I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 72



Suasana di pekarangan sekolah masih terlihat sedikit berantakan,tetapi pembelajaran tetap dilakukan mengingat sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir untuk pergantian semester.


Aneska datang ke sekolah bersama Divia dengan mobilnya.Saat mereka sampai di kelas,semua siswa terlihat sedang sibuk membicarakan kekacauan yang terjadi kemarin.Mereka memberikan cerita versinya masing-masing. "Kemarin kacau banget ya?" tanya Divia saat mereka sudah berada di kursinya.


"Parah"


"Lo baik-baik aja kan Nes?Gak ada yang luka kan?"


"Gak ada,kemarin gue berhasil sembunyi sama Salsa" tersenyum kecil. "Tapi gue masih khawatir sama kondisi Arka, soalnya dari semalam masih belum ada kabar tentang kondisinya"


"Coba Lo telpon aja Tante Erika atau Arkana nya langsung"


Tak lama teman Arkana itu berjalan memasuki kelas sambil merangkul satu sama lain dengan wajah mereka yang berseri-seri seolah tidak ada hal mengerikan yang terjadi kemarin.


"Ijan" panggil Aneska sambil beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua laki-laki tersebut.


"Apa sayangku?" tanya Rizan santai.


"Udah dapet kabar belum tentang kondisi Arka? Gue khawatir banget dari semalam belum dapet kabar dari Tante Erika atau om bintang"


"Aduh lo gak dikasih tau sama madam?" tanya Rizan yang langsung melepaskan rangkulan Rafael.


"Apa?"


"Arka udah siuman tadi malem, kondisinya gak terlalu parah tapi dia masih harus di rawat inap".


"Syukur deh kalau gitu" Aneska menghembuskan nafas lega sambil kembali duduk di kursinya.


"Pulang sekolah kita mau ke rumah sakit?Lo mau i-" belum selesai mengucapkan perkataan nya,Aneska langsung memotong ucapan Rafael karena sudah tahu betul apa yang akan dikatakan oleh laki-laki tersebut.


"Mau"


"Buset,cepet banget neng" goda Rizan.


"Gue ikut boleh?" tanya Divia yang sejak tadi duduk menyimak pembicaraan mereka.


"Boleh dong boleh,apa sih yang gak boleh?" Irzan berbicara dengan nada seperti sedang mengejek wanita tersebut.


"Bisa gak ngomong nya biasa aja?" tanya Divia kesal.


"Gak bisa,mau apa?"


"Berantem aja terus, lama-lama gue bawa juga nih ke MUI" ucap Rafael jengah.


"Apaansi MUI,MUA aja sekalian"


...•••...


Salsabila,Divia,dan Aneska sedang menikmati makan siang mereka di kantin bersama dengan beberapa siswa laki-laki dari kelas sebelah.Bahkan saat makan siang pun para siswa masih sibuk membicarakan peristiwa kemarin tanpa merasa bosan sedikit pun.


"Tau gak kejadian kemarin?Anjir banget sih pecah parah!" ucap salah satu siswa laki-laki dari kelas 11.


"Gue kemarin gak masuk sih,jadi gak tau apa-apa" ucap yang lainnya.


"Bersyukur lo gak ada,kemarin waktu pulang sekolah gue panik banget buat amanin anak-anak yang lainnya" ucap ketua OSIS yang baru.


"Anak-anak?Udah tua dia?" gumam Salsabila membuat Aneska hanya tersenyum kecil.


"Amanin gimana?Lo bantu lawan mereka?"


"Ya engga lah,Gue teriak-teriak ke yang lain buat masuk lagi ke sekolah habis itu gue kunci gerbang biar mereka gak nerobos masuk" dengan bangganya ia menceritakan hal kemarin yang menurut nya sangat hebat.


Salsabila yang mendengar perkataan pria dihadapannya langsung menatap tajam dengan gertakan gigi yang menggambarkan ia sedang kesal. "Sialan!!" teriaknya.


"Apa?Kenapa?"


"Brengsek sialan!Kemarin lo kunci gerbang dan gak biarin gue sama Aneska masuk padahal gue udah teriak-teriak sampe mau mati tau gak!" teriak Salsabila kesal.


"Udah Sal malu diliatin" bisik Aneska yang berusaha untuk menenangkan temannya itu.


"Ketua OSIS apanya?" Ia mengangkat mangkuk berisi sambal dan hampir ingin menyiramkan nya ke wajah pria tersebut.


"Y-ya maaf maaf,kemarin kan panik jadi gak sadar.Belum lagi suara teriakan yang lain bikin suara Lo jadi gak kedengeran" ucap ketos.


