I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 17



Setelah membersihkan diri,Arkana merasa sangat bosan.Lalu ia mengambil sebatang rokok dan pergi ke balkon kamar untuk bersantai sambil menikmati suasana halaman rumahnya di malam hari.


Ia menghubungi Aneska dengan panggilan video untuk mengganggu wanita itu lagi.Sementara Aneska tak kunjung menerima panggilan karena ia sudah tertidur di meja belajarnya.


Suara dering telpon yang terus berbunyi membuat Anes langsung terlonjak kaget dan segera mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubungi nya.


"Halo?Div kalo mau curhat besok aja deh,ngantuk banget gue" ucap Aneska dengan wajah nya yang masih setengah sadar.


"Halo?Div?Tumben Lo diem aja?" Ketik Anes membuka matanya,ia sangat terkejut saat melihat wajah Arkana yang sedang menatap dirinya sambil menghisap sebatang rokok.


"HAAAA!!" refleks Anes melemparkan ponselnya ke sembarang arah.Arkana hanya mendengus kecil saat melihat perilaku Aneska tadi.


Aneska berjalan merangkak untuk mengambil ponselnya,ia mengintip wajah Arkana untuk memastikan bahwa laki-laki itu benar Arkana atau bukan. "Haduh..." bisiknya.


"Mana nih?Gue bilang harus Lo kirim malam ini juga" kata Arkana.


Dengan cepat Aneska meraih ponselnya untuk berbicara dengan Arkana. "Lo manusiawi gak sih?Ini udah malem gue ngantuk banget,besok masih bisa kan?Kenapa harus malam ini juga?"


"Karena gue mau nya malam ini juga"


Aneska menghembuskan nafas kesalnya,ia menyadari tidak ada gunanya berbicara panjang lebar dengan laki-laki yang satu ini. "Gue kirim sekarang"


"Gitu dong,jadi gak perlu ribut-ribut dul-" belum selesai Arkana menyelesaikan perkataannya,Aneska sudah mematikan panggilan itu hingga membuat Arkana langsung terdiam kesal.


"Berani-beraninya dia matiin telpon gue?Kenapa dia kurang ajar banget sama gue?"


Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi,tetapi bukan ponsel yang sedang ia genggam melainkan ponselnya yang lain.Arkana menggunakan banyak ponsel hanya untuk bersenang-senang.Tetapi ponsel yang sedang digenggamnya ia gunakan sebagai ponsel khusus untuk kepentingan bersama keluarga dan teman-teman.


"Haishhh...Dia lagi" bisik nya yang langsung menerima panggilan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Halo Arka?" sapa wanita diseberang sana.Wanita ini bernama Ratna,ia wanita kesekian yang sedang dekat dengan Arkana.


"Hmmm..."


"Kamu lagi apa?"


"Aku lagi...lagi mikirin kamu" meskipun suara nya terdengar seperti sungguhan,tetapi wajah nya tidak bisa berbohong.Wajah Arkana sangat muram saat pertama kali menerima panggilan dari Ratna.


"Kamu bisa aja,besok kita ketemuan bisa gak?Kayak biasa kamu jemput aku pulang sekolah"


"Besok ya?Emm...kebetulan besok aku harus anter mama shopping,kamu tau sendiri lah aku sama mama itu deket banget" kata Arkana.


"Oh yaudah,kalau weekend aja gimana?" tanya Ratna.


"Kita liat aja deh nanti"


"Yaudah kalo gitu kamu tidur ya,jangan bergadang,jangan lupa makan juga" ocehan Ratna membuat Arkana langsung menjauhkan ponsel dari telinga nya dengan wajah malas.


"Jangan deket-deket sama cewek lain,jangan lupa mimpiin aku juga ya"


"Arggghh lo pikir gue mau mimpi buruk?" bisik Arkana


"Hahah iya.Iya mahh??" teriak Arkana tiba-tiba seolah-olah Erika sedang memanggil namanya,padahal sama sekali tidak ada orang yang memanggil. "Udah dulu ya,aku di panggil mama"


"Ih kamu sosweet bang-"


Tak mau mendengarkan perkataan nya lagi Arkana langsung mematikan panggilan tersebut dan melemparkan ponselnya ke tempat tidur.


"Bisa-bisanya gue ngegebet cewek modelan gitu,hiiih!" ucap Arkana. "Waktu itu gue nemu dimana sih?"


