
"Arka" ucap Aneska kepada laki-laki yang sedang duduk di atas motornya saat mereka sudah sampai di depan rumah Aneska.
"Apa?"
"Aku cuma mau ingetin kamu.Nanti kalau kamu sama Winda kerja kelompok entah kapan,aku gak mau ya kalau kamu sampe cuekin dia"
"Emang kenapa?" tanya Arkana. "Bukannya bagus kalau aku cuekin perempuan lain?"
"Ya kamu gak boleh cuekin temen kelompok kamu, namanya kelompok berarti harus kerja sama.Jangan sampe bikin dia bingung karena kamu cuekin terus,ngerti?" menatap tegas kearah Arkana.
"Iya iya,cuma kali ini aja" tersenyum manis.
"Yaudah aku masuk ya,kamu hati-hati dijalan" mengusap lembut telapak tangan laki-laki itu.
"Iyaaa"
"Aku serius loh,kamu jangan ngebut dan harus hati-hati dijalan"
"Iya sayang ku yaampun" mencubit gemas kedua pipi Aneska hingga wanita itu meringis kesakitan.
...•••...
Di pagi hari Aneska sudah disibukkan dengan rapat osis yang diadakan secara mendadak.Bahkan saat bel berbunyi pun mereka masih terus melanjutkan rapat tersebut karena benar-benar harus mengatasi persoalan-persoalan penting mengingat sudah hampir beberapa Minggu mereka tidak mengadakan rapat mingguan.
Semua siswa berjalan cepat memasuki kelas masing-masing diiringi oleh suara bel yang terus menerus berbunyi.Sangat berbeda dengan Arkana yang berjalan santai dan tidak menghiraukan kericuhan disekitar nya.
"Arkana" panggil seorang wanita dari arah belakangnya.Laki-laki itu langsung berhenti melangkah dan menoleh kearah wanita tersebut.
Tentu saja firasatnya benar,wanita itu bukanlah Aneska melainkan Winda. "Lo mau ke kelas kan?" Lelaki itu mengangguk pelan. "Yaudah kalau gitu bareng aja"
"Kita kan satu kelompok, kira-kira kapan kita bisa kerjain tugasnya?" tanya Winda dengan kaki yang terus melangkah.
Arkana terdiam sejenak dengan mata yang tertuju lurus ke depan,namun dirinya tiba-tiba mengingat perkataan Aneska kemarin. "Terserah"
"Besok?"
"Lusa aja gimana?Besok gue ada urusan soalnya"
"Oke, kapanpun gue bisa" tersenyum manis. "Oh iya,boleh minta nomor lo ga?Biar gampang ngabarin kalau mau kerja kelompok nanti" memberikan ponselnya kepada Arkana dan laki-laki itupun mengetik nomor nya disana.
"Oke,nanti gue chat kalau ada kepentingan" memasuki ruang kelas mendahului Arkana.
Laki-laki itu menoleh kesana kemari ketika mendapati Aneska tidak ada di kursinya.Bahkan guru mata pelajaran pun belum masuk pada saat itu juga.
"Anes kemana?" tanya nya kepada Divia.
"Rapat"
"Oh rapat,kok gak kabarin gue ya" mengecek ponselnya.
"Mendadak tadi,lagian masih disekitar sekolah kok gak kemana-mana"
"Anak baru" panggil Salsa kepada Winda.
"Anak baru anak baru,dua punya nama" ucap Rizan dengan suara tinggi nya.
"Siapa namanya?Gue lupa" bisik Salsa.
"Winda Winda"
"Oh iya sorry,Winda gue boleh minta nomor lo?" tanya Salsabila sambil mengulurkan tangannya.
"Boleh,ini" memberikan ponsel kepada wanita itu.
"Nih,gue udah kirim undangan ya.Jadi besok lo harus dateng ke acara birthday party gue oke?"
"Serius gue di undang?" tanya Winda antusias dan Salsabila hanya mengangguk.
"Yaampun makasih ya udah undang gue,gue pasti datang"
"Makasih juga udah mau dateng"
"Kok lo gak bilang makasih sama gue juga?" tanya Rizan.
"Buat apa?" tanya balik Salsabila dengan wajah sinis nya.
"Ya karena udah mau dateng ke acara ultah lo"
"Emang lo diundang?Tanpa gue undang aja lo pasti dateng kan?" Rizan terdiam.
Bel istirahat sudah berbunyi,tetapi Aneska masih belum kembali ke kelas.Ia pun sudah memberitahu Arkana melalu chat bahwa dirinya tidak akan terlambat keluar dan menyuruh Arkana untuk makan siang terlebih dahulu bersama yang lainnya.
