I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 71



Rafael dan Arsenio diminta untuk menjadi saksi terkait peristiwa tersebut di kantor polisi.Saat mendengar kabar bahwa karena menjadi salah satu korban dan di larikan kerumah sakit,Aneska beserta Rizan dan yang lainnya langsung bergegas menyusul laki-laki tersebut untuk melihat kondisinya.


Beruntung nya dokter mengatakan bahwa Arkana tidak memiliki luka serius, seluruhnya hanya luka sayatan yang tidak beresiko.Kini Arkana sudah berada di ruang rawat inap nya,ia di bolehkan pulang hari itu juga jika kondisi nya sudah benar-benar pulih.


Aneska cemas saat melihat Arkana sedang terbaring memejamkan matanya diatas kasur rumah sakit.Tapi kondisi Arkana tidak seburuk yang mereka pikirkan.Percayalah,sejak awal dipindahkan ia sudah tersadar.Namun saat mengetahui Aneska beserta teman-temannya yang lain datang untuk menjenguk,Arkana kembali memejamkan matanya seolah-olah belum tersadar.


Bukan karena ingin mencari perhatian,tapi ia merasa sangat malu jika harus menghadapi teman-temannya dengan kondisi tubuh yang terlihat lemah seperti itu.


"Yaampun Arka,kenapa sih harus cari masalah sama mereka?" Aneska mulai memasang raut wajah sedih nya.


"Dia baik-baik aja kan" tanya Rizan khawatir.


"Semoga sih gitu" ucap Galen.


"Kalau dia kenapa-kenapa gimana?Kalau dia gak bangun lagi gimana?" ucapan Rizan semakin mengacau tidak karuan.


"Rizan!" sontak Aneska langsung mencubit pinggang laki-laki itu karena kesal. "Bisa gak sih kalau ngomong di jaga?"


"Ya maaf maaf"


"Tapi dari luka nya,gue rasa gak ada yang serius" kata Ervan.


"Tapi kata dokter barusan,dia kehilangan banyak darah makanya pingsan" ucap Galen.


"Tapi kalau gue pikir-pikir,dia jadi keliatan lemah sekarang.Bukan seharusnya ketua selalu terlihat kuat meskipun lagi terbaring di rumah sakit?" tanya Rizan.


"Hashh Ijan sialan.Mati lo besok"


"Lo gila?" tanya Aneska sinis. "Arka juga manusia biasa,emang kalau pangkat nya ketua itu artinya dia gak bisa kelihatan lemah?"


"Lo kok sewot Mulu sih?" tanya Rizan.


"Lagian lo kurang ajar tau gak,kalau mau ngomong itu di pikir dulu.Punya otak kan?"


"Ya pun-"


"Oh gak punya pantesan" sambung Aneska.


"Eh gue belum selesai ngomong"


"Udah udah!Kenapa jadi ribut gini sih?Kalian gak liat ada pasien yang belum sadarkan diri?" tanya Galen.


"Ya maaf, habisnya dia ngeselin" kata Aneska.


"Au ah,gua Mulu"


Seketika suasana tampak hening,tak lama terdengar suara pintu ruangan terbuka yang menampakkan seorang wanita cantik dan juga pria tampan.Siapa lagi kalau bukan kedua orang tua Arkana.


Wajah mereka terlihat cemas,namun tidak berlebihan.


"Arka yaampun sayang wajah kamu jadi kayak gini" ucap Erika sambil mengusap lembut wajah putranya itu.


"Kenapa bisa terjadi peristiwa seperti ini sih?" tanya Erika kepada teman-teman nya.Mereka mulai menjelaskan secara rinci dari awal mula hingga alasan mengapa Arkana bisa terbaring di rumah sakit.


Aneska terheran-heran saat melihat raut wajah Erika dan Bintang yang terlihat tidak begitu terkejut dengan peperangan yang putranya lakukan, seolah-olah mereka sudah terbiasa dengan hal itu.


"Arka baik-baik aja kan tante?" tanya Aneska.


"Iya,Arka pasti akan baik-baik aja"


Saat sedang menatap wajah putranya yang sedang terbaring itu, tiba-tiba Bintang merasa heran saat melihat pergerakan cepat di mata Arkana.Ia penasaran,maka secara diam-diam ia kembali menatap tajam wajah Arkana untuk memastikan apakah itu disengaja atau tidak.


