I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 68



Divia terus berusaha untuk mendengarkan pembicaraan keduanya di balik jendela.Tapi sialnya Aneska menyadari keberadaan Divia disana.Dengan cepat wanita itu langsung berlari menuju ruang keluarga agar Aneska tidak mencurigai nya.


"Mau masuk dulu?Minum teh" kata Aneska.


"Minum teh atau minum teh?" tanya Arkana dengan senyumnya yang mengisyaratkan sesuatu.


"Minum teh lah,kamu mikirin apa coba?"


"Engga,Divia ada?"


"Ada,itu mobilnya ada disana"


"Oh yaudah,kalau gitu aku pergi dulu.Kamu langsung bersih-bersih habis itu istirahat,jangan bergadang" ucap Arkana dengan tangannya yang sibuk memainkan rambut bagian depan Aneska.


"Siap komandan!"


"Yaudah aku pergi dulu"


"Kamu langsung pulang ya,jangan pergi kemana-mana lagi" seolah-olah Aneska sangat mencurigai bahwa Arkana tidak akan pulang, melainkan mampir terlebih dahulu ke suatu tempat untuk bertemu dengan teman-teman seper geng motorannya.


Arkana sendiri pun tidak menjawab ia atau bahkan menganggukkan kepalanya,ia hanya tersenyum manis sambil mengusap lembut bahu Aneska lalu pergi meninggalkan nya.


"Bener,dia gak denger perkataan gue" bisik nya.


Alih-alih fokus menonton acara televisi,sesekali wanita itu terus melirik kan mata nya ke arah Aneska dengan raut wajah curiga. "Darimana tuh jam segini baru pulang?Mana masih pake baju seragam lagi"


"Kepo!" ucap Aneska dengan sangat ketus, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Dih,kepo.Gue cuma nanya kali!"


...•••...


"Arkana kemana nih? Belakangan ini jarang bareng kumpul sama kita-kita" Arsenio terus berbicara dengan mata tertutup nya yang berusaha untuk menahan kantuk.


Suasana markas begitu sepi meskipun banyak orang disana.Mereka hanya terdiam satu sama lain karena tidak tahu apa yang harus di bicarakan dan juga bosan jika harus memainkan permainan yang sering mereka lakukan.


"Tau tuh,udah berapa kali gue telpon tapi gak di angkat" ucap Bagas.


"Gak aktif sih lebih tepatnya" sahut Davit.


"Nah iya itu maksud gue"


"Setau gue,ini cuma menurut gue aja ya" kata Oman.


"Apaan man?" tanya Bagas penasaran. "Buruan apa!Bikin gue penasaran aja Lo!" bentak nya.


"Ya sabar anjing!Baru juga gue tarik nafas" dengan gesitnya ia langsung menoyor kepala Bagas karena kesal. "Tadi barusan panggil gue apa Lo?Man?Kurang ajar Lo ya"


"Iya maaf bang yaelah"


"Menurut Lo apa?" tanya Rafael.


"Menurut gue,semenjak dia deket sama cewek yang namanya...." perkataan Oman terhenti sejenak karena ia tidak mengetahui siapa nama wanita yang dimaksud nya.


"Namanya?" tanya Arsenio.


"Yang tempo hari babak belur itu?" tanya Oman.


"Aneska?"


"Iya dia"


"Kenapa?" tanya Rafael.


"Menurut gue semenjak Arka Deket sama itu cewek,dia jadi agak berubah gak sih?"


"Berubah apanya?" Marvel.


"Ya berubah aja,emang lo pada gak ngerasain perbedaannya?Dari yang awalnya dia asik sekarang jadi biasa aja,dari yang awalnya dia sering kumpul bareng kita sekarang udah jarang banget,bahkan dia juga matiin telponnya" Oman terus mencurahkan isi hatinya kepada manusia-manusia yang sedang terdiam dengan wajah bodohnya itu.


"Apa maksud Lo?Gak usah kompor-komporin,semua punya keluarga masing-masing,punya urusan masing-masing juga.Lo gak bisa paksa Arka buat setiap hari terus bareng-bareng sama kita" ucap Rafael dengan sangat tegas.


"Ya gak usah ngegas juga kali,kan tadi gue udah bilang kalau itu cuma pendapat gue aja"


"Menurut gue juga gitu" sahut Ervan yang sejak tadi terus menutup mulutnya.


"Ya kan?"


"Berubah sih.Seharusnya pacaran boleh,tapi dia juga harus tetep jaga silaturahmi bareng kita"


"Iya juga sih" kata Arsenio.


Mereka semua kembali terdiam sambil merenungkan kembali perkataan Oman tadi hingga membuat suasana markas kembali menjadi sunyi.


"SIDE STEP RIGHT LEFT TO MY BEAT!!!" teriak Rizan yang sedang membuang air besar di dalam toilet.


"ANJING!" teriak Bagas terkejut.


"HEH SIAPA ITU?"


"HIGH LIKE THE MOON ROCK WITH ME BABY!!!!" lanjutnya.


"Ijan ya?" tanya Arsenio.


"Iya"


"Lagi ngapain si dia?"


"Lagi BAB" ucap Rafael yang langsung mematikan saklar lampu kamar mandi.Sontak laki-laki tersebut langsung berteriak histeris karena suasana di dalam yang begitu gelap dan tidak ada celah sedikitpun untuk cahaya menembus.


