I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 16



Suasana markas malam itu sangat sepi,tidak seperti malam-malam biasanya.Hanya ada Arkana,Rafael,Rizan,Arsenio,Aries dan Galen disana.Mereka semua sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.


Rizan yang terus bernyanyi diiringi oleh gitar yang Arka mainkan.Rafael yang anteng menikmati cemilan sambil menonton televisi.Sementara sisa nya asyik memainkan kartu Uno yang merupakan salah satu permainan favorit mereka saat sedang berkumpul.


"BIAR KUPUTUSKAN SAJAAAA"


"HAHAHAHAH!!!" seketika mereka semua langsung tertawa saat mendengar suara Rizan yang tidak sanggup bernyanyi dengan nada tinggi hingga terdengar melengking.


"Kalo gak bisa bilang,gak usah di paksain" ucap Arkana setelah selesai mentertawakan Rizan.


"Sorry sorry,ayo lanjutin"


"Gak usah!udah males gue"


"Oh iya,lo serius mau ikut ngisi acara itu?" tanya Rafael yang mengalihkan pandangannya dari televisi.


"Bukannya tadi lo ikut ngeyakinin si Adit?" tanya balik Arkana.


"Iya,tapi gue takut lo malah lepas tanggung jawab.Kasian nanti mereka"


"Apa pernah gue lepas tanggung jawab selama jadi ketua COZTRA?"


"Ya engga sih,cuma kan-"


"Udah santai aja,gue yang mau.Oh iya gue lupa" Arkana langsung mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. "Oh iya gak punya nomor nya"


"Nomor siapa?" tanya Rafael.


"Pinjem hp lo" pinta Arka.


"Buat apa?"


"Yang jelas bukan buat liat foto cewek pake bikini"


"HAHAHA anjir masih inget aja Lo" ucap Arsenio.


"Buat apa?" tanya Rafael lagi.


"Apa harus banget Lo tau?" tanya Arkana sambil mendekatkan wajahnya ke arah Rafael.Tatapan mata Arka cukup membuat Rafael langsung memberikan ponselnya dengan pasrah.


Arka masuk ke daftar kontak di ponsel Rafael untuk mencari nomor seseorang yang akan ia hubungi.Arkana langsung mengernyitkan dahi nya saat menemukan nomor seseorang tersebut.


"Gue heran sama lo,kok bisa dapet nomor semua orang?" tanya Arkana sambil melemparkan ponsel itu kepada Rafael.


"Selain bikin guru kesel,ternyata hobi lo sekarang lempar hp orang" gerutu Rafael.


Aneska


"Woy"


"Siapa?"


"Kasih tau menurut lo lagu apa yang bagus buat kolaborasi"


"*Arkana?Lo bukan?dapet nomor gue dari mana?"


"Gue mau pemanasan sekarang"


"Gue gak mau Arka*!"


"Pokonya jangan yang sedih-sedih"


"Tapi gue gak mau kolaborasi sama Lo!"


"Ditunggu ya malam ini"


"Terserah Lo,gak akan gue kirim sampai kapanpun!"


Pesan terakhir Aneska berstatus centang dua biru,Arkana hanya membacanya sambil tersenyum kecil karena puas mengusili wanita rajin tersebut.


Sementara diseberang sana Aneska terus menerus mengeluarkan kata-kata keluhan karena kesal mengapa ia harus terlibat dengan Arkana.


"Dari sekian banyak orang dikelas kenapa harus gue sih?" tanya Anes sambil terus menggulingkan tubuhnya di kasur.


"Bodo amat deh,gak akan gue kirim.Lagi pula dia ngambil keputusan sepihak"


"Tapi kan,tadi gue gak sadar kalo Nerima tawaran dia,gimana dong?" lanjutnya. "Ah bodo amat gak usah dipikirin" Aneska langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


"Arrgggh,tapi rasanya gue kayak orang yang gak bertanggung jawab" Akhirnya Aneska memutuskan untuk berjalan menuju meja belajarnya dan mencari lagu yang cocok untuk ia nyanyikan bersama Arkana.


"Kenapa lo ketawa-ketawa sendiri?Merinding gue jadinya" kata Rizan yang bingung saat melihat Arkana tiba-tiba tersenyum kecil saat sedang menatap layar ponselnya.


"Lucu aja gitu"


"Lo udah punya gebetan baru?siapa?" tanya Rafael.


"Bukan.Oh iya, ngomong-ngomong gebetan terakhir gue siapa?" tanya Arkana.


"Siapa?" tanya balik Rafael.


"Malah nanya balik lagi Lo!"


"Vanya Vanya" sahut Arsenio.


"Vanya?Vanya yang mana sih?" tanya balik Arkana sambil terus terdiam untuk mengingat wajah perempuan yang bernama Vanya.


"Masa lo lupa,baru aja seminggu yang lalu lo tinggalin" Kata Arsenio.


"Kelas 12 IPA 1,pinter banget dia" sahut Galen.


"Lah kok lo tau?Lo kan masih kelas 10" tanya Rizan yang langsung menghentikan nyanyiannya.


