I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 42



Butuh waktu semalaman untuk menunggu Aneska siuman.Arkana sudah kembali menuju kamar rawatnya untuk beristirahat.Tak lama setelah Arkana pergi,Aneska tersadar dan mulai membuka matanya perlahan.


Ia merasakan rasa yang begitu sakit di seluruh bagian tubuhnya. "Gue dimana?" gumamnya.


"Hah ini dimana?"


"Kok sepi gini?Halo ada orang gak diluar?" ucap Aneska. "Iya sangat benci dengan suasana mencekam seperti itu"


Aneska hendak bangkit dari tidurnya namun tidak bisa,rasa sakit itu akan kembali muncul jika ia banyak bergerak. "Aduh sakit!"


"Ini kenapa sih?Gue kenapa bisa kayak gini?" Aneska berusaha untuk mengingat kejadian sebelumnya.


"Gue di tembak?Oh iya bener".


Aneska terdiam sejenak,tetapi semakin lama rasanya situasi semakin mencekam.Matanya terbelalak saat melihat jam yang masih menunjukkan pukul 1 malam.


"Hah jam satu?Ya Allah gimana ini"


"Gue bawa hp gak ya?" Ia mencari ponsel tanpa menggerakkan badannya sedikit pun. "Yah gak ada lagi"


"Aduh haus" Rasanya malam itu banyak sekali keluhan yang ia dapatkan.Selain rasa sakit,takut dan gelisah ia juga sangat merasa haus.


Namun jarak meja dengan dirinya yang cukup jauh menjadi tantangan tersendiri untuk Aneska agar bisa meraih gelas tersebut.Dengan sekuat tenaga Aneska memaksakan untuk bergerak dan menahan rasa sakitnya.


"AAAAAA!!"


BRAKKK!!!


Gelas berisi air tersebut jatuh dan pecahan gelasnya berserakan dimana-mana.Sementara Aneska langsung memegang perutnya yang sangat terasa sakit akibat luka jahitan yang belum kering. "Tolong" bisiknya yang tidak kuat untuk berteriak.


Mendengar suara keributan dari kamar sebelah,Arakan langsung terbangun dari tidurnya dan berlari secepat mungkin untuk melihat kondisi Aneska. "Anes!" ia langsung berjalan menghampiri Aneska dan membenarkan posisi tidur nya.


"Kamu udah sadar?kenapa gak panggil aku?" tanya Arkana panik.


"Gue gak tau kalau ada lo disini,tolong ini sakit banget ARRGHHH!!!!" teriak Aneska sambil meremas lengan Arkana sekuat mungkin.


"DOK!DOKTER!!!" teriak Arkana.Tak hanya itu ia pun langsung menekan tombol bel untuk memanggil tenaga medis lainnya.


5 menit kemudian mereka datang dan memasuki ruangan tersebut. "Ada apa?" tanya dokter.


"Dia baru aja sadar terus sedikit bergerak dan badannya terasa sakit semua katanya dok" ucap Arkana.


Tanpa banyak bicara lagi,Dokter tersebut langsung menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Aneska hingga wanita itu langsung merasa lebih tenang dari sebelumnya. "Tidak perlu khawatir,saya sudah memberinya cairan pereda nyeri meskipun efeknya hanya bertahan Samapi beberapa jam saja"


"Makasih ya dok"


"Karena sudah siuman,selamat menjalankan perjuangan rasa sakit.Taoi gak lama kamu oasti sembuh kok" kata Dokter. "Yasudah kalau begitu saya permisi"


"Iya do"


Arkana langsung meneteskan air matanya saat melihat Aneska hanya terdiam dengan tatapan kosongnya yang terlihat sangat lelah.Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang Aneska alami.


"Apa sebentar lagi gue mau mati?" tanya Aneska dengan suaranya yang terdengar sendu.


"Kenapa kamu ngomong gitu?Kamu gak boleh ngomong kayak gitu" Arkana terus menggenggam erat tangan Aneska.


"Sakit banget,kayak mau mati rasanya"


"Engga,gak boleh.Kalau kamu pergi aku sama siapa?" tanya Arkana yang mulai menangis tersedu-sedu.