...•••...


Suasana di sekolah sudah sangat ramai,siswa mulai berdatangan satu persatu dan memasuki kelas mereka masing-masing.Sepanjang perjalanan menuju kelas,Aneska terus terdiam dengan langkah kecilnya yang terlihat kebingungan.Ia sangat ingin menolak kembali tawaran Arkana kemarin.


"Hai Nes" sapa Aditya yang tiba-tiba berjalan di sebelah Aneska.


"Hai Dit.Tumben baru Dateng, biasanya lo selalu Dateng pagi" kata Aneska.


"Iya nih,tau sendiri gimana macetnya jalanan Jakarta.Lo kenapa kok kayak bingung gitu?" tanya Aditya.


"Hah?Engga kok,gak apa-apa"


"Kalo ada masalah cerita aja,siapa tau gue bisa kasih solusinya" ucap Aditya sambil merangkul Aneska hingga membuat wanita itu langsung tersenyum kikuk tidak berdaya.


"Haduh sialan jantung gue"


"Lo liat kan?Makin hari makin nempel aja.Itu yang namanya partner organisasi?" tanya Helena kepada Faranisa.Saat mereka hendak menuju kelasnya dilantai tiga,tidak sengaja mereka melihat pemandangan yang sedikit tidak mengenakan bagi Faranisa.


"Lo gak bisa terus diem kayak gini si Far" sahut Kamala.


"Emang nya Lo mau kalah saing sama adik kelas modelan Anes?" tanya Helia.


"Bisa diem gak sih Lo berdua?Kalian pikir gue gak punya rencana?" tanya Faranisa kesal dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Yaudah si Far tungguin!"


"Oh iya Dit,jangan kayak gini.Takutnya mereka salah faham" kata Aneska.


"Oh iya sorry sorry Nes"


"Gak apa-apa kok"


"Soal acara itu,buat kalian yang mau ngisi acara bisa latihan mulai hari ini di ruang seni.Btw Lo gak mau ikutan Nes?Lo pernah jadi juara solo vokal tahun lalu kan?" tanya Aditya.


"Hah?Iya"


"Kenapa gak ikutan?"


"I-itu...Dit"


"Kenapa?" tanya Adit.


"Sebenernya gue mau kolaborasi" kata Aneska.


"Wah Serius?Sama siapa?" tanya Aditya antusias.


"Masalahnya...Sama Arkana" bisikan Anes membuat Adit langsung menjauhkan wajahnya nya dari Aneska.


"Arka? Serius Lo mau kolaborasi sama dia?" teriak Aditya.


"Suuttt!!!" jangan teriak nanti mereka denger,gue takut kalau mereka-"


"Bentar lagi bel masuk nih,Lo mau dihukum?" tanya Arkana yang datang tiba-tiba dan langsung menarik tali tas Aneska hingga wanita itu kesulitan untuk melangkahkan kakinya.


"Heh ngapain Lo"


"Bukannya lo paling anti dihukum?Terus ngapain malah ngerumpi di sana?"


"Yaudah tapi jangan kayak gini dong,kalo mereka mikir yang aneh-aneh gimana?" tanya Aneska tetapi laki-laki itu tidak memperdulikan perkataan nya dan terus menarik tali tas Anes hingga masuk kedalam kelas.


"Lepasin!" teriakan Aneska membuat teman-teman sekelasnya langsung menoleh ke arah mereka dengan wajah yang bertanya-tanya.


"*Ngapain mereka?"


"Ngapain si Anes deket-deket sama cowok gue?"


"Ada apaan nih*?"


Bisikan-bisikan itu membuat Anes langsung terdiam dan dengan segera menarik kembali tali tas nya hingga terlepas dari tangan Arkana.


"Lo denger kan?Gimana kalo mereka tau kita mau kolaborasi? Mending batalin aja deh,lo tampil sendirian" bisik Aneska yang langsung berjalan menuju tempat duduk nya.


"Lo kenapa Nes?Lo bikin masalah sama Arka?" tanya Divia cemas.


"Engga"


"Terus kenapa Arkana kayak gitu? jangan bilang..."


"Apa?Gak usah mikir yang macem-macem ya!" ucap Aneska dengan tegas.


"Engga,gak mungkin juga sih"


"Gak mungkin apanya?" tanya Anes.


