
"Lepasin!kalo mereka liat bisa salah paham nanti" bisik Arkana dan Aneska langsung melepas pelukan nya itu.
"Kenapa wajah kamu?" tanya security kepada siswa laki-laki tersebut.
"A-anu pak" ucapnya sambil menoleh ke belakang.
"Ulah dia lagi" bisik Security yang satunya lagi.
"Hei kalian!Sedang apa disana!!" teriaknya kepada Arkana dan Aneska.
"Yah ketauan,Gimana ini?" Aneska mulai panik karena dirinya pasti akan terkena hukuman juga.
"Gue lari aja deh" Arkana langsung menarik tangan Anes agar wanita itu tidak pergi untuk melarikan diri.
"Lepasin nanti gue kena hukuman!!" bisik Aneska.
"Jangan kabur,justru kalo kabur lo tetep di cari nanti" kata Arkana.
"Terus gue harus ngapain?Mereka gak akan percaya kalo gue jujur"
"Berapa harga skincare Lo?" tanya Arkana.
"Hah?Apaansi Lo malah bahasa skincare lagi" bentak Aneska.
"Gak akan lama sih,paling dua hari sembuh" bisik Arkana.
"Lo ngomong apaan sih?Cepet gue harus kabur!!"
"Sory ya" kata Arkana.
"Hah?"
BUUGHHH!!
"AUUU!!!" Aneska langsung menggenggam erat pipinya yang sengaja Arkana pukul.Terlihat ekspresi rasa bersalah di wajah Arkana karena ia telah memukul seorang wanita.Tapi mau bagaimana lagi,Aneska tidak aku dihukum karena perbuatan yang tidak ia lakukan.Dan itu adalah satu-satunya cara yang bisa Arkana lakukan untuk membantu Anes.
"HEII APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN ARKANA!!" teriak pria tersebut yang langsung berlari menghampiri mereka.Sedangkan siswa tadi sudah dibawa oleh security yang lain.
"Gue udah suruh lo pergi tapi Lo masih nekat buat bantuin dia!!" teriak Arkana.
Awalnya Aneska sangat kesal,tetapi ia langsung mengerti bahwa Arkana hanya bersandiwara karena mereka pun tidak mempunyai cara lain.
"Kan Lo bisa kasih tau baik-baik,kenapa jadi pukul gue??" tanya Aneska.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Engga apa-apa pak" kata Aneska.
"Kamu kurang ajar sekali telah memukul siswa perempuan Arkana!!" Arka hanya menatap Aneska dengan kesal.
"Ikut saya ke ruang BK!" ucapnya yang langsung memborgol kedua lengan Arkana. "Kamu silahkan ikut untuk bersaksi"
"Iya pak"
"Gak usah di borgol juga kali pak,saya ngerasa kayak lagi simulasi jadi narapidana" kata Arkana.
"Sudah jangan banyak bicara!"
Saat itu sudah memasuki waktu istirahat,mereka semua sangat heboh saat melihat kedua tangan Arkana di borgol oleh Security tersebut.Mereka terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"HEH KENAPA SUAMI GUE DI BORGOL?NGEGANJA KAH?"
"PACAR GUE BIKIN MASALAH APA LAGI YA ALLAH"
"APA MEREKA MESUM?"
"ADUH MUKA TAMPAN SUAMI GUE KENAPA BISA BERDARAH GITU?"
Pak security jalan di depan Arkana,sedangkan mereka berdua jalan berdampingan di belakangnya.Aneska terus bertanya di dalam hati,tentang apa yang harus ia lakukan nanti di sana.
"Gue harus gimana ini?Jujur atau bohong?Bela atau ngga ya?"
"Pokoknya Lo harus jelek-jelekin gue,apapun terserah lo" bisik Arkana seolah-olah ia bisa mendengar isi hati Aneska.
"Permisi Bu,ini tersangka nya"
"Tersangka,emang saya tahanan" bisik Arkana.
"Kamu lagi?" tanya Bu Tesa,guru yang satu ini masih bertahan menjadi guru konseling meskipun sudah lama sejak Erika bersekolah di sana.