Bintang menyadari jika sebelah mata Arkana sedikit terbuka dan menatap nya,ia langsung tersenyum kecil saat mengetahui bahwa putra tunggal nya itu sedang melakukan akting karena malu dengan kondisi nya saat ini.


"Oke karena Arkana butuh istirahat,gimana kalau kalian sekarang pulang dulu?Besok kalian bisa datang kesini lagi" perkataannya terdengar seperti sedang mengusir,dengan cepat mereka semua langsung menoleh ke arah ayah satu anak itu.


"Kok kamu usir mereka?Gak sopan tau" omel Erika.


"Tapi sebentar lagi jam besuk habis,Arkana juga harus istirahat,mereka juga" kata Bintang.


"Udah gak apa-apa tante,Om Bintang bener kalau kita harus pulang.Mau gimanapun Arkana juga butuh waktu istirahat yang tenang" ucap Aneska.


"Iya Tante,kalau gitu kita pamit ya" lanjut Galen.


"Yah,tapi besok kalian dateng kesini lagi oke?" tanya Erika.


"Oke madam!" seru Rizan.


"Madam madam matamu,sekali lagi panggil madam aku hukum mati mau?" ancam Erika.


"Hukum mati, emang saya koruptor?" tanya Rizan.


"Emang koruptor dihukum mati?" tanya Galen.


"Eh,gak juga sih" ucap Rizan. "Tapi ucapan Tante keren juga,kayak mafia-mafia di film Hollywood gitu"


Seketika wajah Erika mulai pias. "Berisik,udah sana pulang!"


"Yaudah kalau gitu aku pulang dulu ya om tante"


"Hati-hati ya Aneska"


Saat mereka sudah keluar dari ruangan,Bintang langsung membuka paksa selimut yang sedang Arkana gunakan.Tentu saja hal itu membuat Erika langsung membelalakkan matanya dengan penuh amarah kepada Bintang.


"Kamu kenapa sih? Arkana lagi sakit loh!"


"Suuuttt!!" ucap Bintang yang mengerucutkan bibirnya. "Bangun.Udah bangun gak usah akting!"


"Sakit sakit" rengek Arkana berpura-pura.


"Loh,kamu udah sadar?" tanya Erika terkejut.


"Sejak kapan kamu siuman?" tanya Bintang.


"Tadi"


"Tadi kapan?"


"Waktu lagi dipindahin keruangan ini" kata Arkana.


"Terus kenapa kamu gak buka mata buat bicara sama teman-teman kamu tadi,ada Aneska juga.Kasihan loh mereka pergi gitu aja" kata Erika.


"Aku terlalu malu mah buat hadapin mereka,apalagi Aneska" gerutunya.


"Malu?" tanya Bintang bingung.


"Iya malu.Mereka kan taunya aku ini kuat,kebal,tahan banting.Mau disimpan dimana muka aku kalau mereka lihat kondisi aku yang lemah lesu kayak gini?"


"Bisa-bisanya masih punya gengsi padahal lagi sakit" gerutu Erika.


"Terus kondisi kamu gimana?Udah mendingan?" tanya Bintang.


"Udah"


"Kalau gitu sekarang kamu cerita kenapa bisa kayak gini?Apa permasalahan awalnya?" meskipun sudah mendengarkan perkataan Rizan tadi,Bintang masih belum merasa puas jika belum mendengar penjelasan langsung dari mulut putranya yang bersangkutan.


Arkana mulai menjelaskan dari poin awal hingga akhir permasalahan itu.Arkana juga memberitahu siapa dalang dibalik jatuhnya korban-korban tidak bersalah.Wajah Erika langsung terperangah saat mendengar nama Resya yang Arkana ucapkan.


"Terus sekarang dimana orang-orang itu? Orang-orang yang ada di bawah kekuasaan perintah Aditya sama orang tuanya?" tanya Bintang dengan raut wajah serius.


"Aku tau dimana tempatnya, tapi aku gak tau alamat jelas nya.Tapi papa bisa minta sama orang kepercayaan itu,dia tau semuanya" kata Arkana.


"Oke,mereka gak bisa dibiarin gitu aja.Percuma kita susah payah tangkap dalangnya kalau centeng-centeng nya masih belum diamankan juga" kata Bintang.


"Papa mau apa?" tanya Arkana curiga.


"Gak usah tanya,kamu fokus aja buat pulihin kondisi kamu"