
Arkana tidak menghubungi Bintang terlebih dahulu untuk menanyakan dimana keberadaan nya sekarang.Ia sudah hafal betul jika jam 8 malam papa nya masih berada di kantor.
Ia memarkirkan motornya di sembarang tempat lalu berlari cepat untuk memasuki gedung perusahaan tersebut.Dua orang satpam yang melihatnya langsung menghalangi jalan Arkana untuk masuk ke dalam sana. "Maaf ada keperluan apa?" tanya satpam tersebut.
"Tolong perlihatkan kartu tanda pengenal" ucap lainnya.Tanpa menjawab apapun Arkana langsung memberontak untuk menyingkirkan kedua penjaga itu,namun tidak berhasil. "Tidak bisa seperti ini,silahkan perlihatkan tanda pengenal dan jelaskan apa maksud tujuan kamu datang kemari"
"Minggir!" teriak Arkana kesal.
"Hei kamu jangan kurang ajar ya, perusahaan ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang!" laki-laki itu kembali meneriaki Arkana.
Beberapa orang yang berada di sana hanya menyaksikan keributan tersebut.Tak lama seorang satpam yang lainnya datang menghampiri mereka bertiga untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya satpam tersebut.
"Ini pak,ada anak berandalan memaksa untuk masuk kedalam.Pasti dia akan membuat keributan"
Satpam yang baru datang itu langsung terperangah saat melihat wajah anak muda yang baru saja di maki-maki oleh kedua satpam tersebut.Ia mengetahui bahwa Arkana adalah putera tunggal pemilik perusahaan itu.
"Astaga,tuan maaf mereka baru satu Minggu bekerja disini" ucap pria tersebut.
"Apa maksud nya?Kenapa bapak minta maaf sama dia?"
"Minggir minggir!Cepat buka pintunya!"
"Tapi kenapa?" ucapnya menentang.
"Kalau kalian terus memberhentikan langkahnya,maka pekerjaan kalian juga akan langsung berhenti sekarang juga" bisiknya.Dengan cepat mereka langsung membuka pintu utama untuk Arkana dan laki-laki itu sejak tadi hanya terdiam kesal saat melihat perdebatan mereka.
Saat pintu lift terbuka,Arkana melihat banyak pekerja di dalam nya.Mereka yang melihat laki-laki tersebut langsung berjalan keluar lift degan cepat seolah-olah membiarkan hanya Arkana saja yang ada di dalam sana.Ketika pintu lift mulai tertutup, beberapa pekerja itu langsung menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan karena mereka tahu betul status Arkana sebenarnya.
"Berapa persentase peningkatan pendapatan di bulan ini?" tanya Bintang kepada Alfredo yang sedang duduk santai bersamanya di ruang kerja.
"Sekitar 85 per-" perkataan Alfredo terpotong saat Arkana menerobos masuk kedalam sana.Awalnya Bintang terlihat sangat marah karena ada orang yang berani menerobos masuk tanpa seizinnya.Tetapi ekspresi marah itu perlahan langsung menghilang saat melihat seseorang itu ternyata putra tunggal nya sendiri.
"Ada apa?Tumben malem-malem datang kesini?" tanya Bintang.
"Aku butuh bantuan papa"
"Bantuan?Kenapa?Kami ditilang atau di begal?" tanya Bintang lagi.
"Bukan"
"Maaf kalau begitu saya permisi dulu" ucap Alfredo yang langsung bangkit dari duduknya karena merasa tidak pantas jika harus mendengarkan pembicaraan antara ayah dan anak itu.
"Gak apa-apa santai aja,bukan masalah rahasia kok" ucap Arkana yang duduk di sebelah papa nya.
"Aku butuh bantuan papa buat cari identitas latar belakang seseorang"
"Latar belakang?Kenapa?Ada masalah apa?"
"Aneska sekarang lagi di rumah sakit pah"
"Lagi?Kenapa?Apa luka nya kambuh lagi?" tak henti-hentinya Bintang terus memberikan pertanyaan.
"Susah kalau harus jelasin dari awal pah,intinya aku butuh bantuan papa buat selidiki latar belakang kehidupan dia.Mulai dari siapa orang tuanya,dimana dia tinggal bahkan setiap menu makanannya pun aku mau tau" kata Arkana.
"Al" panggil Bintang.
"Iya bos"
"Bantu Arkana buat cari apa yang dia mau"
"Baik bos"
"Pak Al?Emang bisa?" pertanyaan Arkana sangat meremehkan kemampuan orang kepercayaan Bintang itu.
"Kalau urusan kayak gini,serahin aja sama Alfredo.Dia bisa bantu kamu"
"Oke kalau gitu,saya mau secepatnya loh pak"
"Baik tuan"
"Siapa orang tuanya,dimana dia tinggal,apa pekerjaan orang tuanya,apa.kebiasaan sehari-harinya.Semuanya" ucap Arkana.
"Baik tuan,akan saya pastikan semua permintaan itu akan saya cari"
"Oke,yaudah pah kalau gitu aku harus balik lagi ke rumah sakit"
"Iya hati-hati,mungkin besok papa sama Mama ke rumah sakit buat jenguk Aneska"
...•••...
Lima anggota tim inti dan Divia terus menatap ke dalam ruangan dengan wajah mereka yang terlihat sangat kebingungan dan heran dengan apa yang sedang terjadi di dalam sana.Saat mengetahui bahwa Aneska telah sadarkan diri,Rafael memanggil dokter agar bisa memeriksa kondisi Aneska lebih lanjut.
