
Di ruang perpustakaan yang cukup ramai itu,Aneska sedang berjalan santai menyusui satu persatu rak buku yang berjajar disana.Sudah lama ia tidak menyapa buku-buku bacaan Favorit nya.
Aneska sangat menyukai buku bergenre romantis dan kriminal.Mata nya berbinar-binar saat melihat buku bertema psychopath di rak paling atas yang tidak bisa ia gapai.Tidak mungkin Aneska harus menaiki kursi untuk mengambil buku tersebut,karena menurutnya itu adalah perilaku yang tidak sopan.
Wanita itu berusaha untuk terus berjinjit dan menggapai buku tersebut,namun tidak bisa.Tiba-tiba ada seseorang yang dengan sukarela meletakkan sebelah kakinya sebagai tumpuan kedua telapak kaki Aneska agar wanita itu bisa mengambil buku yang ia inginkan. "Akhirnya dapet juga,makasih ya Ar-"
Wajah nya yang ceria seketika langsung pias saat mendapati laki-laki yang baru saja menolong nya adalah Aditya,bukan Arkana.
"Ar?' tanya Aditya.
"Oh, maksud gue makasih Dit.Berkat Lo gue bisa ambil buku ini" ucap Aneska tersenyum tulus.
"Lo suka cerita tentang sychopath?" tanya Aditya lagi.
"Iya nih"
"Jarang loh ada cewek yang suka cerita sadis kayak gini, anak-anak OSIS yang lain sengaja gue suruh simpen buku ini di rak paling atas karena jarang ada siswa yang baca"
"Oh iya?"
"Iya,tapi ternyata Lo suka"
"Lo suka cerita tentang sychopath juga?" tanya Aneska.
"Ngobrolnya sambil duduk aja sini,pegel tau kalau harus berdiri terus"
"Oh iya,maaf"
"Tadi Lo tanya apa?" ucap Aditya yang melipat kedua tangannya di atas meja.
"Lo suka cerita tentang sychopath juga?"
Aditya terdiam lalu tersenyum manis. "Kebetulan gue gak suka Nes,ngeri sendiri"
"Oh gitu,terus sukanya cerita kayak gimana?"
"Romantis, komedi,paling bukan sychopath sih tapi lebih ke genre horor aja" Aneska hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh iya,pulang sekolah ada waktu gak?Rencana nya gue mau adain rapat OSIS siang ini" ucap Aditya.
"Rapat OSIS siang ini?Liat kondisi nya aja gimana? Takutnya gue ada kepentingan mendadak nanti siang"
"Yaudah,bisa gak bisanya kasih tau gue ya"
"Iya"
"Yaudah kalau gitu gue ke ruang guru dulu" Aditya langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Aneska.
Aneska memutuskan untuk meminjam buku tersebut selama beberapa hari.Kemudian saat dirinya sedang berjalan di lorong kelas,ia berpapasan dengan kedua teman Faranisa yaitu Helia dan Kamala.
Mereka hanya menatap Aneska sinis, sementara wanita itu hanya tersenyum kecil sebagai bentuk perdamaian diantara mereka. "Apa kabar?" tanya Helia kepada Aneska tiba-tiba.
"Baik kak"
Meskipun tatapan dan wajah mereka sinis,tetapi di dalam lubuk hatinya mereka adalah orang baik yang sudah memaafkan atas perseteruan mereka saat beberapa Minggu yang lalu.
"Kak Faranisa kemana?Kok gak bareng kalian?" tanya Aneska.
"Faranisa ya?" ucap Kamala kebingungan.
"Kita juga gak tau,udah hampir tiga minggu ini dia gak masuk sekolah dan gak hubungi kita"
"Gak masuk sekolah?' tanya Aneska lagi.
"Iya,dia hilang kabar gitu aja"
"Di rumah,apartemen,rumah neneknya bahkan rumah saudara nya pun gak ada.Orang tuanya juga gak tau dimana dia sekarang" kata Helia.
"Apa dia punya masalah besar?"
"Gak tau juga sih,Dia gak pernah cerita sama kita.Iya kan Mal?"
"Iya, sebelumnya juga dia masih baik-baik aja kayak gak ada masalah sama sekali"
"Kalau gue berfikir sih kayaknya dia salah pergaulan sama dunia luar,biasa jaman sekarang.Di tambah lagi dia sering ikut clubbing" ucap Helia.
"Udah ya,kita mau ke kantin dulu.Sebentar lagi bel masuk soalnya"
"Oh iya"
"Lain kali kita ngobrol lagi oke?"
"Iya"
...•••...
Hari ini Arkana tida masuk sekolah, seperti biasa dengan alasan tanpa keterangan.Aneska cukup kesal dengan alasan tersebut,tetapi Divia berusaha untuk menenangkan sahabat nya agar bisa sedikit bersabar.
