
Sepanjang perjalanan Aneska terus memeluk erat tubuh Arkana secara sukarela,padahal laki-laki itu tidak meminta nya.Arkana sangat merasa senang karena tidak perlu ada perdebatan lagi diatas motor bersejarah ini.
"Mau makan apa?" Arkana terus menoleh kesana kemari untuk mencari beberapa restoran yang mereka lewati.
"Aku pengen makan bakso" Jika wanita kebanyakan akan mengatakan terserah karena gengsi nya,maka tidak dengan Aneska.Wanita itu akan berterus terang karena dirinya tidak mau menyusahkan diri sendiri.
"Dimana tukang bakso yang enak?" tanya Arkana.
"Aku tau,disana" tak butuh waktu lama mereka sampai di tukang bakso yang tempatnya berada di pinggiran taman kota.Suasana di taman itu cukup ramai,membuat Aneska bertambah betah jika harus berlama-lama di sana.
"Bang,bakso dua ya.Dua duanya jangan pake sayur,yang satu jangan pake sambel sama saos,bening aja" cara berbicara laki-laki itu terdengar seperti seorang rapper.
"Iya mas"
"Jangan panggil saya mas,saya masih SMA"
"Oh iya maaf dek"
"Nah itu kedengeran lebih bagus" ucap Arkana yang langsung duduk di samping Aneska.
"Apaan sih kamu,gitu aja di permasalahin" ucap Aneska sambil mencubit lengan Arkana.
"Habisnya aku dipanggil mas sama si Abang"
"Mas Arka,aku panggil kamu mas aja ya sekarang" ternyata semakin hari Aneska mulai tertular sifat Arkana yang sangat jahil kepada siapapun.
"Dih,jangan lah.Panggil sayang aja gimana?" goda Arkana dan wanita itu hanya tersenyum manis.
"Gak mau"
"Silahkan" ucap Abang tukang bakso sambil menghidangkan dua porsi bakso tersebut di meja.
"Serius nih bakso nya bening kayak gini?" tanya Aneska.
"Pake kecap aja"
"Huuftt...kalau tau gini mendung tadi aku pilih makanan yang lain" cetus Aneska dengan wajah cemberutnya.
"Tapi satu sendok aja"
"Dua"
"Yaudah gak usah"
"Oke,satu sendok" ucap Aneska dengan cepat saat mereka sedang melakukan negosiasi di hadapan Abang tukang bakso.
20 menit kemudian mereka telah menghabiskan semangkuk bakso tersebut,rasa begah menghantui Arkana.Laki-laki itu terus mengusap-usap perutnya dan berharap agar rasa begah itu segera berakhir.
Aneska hanya tersenyum kecil menatap laki-laki itu,kemudian ia ikut mengusap-usap lembut perut Arkana layaknya kepada seorang ibu hamil. "Udah berapa bulan nih?" tanya Aneska.
"Kurang lebih dua bulan" Aneska tertawa.
"Apaan si kamu jawab aja,yaudah yuk pulang" ajak Aneska.
"Pulang?masa pulang sih"
"Loh terus mau kemana lagi?" tanya Aneska bingung.
"Gimana kalau kita nongkrong dulu di taman sana,kita kan gak pernah pacaran di luar.Tuh liat disana banyak banget yang lagi pacaran"
Bukannya menjawab pertanyaan Arkana,wanita itu hanya senyum-senyum sendiri dengan rona merah alami di pipinya. "Kenapa senyum-senyum?Udah ayo buruan ah" Arkana menggenggam erat tangan Aneska dan membawanya menyeberangi jalan untuk menuju taman tersebut.
Arkana memilih untuk duduk di kursi yang letaknya jauh dari jangkauan anak-anak,hanya ada beberapa pasangan yang sedang asyik berbincang satu sama lain.Tentu saja tidak hanya sekedar mengobrol,sebagai persiapan Aneska membawa satu kantung plastik berisi makanan ringan untuk menemani waktu-waktu berpacaran nya.
"Kamu liat deh orang-orang pacarannya bawa bunga,coklat.Kenapa kita jadi bawa makanan gini kayak mau piknik?" tanya Arkana dengan tawanya.
"Gak apa-apa"
"Apa besok-besok perlu aku beliin bunga buat kamu?"
"Gak usah,kamu beliin makanan aja aku udah seneng"
Merasa lipstick berwarna natural nya telah luntur,Aneska mengeluarkan cermin kecil untuk memoles kembali warna indah tersebut.Bukan Arkana namanya jika tidak ingin mencoba hal-hal baru.Dengan berani ia meminta kepada wanita itu agar dirinya saja yang memakaikannya untuk Aneska.
"Emang kamu bisa?" tanya wanita itu yang tidak bisa mempercayai Arkana karena khawatir jika dirinya akan mengusili wajah cantik Aneska itu.