"Temen gue ada yang naksir dia,btw dia mantan gebetan lo bang?" tanya Galen kepada Arkana yang masih berusaha mengingat wajah Vanya.


Melihat Arkana yang masih berfikir,Rafael langsung menjawab pertanyaan Galen sebagai perwakilan. "Iya,dia ngejar-ngejar Arka tapi si bego nya ini gak suka.Karena kasian dia deketin balik deh"


"Wah padahal dia cantik,pinter,kaya raya lagi.Lo mau nyari yang gimana lagi bang?" tanya Galen tetapi Arkana masih berfikir.


"Kelamaan lo.Nih,yang ini" Arsenio langsung memberikan ponselnya kepada Arkana untuk menunjukkan foto Vanya di akun Instagram pribadinya.


"Ooh yang ini,iya gue inget" cetus Arka.


"Kalo gak gue kasih liat,Lo gak bakal inget ganteng" ucap Arsen dengan wajahnya yang menahan rasa kesal.


"Lo tadi nanya apaan?' tanya Arkana kepada Galen.


"Lo mau nyari cewek modelan gimana lagi sih bang?Vanya cantik, pinter,kaya raya lagi.Banyak cowok yang mati-matian mau jadi pacarnya"


"Cantik udah biasa,pinter udah biasa,kalo kaya raya gue juga udah kaya.Kalo tipe cewek gue juga sudah jelasin nya gimana,yang penting gue nyaman aja sih" kata Arkana.


"Berarti Lo ngerasa gak nyaman waktu Deket sama mereka?" tanya Galen.


"Ya engga lah.Gimana mau nyaman orang setiap jalan ngajakin nya foto mulu.Lo tau gak 10 dari 10 cewek yang pernah deket sama gue,mereka cuma mau nama gue doang.Secara kalian tau kan gimana popularitasnya gue dikalangan anak muda?" tanya Arkana dengan keangkuhan nya.


"Terus pertanyaan gue,siapa lagi yang lagi lo baperin itu?" tanya Rafael sambil melirik ke arah ponsel yang sedang Arkana genggam.


"Gak ada yang gue baperin.Gue cuma pengen ketawa aja,masalah emangnya?" tanya Arkana. "Udah ah,gue mau balik dulu"


"Lah kok balik,baru juga jam berapa tumben banget Lo?" ucap Rizan yang langsung ikut beranjak dari duduknya.


"Lah emang ngapa?Mau jam berapa juga suka-suka gue dong"


"Ya tumben aja Lo pulang awal"


"Ya lagi mau aja" ucapnya yang tersenyum lebar sambil memakai jaket hitam nya.


"Dih,ngapain lo senyum-senyum?" tanya Rizan heran.


"Siapa yang senyum?Mata lo bermasalah kali.Jagain nih gitar gue baik-baik" ucapnya yang langsung berjalan keluar markas.


"Aneh gak si?" tanya Arsenio setelah Arka tidak ada di dalam ruangan.


"Aneh" jawab Rafael.


"Taruhan yok!" ajak Arsen.


"Lah kok jadi taruhan?Apanya yang mau dipertaruhkan?" tanya Rizan.


"Menurut gue juga gitu sih" sahut Galen.


"Menurut gue juga" kata Rafael.


"Gue juga" kata Rizan.


"Kalo lo Res?" tanya Arsenio kepada Aries yang sejak tadi terdiam karena belum terlalu akrab dengan mereka.


"Gue juga"


"Ya kalo gitu apanya yang mau ditaruhin?" tanya Arsen yang langsung melempar kartu tersebut hingga berserakan dimana-mana.


...•••...


Sesampainya Arkana dihalaman rumah,ia melihat beberapa penjaga sedang berkumpul di dekat gerbang kedua.Mereka hanya saling menyapa lalu Arka kembali mengendarai motornya hingga ke depan rumah.


Arkana terus menoleh ke sana kemari,suasana dirumahnya sudah sangat sepi padahal waktu masih menunjukkan pukul 9 malam.Biasanya di jam itu kedua orang tua Arka sedang duduk berdua di ruang tv.


"Sudah pulang tuan?" tanya Bi Rani.


"Iya bi, buktinya aku ada disini sekarang.Bibi udah makan?"


"Udah tuan,tuan sudah makan?"


"Belum sih"


"Mau makan?Biar bibi siapkan sekarang"


"Gak usah bi,nanti aja.Oh iya,mama sama papa ada dirumah kan?Kok tumben sepi gini?" tanya Arkana.


"Tuan dan nyonya sedang berada di kamarnya" kata Bi Rani.


"Oh gitu, yaudah bibi tidur ya udah malem" ucap Arkana yang langsung berjalan menuju kamar kedua orang tuanya.


Sesampainya ia di depan pintu kamar Bintang dan Erika,Arkana hanya terdiam untuk menduga-duga kondisi terlebih dahulu.Ia menempelkan telinganya di pintu kamar dengan wajah yang terlihat sangat fokus untuk mengamati suasana di dalam sana.


