I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 11



7 tahun yang lalu.


Malam itu hujan sangat deras di sertai petir yang bergemuruh membuat siapapun yang mendengarnya akan bersembunyi ketakutan.Dua orang kakak beradik terjebak dalam hujan deras tersebut dan mereka memutuskan untuk berteduh di salah satu halte busway terdekat.


Setiap hari mereka selalu pergi dan pulang bersama meskipun berbeda sekolah.Saat itu sang kakak laki-laki sudah duduk di bangku kelas 10 SMA sementara sang adik perempuan masih duduk di bangku kelas 4 SD.


Sang kakak bernama Alderio Derlangga sering pulang sekolah larut malam hingga membuat adik perempuan nya yang bernama Aneska Rabella harus menyimpang terlebih dahulu ke rumah saudara untuk menunggu jemputan nya.


Tadinya Alderio berfikir bahwa malam itu sepertinya mereka menginap saja karena hujan yang sangat deras,ia takut jika adiknya akan sakit bila terkena hujan malam.


Tetapi Aneska menolak,ia ingin pulang malam itu juga karena Anes ingin tidur bersama sang mama.Pada akhirnya Aledrio mengiyakan dan mereka pulang dengan menaiki motor.


Di tengah-tengah perjalanan petir mulai terdengar sangat menyeramkan,hujan juga semakin lebat maka Alderio memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu di salah satu busway terdekat.


Suasana sudah sangat sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.tidak ada busway yang datang karena sudah bukan jam beroperasi.


Tiba-tiba datang seorang pria yang usianya sekitar 20 tahunan berjalan mendekati mereka dan berdiri disebelah Alderio dengan tas besar yang dibawanya.


"Mau kemana dek?" tanya pria tersebut.


"Mau pulang bang"


"Anak sekolah kok pulang nya malem banget?"


"Iya nih,lagi persiapan buat acara tahunan" ucap Alderio sambil tersenyum.


"Ini adiknya?" tanya pria itu lagi sambil menatap Aneska.


"Iya"


Tiba-tiba pria itu menyetrum leher Alderio hingga ia berteriak kesakitan.Setelah melihat korbannya lemah,pria itu langsung menusukkan pisau tepat di perut Rio hingga mengeluarkan banyak darah dari dalam tubuhnya.


Aneska,gadis kecil yang saat itu masih berusia 10 tahun langsung berteriak histeris saat melihat seseorang menyakiti kakak laki-laki nya.Refleks Anes berlari menghampiri pria tersebut dan menggigit tangannya.Namun tenaga pria itu sangat kuat hingga Aneska terhempas karena lemparan.


"ANES LARI!!" teriak Alderio yang berusaha mendekati Anes dengan cara merangkak.


"KAK RIO!"


"ANES LARI YANG JAUH,SEKARANG!!!" teriak nya lagi.


Mau bagaimana pun keadaan nya,Aneska tetap tidak bisa meninggalkan sang kakak yang sedang disakiti oleh orang lain apalagi karena ia ingin melindunginya.


Pisau yang sedang menancap di perut Alderio di cabut kembali oleh pria tersebut lalu ia menusukkan nya lagi ke tubuh Rio hingga ia benar-benar berteriak kesakitan.


Anes menangis sejadi-jadinya karena ketakutan melihat darah yang terus mengalir dari tubuh kakaknya.Ia berteriak sekeras mungkin untuk meminta pertolongan namun tidak ada yang datang karena suara kecilnya tertutup oleh suara derasnya air hujan.


Pria itu menghentikan aksinya sejenak dan berjalan menghampiri tas nya untuk mengambil sesuatu.Alderio menganggap bahwa itu adalah kesempatan yang baik untuk pergi melarikan diri bersama Anes,namun pria jahat itu kembali menghampiri Rio dan menarik kakinya hingga terseret kembali ke tempat semula.


"Anes,apapun yang terjadi lari sejauh-jauhnya!" ucap Alderio.


"Tapi kak-"


"Lari Anes!!"


Itulah kata-kata yang terakhir kali Alderio ucapkan sebelum sebuah tongkat besi berukuran sedang menghantam kepala nya berkali-kali hingga ia tak sadarkan diri.


Meskipun ia telah mengetahui bahwa korban nya sudah tak bernyawa,tetap saja pria biadab itu terus menerus melanjutkan aksi nya dengan memukul wajah Alderio berkali-kali hingga sulit untuk di kenali.


