
"Yaudah kamu ke kelas sana,jangan bikin masalah lagi hari ini" kata Erika sambil merapikan rambut putranya di lorong sekolah.
Situasi saat itu sangat sepi karena jam istirahat sudah selesai.Meskipun demikian,para siswa sibuk mengintip di balik pintu dan jendela kelas untuk mencari tahu siapa Bintang dan Erika karena mereka masih penasaran.
"HAAAA!siapa sih mereka?Kok gue cemburu liat cewek itu pegang-pegang rambut Arka"
"Masih gue pantau"
"Mereka kakaknya kali"
"Arkana anak tunggal katanya"
"Saudaranya mungkin"
"Tau dah"
Setiap siswa di kelas yang berbeda terus berbisik dan bertanya satu sama lain dengan rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi.
"Mama sama papa langsung pulang kan?" tanya Arkana.
"HAAAA!"
"LO DENGER KAN?"
"Lo juga denger kan?"
"Gue gak salah denger kan?"
"Demi apa bonyok nya?"
"Eh demi apa gue merinding dong!"
"Mau pingsan gue"
"Iya,sampai ketemu di rumah ya" Erika melambaikan tangannya kepada Arkana dan laki-laki itu langsung mencium pipi Erika.
"HUAAAAAAA!!!!" Mereka sudah tidak bisa menahan emosi saat melihat adegan yang baru di lihatnya.Suara teriakan itu membuat ketiganya langsung menoleh terkejut tetapi mereka tidak melihat siapapun disekitarnya.
"Bisa-bisa mereka benci sama mama loh kalo kamu kayak gini" ucap Erika sambil tertawa.
"Yaudah kalo gitu kita pulang dulu ya" lanjut Bintang.
"Iya pah, hati-hati bawa mobilnya ya" Arkana mengulurkan kepalan tangannya kepada Bintang dan dibalas kepalan juga oleh laki-laki tersebut.
Saat mereka sedang berjalan menuju parkiran, tiba-tiba seseorang berteriak memanggil dan mereka langsung menghentikan langkahnya.
"HEII!" teriak wanita tersebut.
"Ck!Mau ngapain lagi dia?" tanya Erika kesal.Wanita yang meneriaki nya adalah mama Edo yang baru saja keluar dari ruangan.
"Ada apa lagi?" tanya Bintang.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya wanita tersebut.
"Emang tadi gak cukup bu?" tanya Erika.
"Saya butuh bicara enam mata dengan kalian,tanpa pengawasan pihak sekolah"
"Yaudah"
Mereka bertiga pergi ke kantin untuk membicarakan hal yang ingin mama Edo sampaikan, meskipun sebenarnya Erika sangat malas mendengarkan pembicaraan nya itu.
"Aku ke toilet dulu ya" kata Bintang.
"Yaudah"
"Ada apa?" tanya Erika kepada wanita yang berada di hadapannya.
"Gini,tentang masalah anak saya dan anak kamu.Sebaiknya suruh anak kamu untuk minta maaf sama anak saya aja deh,anak saya sudah kelas 12 kalau poinnya terus di kurangi bisa-bisa dia tidak lulus dari sekolah ini.Memang nya kamu mau bertanggung jawab kalau anak saya gak lulus?" tanya mama Edo sambil menatap tajam wajah Erika.
"Tadi di sana setuju-setuju aja,kenapa sekarang malah protes sama saya?"
"Gini ya,bukan apa-apa nih.Kalau Masalah nya gak cepet di selesaikan,maaf aja nih ya saudara saya banyak yang jadi polisi.Bukan apa-apa nih ya,bisa aja saya bawa Masalah ini ke jalur hukum"
"Kok jadi jalur hukum?Gak nyambung",
"Saya bilang itu juga kalau anak ibu mau minta maaf dan bilang sama kepala sekolah kalau anak saya tidak bersalah"
"Kalau saya gak mau,ibu mau tuntut anak saya?" tanya Erika.
"Nah itu",
"Kalo gitu tuntut aja, selesai kan?Apa yang harus di permasalahkan lagi?"
"Saya gak main-main loh"
"Emang ibu pikir saya main-main?" Erika kembali memperlihatkan wajah Berandal nya.Seketika wanita itu langsung terdiam karena bingung ingin mengatakan apa lagi.
"Pantes aja anak kamu seperti itu,ternyata orang tua nya kayak gini" ucap nya tiba-tiba.