"Enak gak?" tanya Bintang kepada Erika di dalam sana.


"Enak,lumayan lah"


"Kok lumayan?Ini udah sekuat tenaga loh,aku udah berusaha seenak mungkin" kata Bintang.


"Yaudah deh enak.Tapi kencengin lagi dong,gak kerasa nih"


"Ini udah kenceng,mau kenceng gimana lagi? Bisa-bisa remuk badan kamu kalo pake semua tenaga yang aku punya"


"ADUH!ADUH!ADUH!Sakit!" teriak Erika sambil memukul Bintang.


"Kok mukul sih? Katanya kencengin"


"Ya tapi sakit,jangan terlalu kenceng dong!" ucap Erika kesal.


"Aduh aduh aduh enak,enak enak enak" ucap Erika perlahan karena merasakan kenikmatan dalam tubuhnya.


Sementara diluar sana puteranya langsung menutup mulut dengan tangan karena takut dirinya akan bersuara secara tiba-tiba,ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya barusan.


"Aduh kuping,otak dan kepolosan gue ternodai" bisik Arka dan langsung berjalan jinjit menuju kamarnya untuk melupakan apa yang baru saja ia dengar.


"Aku bawain makanan mau?" tanya Bintang.


"Mau mau"


Saat Bintang keluar kamar,ia melihat putra nya sedang berjalan dengan sangat berhati-hati.Ia mengernyitkan keningnya karena bingung dengan apa yang sedang Arkana lakukan.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Bintang,suara papa nya membuat ia langsung meloncat dan jatuh tersungkur di lantai karena terkejut.


"Eh kenapa kamu? Sakit?" tanya Bintang sambil berusaha meraih tubuh Arkana.


"Jangan deket-deket!papa tetep berdiri di situ" ucap Arka sambil berusaha bangkit,lalu ia berjalan mengelilingi tubuh Bintang dengan wajahnya yang sangat terlihat menggemaskan.


"Kamu kenapa sih?Ada yang salah sama penampilan papa?" tanya Bintang. "Kamu habis main dimana?Gak kesambet kan?"


"Mama mana?" tanya Arka tiba-tiba.


"Ada dikamar"


"Lagi ngapain?" tanya nya lagi.


"Kamu kenapa sih?"


"Jawab aja lagi ngapain?"


"Ya lagi nonton tv,kenapa sih?Tumben banget kamu kayak gini" ucap Bintang sambil bertolak pinggang karena benar-benar bingung dengan tingkah putra tunggal nya ini.


"Papah mau kemana?Habis ngapain?"


"Kamu kok kayak lagi interogasi papa?" tanya Bintang.


"Jawab aja"


"Papa mau ambil makanan buat mama kamu"


"Terus tadi papa habis ngapain?" tanya Arka lagi.


"Habis pijitin mama kamu"


"Pijitin artinya apa?" tanya Arka.


"Artinya?Pijitin ya pijitin terus apa?"


"Kenapa mama dipijitin?" pertanyaan Arkana semakin membuat Bintang bertambah pusing


"Mama kamu lagi gak enak badan,dia muntah-muntah terus gara-gara gak sengaja makan mie instan yang udah kadaluarsa tadi sore.Karena badannya udah lemes banget makanya papa pijitin biar stamina nya balik lagi" kata Bintang.


"Mama sakit?" tanya Arkana yang langsung masuk ke dalam kamar.


"Bentar deh.Waktu Erika hamil,dia ngidam apaan sih?Perasaan gini banget punya anak" gerutu Bintang yang langsung kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai satu.


Arkana melihat Erika sedang duduk di sofa sambil menonton salah satu acara televisi dengan wajahnya yang terlihat sedikit pucat.Entah apa yang Arkana pikirkan tadi,ia terus melirik kesana kemari karena penasaran.


"Mama sakit?" tanya Arka.


"Gak enak badan doang kok"


"Kok bisa sih makan mie instan yang udah kadaluarsa?Gak diliat-liat dulu?"


"Gak apa-apa bentar lagi sembuh kok,tolong pijitin mama dong disebelah sini" Erika menunjuk ke arah pundaknya.


"Dimana?"


"Disini.Tadi papa kamu pijetin nya kadang terlalu pelan kadang terlalu kenceng yang ada tambah mual mama" kata Erika.


"Mama tadi lagi di pijatin sama papa?' tanya Arkana.


"Iya"


"Ooh,kirain" bisiknya.


"Kirain?"


"Engga,bukan apa-apa" Arkana langsung tersenyum lega.


Setelah Bintang kembali membawakan makanan dan minuman hangat untuk Erika,Arka langsung menepuk-nepuk bahu papa nya dan pergi keluar kamar begitu saja. "Anak kamu kenapa sih?"


"Anak kita" kata Erika.


"Iya anak kita kenapa?"


"Kenapa apanya?Orang dia baik-baik aja"


"Perasaan tadi aneh banget,kayak lagi interogasi aku aja"


"Interogasi gimana?" tanya Erika.


"Ngga,udah gak usah dipikirin.Gak penting"