I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 12



"Eh gue ke lantai tiga dulu ya" kata Rizan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mereka akan pergi ke kantin.


"Ngapain?" tanya Arkana.


"Hp gue di bawa Arsen tadi pagi,gue ambil dulu bentar.Kalian duluan aja,nanti gue nyusul"


"Yaudah kita ikut" kata Rafael.


"Gak usah,udah Lo berdua duluan aja.Gue lari kok biar cepet"


"Yaudah kita duluan ya"


"Iya" ucap Rizan yang langsung lari meninggalkan mereka.


"Jangan lama-lama Lo!!"


"IYAA!!" Teriaknya dari kejauhan.


Seperti biasa,jika keluar kelas bertiga pasti saat sampai di kantin jumlah mereka akan bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya.Kantin yang sedang ramai oleh gelak tawa para siswa seketika langsung hening saat melihat kehadiran Arkana dan anggota geng nya.


"Lah,kok lo ada disini Sen?Ijan mana?" tanya Rafael yang kaget saat melihat Arsenio ternyata ada diantara mereka.


"Lah mana gue tau,biasanya kan sama Lo berdua" kata Arsen.


"Tadi dia ke lantai tiga mau ambil hp nya,ada di Lo kan hp dia?" tanya Rafael lagi.


"Udah gue titipin tadi sama temen sekelas Lo"


"Siapa?"


"Cewek,eh kayaknya dulu temen sekelas lo deh" kata Arsenio kepada Ervan.


"Siapa?Temen cewek sekelas gue kan banyak anjir" kata Ervan.


"Oh itu,cewek yang naksir sama Arka" kata Arsenio.


"Lah cewek yang naksir sama Arka banyak bego!" ucap Axel sambil menoyor kepala Arsen.


"Kayaknya Lo pernah naksir dia deh" kata Arsenio kepada Bagas.


"Oh si Ijah!" teriak Rafael.


"Siapa Ijah?" tanya Arka.


"Divia Divia,temennya si Anes" kata Rafael.


"Nah dia!" seru Arsenio.


"Terus kenapa dia lama banget?" tanya Arkana bingung.


"Mampir dulu kali ke kelas yang lain,Lo tau sendiri kan si Ijan rumpiable banget" kata Bagas.


"anjing rumpiable HAHAHA!"


"Bi pesen dong!" teriak Rafael.


Sementara itu Rizan masih berada di dalam kelas 12 IPS 3.Ia tidak menemukan Arsenio disana,yang ia lihat hanya beberapa teman sekelas Arsen sedang berkumpul di penjuru ruangan.


"Eh ada tamu" kata salah satu dari mereka.


"Sorry bang,mau cari temen doang" ucap Rizan yang langsung berjalan kembali keluar kelas.


Namun mereka tidak membiarkan Rizan keluar begitu saja,mereka membuat seolah-olah siapapun orang asing yang masuk ke sana tidak akan bisa keluar kelas dengan mudah tanpa memberikan imbalan yang mereka mau.


Seorang siswa lain langsung menutup dan mengunci pintu kelas dari luar hingga Rizan langsung terdiam bingung.


"Lo bisa masuk tapi gak bisa keluar kalo belum kasih kita cuan" kata siswa yang bernama Edo.


"Hah?" tanya Rizan.


"Bagi kita cuan baru Lo bisa keluar dari sini"


"Lo pikir naik angkot?Naik gratis turun bayar?" tanya Rizan yang kembali membalikkan badannya menghadap Edo.


"Berani Lo?" tanya Edo.


"Lah,gue cuma nanya.Gak ada hubungannya sama berani atau ngga" kata Rizan.


"Gue gak pernah liat lo di lantai tiga,kelas berapa Lo?"


"11,ngapa?" tanya Rizan angkuh.


"Baru kelas 11 aja banyak gaya Lo,buruan kasih gue duit!" Teriaknya.


"Kekurangan duit Lo?Atau gak dikasih jatah sama nyokap Lo?" tanya Rizan lagi.


"Banyak gaya Lo" tanpa seizin nya,Edo langsung merogoh kantong seragam Rozan untuk mencari uang yang ia inginkan.Tetapi Rizan langsung memukul wajah Edo karena refleks.


"Wah nantang gue?" tanya Edo kesal.


"Lo duluan yang songong" ucap Rizan.