"Ngga bukan apa-apa"


"Gue mau kolaborasi sama Aneska!" teriak Arkana kepada teman-temannya untuk memberitahu tentang hal tersebut.


"Arka!" bisik Aneska panik.


"Hah?" ucap mereka serempak.


"Nanti gue mau kolaborasi sama Aneska,tunggu aja nanti" ucapnya.Sontak seluruh siswa wanita langsung menoleh ke arah Aneska dengan tatapan tajam mereka hingga membuat wanita itu langsing terdiam tidak berdaya.


"Haduh mati gue"


"Beneran Nes?" tanya Divia.


"Gue tunggu kolaborasi Lo berdua!!" teriak salah satu dari mereka hingga membuat suasana kelas menjadi sangat ramai.


Aneska langsung membelalakkan matanya karena tidak menyangka jika teman-teman sekelasnya akan mengapresiasi dengan baik.


...•••...


Jam istirahat telah tiba, seperti biasa Aneska dan Divia langsung bergegas menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang mulai terasa sangat lapar.


"Eh rok lo kenapa itu?Kok ada merah-merahnya?" tanya salah satu siswa laki-laki teman sekelas Aneska.


"Hah?Mana?" tanya Aneska, sementara Divia langsung memeriksa rok bagian belakang Anes.


"Nes gawat,bulan ini lo udah datang bulan belum?" bisik Divia.


"Kayaknya itu noda darah deh,lo datang bulan kayaknya"


"Hah?Aduh gimana dong?" tanya Aneska yang langsung menyandarkan tubuhnya di dinding agar para siswa tidak bisa melihatnya.


"Itu cuma obat merah kok,tadi kita habis dari UKS sebelum masuk" kata Divia kepada laki-laki tersebut.


"Oh gue kirain apaan"


"Gimana dong?Pasti nanti darahnya tambah banyak" Aneska masih tetap dalam posisinya dengan wajah yang terlihat sangat panik.


"Kita ke toilet aja deh"


"Tapi nanti darah nya keliatan"


"Gue tutupin"


"Tapi ini banyak banget,pasti keliatan.Malu tau" bisik Aneska.


Tiba-tiba Arkana dan kedua sahabatnya keluar kelas untuk menuju kantin,ia langsung melemparkan jaketnya dan mendarat tepat di kepala Aneska.Arkana sengaja melakukan itu untuk membantu Anes menutupi noda darah dengan jaketnya.


Meskipun berniat membantu,Arkana tidak mengucapkan sepatah kata pun dan tetap melanjutkan langkahnya dengan wajah angkuh.


"Heh,bisa sopan dikit gak sih?" tanya Aneska.


"Suuutt!!Jangan marah-marah sama dia,mau lo di serang sama cewek-cewek tukang war?" tanya Divia. "Dia mau bantu lo deh kayaknya,udah pake aja.Lumayan buat nutupin rok Lo"


"T-tapi"


"Makasih banget ya,baik banget deh Lo"


"Baru tau kalo gue baik?Udah buruan sana!"


Beberapa menit kemudian,Aneska merasa lega karena noda darah nya sudah teratasi.Kemudian ia mencuci jaket Arkana yang terkena sedikit noda darah dan sialnya noda kecil itu tidak mau hilang.


Setelah jam pelajaran selesai, seluruh siswa yang ikut serta dalam acara terus harus meluangkan waktunya untuk berlatih selama beberapa jam.


"Ngapain Lo disini?" tanya Arkana kepada dua orang laki-laki yang sedang berlatih di ruang seni.


"Lagi latihan kak" kata siswa kelas 10 itu.


"Cabut,mau gua pake ruangannya"


"Yaudah barengan aja sih" kata Aneska.


"Gue gak bisa konsentrasi kalo terlalu rame.Cabut buruan"


"Iya kak"


Kedua laki-laki itu langsung menuruti perintah Arkana karena ia tidak mau jika harus berurusan panjang dengan pria tersebut.


"Emang ini sekolah milik bokap Lo apa?" tanya Aneska.


"Iya,kenapa emang?" tanya Arkana.


"Serius?"


"E-engga bercanda doang"


"Oh iya, ngomong-ngomong jaket lo gak bisa gue balikin hari ini.Besok aja gimana?Noda nya susah ilang,harus pake sabun" kata Aneska sambil mengeluarkan jaket milik Arkana.