Tubuh Anes mulai lemas saat melihat wajah dan baju seragam Alderio yang di penuhi darah,ia ingin sekali berlari namun sangat sulit.Seolah olah kakinya sudah tertanam disana.


Pria itu menghentikan aksinya dan mulai menatap Aneska dengan perlahan,ia melemparkan besi yang sedang di genggam nya lalu berjalan mendekati Aneska.


Ia tau bahwa bahaya sudah berada di hadapannya,Anes langsung berlari kemanapun langkahnya tertuju namun pria itu langsung menangkap Anes dan membisikkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan kepada anak seusia Aneska.


Tujuannya membunuh Alderio ternyata bukan semata-mata untuk kesenangan jiwa nya,namun ada niat jahat lain yang akan ia lakukan.Pria itu sengaja membunuh Alderio karena ingin melecehkan adik perempuan nya yang masih berusia sangat muda.


Hampir dilecehkan, seseorang datang menendang tubuhnya dari belakang hingga ia jatuh tersungkur.Lalu seseorang lagi datang berlari untuk menyusul.


"Ada anak kecil disini?" tanya Erika yang langsung menghampiri gadis kecil itu lalu memeluknya.


Penjahat itu hendak melarikan diri,namun Bintang berhasil menangkap dan menghajarnya habis-habisan hingga terkulai tak berdaya.


Erika terkejut saat melihat wajah Alderio yang bersimbah darah,lalu ia menutup mata Anes agar gadis itu tidak melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.


"Lo ngapain Anjing!!!" teriak Bintang sambil menghantam wajah penjahat tersebut. "Bangun Lo bangsat!!"


"Bintang udah!Udah Bintang" ucap Erika yang menarik baju Bintang, jika tidak dihentikan bisa-bisa pria itu akan kehilangan nyawa nya juga.


Erika menghubungi polisi, sementara Bintang mengikat kedua tangan dan kaki pria mengenaskan tersebut. "Tolongin kakak saya" ucap Aneska tiba-tiba dengan mata yang masih ditutupi oleh tangan Erika.


Bintang,Erika dan penjahat itu langsung menoleh ke arah Aneska.Bintang menghampiri Alderio untuk memeriksa apakah ia masih bisa di selamatkan atau tidak.Dan ternyata jawabannya adalah tidak.


Ia langsung berlari menghampiri pria itu dan memberikan nya satu pukulan terakhir di wajahnya. "Lo punya otak gak si Anjing?" tanya Bintang.


"Lo bunuh Abang nya terus mau lecehin adik nya,WARAS GAK LO BANGSAT!!!" teriak Bintang sambil menarik kerah jaket pria tersebut.


Bukannya merasa bersalah,pria itu justru memperlihatkan senyum kecilnya hingga membuat Bintang benar-benar kesal.Untung saja polisi segera datang,jika tidak mungkin pria itu sudah mati sebelum waktunya.


Erika dan Bintang menyerahkan Anes kepada pihak kepolisian untuk diantar pulang ke rumahnya,namun Anes menolak karena saat itu ia takut dengan polisi.Maka untuk mempermudah,Erika dan Bintang diminta untuk mengantar Anes pulang dengan di kawal oleh mobil polisi di belakangnya.


Saat Anes hendak masuk ke dalam mobil Erika,ia melihat ada seorang anak laki-laki seusianya sedang berbaring dan tertidur pulas di kursi belakang.Lalu Erika membangunkan nya untuk memberikan Aneska tempat duduk.


"Arka...Arka bangun sayang" ucap Erika.


"Emmm"


"Bangun"


"Kenapa mah?Udah nyampe?" tanya Arkan dengan wajah yang masih setengah sadar.


"Duduk dulu,ada yang mau ikut kita"


Arkana langsung menoleh ke arah Aneska yang masih berdiri di dekat pintu mobil dengan tatapan anehnya. "Siapa dia?"


"Nanti mama ceritain dirumah ya,sekarang kamu berbagi tempat duduk dulu sama perempuan ini",


Sepanjang perjalanan Aneska menangis tanpa suara, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.Sedangkan Arkana sejak tadi terus menatap bingung wajah gadis yang sedang menangis itu.


Itulah awal pertemuan mereka, meskipun saat ini mereka saling tidak menyadari hal itu.Meskipun saat ini Arkana belum mengetahui bahwa gadis kecil yang dulu menangis di sebelahnya ternyata seorang Aneska Rabella.