"Halah alesan"


"Tapi sekarang kalian baik-baik aja kan? Aman-aman aja kan?Jadi gak ada yang harus dipermasalahkan lagi"


Rizan datang bersama teman geng motor nya.Mereka mengusir tiga laki-laki itu dan duduk bersama Aneska dan yang lainnya.Rizan dengan sifat usilnya terus berusaha untuk membuat Divia kesal dengan cara mengganggu nya,namun wanita itu memilih untuk pergi daripada harus menghadapi tingkah kejahilan laki-laki tersebut.


"Disini" berpindah tempat duduk dan bergabung dengan teman satu kelas yang lain.


"Kalian baik-baik aja?Sebagian dari kalian ada yang ikut berantem langsung kemarin" tanya Aneska kepada mereka.


"Yaampun terharu banget ibu negara tanya keadaan kita" ucap Arsenio sambil tersenyum tipis.


"Ya berkat kalian juga mereka gak sampe masuk ke sekolah,jadi gak ada korban yang gak bersalah" saat Rizan hendak berbicara untuk membanggakan diri nya,ponsel Aneska berbunyi.Alangkah bahagia nya ia saat melihat nama Arkana di layar ponselnya.


"Sebentar ya" ia berjalan menjauh dari mereka.


"Halo" suara serak basah itu terdengar menyenangkan bagi Aneska.


"Kamu udah siuman?" tanya Aneska.


"Udah semalam,kamu lagi apa?Dimana?Sama siapa?Udah makan belum?"


"Banyak banget ya pertanyaan kamu"


"Iya aku khawatir karena gak ada di dekat kamu,kamu baik-baik aja kan?" tanya Arkana lagi.


"Iya aku baik-baik aja kok"


"Pulang sekolah kesini ya,aku mau liat muka kamu"


"Iya nanti aku kesana sama yang lain,mau aku bawain apa?Buah?Makanan?" tanya Aneska.


"Aku mau kamu,udah cukup" mendengar hal itu Aneska hanya bisa tersenyum karena salah tingkah sambil mengigit bibirnya dan menatap langit yang begitu cerah.


Teman-temannya yang melihat tingkah Aneska hanya bisa menggelengkan kepala karena mengerti bahwa kedua manusia itu sedang terjebak dalam lingkaran asmara.


"Apa perlu gue cari pacar juga?" tanya Rizan kepada dirinya sendiri.


"Emang ada yang mau sama lo?" pernyataan Bagas menyakitkan.


"Parah banget lo" ucap Arsenio.


"Tau nih, terlalu meremehkan"


"Tapi emang beneran ada yang mau?" tanya Arsenio.


"Sama aja lo, tua-tua minus akhlak" melemparkan gulungan tisu kepada kakak kelasnya itu.


"Kamu lagi makan siang sama siapa?Jangan berani-beraninya makan sama cowok lain loh"


"Engga,aku lagi di kantin makan sama Salsa terus ada temen-temen kamu juga" ucap Aneska.


"Temen aku?Siapa?"


"Ijan,Rafael, ada kelas 11 ips sama kelas 12 juga"


"Boleh tolong kasih hp kamu dulu ke mereka?Aku mau ngomong sebentar"


"Iya boleh,tunggu sebentar" berjalan kembali menghampiri mereka yang sedang menatap kearahnya. "Kenapa?" tanya Aneska.


"Gak,gak apa-apa" kata Arsen.


"Ini Arka mau ngomong" memberikan ponselnya.


"Sama siapa?" tanya Rafael.


"Siapapun yang mau" seketika mereka langsung berebut ponsel Aneska karena ingin berbicara dengan sahabat nya itu.


"Diem gak lo pada,Awas-awas!" ucap Arsenio sambil memukul-mukul pelan lengan mereka agar dirinya saja yang berbicara dengan Arkana.


"Halo gimana kabar lo ka?" tanya Arsenio.


"Baik,nanti lo gak usah kesini.Lo langsung ke markas aja karena khawatir mereka datang ke markas"


"Iya siap"


"Gue mau ngomong sama Rafael", Arsenio langsung memberikan ponsel tersebut kepada Rafael.


"Halo ka,kenapa?" tanya Rafael.


"Gue titip Aneska sama Lo ya,sebisa mungkin tolong anter jemput dia kalau lagi gak ada temennya"


"Iya,udah lo santai aja.Fokus pulihin kondisi Lo,nanti pulang sekolah kita kesana buat jenguk Lo"