I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 13



Rafael,Daniel dan Arsenio berada di ruang UKS untuk mengobati luka-luka di wajah Rizan.Kini wajah tampan Rizan seketika menjadi mengenaskan karena ulah Edo dan teman-teman nya.


"Siapa si nama temen Lo itu?Gue tandain mukanya" kata Rizan kesal.


"Edo,emang gitu dia.Sok jagoan,tapi mainnya cuma di kelas doang" kata Daniel.


"Bisa-bisanya dia gak tau gue siapa?Gak kenal bokap gue dia?" tanya Rizan kepada dirinya sendiri.


"Lo juga gak usah banyak bacot,buktinya liat muka lo bisa kayak gitu" kata Rafael yang sibuk mencari obat untuk luka Rizan.


"Mereka delapan orang,lah gue sendiri.Mana badan gue di pegangin lagi"


"Eh anjing,ini obat nya yang mana si?Banyak banget gila!" gerutu Rafael yang pusing karena begitu banyak obat di dalam lemari tersebut.


Tiba-tiba Aneska datang bersama Divia,wanita itu langsung masuk ke dalam UKS untuk membantu Rizan mengobati lukanya.


"Minggir minggir" kata Divia.


"Mau ngapain Lo?" tanya Rafael.


"Mau ngobatin dia lah,kalian gak tau kan cara ngobatinnya gimana?" tanya Divia.


"Iya juga si,tapi emang Lo bisa?" tanya Rafael.


"Divia anggota PMR,jadi santai aja" sahut Aneska.


"Eh btw,Lo yang tadi gue titipin hp si Ijan kan?" tanya Arsenio kepada Divia.


"Iya"


"Terus mana hp nya?"


"Oh iya,ini" Aneska langsung memberikan ponsel itu kepada Rizan.


BRAKKK!!!


Arkana menendang pintu UKS dengan sekuat tenaga hingga mereka langsung berteriak karena terkejut. "ASTAGHFIRULLAH!"


"Ngapain lo disini?" tanya Arkana kepada Aneska dengan sorot matanya yang masih tajam.


"G-gue cuma mau kasih hp Rizan sekalian nganter Divia buat obatin luka Rizan" Aneska berbicara tanpa menatap wajah Arkana karena takut.


Arkana tidak memperdulikan perkataan Anes,ia berjalan menghampiri Rizan lalu mencengkeram dagu laki-laki tersebut sambil mendekatkan wajahnya untuk melihat kondisi luka di wajah Rizan.


"Anjing lo mau cium gue ya!" teriak Rizan yang langsung memalingkan wajahnya.


"Najis banget gue nyium lo.Gue rasa,Lo lebih ganteng kalo bonyok begini.Pertahanin,kalo bonyok nya udah ilang biar gue tambahin lagi" kata Arkana.


"Setan Lo!"


"Permisi" ucap seseorang dari luar ruangan.


"Ada apa?" tanya Aneska.


"Ada Arka dan Rizan disini?" tanya siswa perempuan tersebut.


"Ada"


"Kenapa?" tanya Arka yang langsung menghampiri mereka.


"Kalian di suruh menghadap kepala sekolah sekarang"


"Gue?"


"Iya"


Arkana langsung masuk kedalam tanpa mengucapkan kata apapun.Ia memang seperti itu,sangat sulit rasanya mengucapkan kata terimakasih kepada orang lain.


Gak sopan banget sih ni orang.


Ucap Aneska dalam hatinya.


"Makasih ya" kata Aneska.


"Sama-sama"


PLAKKK!!


Tanpa rasa iba,Arkana memukul kaki Rizan hingga laki-laki itu langsung berteriak kesakitan. "AAAAAANJING ARKA SAKIT!!" Teriaknya.


"Masih bisa jalan kan Lo?" tanya Arka.


"Tadi sih bisa,tapi kayaknya sekarang gak bisa deh gara-gara Lo pukul.SAKIT BEGO!"


"Kalo gak bisa jalan biar gue seret ke ruang kepala sekolah" ucap Arkana.