"Ibu lagi" kata Arkana.
Mereka duduk berdampingan,Aneska menempati kursi tengah sebagai penghalang di antara kedua laki-laki tersebut.
"Silahkan korban" ucap Bu Tesa kepada siswa tersebut,tetapi ia terus membungkam mulut nya sendiri.Karena takut untuk memberitahukan kebenaran yang terjadi.
"Jadi tadi sa-"
"Saya gak butuh penjelasan kamu, bosen tau gak?" kata Bu Tesa.
"Cepetan ngomong!Gue laper nih" teriak Arkana.
"Kamu gak mau bicara?" tanya Bu Tesa dan siswa itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Saksi" Bu Tesa menunjuk Aneska.
Aneska menceritakan satu persatu kronologi nya secara rinci,dimulai saat ia melihat Arkana memasuki kelas 11 IPS 5 hingga Arkana memukulnya si belakang sekolah.
"Bahkan kamu pukul dia?" tanya Bu Tesa yang langsung membelalakkan matanya. "Tunggu,tunggu.Sebanyak masalah kamu di daftar hitam.Baru kali ini kamu mendapat kasus memukul siswa perempuan juga"
"Saya juga mau menambah pengalaman dong Bu"
"SSTTT!!!" desis Bu Tesa yang melemparkan pulpen nya ke arah Arkana.
"Karena kamu juga termasuk korban,sekarang kamu boleh pergi ke ruang unit kesehatan.Obatin luka kamu itu ya"
"Iya Bu, terimakasih"
"Kalian berdua!!" teriak Bu Tesa. "Kelapangan sekarang juga"
"Saya juga Bu?" tanya siswa tersebut.
"Masa saya?" tanya balik Bu Tesa.
"Tapi saya juga korban Bu"
"Tapi kamu merasa memukul Arkana tidak?"
"Sekali Bu"
"Arkana tidak akan berkelahi kalau gak ada lawannya" kata Bu Tesa.
"Tapi Arka paksa saya buat lawan dia,padahal saya gak mau melawan" ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Kamu tau gak kenapa Arka paksa kamu?Hei,dia ini langganan konseling.Dia sudah mahir menipu lawan,kamu fikir Arkana mau dihukum sendiri?" tanya Bu Tesa. "Dia sengaja menyuruh kamu melawan dia agar kamu juga mendapatkan hukuman yang sama"
"Mau dilawan atau ngga,wajah kamu tetap bonyok kan?" tanya Bu Tesa lagi.
"Makanya mulut sama otak harus seimbang" ucap Arkana.
"Disini saya memarahi kamu bukan karena saya pilih kasih,tapi karena dia sudah tidak bisa di marahi lagi.Saya memarahi kamu karena diantara kalian hanya kamu yang masih bisa di selamatkan.Bahkan saya sudah berhenti menulis nama nya di buku hitam karena saya sudah hafal bahwa setiap hari Arka akan berkunjung ke sini,entah membawa masalah atau hanya menyapa saya" Bu Tesa mencurahkan isi hati nya.
"Sekarang kalian pergi kelapangan karena akan menerima hukuman sari pak Udin" lanjut Bu Tesa.
"Lepasin dulu dong Bu borgol nya" kata Arkana.
"Kamu lebih keren memakai borgol"
"Pak borgol juga tangan dia" ucap Bu Tesa sambil menunjuk siswa tersebut.
Bu Tesa dan kedua siswa laki-laki itu langsung berjalan menuju lapangan upacara untuk menerima hukuman.Sementara siswa yang sedang ramai berkumpul langsung membuyar saat melihat pintu ruangan terbuka.
"Ka kenapa Lo?" tanya Rafael.
Arkana hanya melirik siswa itu dan langsung memutar kedua bola matanya.
"Lo gak di penjara kan Ka?" tanya Rizan.
"Bacot lo" Rafael langsung menoyor kepala Rizan.
"Sedang apa kalian disini?Bubar!!" teriak Bu Tesa.
"Arka lo bikin masalah apa lagi?" tanya Keysha yang ternyata berada di antara kerumunan sisa tersebut.
"Bukan apa-apa kok" bisik Arkana.