Arka hanya menatap jaketnya dengan sangat aneh,ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika noda itu tidak mau hilang dari jaketnya.


"Buang aja"


"Buang?" tanya Aneska yang langsung membelalakkan matanya.


"Iya buang,ngapain ribet-ribet kalo gak bisa ilang?" tanya Arkana.


"T-tapi gue liat...ini brand mahal loh.Gimana bisa Lo buang-buang jaket mahal kayak gini?"


"Yaudah kalo lo mau ambil aja"


"Lo ngomong seolah-olah gue ini kayak lagi ngemis tau gak?"


"Yaudah terserah Lo deh,apa kata Lo aja"


Mereka mulai berlatih dan menyanyikan lagu tersebut secara bersamaan,namun tiba-tiba Aneska menghentikan nyanyian nya karena rasa lapar datang menghampiri.


"Ngapain berhenti sih?Udah bagus tadi" omel Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari gitar.


"Aduh laper banget gue"


"Laper,tadi istirahat kan lo udah makan.Masa jam segini udah laper lagi?"


"Tadi gue gak sempet makan,Lo kan tau tadi gue sibuk bersih-"


"Iya udah udah udah gak usah dilanjutin gue udah tau.Kalo gitu kita lanjutin besok aja, sekarang pulang"


"Eh sebagai bentuk rasa terimakasih gue,Lo mau gak gue traktir?Gue tau banget tempat makanan yang enak-enak.Gak jauh kok,disek-"


"Gak"


Wajah senyum tulus Aneska langsung berubah seketika saat Arkana menolak tawaran yang belum Aneska selesaikan ucapannya.


"Yaudah kalo gak mau" tanpa berkata apa-apa lagi Anes langsung berjalan keluar ruangan meninggalkan Arkana.


Saat Aneska hendak menyeberang jalan,Arkana menghentikan motor nya di hadapan Anes hingga membuat wanita itu langsung memalingkan wajah seolah-olah tidak ada Arkana disana.


"Buruan naik,kebetulan gue kehabisan uang jajan" ucap Arka sambil memberikan sebuah helm kepada Aneska.


"Gak makasih gue mau pulang" Aneska berbicara tanpa menatap wajah Arkana.


Tak mau berbasa-basi,Arka turun dari motornya dan berjalan menghampiri Aneska lalu memakaikan helm itu dengan asal. "Baperan banget lo jadi cewek"


"Ishh!!!Gue bilang gak mau" teriak Aneska sambil membenarkan helm tersebut lalu naik ke motor Arkana.Tindakan nya sangat berbanding terbalik dengan ucapan yang baru saja ia katakan.


"Gak usah ngebut-ngebut"


Sepanjang perjalanan mereka saling terdiam satu sama lain.Arkana fokus mengendarai motornya dengan kecepatan stabil dan Aneska yang terus menatap ke arah toko-toko yang berjejer sepanjang jalan.


"Dimana tempatnya?" tanya Arka.


"Udah jalan aja,nanti gue kasih tau.Eh itu itu itu!!!" Aneska memberitahu tempat itu secara tiba-tiba hingga Arkana langsung mengerem motor secara mendadak.


"Ck! Bisa gak sih dari jauh-jauh kasih tau nya?" ucap Arkana kesal.


"Ya sorry,gue kan inget-inget lupa"


"Yaudah turun"


Mereka memesan beberapa makanan dan minuman lalu menunggu beberapa saat sampai pelayan mengantar pesanan mereka.Tiba-tiba Arkana melihat sekumpulan wanita yang sedang duduk tidak jauh dari tempat Arkana dan Anes.


Arkana mengernyitkan dahi nya seperti mengenal salah satu dari mereka.Saat wanita tersebut kembali menatap Arkana, laki-laki itu langsung menutup wajahnya menggunakan buku menu karena ternyata wanita itu adalah salah satu dari mantan wanita yang pernah dekat dengannya.


"Kenapa Lo?" tanya Aneska.


"Tukeran tempat duduk"


"Hah.Kenapa?"


"Udah gak usah banyak nanya,buruan!" bisik Arkana.


"Ada apa sih?" tanya Anes lagi setelah mereka menukar tempat duduknya.


"Gak apa-apa,pengen muntah aja kalo duduk di situ"


"Silahkan" ucap pelayan yang menghidangkan pesanan mereka.