"A-a-a iya iya,bisa jalan gue.MASIH BERFUNGSI DENGAN BAIK KAKI GUE"


"Kita gimana?" tanya Daniel.


"Emang Lo bertiga mau ikut kita ke ruang kepsek?" tanya Arkana.


"Ya engga lah"


"Ya terus ngapain nanya?"


Mereka berdua pergi menuju ruang kepala sekolah dan terdiam satu sama lain sepanjang lorong kelas.Sementara mereka berlima kembali ke kelas nya masing-masing untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.


"Kamu beneran gak berbuat kesalahan apapun sama mereka?" tanya Pak Budi kepada Edo.


"Engga pak,sumpah.Tiba-tiba dia dateng ke kelas saya terus serang saya sama yang lainnya" kata Edo sambil mengompres luka lebamnya sendiri.


"Yang lainnya?" tanya Pak Budi.


"Iya temen-temen saya"


"Berapa orang?"


"Delapan"


"Delapan??" tanya pak Budi lagi,ia tercengang saat mendengar jumlah mereka yang delapan kali lipan dari Arkana.


"Meskipun kamu gak salah,tetap saja memalukan rasanya kalau sembilan orang lawan satu.Mana kalah lagi HAHAHA!!' Pak Budi tertawa terbahak-bahak sementara Bu tesa,pak Rama dan pak Udin hanya terdiam.


"Tapi Arkana gak mungkin serang kalian kalau kalian gak berbuat kesalahan,Arkana bukan tipe orang yang sembarangan mengajak berkelahi" Bu Tesa mengalihkan pembicaraan.


"Tapi itu kenyataan nya Bu,dia meresahkan.Seharusnya dia di keluar-"


"Assalamualaikum" ucap Arkana yang amsuk ke dalam ruangan bersama Rizan.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Apa dia sudah tobat?" tanya pak Udin kepada pak Rama.


"Sutts" bisik pak Rama.


"Ekhemm...silahkan duduk" kata pak Budi,kepala sekolah.


"Kenapa? kangen?" tanya Arkana.


"Kamu bisa tidak untuk bersikap lebih sopan kepada saya?" ucap pak Budi.


"Baik"


"Jelaskan apa yang terjadi"


"Saya korban disini pak,jadi saya yang harus jelasin duluan" kata Rizan.


"Kamu korban?Kok bisa?Saya kita hanya kalian yang bertengkar"


"Arka gak salah pak,dia cuma bela saya yang udah di hajar habis-habisan sama dia...Gedeg banget gue liat muka Lo Anj-"


"Hayo!" ucap Bu Tesa dengan tegas.


"Anjay" lanjut Rizan.


"Saya ke kelas dia buat cari temen saya,karena gak ada ya saya balik lagi dong.Eh tapi dia malah minta duit sama saya pak,dia pikir saya emak nya?" Rizan mulai menceritakan kejadian yang ia alami dengan cara bicaranya yang sangat lucu.


"Terus terus?" tanya Pak Budi yang semakin penasaran.


"Terus pas saya lagi sendok es ke mulut-"


"Kamu fikir kita sedang bercanda??" tanya Bu Tesa.


"Maaf Bu, abisnya tegang banget kayak lagi nungguin hasil testpack" ucap Rizan dengan santainya.


"Hei!!!Memang nya kamu tau apa itu testpack??Siapa wanita yang kami suruh memakai testpack?"


"Saya tau dari papa saya Bu,jangan marah-marah terus apa"


"Bokap Lo emang sesat sumpah" ucap Arkana tiba-tiba.


"Sudah sudah,saya minta kamu untuk serius kali ini saja"


"Oke pak"


"Karena saya gak mau kasih uang ke dia,dia suruh temen-temen nya itu buat ngehajar saya"


"Kenapa gak kamu lawan?"


"Mau saya lawan pak,tapi mereka pegangin badan saya.Susah dong jadinya" kata Rizan.


"Kenapa pernyataan kamu berbeda!" teriak pak Budi kepada Edo.


"Emang dia ngomong apa?" tanya Rizan.