"Bisa,udah buruan" setelah merebut lipstick di tangan Aneska,mata Arkana hanya berfokus pada bagian bibir wanita itu.Sedangkan wanita di hadapannya hanya bisa berpasrah dan berharap semoga Arkana tidak akan menjahilinya.
Sedikit demi sedikit Arkana meratakan warna bibir Aneska,namun laki-laki mana yang tidak akan tergoda saat melihat bibir indah yang ada di hadapan nya.Arkana langsung terdiam dengan mata yang terus menatap tajam kearah bibir Aneska.
'Cium jangan cium jangan?'
Itulah pertanyaan yang ada di dalam benak Arkana,tidak henti-hentinya ia menggigit bibir bawah bagian dalamnya karena bingung harus berbuat apa.Keringat di pelipis nya mulai bercucuran,terapi Aneska hanya menatap wajah laki-laki itu dengan polosnya.
"Kenapa kok diem aja?" tanya Aneska.Lamunan Arkana langsung membuyar,ia sudah tersadar dari pikiran setan nya itu.Refleks Arkana langsung mencoret asal wajah Aneska hingga membuat wanita itu terlihat sangat kesal.
'Gak boleh,gak boleh,Dosa".
"Arkaa!!" Rengek Aneska yang mendapati wajah nya sudah tercoret oleh lipstick karena ulah Arkana. "Tuh kan dari tadi perasaan aku udah gak enak tau gak!"
"Lucu jangan di hapus"
"Berisik!Ah gak lucu Arkana,aku gak suka" wanita itu masih merengek dan memalingkan wajah nya karena kesal.
"Yah dia marah" keluh Arkana. "Yaudah maaf deh,tadi sengaja"
Arka mengambil air mineral yang ada di dalam kantung plastik lalu mulai membersihkan sedikit demi sedikit warna lipstick di wajah cantik Aneska.
"Udah,udah ilang"
"Lagian kamu kenapa sih,iseng banget"
"Udah ah jangan marah-marah terus,tuh liat disini gak ada yang marah-marah.Sini" Arkana mengulurkan tangannya agar wanita itu bisa mendekat kembali.
"Kamu mau nikah sama aku gak?" tanya Arkana.
"Engga" sontak Arkana langsung menatap wajah Aneska dengan sorot mata tajam.Karena ia terlalu menganggap serius perkataan Aneska tadi. "Kenapa?"
"Ya kalau sekarang aku gak mau lah,kalau kamu ngajak nya setelah lulus baru aku mau"
"Oh,aku kira kamu beneran gak mau nikah sama aku.Kalau nanti udah nikah,aku mau 6 anak.Biar bisa bikin geng motor sendiri" ucap Arkana dengan keangkuhan nya.
"Kamu pikir ngelahirin gak sakit?Aku ngebayangin nya aja udah panas dingin"
"Nyoba aja belum udah ngeluh duluan" Laki-laki itu kalau berbicara memang tidak pernah difikirkan terlebih dahulu.
"Yaudah kalau gitu nanti aku yang lahirin dua anak kita,sisa nya kamu lahirin.Sanggup gak?" tanya Aneska.
"Kalau aku yang lahirin, keluarnya dari mana.Nah kan jadi ngilu sendiri" Arkana langsung bergidik ngeri saat memikirkan perkataan nya sendiri. "Yaudah deh,dua aja gak usah banyak-banyak"
"Lagian kamu,lulus aja belum.Kelas 12 aja belum udah pikirin nikah aja,kalau kita gak jodoh gimana?"
"Ya gak mau tau pokoknya harus jodoh" Aneska tertawa.
Banyak sekali hal-hal yang mereka bicarakan sehingga bisa menghibur diri masing-masing.Begitupun waktu yang berlalu dengan sangat cepat,hari sudah semakin malam dan mereka baru menyadari itu.Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam,mereka memutuskan untuk pulang.
"Yah kamu gak bawa jaket ya?" Arkana memang sengaja tidak memberikan jaket atau sweater kepada Aneska tadi karena ia berfikir bahwa mereka pergi tidak akan lama.
Arkana membuka jaket yang sedang ia kenakan lalu memakainya di tubuh Aneska,tidak peduli dengan kesehatan nya yang terpenting Aneska aman.
"Kamu gimana?" tanya Aneska.
"Aku kan punya jaket hidup"
"Jaket hidup?"
"Kamu naik dulu deh" setelah mereka berada di atas motor,Arkana langsung menarik kedua lengan Aneska dan melingkarkan nya di pinggang Arkana. "Ini namanya jaket bernyawa"
"Yaudah kalau gitu aku peluk lebih erat lagi biar kamu gak kedinginan" mereka tertawa.