"Pantes aja anak ibu kayak gitu,orang induk nya aja kayak gini" Erika mengatakan kalimat yang samam
"Kalau dilihat-lihat,usia ibu dan anak kayak gak beda jauh.Ayah nya juga,Dulu hamil diluar nikah ya?" bisik mama Edo,ia benar-benar terlihat seperti ibu-ibu rumpi di perkampungan.
"Hahaha...kita nikah muda karena suami saya punya banyak uang.Kalau masalah usia,usia saya sekarang 36 tahun.Saya suka perawatan wajah dan badan,makanya saya terlihat seperti 10 tahun lebih muda.Oh iya,kalau usia ibu berapa?Kalo saya tebak kayaknya 45 tahun ya?" ucap Erika.
"Enak aja!Usia saya masih 38 tahun,saya lebih tua dari kamu seharusnya kamu bersikap sopan sama saya!"
"HAAAA!!38 tahun ternyata,maaf saya kira 45 tahun" senang melihat lawan bicara nya kesal,Erika tersenyum lebar sebagai bentuk ejekan.
"Udah selesai ngobrol nya?" tanya Bintang yang baru kembali dari toilet.
"Udah,katanya dia mau tuntut Arkana.Gak apa-apa kita tunggu aja surat tuntutannya.Permisi ya bu,anak muda mau pulang dulu" ucap Erika yang langsung pergi meninggalkan wanita tersebut.
...•••...
"Nes mumpung jam kosong,mending kita kasih tau mereka tentang acara penyambutan itu sekalian kita tanya siapa yang mau jadi perwakilan kelas buat jadi pengisi acara nanti" kata Aditya kepada Aneska.
"Yaudah kalo gitu Lo aja yang kasih tau" Aditya langsung berdiri di depan kelas untuk memberikan pengumuman tentang acara penyambutan menteri pendidikan yang akan datang mengunjungi SMA GAMA.
"Mohon perhatiannya teman-teman!" teriak Aditya.
"Kenapa Dit?" seketika mereka langsung terdiam untuk memperhatikan apa yang akan Aditya ucapkan kepada mereka.
"Sebentar lagi sekolah kita akan kedatangan menteri pendidikan,kepala sekolah mau kalau kita buat persembahan karya untuk mereka.Jadi gue mau tanya, siapa diantara kalian yang bersedia untuk jadi salah satu pengisi acara nanti?Setiap kelas harus ada perwakilan nya" kata Aditya. "Terutama buat kalian yang punya bakat"
"Gue Dit" salah satu siswa perempuan mengangkat tangannya. "Gue kan juara lomba puisi tingkat nasional" Lanjutnya sambil tersenyum lebar.
"Shombhong amat Lo!" sahut salah satu teman laki-laki nya.
"Udah-udah jangan pada ribut, Sekertaris tolong Catet nama-namanya ya" kata Aditya. "Oh iya, Sekertaris nya siapa?"
Rafael yang sedang terdiam memerhatikan Adit langsung menundukkan kepalanya untuk mengumpat karena ia sangat tidak mau menjadi sekretaris kelas.
"Ini Rafael!" teriak Rizan.
"Bacot Lo anjing!!Ngapain di kasih tau elah!!' teriak Rafael sambil menoyor kepala Rizan.
"El,tolong di Catet ya"
"Ganti aja apa Sekertaris nya,gue beneran gak minat sumpah!"
"Gak bisa El,kan Bu Yesi yang punya keputusan" kata Aditya. "Untuk sementara ini kerjain aja dulu tugas Lo jadi sekertaris"
"Haishhh sialan" gerutu Rafael sambil mengeluarkan buku di dalam tas nya dengan kesal.
"Sabar El" kata Divia.
"Sabar pala Lo!" ucap Rafael yang hendak melemparkan bukunya ke wajah Divia.
"Etss!!Gak boleh kasar sama cewek,mau nyokap Lo dikasarin sama bokap Lo?" tanya Rizan yang langsung menahan tangan Rafael.
"Bacot lo ah,ini semua gara-gara Lo tau gak?'
"Iya deh,gue kan sarangnya salah Dimata lo"
"Ada lagi?" tanya Aditya.
"Gue juara catur!Bisa kan?" tanya salah satu siswa laki-laki.
"Heh Bambang!Ya kali menteri pendidikan mau lo kasih persembahan menonton pertandingan catur HAHAHAHA!!" teriak Rizan yang disusul oleh gelak tawa teman-teman sekelasnya.