"AAARGGGHHH NYALAIN!SIAPA YANG MATIIN LAMPU MONYET!!", teriak Rizan.


"Gue,ngapa Lo?" tanya Rafael.


"Cebok aja pake mata batin"


"Ah gak lucu El,buruan nyalain lampu nya.Gue mau mati nih gara-gara nyium bau kotoran sendiri" rengek Rizan.


"Lagian lu ngapain si teriak-teriak di kamar mandi?Berisik tau gak!"


"Tau lu,suara kayak banci perapatan jalan aja belagu!" sahut Bagas dari kejauhan.


"Bacot Lo!" teriak nya. "El buruan ah!"


"Janji habis itu langsung keluar lo ya,gak usah teriak-teriak lagi"


"Iya janji".


Di per sekian detik,Rizan keluar dari toilet dengan wajahnya yang bercucuran keringat serta suara yang terengah-engah.Teman-temannya hanya menatap wajah lesu laki-laki itu dengan ekspresi yang terlihat sedang mencurigai nya.


"Kenapa lo liat-liat?" tanya Rizan.


"Lo habis ngapain?" tanya Rafael curiga.


"Gue habis BAB,ngapa lo nanya-nanya?"


"Terus kenapa ngos-ngosan gitu?Mana keringetan lagi"


Sontak Rizan langsung menatap kembali teman-teman nya dengan wajah gelagapan. "Heh mikir apaan Lo pada?Gak percaya?Cium nih pantat gue!"


"Dih najis!" gerutu Arsenio yang langsung memalingkan wajahnya.


"Udah tau gue habis konser,wajar lah kalau keringetan.Mana lagi sembelit gue"


"Terus lu ngapain si teriak-teriak kayak tadi?Gak boleh tau gak, pamali" ucap Oman kesal.


"Jiah pamali,tua amat lu" kata Rizan. "Gue tadi lagi asyik nyanyiin lagu BTS yang judulnya butter"


"Butter?Apaan tuh?Mentega?" tanya Bagas.


"Hmm,siapapun yang denger suara mereka pasti akan langsung meleleh seperti mentega yang sedang dipanaskan"


"Dih apaansi,alay banget Lo dih!" tanpa aba-aba Rafael mendorong hebat tubuh Rizan hingga laki-laki itu jatuh tersungkur di lantai lalu pergi meninggalkan nya.


"Jahat banget Lo!Bangunin gak!" Teriaknya.


"Bangun sendiri" Rafael yang sedang berjalan menuju teman-temannya langsung terdiam saat melihat Arkana yang baru saja sampai di depan markas.


Wajah nya yang berbinar-binar membuat Rafael semakin yakin bahwa perkataan Oman ada benarnya juga.Arkana telah menghabiskan waktu setengah hari nya untuk pergi bersama Aneska.


"Liat nih siapa yang datang" seru Arsenio dengan wajah nya yang tersenyum palsu.


"Wih rame nih" kata Arkana.


"Kemana aja nih gak ada kabar?" tanya Bagas.


"Apaan si,emang harus banget gue kasih kabar?" tanya balik Arkana.


"Ka boleh gak kalau gue keluarin unek-unek yang ada di dalam hati gue?" tanya Oman.Sontak semua orang yang berada di sana langsung menatap tajam wajah laki-laki tersebut sambil menggelengkan kepalanya tanda agar Oman tidak perlu mengatakan semua keluh kesah di dalam hatinya itu.


"Apa?Serius banget kayaknya"


"Belakangan ini-"


"Belakangan ini atap dapur selalu bocor,gimana kalau besok kita betulin?" Bagas mengalihkan pembicaraan.


"Bukan itu" kata Oman.


"Ssssttt" desis Bagas kesal.


"Ada apaan si?"


"Belakangan ini kenapa lo jarang banget kumpul sama kita?Bahkan tadi kita mau hubungi Lo aja susah banget" semua orang langsung memalingkan wajahnya ketika Oman berhasil menanyakan hal tersebut.


"Belakangan ini gue sibuk bang,semoga Lo bisa memaklumi", kata Arkana.


"Sibuk apa sih?Apa karena Aneska?" Arkana langsung terdiam menatap Oman dengan tatapan dinginnya.


"Bang udah lah" ucap Arsenio.


"Ayolah kenapa kalian jadi kayak gini?Baru aja beberapa menit yang lalu gue denger keluh kesah kalian" kata Oman.


"Keluh kesah?" tanya Arkana bingung.


"Gini Ka,maaf kalau menyinggung perasaan Lo" ucap Arsenio.


"Kenapa bang?Ngomong aja"


"Menurut kita,sekarang lo mulai berubah"


"Berubah?" tanya Arkana.


"Iya,jarang ada waktu buat kumpul bareng kita"


"Bahkan lo udah gak asik kayak dulu" sahut Bagas.Kedua sahabat terdekat Arkana hanya bisa terdiam.


"A-ashshh apaan sih Lo pada,gak ada yang berubah kok" ucap Rizan berbohong.


"Emang sih dari dulu lo sering banget Gonta ganti cewek,keluar bareng cewek,tapi kali ini beda"


"Masa sih?" tanya Arkana dengan wajahnya yang terlihat seperti sedang merasa bersalah.


"Gue gak punya maksud lain sih,gue cuma mau kasih tau itu aja sebelum Lo bener-bener jauh lebih berbeda lagi" kata Oman.


"Makasih tegurannya,Lo udah bikin gue jadi lebih introspeksi diri" ucap Arkana.