"Katanya dia gak berbuat kesalahan apapun,Arka ngehajar dia tiba-tiba"


"Ampun Ka,sumpah ampun.Tadi bercanda doang kok pak beneran deh" rengek Edo.


"Jadi yang benar siapa?" tanya Pak Udin.


"Dia bener" kata Edo sambil menunjuk Rizan.


"Gue mah emang selalu benar" Sifat angkuh Rizan kembali muncul.


"Bapak akan menghukum kalian bertiga, sekaligus dengan delapan orang teman kamu" kata Pak Budi.


"Sembilan dong pak" sahut Rizan.


"Sama siapa lagi?" tanya Pak Budi kesal.


"Yang kunciin pintu?Sekongkol kan sama Lo?" tanya Rizan.


"Iya"


"Jadi total nya sembilan orang,sama dia jadi sepuluh"


"Bapak akan menghukum kalian semua" kata Pak Budi.


"Pak tolongin saya dong pak" ucap Arkana kepada pak Udin dan pria itu hanya menggelengkan kepalanya karena tidak bisa berbuat apapun.


"Karena disini kamu korban,maka yang akan saya panggil ke sekolah hanya kedua orang tua Arka dan Edo.Kalian terlibat perkelahian hebat hari ini" kata pak Budi.


"Kalian sanggup jika kedua orang tua di panggil untuk menghadap kepala sekolah"


"Jangan dong Bu, bisa-bisa saya tambah bonyok kalau ketauan mama saya" kata Edo.


"Kamu sanggup Arka?" tanya Bu Tesa sementara laki-laki itu hanya menaikkan kedua alisnya dengan angkuh.


"Haish anak yang satu ini" bisik Bu Tesa.


...•••...


"Arkana!" teriak Aneska dari kejauhan tetapi Arkana tidak menghiraukan,ia terus berjalan semakin menjauh bersama kedua sahabatnya.


"Di panggil tuh" kata Rizan.


"Kalo dia butuh nanti juga nyamperin"


"Udah Nes biarin aja,percuma dia gak akan mau" kata Aditya.


"Gak apa-apa coba aja dulu" Aneska langsung berlari menghampiri Arka.


"Tunggu dulu"


"Kan,apa gue bilang" bisik Arkana. "Kenapa?"


"Lo ada waktu kan siang ini?" tanya Aneska.


"Kenapa?Mau ajak gue jalan?Gak bisa" ucap Arkana yang langsung berjalan kembali.


"Tunggu dulu!!Siapa juga yang mau ajak Lo jalan"


"Terus apa?Minta anter pulang?Jangan ngarep,gue bukan tukang ojek Lo" lagi-lagi Arkana Kembali berjalan.


"Tunggu dulu!!" bentak Aneska.


"Lo hobi banget kayaknya bentak-bentak gue?" tanya Arkana sambil menatap wanita itu.


"Lagian Lo bisa gak si diem sebentar,gue kan lagi ngomong"


"Yaudah buruan"


"Bisa kan siang ini mampir sebentar ke ruang OSIS?Semua ketua kelas ikut kumpul buat bahas acara penyambutan menteri pendidikan nanti" kata Aneska.


"Gue?"


"Iya"


"Harus banget?"


"Harus"


"OGAH" tanpa banyak bicara Arkana langsung berjalan meninggalkan Aneska.


"Udah gak usah dipaksa.Bukan dia yang mau jadi ketua kelas kan?" tanya Rafael.


"Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik" lanjut Rizan.


Saat mereka bertiga pergi meninggalkan Aneska,Aditya langsung berjalan menghampiri Anes dan meminta nya untuk membiarkan kemauan Arkana.


"Apa gue bilang,dia gak akan mau.Gak masalah juga kok kalo gak ada dia,kan ada kita sebagai perwakilan kelasnya"


"Yaudah",


"Itu si Anes kan?Cewek kelas 11?" tanya salah satu wanita yang sejak tadi berdiri di belakang mereka.


"Iya" jawab Helia.


"Gue perhatiin dari kemarin-kemarin, kayaknya mereka sering bareng-bareng terus deh" lanjut Kamala.


"Wajar aja,mereka kan satu organisasi.Bisa di maklum kalau sering bareng" ucap Faranisa.