"Jadi kan kita ke toko kue,hari ini gue ulang tahun loh" ucap Divia saat mereka sedang berjalan keluar gerbang sekolah.
"Iya jadi,tapi gue telfon Arka dulu ya.Dari lagi gak ada kabar soalnya".
"Yaudah"
Tak butuh waktu lama Arkana langsung menerima panggilan dari Aneska.Terdengar suara keramaian diseberang sana,maka Aneska yakin bahwa laki-laki itu sedang berkumpul bersama teman-teman satu geng motor nya di markas. "Ada apa Nes?" tanya Arkana.
"Ada apa?" ia mengulangi pertanyaan Arkana. "Kamu dimana?Kenapa hari ini gak masuk sekolah?Apa kamu sakit karena gak pake jaket semalam?" oceh Aneska, sahabat nya hanya bisa terdiam sambil menahan tawanya.
"Aduaduaduaduh posesif nya" teriak Rizan menggoda Aneska.
"Yaudah kamu sekarang dimana?Mau aku jemput?" tanya Arkana.
"Gak usah,aku pulang sama Divia.Ada barang yang harus kita beli"
"Yaudah kalau gitu nanti malam aku ke rumah kamu ya"
"Yaudah"
"Dahh Aneska sa-" belum sempat menyelesaikan perkataannya,Aneska langsung mematikan panggilan tersebut.
"Jangan terlalu posesif ah jadi cewek "ucap Divia.
"Gue gak posesif,cuma kesel aja"
"Yaudah gak usah kesel-kesel,kita berangkat sekarang oke"
...•••...
"Iya sebentar Nes"
Aneska sudah merasa cukup bosan,tidak sengaja ia melihat seorang wanita yang ia kenali dari pantulan cermin dihadapannya.Aneska terus mengedipkan matanya untuk memastikan apakah benar itu wanita yang ia kenal atau bukan.Mengingat cara berpakaian nya yang sangat berbeda membuat Aneska ragu.
Dengan cepat Aneska langsung keluar dari toko tersebut dan berjalan menghampiri nya tanpa sepengetahuan Divia. "Itu Faranisa kan?" gumam Aneska.
Ia melihat wanita itu sedang membawa satu kantung plastik ditangannya dengan penampilan yang sangat berbeda.Aneska sangat keliru karena cara berpakaian Faranisa yang menggunakan baju daster dilapisi outer ditambah lagi dengan menggunakan sendal jepit sebagai alas kakinya. "Itu beneran dia?"
Kemudian Aneska berinisiatif untuk mengikuti langkah Faranisa secara diam-diam.Sesekali ia bersembunyi saat Faranisa menoleh ke belakang karena merasa ada seseorang yang mengikutinya.
Langkah Faranisa semakin cepat,begitu juga dengan Aneska.Ia semakin kebingungan saat mendapati Faranisa yang berjalan masuk kedalam pemukiman kumuh yang tidak pernah ia datangi sebelumnya.
Faranisa masuk ke dalam salah satu rumah berukuran kecil yang terlihat sangat kumuh, Aneska bingung dengan apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu.
Tok!Tok!Tok! ,sekali ketukan Faranisa tidak membuka pintunya.
Tok!Tok!Tok
Dan akhirnya wanita itu membukakan pintu untuk Aneska. "Ada ap-"
Mereka hanya saling menatap satu sama lain dalam waktu yang sangat singkat. "Ini beneran Faranisa?' tanya Aneska.
"Lo ngapain disini?" tanya Faranisa terkejut.
"Seharusnya aku yang nanya,kenapa kakak ada disini?"
"Cepet pergi sekarang dan jangan pernah datang kesini lagi!" ucap Faranisa dengan tegas.
"Kenapa?Ayo kita pulang,apa ada masalah?" tanya Aneska.
"Gak usah banyak ngomong,pergi sekarang!"
"Gak mau"
Faranisa bingung harus berbuat apa, dengan cepat ia langsung menarik lengan Aneska untuk membawanya masuk kedalam rumah.Menutup gorden dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Kenapa?Ada apa?" tanya Aneska.
"Gue mohon sama Lo buat pergi dari sini,Lo gak boleh ada disini" ucap Faranisa sambil menggenggam erat kedua tangan Aneska.
Terlihat wajah Faranisa yang tidak sanggup untuk menceritakan masalah yang sedang ia hadapi,itu terus menahan tangisnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Kenapa?Cerita sama aku?Ada masalah ekonomi?Atau diusir sama keluarga?Ayo tinggal dirumah aku" ucap Aneska.
"Gue gak butuh bantuan Lo,yang gue mau sekarang Lo pergi dari sini Nes.Terlalu bahaya kalau Lo tau dimana keberadaan gue sekarang".