"Lo beneran sayang sama gue?kayaknya gitu" ucap Aneska. "Makasih udah sayang sama gue,gue juga sayang sama Lo Arka"


"Hm,makanya lo harus sehat lagi biar kita bisa terus sama-sama"


Aneska tidak menghiraukan perkataan Arkana, perlahan mata nya mulai tertutup dan tangan yang sedang Arkana genggam mulai melemah.Tentu Arkana panik,tetapi kepanikan nya mereda saat ia mendengar jantung Aneska masih berdetak,nadi yang masih berdenyut dan nafas yang masih berjalan.


Aneska hanya tertidur karena efek dari obat yang baru saja dokter suntikan ke dalam tubuhnya.Arkana tidak mau kembali ke kamar rawatnya nya,ia memilih untuk berjaga disana dan memastikan bahwa Aneska masih tetap bernafas.


...•••...


Tak lama setelah Arkana pergi,Aneska membuka matanya dan terbangun dari tidur.Ia menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan seseorang siapapun itu.


Pintu toilet kembali terbuka dan Aneska langsung memejamkan mata nya kembali agar Arkana mengira bahwa Anes masih belum terbangun.


"Belum bangun juga Nes?" tanya Arkana. "Emang lo gak laper?"


"Hasshh sialan disini gak ada makanan" gerutunya yang langsung mengambil ponsel untuk menghubungi Rafael.


"Halo?"


"Lo kesini sekarang bawa makanan"


"Kan bisa beli di luar" Ucap Rafael.


"Gak,gue gak mau tinggalin Anes sendirian"


"Hmmm,yaudah deh iya gue sama Ijan kesana sekarang"


"Yaudah,eh jangan lupa bawain baju ganti gue juga"


"Gue harus ke rumah lo dulu gitu?"


"Ya gak usah,di lemari markas kan ada baju gue" kata Arkana.


"Oh iya ya"


"Bego kok di pelihara" langsung mematikan telpon nya.


"Aduh!Maaf ya Nes ngomong kasar" bisik nya yang duduk di sebelah Aneska. "Nes liat deh" Arkana menunjukkan ponselnya kepada Aneska yang masih menutup mata.


"Gucci ngeluarin tas terbaru,emang lo gak mau?" tanya Arkana. "Emang lo gak suka?"


"Oh gak suka ya?yaudah" lanjutnya. "Tapi katanya hari ini ibu kantin rilis bakso varian terbaru deh,Lo kan suka bakso"


"Varian ceker ayam sama lemak sapi,tapi nanti Lo makanannya jangan banyak-banyak ya takut kolesterol dan darah tinggi.Bisa-bisa nanti Lo marah-marah terus lagi sama gue"


Mendengar perkataan Arkana,ia hanya tertawa di dalam hatinya.Laki-laki yang satu ini terlihat sangat lucu hari itu.Aneska tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia kenal super super badboy ini telah berubah menjadi laki-laki yang sangat lembut dan pengertian.


"Kalau lo udah bangun,gue janji deh bakal anter kemana pun Lo mau.Siang,malam atau subuh juga gak apa-apa"


"Kalau bisa gue traktir makan juga, sepuasnya terserah mau dimana gue gak peduli"


Aneska langsung membuka mata hingga membuat Arkana terkejut dan bahagia. "Lo udah sadar? Anes!"


"Janji ya?" tanya Aneska dengan suara kecilnya.


"Janji apa?"


"Makan dan anter kemana pun gue mau"


"Siapa yang bilang gitu?" seketika itu langsung berusaha untuk menarik kembali janji nya kepada Aneska tadi.


"Yaudah gue merem lagi"


"Jangan jangan jangan!!!Jangan dong" ucap Arkana. "Yaudah deh"


"Janji" Anes mengulurkan jari kelingking nya.Tak disangka Arkana malah menggenggam tangan Aneska lalu memasukkan jari kelingking wanita itu kedalam lubang hidungnya hingga membuat Aneska langsung merengek kesal.


"Ih Arka jorok!" Rengek Aneska.


"Terus ini ngapain?"


"Janji maksudnya"


"Oh tanda janji, kirain mau ambilin upil aku" ucap Arkana sambil tertawa kecil.