"Lo yakin mereka Deket cuma sebatas partner organisasi doang?" tanya Kamala yang semakin memanas-manasi Faranisa.


"Lo manas-manasin gue?" tanya Faranisa heran.


"Ya engga, feeling gue gak enak aja kalo liat si Anes"


"Cabut,ngapain jadi ngomongin orang" Faranisa langsung berjalan pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


Mereka bertiga adalah siswa kelas 12 IPA 1, hampir semua orang mengetahui bahwa Faranisa Gauri atau biasa di panggil Farah ini sangat menyukai Aditya.Ia gila-gilaan menyukai pria itu karena kepintaran dan juga ketegasan serta ketampanan nya.


Faranisa memang cukup berbeda.Disaat hampir semua siswa perempuan menyukai Arkana,ia lebih menyukai Aditya.Sebaliknya,ia sangat tidak menyukai Arka karema sifatnya yang nakal.


...•••...


Hari itu Arkana langsung pulang ke rumahnya karena ia sangat merasa lelah,saat sampai di halaman rumah Arka melihat kedua orang tuanya sedang berlatih bakat bela dirinya.Lengkap dengan pakaian dan juga perlengkapan berlatih.


"Satu dua!" teriak Bintang.


"Duel aja yuk" ajak Erika.


"Lah,masa aku lawan kamu sih?Gak mau lah" kata Bintang.


"Kamu gak boleh ngeremehin aku loh"


"Ya masa aku lawan cewek"


"Udah buruan,bilang aja takut" Erika langsung meloncat-loncat kegirangan diatas matras yang sengaja mereka taruh di halaman rumah.


Arkana hanya menyaksikan perilaku kedua orang tuanya dari kejauhan,ia hanya tersenyum kecil dan sesekali menggelengkan kepalanya karena melihat perilaku mereka yang begitu romantis.


"ADUH!!AMPUN AMPUN!!" teriak Bintang saat Erika berhasil menaklukkannya.


"Huuftt...Kalah kan?" ucap Erika sombong.


"Kamu makin hari makin jago aja nih" gerutu Bintang,padahal sebenarnya Bintang sengaja mengalah agar istrinya tidak berkecil hati.


"Hei,kamu udah pulang?Kok diem disitu?" tanya Erika saat melihat putra nya sedang duduk terdiam di atas motor.


"Habisnya kalian sibuk banget sih,aku jadi gak mau ganggu"


"Muka kamu kenapa?" tanya Erika panik.


"Biasalah mah,namanya juga cowok.Luka dikit masih wajar.Iya gak?" tanya Bintang sambil mengangkat tangan nya untuk mengajak Tos.


"Kamu berantem lagi?" tanya Erika.


"Kalau gak berantem gak akan gini dong" Arkana menunjuk wajahnya sambil tersenyum.


"Udah berkali-kali mama bilang,dimana pun asal jangan di muka.Kamu tuh ganteng,gak boleh ada luka sedikitpun di wajah kamu"


"Mama lebay banget si,nanti juga ilang" kata Arkana.


"Berantem sama siapa?"


"Yang jelas bukan sama orang baik" kata Arkana.


"Bagus,Harus bela kebaikan meskipun kamu bukan orang baik" kata Bintang.


"Nah, aduh lord deh ini" ucap Arkana. "Oh iya,besok mama sama papa disuruh Dateng ke sekolah buat menghadap kepala sekolah"


"Kita?" tanya Bintang.


"Ya iyalah kita,orang tua Arka siapa lagi?" ucap Erika sambil memukul Bintang.


"Yaudah besok kita Dateng" mata Bintang.


"Kalian gak marah?" tanya Arka.


"Marah sama siapa?" tanya Bintang.


"Sama aku lah"


"Emang kamu ngerasa salah?" tanya Erika.


"Engga sih,aku kan bela temen"


"Yaudah apanya yang mau di marahin?Emang kamu mau mama marahin?" tanya Erika.


"Ya enggak lah" Arkana langsung menyandarkan dahinya di bahu Erika sambil tersenyum kecil.