Meskipun selalu bersikap nyeleneh dan terlihat seperti pengecut,nyatanya Rizan sangat pemberani jika menghadapi manusia seperti Edo ini.Jika Edo ingin bermain kekerasan akan ia lakukan,jika mereka akan mengeroyok Rizan tetap akan ia laawan.Karena menurutnya yang terpenting adalah harga dirinya tetap berada di tempat dan tidak di rendahkan oleh orang lain seperti Edo.


"Woy,basmi!" ucap Edo kepada teman-temannya.


"Yah,Gue pikir jagoan ternyata keroyokan" ucap Rizan sambil tersenyum kecil.


"Kalo gak mau bonyok,kasih gue duit sekarang"


"Gak usah banyak bacot Lo,gue lawan Lo semua.Bodo amat muka bonyok,gue gak peduli"


Terjadilah perkelahian antara satu lawan delapan didalam kelas tersebut.Sementara di luar kelas semua siswa berkerumun untuk menyaksikan atraksi mencengangkan yang jarang terjadi itu.


"Kok gak balik-balik ya?" tanya Rafael.


"Gue susul aja kali ya" kata Daniel.


"Yaudah sono susul,tau sendiri kelas kita kayak apaan tau" ucap Arsenio.


"Yaudah gue susul Ijan dulu ya"


Saat Daniel sedang berjalan menyusuri tangga menuju lantai tiga,mulai terdengar suara seruan siswa lain yang berteriak histeris antara menyemangati atau khawatir.


Hal itu membuat Daniel semakin penasaran,ia langsung berjalan cepat menuju lantai tiga untuk mencari tahu apa yang terjadi disana.


"Eh,ada apaan?" tanya Daniel kepada salah satu siswa laki-laki.


"Itu ada yang berantem di kelas IPS 3"


"Siapa?" tanya Daniel yang mulai terlihat panik.


"Biasa geng nya si Edo"


"Lawan nya?" tanya Daniel.


"Gak tau,soloan dia"


"Hah?Kelas berapa?" tanya Daniel yang semakin panik.


"Gak tau gue,yang jelas bukan kelas 12"


"Anjing si Edo" ucap Daniel yang langsung berlari menuju kelas nya,karena ia yakin sekali bahwa orang yang sedang mereka keroyok adalah Ijan.


"Minggir-minggir!!Minggir lo semua Anjing!!" Teriak Daniel yang berusaha menerobos kerumunan siswa tersebut. "MINGGIR BANGSAT!!"


Setelah mendapat celah untuk mengintip di jendela,Wajah Daniel langsung terlihat sangat emosi saat melihat Rizan sedang dihajar habis-habisan oleh segerombolan siswa tersebut.


"MINGGIR MINGGIR!!" teriak nya yang berusaha mendekati pintu kelas.Tetapi tidak bisa ia buka karena terkunci.


"WOYY SIAPA YANG PEGANG KUNCI NYA!!" teriak Daniel yang sangat panik.


"Gak tau"


"BURUAN ANJING!"


"Gak tau kita"


"Emang kenapa Dan?" tanya salah satu siswa sekelas Daniel.


"Dia anggota COZTRA,mending Lo buruan panggil si Arka.Tau kan Arka?Bukan Arkana Yusril" Kata Daniel.


"Iya gue tau,Arkana ketua Lo kan"


"Iya buruan,lari!!"


"Woy anjing siapa yang pegang kunci nya?" tanya Daniel kepada salah satu teman sekelasnya yang lain.


"Gak tau gue Dan"


"Lo mau bonyok di tangan Arka?Dia temen gue bangsat! ANGGOTA COZTRA!" Teriakan Daniel langsung membuat seluruh siswa menatap dirinya dengan wajah pias.


"Ngapa Lo pada?Arka ngamuk tau rasa Lo semua!" ucapnya. "Siapa yang pegang kunci? Dari tadi gue teriak Lo semua gak ada yang peduli!Apa harus gue sebut nama Arka dulu baru Lo semua minggir?!!"


"Siapapun yang pegang kunci,buka sekarang!!" lanjutnya.


Munculah siswa laki-laki membukakan pintu untuk Daniel,ia langsung menghantam wajah pria tersebut dan berlari masuk ke dalam kelas.


"Lo gak apa-apa?" tanya Daniel kepada Rizan yang sedang di pegang kuat oleh salah satu dari mereka.


"Lo gak bisa liat?" tanya Rizan dengan santainya. "Gue gak suka ada orang yang nanya gue baik-baik aja atau ngga padahal dia tau gimana kondisi gue" lanjut Rizan dengan suaranya yang masih terdengar seperti candaan.