"Aduh!Sakit" mengusap kepalanya.
"Lo ngatain pacar gue babu sekolah?" tanya Arkana.
"Gak gitu, maksud gue kecuali Aneska.Wah dia mah primadona kelas ya gak El?"
"Gak tau" ucap Rafael yang langsung pergi bersama Arkana meninggalkan laki-laki tersebut.
...•••...
Hari ini teman-teman Arkana yang lain tidak terlihat keberadaan mereka di kantin baik Arsenio maupun Bagas.Setelah memesan makanan mereka duduk di tempat yang kosong dan hanya ada mereka bertiga.
Di persekian detik datanglah Divia,Salsa dan Winda yang menoleh kesana kemari karena bingung harus duduk dimana melihat suasana kantin yang begitu ramai.
"Oh disana kosong,ada Arka juga" ucap Salsabila yang langsung berjalan cepat menghampiri teman laki-laki nya itu.
"WOY!" dengan sengaja Salsa memukul pundak Rizan hingga laki-laki itu melemparkan ponselnya karena terkejut.
"Ah gak lucu lo,hp gue retak" gerutu Rizan kesal.
"Yaelah hp doang,tinggal minta bokap lo nanti juga pasti dibeliin lagi" duduk di samping Rafael.
"Ya tapi kan data-data nya,gue males kalo harus pindahin lagi" mengusap-usap ponselnya dengan sangat lembut.
"Data-data,kayak orang sibuk aja lo.Emang lo sering ngerjain tugas sampe punya banyak data?" tanya Divia.
"Ya kalau data tugas sih cuma dikit,tapi ada data yang lebih penting tau gak?"
"Data apa emang nya?Judi online lo ya?"
"Enak aja,bukan lah"
"Terus?" tanya Salsa.
"Ya ada,kalian pasti tau lah" ucap Rizan sambil tersenyum kikuk. "Kasih tau El"
"Dih ogah banget,udah kalian gak perlu tau" kata Rafael.
Makanan mereka datang,Winda duduk tepat dihadapan Arkana.Sementara laki-laki itu berada diantara kedua sahabatnya.Mereka makan cukup lahap,terutama Rizan yang mengunyah tanpa mengenal jeda.
Dari kejauhan terlihat Aneska baru saja memasuki area kantin,ia melihat kumpulan teman-teman nya sedang menikmati makanan.Namun ekspresi wajahnya menjadi sedikit datar saat melihat kedekatan Arkana dan Winda yang bersenda gurau serta duduk saling berhadapan.
Namun pemikiran positif nya muncul begitu saja,dirinya berpikir hal itu wajar karena sebelumnya ia pernah mengatakan bahwa Arkana tidak boleh bersikap cuek kepada Winda yang merupakan siswa baru disana.
Ia memesan makanan,lalu menghampiri mereka.Aneska bingung harus duduk dimana karena hari ini Winda merebut posisi nya yang selalu makan dan duduk dihadapan Arkana.
"Eh Anes,udah selesai rapatnya?" tanya Divia.
"Udah" kemudian ia memilih untuk duduk di sebelah Rizan.
Arkana merasa ada yang beda,ia tidak bisa seperti itu.Laki-laki itu langsung beranjak dari duduknya sambil membawa makanan yang sedang ia nikmati laku berpindah tempat duduk di sebelah Aneska.
"Mau coba?" tanya Arkana sambil menyuapi makanan tersebut kepada Aneska.
"Aku udah hapal rasanya,hampir setiap hari akan aku pesen ini" ucap Aneska sambil tersenyum.
"Ya gak apa-apa,kamu pasti laper kan dari pagi sampe sekarang rapat nya baru selesai.Udah pesen belum?"
"Udah tadi"
"Yaelah iya deh yang pacaran,sampe duduk aja gak bisa jauh-jauh" goda Divia.
"Sirik aja lo,makanya punya pacar" celetuk Rizan dengan mulutnya yang dipenuhi oleh makanan.
"Lah lo sendiri aja gak punya pacar" ucap Divia kesal.
"Yaudah ayo lo mau sama gue?Pacaran kita sekarang" seketika Arkana dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Rizan dengan tatapan terkejut.
"Dih ogah banget!"
"Ya Alhamdulillah banget lo gak mau sama gue,sial kalau misalkan lo mau jadi pacar gue huekk!!'
"Jorok!Lagi makan juga" Salsabila memukul laki-laki itu dengan garpu ditangannya.
"Aduh Winda sorry banget ya,mereka emang kayak gini" ucap Divia kepada wanita yang sejak tadi hanya terdiam menyaksikan keributan mereka.
"Iya gak apa-apa santai aja kok"