I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 14



Suara klakson mobil Bintang membuat Security langsung berlari cepat menuju gerbang sekolah.Hari itu Erika dan Bintang datang tepat saat para siswa sedang beristirahat.


"Maaf,ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Security.


"Saya orang tua siswa" kata Bintang.


"Ada perlu apa ya pak?"


"Yang jelas saya gak ada perlu sama bapak"


"Oh iya maaf pak, sebentar saya bukakan dulu gerbang nya" dengan cepat Security langsung membuka full gerbang tersebut.


Saat mobil mereka sudah berhenti di parkiran, kebetulan pak Rama sedang berada di sana untuk mengambil barang nya yang tertinggal di mobil.Ia melihat mobil itu sekilas lalu menghampiri nya untuk bertanya apa keperluan mereka datang kesana.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Rama.


Erika langsung berlari mendekati pak Rama dengan wajah nya yang berbinar-binar. "Pak"


"Iya?Ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Rama lagi.


"Bapak" panggil Erika.


"Maaf?" tanya pak Rama bingung.


"Bapak lupa sama kita?" tanya Bintang.Pak Rama langsung mengernyitkan dahi nya sambil memalingkan wajah untuk berfikir sejenak dan mengingat siapa mereka.


Setelah mengingat siapa keduanya,pak Rama kembali menatap mereka dengan wajah yang sangat berbinar binar.


"Udah inget pak?" tanya Erika antusias.


"Erika!!ini Bintang!" Teriaknya.


"Bapak!!" Erika dan pak Rama langsung menyatukan kedua tangannya sambil melompat-lompat kegirangan.


"Udah lama banget kita gak ketemu" kata Bintang.


"Iya,kalian ngapain kesini?Mau reunian sama yang lain?" tanya pak Rama.


"Bukan,saya kesini mau ketemu sama kepala sekolah" kata Erika.


"Mau apa? Investasi?"


"Bukan,kemarin anak saya bikin masalah.Jadi kepala sekolah mau ketemu sama kita berdua"


"Anak?" tanya pak Rama bingung.


"Iya,Anak kita"


"Sekolah disini?" tanya pak Rama lagi.


"Iya,bapak baru tau?"


"Yang kemarin bermasalah?Sia-.HAAAA!jangan bilang..." Pak Rama langsung menatap Bintang dan Erika dengan mulutnya yang terbuka lebar.


"Nama anak saya Arkana" kata Bintang.


"HAH?" teriak pak Rama. "A-Arkana?"


"Iya,bapak beneran baru tau?Wah parah nih"


"Pantas saja kalau saya lihat tingkah dan cara bicara nya,saya jadi teringat dengan siswa yang pernah sekolah disini.Tapi saya lupa namanya,dan ternyata itu anak kalian?" tanya pak Rama.


"Iya,ganteng kan anak saya pak?" tanya Bintang.


"Ganteng sih,tapi saya gak kuat sama sikap nya.Melebihi kalian tau gak? Yasudah kalau begitu mari bapak antar ke ruang kepala sekolah"


"Makasih ya pak"


Sepanjang lorong kelas menuju ruang kepala sekolah,semua siswa yang sedang berada di luar kelas langsung saling berbisik saat melihat kedua orang tua Arkana.Mereka tidak tahu bahwa orang yang sedang mereka bicarakan adalah kedua orang tua Arkana.


"Siapa tuh?Guru baru?"


"Anak baru bukan sih?"


"Oh gue tau nih,diliat dari gaya nya kek nya mereka mau bagi-bagi duit sih"


"Jamkos nih kek nya"


"Itu yang cowok cakep banget astaga!!"


"Eh eh,yang cewek nya boleh juga tuh"


"Kalo mereka anak baru,gue mau incer yang cewek nya"


"Mana sempat goblok,keburu nyangkut sama Arkana"


"Jauhkan dia dari Arkana ya Allah"


"Yang cowok calon-calon inceran cewek-cewek nih kek nya"


"Siapa tuh?" tanya Divia kepada Aneska saat mereka baru saja keluar dari ruang guru.


"Gak tau deh"


"Aneska" panggil pak Rama.


"Iya pak"


"Kamu tau Arkana kan?"


"Arkana..." Aneka menyebut nama Arkana sambil menatap pak Rama.