BUGGGHHH!!!!


Daniel menghantam wajah Edo hingga laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya sekaligus. "Dia temen gue,BANGSAT!!"


"Hah?" celetuk salah satu dari mereka.Sementara laki-laki yang sedang memegang erat tubuh Rizan langsung melepaskan dan menjauh dari nya.


"Ngapa lo baru lepasin gue sekarang anjing!Gue gak bisa bela diri gara-gara Lo!" ucap Rizan kesal.


"Apaan maksud Lo?" tanya Edo.


"Lo pikir apa maksud gue?" tanya balik Daniel. "Gue yakin dua puluh menit lagi muka Lo pada bonyok sebonyok-bonyoknya"


"Eh minggir-minggir"


"Woy minggir Lo Bolot!"


"Eh cabut-cabut buruan"


"Ayo pergi kalo gak mau kena masalah"


Bisikan demi bisikan itu berhasil menarik perhatian Edo untuk menatap keluar kelas.Matanya langsung terbelalak saat melihat Arkana datang bersama teman-temannya yang lain.


Refleks mereka memundurkan langkahnya hingga menyentuh dinding dan tidak bisa lari kemana-mana lagi.


"Hshhh muka Lo" ucap Arkana yang merasa iba kepada Rizan. "Lo baik-baik aja?" tanya Arka.


"Lo gak bisa liat?Gue gak suka-"


"kalo ada orang yang nanya gue baik-baik aja atau ngga padahal dia tau gimana kondisi gue" ucap teman-teman Rizan yang memotong perkataan nya secara bersamaan.


"Hapal Lo semua" cetus Rizan.


"Kenapa si brother?Punya masalah apa temen gue sama Lo?" tanya Arkana sambil menepuk-nepuk bahu Edo dengan pelan.


"I-itu,ini cuma salah paham doang Ka-"


BUGHHHH!!!


Belum sempat Edo menyelesaikan perkataannya,Arkana sudah melayangkan satu pukulan keras kepada Edo hingga meninggal jejak memar di pipinya.


"Mau kita bantuin?" tanya Rafael.


"Gak usah"


"Gak usah katanya" ucap Rafael kepada teman-teman.Seolah mengerti apa yang dirasakan Rizan,mereka langsung keluar kelas untuk membawa Rizan ke unit kesehatan meninggalkan Arkana yang masih berada di dalam bersama Edo dan teman-temannya.


"Badan doang gede Lo pada,mainnya keroyokan" bisik Arka yang langsung menghajar satu persatu dari mereka.


Meskipun berusaha melawan,nyatanya mereka tidak berhasil menaklukkan Arkana karena laki-laki itu tidak akan membiarkan mereka melukai wajah tampan nya sedikitpun.


"Lo tim mana?Gue sih tim Arkana"


"Kalo menurut gue Edo sama temennya sih yang menang,secara mereka kan rame sedangkan Arka sendiri",


"Lah Lo gak tau ya?Harus gue kasih paham dulu nih,Dia jago main soloan.Apalagi mereka doang mah apaan kecil",


"Tuh kan dia tuh seksi banget kalo lagi berantem"


"Liatin aja,kalo mereka bikin muka Arka luka kita keroyok mereka"


**BUGGGHH**!!!


Satu pukulan mereka berhasil mengenai tulang pipi Arka dan meninggalkan luka memar disana.


"Oh my God muka nya kena!"


"Pengen gue tampol tuh yang pukul muka suami gue"


"Hhh!Dari sekian banyak organ tubuh gue,kenapa harus mula sih ANJING!!!" Teriaknya yang langsung melanjutkan olahraga ekstrim tersebut.


Saat Arkana sedang sibuk menghajar beberapa siswa,Edo langsung berlari keluar kelas untuk menyelamatkan diri tanpa memperdulikan nasib teman-teman nya.


Tentu saja yang sangat Arka incar adalah Edo karena dia dalang dari semua nya.Arkana langsung berlari keluar kelas mengejar Edo.Sialnya laki-laki itu berlari ke lantai satu untuk meminta bantuan para guru.


Sepanjang perjalanan menuju lantai satu,sesekali Arkana menghajar Edo saat ia lengah.Sedangkam siswa di lantai dua dan tiga langsung berteriak histeris saat melihat kejadian tersebut.