"Cerita dulu apa masalah nya,baru gue nurut buat pergi dari sini sekarang juga"
"Gue hamil" ucap Faranisa.Pengakuan nya membuat Aneska langsung terdiam.
"Apa?"
"Gue hamil, sekarang Lo pergi"
"Tapi cerita dulu sepenuh nya,baru aku pergi"
"Ngeyel banget si Lo jadi orang" ucap Faranisa kesal. "Gue diusir dari rumah karena ketauan hamil"
"Ya tapi sama siapa?kamu harus minta pertanggung jawaban sama laki-laki itu" Faranisa menangis. "Hubungan Lo baik-baik aja kan sama Arkana?"
"Bukan itu yang aku mau,siapa laki-laki yang udah bikin kamu hamil?" tanya Aneska.
"Sebaiknya Lo harus pura-pura gak tau kalau gue kasih tau siapa nama laki-laki itu" ucap Faranisa.
"Iya gue janji"
"Sebaiknya Lo jangan terlalu deket sama Aditya, apalagi kalau sampai pergi berdua sama dia"
"Apa?" seketika wajah Aneska berubah menjadi datar. "Apa maksud Lo?"
"Lo tau kan apa maksud gue!" teriak Faranisa.
"Gak mungkin,Lo lagi fitnah Adit kan?Gak mungkin dia ngelakuin hal keji kayak gitu"
"Tapi kenyataannya dia ngelakuin hal itu Aneska!Dia gak sebaik apa yang Lo kira,justru dia lebih brengsek dari Arkana bahkan dia sampah!"
"Gue mohon sama Lo pergi sekarang juga"
"Dia bisa hamilin lo juga kalau Lo terus ada disini!" teriak Faranisa. "Cepet pergi sebelum dia datang"
Dengan cepat Aneska langsung keluar rumah untuk melarikan diri.Namun terlambat,secara tidak diduga Aditya datang dan melihat seseorang berlari keluar dari rumah tersebut.Ia melihat dengan jelas seragam yang sama dengannya,tetapi tidak melihat wajah Aneska dengan jelas.Meskipun hanya sekilas,Aditya tidak akan membiarkan nya melarikan diri begitu saja.
Ia kembali memundurkan mobilnya untuk mencegat Aneska dari jalan lain.Faranisa yang melihat dari balik jendela hanya bisa berdoa agar Aneska berhasil melarikan diri dari kejaran laki-laki sampah itu.
Aneska terus berlari sekencang mungkin bersamaan dengan suara dering ponselnya yang terus berbunyi karena Divia bingung dengan keberadaan Aneska saat ini yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Halo Nes Lo dimana kok tib-"
"Bantu gue sekarang juga!" Teriaknya dengan suara yang terengah-engah.
"Kenapa,kenapa Lo ngos-ngosan gitu?Ada orang yang kejar Lo?"
"Iya,tolong ban-" Aneska langsung terdiam saat sebuah mobil datang menghalangi jalan nya.Jantung Aneska semakin berdebar-debar, sementara di seberang sana Divia terus memanggil namanya.
Aditya masih menatap wajah Aneska dengan tatapan nya seperti biasa,tatapan seorang Aditya yang merupakan ketua OSIS pintar dan bijaksana.Namun karena Aneska sudah mengetahui segalanya,ditambah lagi dengan kondisi nya yang sedang cemas.Aneska langsung membalikkan badannya dan berlari,namun sayangnya laki-laki itu memiliki ketangkasan yang cukup baik.
Aditya langsung meloncat dan menendang punggung Aneska hingga wanita itu jatuh tersungkur di tanah.
"Halo Aneska?Lo baik-baik aja???" panggilan mereka masih terhubung.
Aneska berusaha meraih ponselnya, namun Aditya langsung menginjak-injak ponsel tersebut dan melemparnya ke sembarangan arah hingga rusak total.
Aneska merasakan kembali sakit di perutnya,hal itu membuat ia kesulitan untuk bangkit kembali.Dengan kasarnya laki-laki itu menarik tas Aneska agar wanita itu bisa segera bangkit tanpa membuang-buang waktu.
"Lepasin gue Dit,gue mohon" ucap Aneska. "Gue janji gak akan kasih tau tentang masalah ini ke siapapun"
"Manusia paling gak bisa dipegang omongannya" setelah mengatakan hal itu Aditya langsung menyeret tubuh Aneska dengan tangan kekar nya uang masih menggenggam tas Aneska.
"Jangan kayak gini Dit,sakit!"
Aditya memasukkan Aneska ke dalam mobil dengan perlakuan kasar nya.Ia mengunci kedua lengan dan kaki Aneska menggunakan borgol agar wanita itu tidak bisa berkutik.