"Iya", pak Rama langsung mengerti maksud Aneska.


"Kebetulan kita teman satu kelas nya pak" kata Aneska.


"Kalian teman satu kelas nya Arka?" tanya Erika.


"I-iya kak" Aneska tidak tahu harus memanggil Erika dengan sebutan apa,maka jalan yang paling aman adalah dengan memanggil nya kakak karena ia melihat sepertinya usia mereka tidak jauh berbeda.


"Ada apa ya pak?" tanya Divia.


Aneska terus menatap Bintang dan Erika,ia seperti pernah melihat mereka sebelumnya tetapi tidak tahu dimana.


"Tolong bantu bapak untuk memanggil Arkana dan menyuruhnya datang ke ruang kepala sekolah sekarang.Bilang saja kalau kedua orang tuanya sudah menunggu"


"O-orang tua?!!" teriak Divia refleks.


"Sutt!!" Aneska langsung menarik tangan Divia agar ia tidak mengatakan yang seharusnya tidak ia katakan.


"Iya pak,saya panggil sekarang juga.Permisi"


"Terimakasih ya" kata Erika.


"Sama-sama.Ayo buruan!" bisik nya kepada Divia yang masih berdiam diri sambil menatap kedua orang tua Arkana dengan tatapan terkagum-kagum.


"I-itu calon mertua gue Nes" Ucap Divia.


"Suttt!!Mereka bisa denger,jangan malu-maluin!" bisik Aneska yang langsung mencubit pinggang Divia.


Sementara Bintang dan Erika hanya saling menatap sambil tertawa kecil karena mendengar perkataan Divia tadi.


"Mohon di maklumi" kata pak Rama.


"Iya gak apa-apa pak santai aja" kata Bintang.


"Yasudah kalau begitu,mari"


Sepanjang perjalanan menuju kelasnya,Sivia terus mengoceh tentang kedua orang tua Arkana.Ia benar-benar sangat senang bisa bertemu dengan orang tua dari pria yang ia sukai.


"Heh demi apa si mereka orang tua nya Arka?" tanya Divia.


"Jangan ngomong terus ah"


"Kayak kakak nya gak si?"


"Berisik!"


"Yaampun pantesan aja Arka ganteng,bokap nyokap nya aja bibit unggul dua-duanya"


"Ck!"


"Gue jadi minder.Kalo nanti gue udah jadi bagian dari keluarga mereka,pasti gue yang paling merusak keindahan keluarga kita"


"Lama-lama gue lempar nih"


"Lo bisa liat kan betapa menawannya mereka berdua?"


"Hsshh!"


"Kalo gak bisa dapetin Arka, dapetin bokap nya juga gak apa-apa deh"


"Gak usah halu.Sebelum lo dapetin bokap nya,Lo udah ditendang duluan sama Arka" ucap Aneska yang langsung masuk ke dalam kelas.


"Arka balikin gak!!" teriak Salsabila yang kesal karena Arka terus menjahili dirinya.


"Tar dulu gue mau liat,secakep apa gebetan Lo ini" ucap Arka yang terus berlarian di dalam kelas untuk menghindar dari Salsa sambil melihat beberapa foto di galeri ponsel wanita tersebut.


"Berani duel sama gue gak dia?Kalo dia berhasil kalahin gue,gue restuin deh"


"Dih,siapa lo?Gue gak butuh restu Lo"


Teman-temannya yang sedang berada didalam kelas hanya terdiam sambil menyaksikan pertikaian diantara mereka.


"Arkana" panggil Aneska.Laki-laki itu hanya menoleh sesaat lalu kembali menatap foto di ponsel Salsa.


"Lo disuruh ke ruang kepsek sekarang,orang tua Lo udah nungguin disana" Arka langsung menoleh ke arah Aneska lalu melemparkan ponsel tersebut kepada Salsabila dari kejauhan dan pergi begitu saja.


"EH!EH!EH JANGAN DI LEMPAR!" teriak Salsabila.Untung saja Rafael berhasil menangkap ponsel tersebut.


"Orang tua Arka?Gue jadi kepo gimana bokap nyokap nya?"


"Liat yuk liat yuk!"


"Kepo ahh"


Arkana terus berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah yang terletak di lantai satu, sesekali ia menabrak beberapa siswa yang menghalangi jalannya.