"I-itu Arka kan?" tanya Aneska.


"Lah iya, ngapain dia?" tanya balik Divia.


"Ya Lo fikir mereka ngapain?Mereka lagi berantem" Mereka pun langsung berlari menuju lantai satu untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Hei sedang apa kalian!!" teriak pak Joni,guru olahraga.


"Pak pak pak pak!!!Tolong saya pak!" ucap Edo yang sangat ketakutan.


"Kenapa kamu?Kenapa muka kamu?"


"I-itu pak-"


"Yah, Ngapain ke lantai satu sih?Jadi ketauan kan" gerutu Arkana kepada Edo.


"Arkana!Ngapain kamu!!"


"Cuma bercanda doang kok pak"


"Kamu apakan Edo sampai mukanya seperti ini?" tanya Pak Joni.


"Orang gak di apa-apain kok"


"Pak tolongin saya pak"


"Cih,tolong?" tanya Arkana sambil menyeringaikan bibir nya. "Minta tolong sama Allah,bukan sama pak Joni"


"Apa yang sebenarnya terjadi Edo?"


"Gak tau pak, tiba-tiba dia pukul saya sama temen-temen saya" ucap Edo.


"Tiba-tiba?Ngomong sekali lagi lo anjing!" ucap Arka yang berjalan mendekati Edo,tetapi ia langsung bersembunyi dibalik badan pak Joni.


"Ada apa ini?" tanya Bu Tesa yang tidak sengaja melihat kejadian tersebut.


"Sepertinya mereka berkelahi Bu" kata Pak Joni.


"Berapa pukulan yang kamu kasih untuk dia Arkana?" tanya Bu Tesa saat melihat wajah Edo yang sangat mengenaskan.


"Gak tau,saya gak ngitungin.Lo ngitung gak Do?" tanya Arka sambil berjalan mendekati Edo tetapi pak Joni langsung menghentikan nya.


"Saya cuma mau nanya doang" kata Arkana.


"Ibu harus bagaimana lagi sih Arka agar kamu tidak berbuat ulah terus menerus?" tanya Bu Tesa dengan lembut.


"Apaansi ibu tumben banget ngomong nya lembut gitu,biasanya juga ngegas terus kalo ngomong sama saya" kata Arkana.


"Saya sudah capek" kata Bu Tesa. "Apa harus saya panggil orang tua kalian?"


"Ide bagus Bu,sekalian silaturahmi sama orang tua saya.Ngomong ngomong...mama saya cantik loh Bu" bisik Arkana.


"Sudah!!Akan saya panggil orang tua kalian,tetapi untuk kali ini hanya kamu yang ibu bawa ke ruang konseling" ucap Bu Tesa kepada Edo.


"Bagaimana dengan Arka Bu?" tanya Pak Joni.


"Dia sudah alumni ruang BK,jadi tidak perlu dibawa kesana lagi.Karena jika dibawa ke sana tidak akan merubah apapun"


"Tapi mau bagaimana pun kalian harus bermaafan terlebih dahulu,tidak boleh ada rasa iri benci di hati sesama manusia" kata oak Joni.


"Ayo bersalaman" kata Bu Tesa.


"Ayo kalian harus damai" sahut pak Joni.


"Kalau habis berantem langsung damai,saya gak mau berantem pak" kata Arka yang menolak untuk berdamai.


"Yaudah salaman aja"


"Ayo cepat" kata Bu Tesa.


Edo mengulurkan tangannya terlebih dahulu, sementara Arkana hanya melirik tangan Edo dengan malas. "Apaan si Bu,Pak kayak anak TK aja salaman abis berantem"


"Sudah cepat Arkana!"


"Yaudah deh" Arkana meludahi telapak tangannya sendiri lalu berusaha menjabat lengan Edo,Namaun laki-laki itu langsung menjauhkan kembali lengannya karena ia tidak mau terkena air liur Arkana.


"Kamu jorok banget sih!Ngapain coba ngeludahin tangan sendiri?" tanya Bu Tesa.


"Apa boleh saya ludahin tangan dia?" tanya balik Arkana,dia yang ia maksud adalah Edo.


"Sudah sudah,sekarang kamu kembali ke kelas tanpa membuat keributan lagi!Dan kamu Edo,ikut Bu Tesa ke ruang konseling",


"Iya pak"


Raut wajah senyuman Arka langsung berubah 180° menjadi dingin saat dirinya sudah berjalan menuju kelas.