"HAAA.Lo pesen banyak banget?Lo makan sebanyak ini?" tanya Aneska.


"Kan lo traktir, kapan lagi coba?" tanya Arkana.


"Tapi ini diluar budget gue!!" bisik Aneska.


Mendengar perkataan Aneska,Arka tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya karena baru kali ini ada wanita yang berbicara terang-terangan dihadapan nya tanpa rasa malu.


"Yah gimana dong?Masa kita harus cuci piring?" tanya Arkana. "Gue kan udah bilang kalo uang jajan gue abis"


"Lagian lo udah tau budget pas-pasan,kenapa malah sok-sokan mau traktir gue?" tanya Arkana lagi.


"Bukan gue yang sok-sokan,tapi lo nya yang gak tau diri" bisik Aneska.


"Yaudah makan aja dulu,kenapa jadi ngomongin masalah bayar gini"


"Hhh.Lo aja yang makan" kata Aneska sambil melipat kedua tangannya di dada.


Arkana hanya berbohong saat ia mengatakan bahwa uang jajan nya telah habis,ia juga sengaja memesan banyak makanan karena dirinya yang akan membayar nanti.Ia hanya berpura-pura karena memang Arkana sangat senang menjahili siapapun.


"Udah makan aja dulu,gak mahal kok.Gue yakin uang lo pasti cukup"


"Serius?" tanya Aneska. "Kira-kira total.berapa?"


"Seratusan lah" ucap Arkana asal.


"Huhh!Cukup dong"


"Makanya makan aja dulu.Kebetulan lagi diskon katanya"


"Kata siapa?"


"Kata gue barusan" Aneska langsung memutar kedua bola matanya jengkel.


Semua makanan sudah habis,tidak ada yang tersisa sedikit pun.Arkana hanya menatap wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan aneh.Bagaimana bisa dia menghabiskan banyak makanan sekaligus.


"Kenapa Lo liat-liat?" tanya Aneska dan Arkana langsung memalingkan wajahnya.


"Perasaan gue tadi lo nolak buat makan deh,kenapa sekarang jadi Lo yang habisin semua makanan ini?" tanya Arkana.


"Namanya juga laper" cetus Aneska.


"Gue pikir Lo cewek anggun,pendiam.Ternyata salah,makan banyak banget gak ada anggun-anggun nya di depan gue.Kayak babi tau gak Lo?" .


"Heh kurang ajar!" Aneska langsung melempar Arkana dengan tisu yang baru saja ia pakai untuk mengelap mulutnya.


"Dih jorok banget Lo!".


"Lagian Lo barusan bilang gue kayak babi"


"Tau gak apa yang kayak babi?Porsi makan Lo banyak banget,badan Lo kayak babi baru tau rasa"


"Udah deh gak usah banyak ngomong,gue lagi datang bulan jangan sampe gue obrak-abrik muka lo"


"Yaudah ayo pulang"


"Bentar gue bayar dulu" kata Anes.


"Gak usah gue aja"


"Lo mau bayar pake apaan?Duit jajan Lo kan udah abis" ucap Anes sambil bertolak pinggang.


"Lo lupa ya siapa gue?Nih" Arkana menunjukkan dompet tebalnya kepada Aneska.


"Berarti Lo bohongin gue?"


"Udah gue bayar dulu"


"Gak usah gue aja!Gue kan yang mau traktir"


Arkana menatap wanita itu dengan jengah, sebenarnya ia tidak mau jika Anes harus mengeluarkan uang untuk membayar makanannya.Namun jika menolak,Anes pasti berfikir bahwa Arkana tidak menghargai kebaikan nya.


"Yaudah mana sini uang nya,biar gue yang bayar"


Setelah Anes memberikan uang nya,Arkana langsung berjalan menuju kasir untuk membayar semua makanan yang mereka pesan.


"Mas saya mau bayar pesanan tadi"


"Dimeja nomor berapa mas?" tanya balik pria tersebut.


"Nomor 9.Jangan keras-keras suara nya" ucap Arkana.


"Semuanya jadi Rp.450.000" bisiknya.


Arkana langsung memberikan uang kepada penjaga kasir tersebut sambil tersenyum menahan tawa,ia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya jika Aneska yang membayar langsung.


"Makasih ya mas"