"BANG!BANG!BANG!Stop dulu bentar" teriak Galen sambil merentangkan tangannya untuk menghalangi jalan Arkana.


"Ngapa?"


"Itu,ada cewek cantik.Bodi nya behh! Kayaknya dia anak baru,Lo gebet bisa kali" ucap Galen sambil tersenyum lebar.


"Itu nyokap gue goblok!!" bisik Arka sambil menarik kerah seragam Galen.


"Hah?" Arkana langsung melepas cengkraman nya dengan kasar lalu kembali berjalan cepat untuk menemui kedua orang tua nya.


"Mampus Lo" celetuk Fergus setelah Arkana sudah tidak ada di dekat mereka.


"Lagian dongo banget lo jadi orang" sahut Ivan sambil menoyor kepala Galen.


Mereka bertiga termasuk anggota geng COZTRA yang duduk di bangku kelas 10.Arkana sudah sampai di depan ruang kepala sekolah.Dari kejauhan ia melihat Edo datang bersama orang tuanya juga.


"Permisi" kata Arka yang langsung masuk dan duduk di antara kedua orang tuanya.


"Bu Tesa mana?" bisik pak Budi kepada Pak Rama.


"Sepertinya masih berada di ruangannya,biar saya panggilkan" Pak Rama langsung menghubungi Bu Tesa agar ia bisa segera datang ke ruangan kepala sekolah.


"Kalian orang tua Arka atau kakaknya?" tanya oak Budi tiba-tiba.


"Mereka kedua orang tua nya pak" sahut pak Rama.


"Bapak dan ibu tau apa yang dilakukan oleh putra kalian kemarin?"


"Arka bilang,kemarin dia berkelahi dengan banyak orang karena membela temannya" kata Bintang.


"Kamu beneran jujur?" tanya pak Budi kepada Arkana.


"Terus saya harus bohong?" tanya balik Arkana.


"Bapak dan ibu memarahi Arkana?Atau memberikan hukuman kepadanya?"


"Tidak"


"Tidak?"


"Anak saya membela temannya,jadi apa yang salah?" tanya Erika


"Tapi putra kalian berkelahi dan memukuli mereka semua"


"Anak saya hanya akan berbicara jika temannya disakiti karena perkataan,tapi dia akan melakukan kekerasan jika temannya disakiti karena kekerasan juga" ucap Erika dengan tegas dan kak Rama langsung mengacungkan jempol untuknya.


"Tapi tetap saja,tidak boleh ada kekerasan disekolah ini.Bayangkan,anak ibu ini menghajar banyak siswa sekaligus kemarin"


"Menghajar banyak siswa?Masa keroyokan kalah?Apa gak kecewa orang tuanya?" ucap Bintang sambil menahan tawanya.


"Maaf jika saya lancang, sebenarnya bapak dan ibu mendidik putra kalian tidak di rumah?" tanya pak Budi kesal.


"Mungkin sekarang anak saya akan menjadi pembunuh,pecandu narkoba,**** bebas kalau tidak kami didik dengan benar.Kami mendidik Arkana dengan sangat baik.Kami jauh lebih tau dari siapapun bagaimana cara mendidik Arkana.Setiap orang tua mempunyai caranya masing-masing untuk mendidik anak mereka.Tapi cara kami sedikit berbeda dengan orang tua kebanyakan.Papa nya menanamkan prinsip perkataan dibalas perkataan,darah dibalas darah" kata Erika.


"Ekhemm..." pak Budi langsung mengubah posisi duduknya sambil membenahi dasi karena suasana mulai terasa menegangkan menurutnya.


Tok!Tok!Tok!


"Silahkan masuk" kata pak Rama.


"Maaf saya terlambat karena harus mengurus siswa bermasalah.Erika?" tanya Bu Tesa saat Erika menolehkan wajahnya kearah wanita tersebut.


"Hai Bu" sapa Erika sambil tersenyum.


"Kamu ngapain disini?"


"Mama kenal sama Bu Tesa?" tanya Arkana.


"Mama?" tanya balik Bu Tesa dengan ekspresi wajahnya yang terkejut


"Ini orang tua saya Bu.Apa saya bilang,mama saya cantik kan?" tanya Arkana.