"Gue menghargai tawaran Lo,tapi sory banget soalnya waktu kita nanti terbatas", ucap Aditya dengan ramah.
"Yaudah gue juga gak maksa sih"
"Ya jangan baper gitu dong" ejek Rafael.
"Ada lagi yang lain?"
"Gue!"
"Karya apa?" tanya Aditya.
"Lo lupa ya?Gue kan juara stand up comedy tingkat nasional" ucap laki-laki itu.
"Lah,emang iya?" tanya Divia.
"Wah parah lo pada, gini-gini gue pernah nyumbang piala di lemari pameran sekolah"
"Tapi kok Lo tiap hari diem terus,gak pernah ngelawak?" tanya Rizan bingung.
"Lawakan gue mahal" ucap nya dengan penuh keangkuhan.
"Dih apaan si Ucok gaya Lo selangit banget"
"Catet ya El" kata Aditya kepada Rafael.
"Iye iye,bawel banget Lo"
"Baru gitu aja sombong Lo pada" Perkataan Arkana membuat semua siswa yang sedang bersuara langsung terdiam karena baru kali ini Arkana ikut campur saat sedang membicarakan tentang hal yang sangat tidak ia sukai.
"Dari pada Lo,gak ikut campur sama sekali" sahut Salsabila, perkataan cukup membuat teman-temannya langsung menoleh ke arah Salsa dengan wajah yang ketakutan kalau Arkana akan mengamuk tiba-tiba.
"Kalo gue kasih liat semua bakat yang gue punya, bisa-bisa tambah minder cowok-cowok sama bakat gue"
"Apaan bakat Lo?Bikin cewek klepek-klepek?" tanya Salsa.
"Cih,Lo lama temenan sama gue tapi gak tau bakat terpendam gue?" tanya Arkana. "El,tulis nama gue"
"Apaan?" tanya Rafael yang tidak percaya.
"Tulis nama gue"
"Emang Lo mau kasih liat apaan Ka?Jangan ngadi-ngadi deh" sahut Rizan.
"Udah tulis aja,kapan lagi gue mau gabung sama acara ginian coba?"
"Oh gue tau!" ucap Rafael yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Tau kan Lo?" tanya Arkana.
"Tau tau.Udah dia ikutan gak apa-apa,kapan lagi coba?" ucap Rafael kepada Aditya untuk meyakinkan nya.
"Tapi Lo serius punya bakat?" tanya Aditya.
"Heh anj-" Arka langsung menghentikan perkataan nya. "Jangan mentang-mentang gue suka bikin masalah,terus kalian semua pikir gue gak punya bakat?" mereka hanya terdiam menatap Arkana tidak percaya.
"Kalo kebanyakan orang punya bakat terpendam,beda sama gue.Kalo gue bakat dipendam,karena gue gak suka pamer kebaikan" Mereka masih belum merespon perkataan Arkana.
"Tapi gue gak yakin,soalnya Lo sama sekali belum pernah liatin bakat Lo ke kita" kata Divia yang berbicara dengan sangat berhati-hati.
"Gak perlu di pamerin,yang penting punya" cetus Arkana.
"Yaudah yaudah,gak apa-apa.Gak ada salah nya juga kan kalo Arkana ikut, jarang-jarang dia mau ikut serta di acara sekolah" Aneska akhirnya ikut berbicara setelah lama terdiam memperhatikan.
"Nah"
"Yaudah,gak apa-apa.Ada lagi?" Tidak ada yang mengangkat tangan.
"Yaudah kalo gak ada, sebentar lagi jam pulang kita siap-siap"
"Eh,eh!" bisik Arkana sambil menyentuh punggung Aneska dengan pulpen nya.
"Kenapa?"
"Kita duet aja gimana?Denger-denger tahun lalu Lo juara solo vokal kan?" tanya Arkana.
"Hah?" Aneska langsung terperangah tidak percaya jika laki-laki yang diidam-idamkan oleh banyak wanita sedang mengajaknya untuk berkerja sama membentuk sebuah karya.
"Ck!Gue paling gak suka kalo harus ngulang perkataan.Mau atau ngga?Hitungan ketiga selesai,satu...dua..ti-"
"Mau!" Aneska benar-benar tidak menyadari kalau dirinya baru saja menyetujui tawaran Arkana.
"Oke"
"Haduh barusan gue ngomong apa?Kenapa gue malah mau terima tawaran dia? Bisa-bisa gue dibasmi sama cewek-cewek satu sekolah nih"