"Kamu lagi,kamu lagi!" teriak Pak Udin saat mereka sudah sampai di lapangan upacara.
"Bapak lagi,bapak lagi" sahut Arkana.
"Melawan kamu!"
"Gak usah marah-marah terus pak,mending cepetan kasih hukuman nya biar saya bisa langsung istirahat nanti" kata Arkana.
"Hei,kamu tau gak sih kesalahan kamu itu apa?" tanya pak Udin.
"Tau lah" jawab Arkan dengan santai.
"Terus kenapa kamu berani sekali melawan saya padahal kamu ini bersalah?"
"Saya gak ngelawan,saya cuma jawab setiap perkataan bapak"
"Gak perlu kamu jawab!"
"Yaudah"
"Kalian berdiri di sini sampai jam pulang,sebelum waktunya tiba kalian tidak boleh pergi kemana-mana"
"Diskon waktu dong pak" tawar Arkana.
"Semakin kamu menawar,maka saya akan semakin menambah waktu hukuman"
"Haish...Jangan pancing-pancing saya buat kasih ancaman" bisik Arkana.
"Apa kamu bilang?Katakan sekali lagi!Berani kamu mengancam saya!!" Teriaknya.
"ADUH PAK UDIN NGAPAIN BENTAK-BENTAK SUAMI GUE SI"
.
"GALAK BANGET TUH GURU"
"Berani lah,masa engga"
"Saya tidak akan takut dengan ancaman kamu"
"Tahun lalu,waktu acara perkemahan,di puncak" Arkana langsung memberikan kisi-kisi kepada pak Udin dan benar saja,pria tersebut langsung membelalakkan matanya dan berjalan mendekati Arkana.
"Apa maksud kamu?" Arkana hanya diam. "Jawab pertanyaan saya"
"Kata bapak tadi saya gak perlu jawab pertanyaan bapak"
"Saya tarik perkataan yang tadi,cepat katakan apa yang kamu maksud?" tanya Pak Udin yang sangat penasaran.
"Menurut bapak apa yang terjadi tahun lalu di puncak?" tanya balik Arkana. "Masa harus saya kasih liat foto nya,saya punya loh foto itu.Saya perbanyak,saya simpan sebaik mungkin" bisik Arkana.
Wajah pak Udin mulai memerah,ia sangat panik karena sudah mengerti apa yang Arkana bicarakan.
"Aduh!Saya berdosa sih karena udah liat kejadian itu,tapi gimana dong?kan gak sengaja" ucap Arkana dengan wajah nya yang terlihat seperti sedang mengejek.
Siswa di samping Arkana hanya menyaksikan pembicaraan mereka tanpa mengetahui apa yang mereka bicarakan.Pak Udin sudah mulai gusar,ia terus menerus mengusap kasar wajah nya dengan kedua tangan.
"Biasa aja kali pak" celetuk Arkana.
"Kamu hapus dan musnahkan semua foto yang kamu miliki" bisik Pak Udin.
"Ya gak mau lah,ya kali buang kelemahan lawan"
"Security!!!" teriak Pak Udin.
"Iya pak"
"Buka borgol dia"
"Saya juga kan pak?" tanya siswa laki-laki.
"Tidak,hanya dia"
"Lah kok gitu?"
"Tapi pak-" ucap Security yang ragu.
"Cepat buka!"
"Baik pak"
"Thank you" ucap Arkana yang langsung berjalan meninggalkan mereka.
"Arkana!!" teriak pak Udin.
"Why?"
Pak Udin tidak berkata apapun,ia hanya menaruh jari telunjuk nya di bibir tanda agar Arkana tidak membocorkan rahasia ini kepada siapapun.Sementara Arkana hanya mendengus sambil tersenyum kecil lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Hal ini bukan untuk yang pertama kalinya bagi Arkana,ia selalu berhasil lolos dari hukuman karena pintar bernegosiasi dengan para guru yang memegang kekuasaan untuk menghukum nya.
Ia terlalu cerdas untuk mendapatkan rahasia-rahasia para guru yang tidak banyak di ketahui oleh siswa lain.