halo om" jawab mereka bersamaan.
"Orang tua kalian sehat kan?" tanya Bintang.
"Gak usah basa-basi deh om,tadi siang kan om ketemu sama orang tua kita di kantor" kata Rizan.
"Oh iya,kamu tau dari mana?"
"Ya tau aja"
"Gimana kondisi kamu sekarang?" tanya Erika kepada Anes.
"Alhamdulillah lebih baik Tante"
"Dimana luka nya?" tanya Erika lagi.
"Disini"
"Aku belum pernah sih punya luka tembak,tapi pasti sakit banget ya?"
"Banget Tante"
"Siapa orang yang tega berbuat ulah kayak gini ke kamu" ucap Erika sambil menggenggam lembut tangan Aneska.
"Pasti nya orang yang gak suka sama aku"
"Arkana" panggil Erika.
"Iya mah?"
"Mulai detik ini dan seterusnya,kamu harus jagain Aneska.Jangan sampai dia ngalamin hal buruk kayak gini lagi,ngerti?"
"Iya aku ngerti"
"Gak apa kok tante,gak harus setiap saat di jagain.Kalau aku dirumah gimana?" tanya Aneska bergurau.
"Ya kalau gitu kita nikah aja sekarang biar aku bisa terus jagain kamu setiap di dalam rumah.Eh jangankan di dalam rumah,di dalam kamar juga bisa aku jagain" kata Arkana dengan wajah nya yang terlihat sangat serius.
Mendengar perkataan putranya,Erika langsung menarik daun telinga Arkana hingga laki-laki itu berteriak kesakitan. "A-AAAA!Mah sakit!"
"Lagian suruh siapa kamu bilang nikah-nikah?Kamu kira nikah gampang?" tanya Erika.
"Gampang,tinggal ijab kabul terus selesai kan?" tanya balik Arkana dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Erika.
"Nikahnya emang gampang,tapi kamu pikir kehidupan setelah nikah gampang?Kamu harus siap tanggung jawab lahir batin istri kamu,makan aja masih di suapin pake ngomong nikah segala" ucap Erika.
"Masih disuapin?" tanya Aneska sambil tersenyum kecil.
"Iya,masih di suapin"
"Sesekali doang mah,gak sering" kata Arkana.
"Sering,iya kan pah?" tanya Erika kepada Bintang.
"Iya betul Tante!" sahut Rizan dengan semangat.
"Apaan si gak ada yang ngajak lo ngomong" kata Arkana kesal.
"Manja banget si" ucap Aneska.
"Wajar gak sih Anak laki-laki manja sama mama nya?Emang papa mau manjain aku?"
"Yaudah deh,kalah" Arkana langsung menyerah dengan wajah pasrah nya. "Makanya kamu gak boleh nolak kalau aku minta suapin nanti"
Aneska tersenyum malu dan pipinya sedikit memerah. "Apa sih kamu"
"Cie malu-malu gitu" ucap Erika menggoda.
"Om tante,udah deh nikahin aja mereka sekarang.Aku udah mulai muak melihat keuwuan mereka" kata Rizan.
"Kamu aja yang om nikahin sama tetangga sebelah,dia janda" kata Bintang.
"Wah! Boleh-boleh nih,ayo kenalin ke aku om" seru Rizan.
"Janda cucu empat" seketika wajah Rizan langsung mematung dan yang lainnya hanya tertawa saat mendengar perkataan Bintang.
"Ayo kalau mau" lanjutnya.
"Gak usah makasih, cewek-cewek di sekolah aku jauh lebih menarik"
"Yaudah karena udah malem kita harus pulang,kamu juga harus istirahat biar cepet sembuh" kata Erika.
"Yah kok pulang,batu juga om sama Tante Dateng"
"Sebentar lagi jam besuk nya habis Aneska,Tante janji besok kita dateng lagi buat jenguk kamu"
"Yaudah hati-hati di jalan ya tante"
"Iya" kata Erika. "Mama pulang dulu ya,kamu jagain Aneska"
"Iya mah"
"Kalian gak pulang?" tanya Bintang kepada dua sahabat Arkana.
"Enggak dong om,kalau kita pulang siapa yang jagain mereka?" tanya Rafael.
"Dijagain,emang kenapa?" tanya balik Bintang.
"Laki-laki dan perempuan kan gak boleh berduaan di dalam satu ruangan om, apalagi malam-malam gini" timpal Rizan. "Nanti kalau khilaf gimana?"
BRUUGGGGG!!!
Botol plastik itu mendata tepat di wajah Rizan. "Lo pikir gue otak mesum?" tanya Arkana kesal.
"Ya namanya khilaf kan bisa aja"
"Heh ini rumah sakit,apa Lo pikir gue mau macem-macem disini?" tanya Arkana lagi.
"Namanya khilaf kan gak kenal tempat Ka" kata Rizan lagi.Ia terus membalas perkataan Arkana meskipun laki-laki itu sudah terlihat kesal.
"Apa Lo pikir gue mau mesumin Anes yang lagi sakit kayak gini?Bukan otak gue yang mesum,tapi otak lo yang sakit" kata Arkana.
"Udah udah udah,stop.Kepala aku sakit ngeliat kalian debat dari tadi" Aneska langsung angkat bicara saat dirinya sudah merasa tidak nyaman.
"Tau nih,ribut terus.Udah mama sama papa pulang dulu ya" ucap Erika.
"Hati-hati om Tante" kata Rafael.
...•••...
Di pagi hari Divia sudah berada di ruang rawat inap Aneska.Ia sengaja tidak masuk sekolah hanya karena ingin menjaga sahabat nya seharian.
Rafael meminta Arkana untuk pergi ke sekolah bersama mereka, awalnya Arka menolak namun pada akhirnya ia memilih untuk pergi e sekolah setelah mendengar alasan Rafael.
"Kita pergi ke sekolah hari ini,Lo harus cari pelaku sampai ketemu terus kasih pelajaran yang pantas buat dia"
Arkana hampir lupa dengan tujuan awalnya karena ia terlalu sibuk memperhatikan Aneska untuk membuatnya merasa jauh lebih baik.
"Kamu berangkat aja,lagian disini juga ada Divia" kata Aneska.
"Iya,gue bakal jagain Anes kok tenang aja"
"Yaudah,gue titip Anes ya.Jaga dia,jangan sampe lo tinggalin"
"Iya tenang aja"
"Yaudah" kata Arkana sambil memakai jaketnya. "Anes" panggil Arkana dengan suara lembutnya.
"Iya"
"Aku pergi dulu ya,kalau ada apa-apa langsung telfon aku" Arka menggenggam erat kedua bahu Aneska.
"Iya"
"Yaudah,ayo" ajaknya kepada Rizan dan Rafael.