Tapi anehnya wanita itu malah memberontak hebat karena enggan ada seorang pun yang melangkah maju untuk mendekati atau menyentuh nya.
"Dia masih sehat jasmani dan rohani kan?" tanya Rizan yang tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun untuk melihat kedalam melalui kaca.
"Semoga" ucap Rafael.
"Gue sih mau nya gitu" timpal Divia.
"T-tapi kalian tau kan apa yang lagi gue pikirin sekarang?" tanya Bagas.Sontak kelima orang tersebut langsung melayangkan tatapan tajam kearahnya.
"Gak usah ngadi-ngadi lo,mau gue pukul dada Lo?" ucap Divia kesal karena mereka sangat yakin bahwa pikiran mereka terhadap kondisi Aneska sama persis.
"Si Adityanjing pukul dia dibagian mana sampe-sampe kondisi nya kelewat parah gini" gumam Arsenio.
"Kalian udah kasih tau Arka kalau Anes udah sadar?" tanya Axel kepada mereka.
"Udah,tali gue yang hubungi.Mungkin sekarang dia lagi di jalan" ucap Rafael.
"Mohon tenang ya,kami hanya ingin memeriksa kondisi anda saja.Tidak perlu khawatir karena ini tidak menyakitkan" ucap dokter tersebut.
Tetapi anehnya,Aneska terus memeluk lututnya sendiri dengan wajah ketakutan nya karena rasa khawatir yang berlebihan.Ia terus melirik cepat kesana kemari dengan pandangan yang tertunduk. "Jangan,jangan!!" Teriaknya.
"Kita tidak akan menyakiti kamu,hanya ingin memeriksa detak jantung dan kondisi terkini saja.Setelah itu selesai"
"Jangan mendekat!!!" teriakan Aneska membuat semua orang yang berada di sana langsung terlonjak kaget dan bingung dengan apa yang terjadi pada diri wanita tersebut.
"Obat penenang" bisik dokter kepada salah satu susternya.Setelah memberikan jarum suntik yang berisi obat penenang itu,dokter langsung melangkah maju mendekati Aneska agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang dan mereka bisa dengan leluasa mencari penyebab kepanikan yang terjadi pada Aneska.
Sialnya Aneska melihat jarum suntik tersebut,ia berfikir bahwa dokter akan memberinya obat-obatan terlarang yang akan berdampak buruk pada tubuh.Dengan cepat Aneska langsung membuka jarum infus yang sedang menancap di tangannya dan berlari menuju balkon untuk melarikan diri.
"Cepat tangkap!" perintah dokter kepada suster,jika terlambat mungkin Aneska akan nekat terjun dari ketinggian lantai 5 gedung rumah sakit tersebut.
Aneska terus memberontak,namun reaksi tubuh nya mulai melemas saat dokter berhasil menancapkan jarum suntik ke tubuh wanita itu.
20 menit kemudian Arkana telah sampai dan menyapa teman-temannya dengan ekspresi bahagia.Baru saja Arka memegang handle pintu ruangan,Bagas langsung menarik tangan laki-laki tersebut agar ia bisa melihat kondisi di dalam sana melalui kaca gang terpampang besar.
"Gak usah cengar-cengir dulu,liat tuh" ucap Bagas.
Seketika senyum bahagia Arkana langsung memudar dengan perlahan. "Kenapa?Aneska kenapa?"
"Gak tau,dokter belum bilang apa-apa sama kita.Tapi tadi menurut gue sih sikap si Anes keliatan kayak gak baik-baik aja"
"ssst!!!Bacot lu" bisik Rizan.
"Apaan si?Tapi gue bener kan?"
Saat melihat dokter keluar ruangan,sontak mereka langsung berjalan cepat menuju pintu ruangan untuk bertanya dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Aneska.
"Dok gimana kondisi Aneska?" tanya Divia cemas.
"Baik-baik aja kan dok?" tanya Arkana.
"Saya bingung harus bagaimana menyimpulkan kabar ini" ucap Dokter tersebut.
"Maksud dokter?" tanya Rizan.
"Saya sempat melihat luka jahitan bekas operasi di bagian diafragma pasien sedikit terbuka,tapi hal itu sudah kami atasi.Ada banyak luka di sekujur tubuhnya,itupun sudah kami obati.Di ruang ICU tadi kami sempat memeriksa apakah ada luka pada bagian otak nya atau tidak,namun ternyata tidak.Bisa di katakan kondisi kesehatan nya pun semakin membaik,tapi..."
"Tapi?Tapi kenapa dok?" tanya Arkana.
"Kenapa ada tapi nya?" ucap Rafael.
"Tapi setelah kami bahkan kalian juga melihat kondisi pasien yang begitu cemas,saya kembali memeriksa kondisi luka pasien terutama pada bagian kepala nya.Dengan itu saya memutuskan untuk melibatkan dokter saraf dalam misi penyembuhan kondisi pasien.Karena saya khawatir jika pasien akan mengalami gangguan jiwa secara permanen"
"Ga-gangguan jiwa?" tanya Arkana.
"Iya,tapi semoga itu hanya perkiraan saja.Kami semua berharap agar pasien bisa kembali beraktivitas dengan normal seperti biasanya.Kalau begitu saya permisi"
"Makasih dok"
Arkana dan enam teman yang lainnya langsung terdiam dan menatap satu sama lain saat mendengar diagnosa yang dokter katakan.Mereka berharap agar Aneska tetap sehat dan diagnosa itu hanyalah kecemasan dokter belaka.