"Hah,serius?Kami...kamu Bintang kan?"


"Iya Bu,udah lama kita gak ketemu" kata Bintang.


"Yaampun ini apa yang terjadi?Pak,pak Rama tolong jelaskan" Bu Tesa langsung berjalan menghampiri pak Rama.


"Panjang kalau diceritakan Bu"


"Versi singkatnya aja"


"Jadi mereka menikah,terus mempunyai putra yaitu Arkana" kata Pak Rama.


"Hah? Hahahaha! Seharusnya saya gak perlu pusing memikirkan kenapa sikap kamu seperti itu?Sekarang saya tau apa alasannya" Bu Tesa mentertawakan dirinya sendiri sambil bertolak pinggang.


"Kenapa ibu bisa kenal sama orang tua saya,bapak juga" ucap Arkana.


"Mereka siswa alumni di sekolah ini,kebetulan kami sempat mengajar pada masa mereka berdua" kata Pak Rama.


"Aaaaa gitu...Waah" Arkana langsung menatap mamanya sambil tersenyum manis.


"Permisi" suara dari luar ruangan itu membuat mereka langsung menoleh ke arah pintu ruangan.


"Sepertinya Edo dan kedua orang tuanya"


"Silahkan masuk" ucap Bu Tesa.


"Karena semuanya sudah berkumpul disini,maka pembicaraan akan saya mulai.Yang akan saya tanyakan pertama,apakah kalian menyadari kesalahan masing-masing?" tanya pak Budi.


"iya" singkat Arkana sementara Edo masih terdiam.


"Anak saya gak salah pak" Mama Edo tiba-tiba bersuara untuk membela anaknya.


"Cih" bisik Arka jengah.


"Tetapi kemarin Edo mengatakan bahwa dirinya bersalah"


"Tapi mah" rengek Edo.


"Bapak tidak bisa lihat wajah anak saya jadi seperti ini karena dia?" Erika,Bintang dan Arkana masih memantau.


"Tapi ibu tau kan apa penyebab Arkana memukuli Edo dan teman-temannya?" tanya Bu Tesa.


"Dia datang tiba-tiba lalu menghajar anak saya.Padahal orang yang bermasalah dengan Edo tidak ada hubungannya dengan anak itu" ucap mama Edo sambil menunjuk Arkana.


"Eh Bu gak usah nunjuk-nunjuk ya!Muka saya mahal" ucap Arkana.Laki-laki itu memang sangat tidak suka jika ada orang,siapapun itu menunjuk wajah secara terang-terangan dihadapannya.


"Permudah aja deh pak,hukum anak itu bila perlu keluarkan saja dari sekolah ini" mereka masih memantau.


"Kalau anak saya di keluarkan?Lalu bagaimana dengan anak anda?" tanya Erika.


"Ya anak saya tetap disini lah,dia sudah kelas tiga sebentar lagi lulus jadi jangan ganggu kelulusan nya karena permasalahan ini"


"Kalau udah tau bentar lagi mau lulus kenapa dia banyak tingkah pake keroyok anak orang segala?saya juga gak terima loh karena yang dia pukuli adalah anak sahabat saya" kata Erika.


"Sudah sudah,saya lihat disini yang tidak mau mengalah adalah ibu" kata Pak Budi kepada mama Edo. "Maka saya akan mengambil jalan tengah yaitu dengan menghukum semua yang terlibat dengan hukuman yang sama"


"Kalau saya terserah pihak sekolah aja,anak saya kan bikin masalah nya di sekolah jadi Arka berhak untuk mendapatkan hukuman disekolah" kata Bintang.


"Baik.Bagaimana dengan ibu?" mama Edo masih terdiam.


"Udah mah ngalah aja" bisik Edo.


"Yaudah deh,asal anak saya gak dikeluarin dari sekolah"


"Berarti masalah ini kita anggap selesai dan semua yang terlibat akan mendapatkan hukuman yang sama"


"Kalau begitu kalian berdua bermaafan dulu dong,ayo salaman" kata pak Rama.


"Jangan diludahi lagi tangan kamu Arkana!" kata Bu Tesa.


"Iya engga" Arkana mengambil kertas yang ada di meja lalu menggulung dan mengulurkannya ke arah Edo agar ia tidak perlu menggenggam tangan Arkana.