I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 62



Mata Arkana perlahan sendu saat melihat Aneska sedang duduk termenung di kasurnya bersama Divia yang sejak tadi terus berusaha menyuapi makan siang untuk Aneska.Ia merasa asing untuk Aneska,wanita itu menatapnya dengan tatapan seolah-olah mereka baru bertemu hari ini dan kamu siapa?


Arkana terus bersikap sebaliknya,ia harus sedikit menjaga batasan dengan Aneska karena ingatan wanita itu belum pulih satu persen pun.


"Satu suap lagi ya?" tanya Divia sambil menyodorkan sesuap nasi kepada Aneska,tetapi wanita itu hanya memalingkan wajahnya karena tidak ada nafsu makan sama sekali.


Rasa cemas Aneska terhadap mereka sudah mulai memudar sejak Divia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Aneska tadi.Wanita itu berhasil sedikit meyakinkan keraguan Aneska.


Mereka saling terdiam selama beberapa saat,Arkana merasa tidak nyaman dengan situasi itu.


"Mereka kemana?" tanya Arkana,mereka yang ia maksud adalah para teman-temannya.


"Gue suruh mereka buat pulang dan istirahat,kasihan udah hampir tiga hari ini mereka gak pulang" kata Divia.


"Oh gitu"


"Ini siapa?" tanya Divia.


"Ini Gio,musuh gue" ucap Arkana.


"Mu-musuh?So-sorry gimana?Otak gue agak ngebug kayaknya"


"Lupain" ucap Arkana yang berlatih menatap Aneska.


"Kamu masih belum inget aku?" tanya Arkana,sontak Aneska langsung menoleh ke arah laki-laki tersebut dengan sikap waspada.


"Gak apa-apa" bisik Divia meyakinkan.


"Jangan takut,jangan tak-" seketika perkataan Arkana terhenti karena ia tidak sanggup menahan Isak tangisnya.Ia hanya bisa menunduk dengan tangisan tanpa suara.


Aneska sendiri tidak tahu kenapa ia merasa sakit hati saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya menangis karena dirinya tidak bisa mengingat apapun tentang siapa mereka dan kenangan apa saja yang sudah mereka lewati.


"Ja-jangan nangis" ucap Aneska dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Kenapa gue keliatan kayak orang bodoh banget,kenapa juga pake nangis segala" gerutu Arkana yang terus berusaha untuk menghapus air matanya.


"Udah bro" bisik Gio.


"Lo gak pernah rasain gimana rasanya kalau ada di posisi gue,sakit banget anjing.Andai gue bisa peluk ini cewek, sialnya gak bisa" gumam Arkana.


"A-aku ini siapa?" tanya Aneska dengan suaranya yang terdengar ragu.Sontak mereka bertiga langsung menatap wanita tersebut.


"Maksudnya?" tanya Divia.


"Aku,aku siapa dimata dia?" Dia yang Aneska maksud adalah arkana.Aneska memberikan pertanyaan seperti itu karena ia bingung sejak beberapa hari yang lalu Arkana seperti menganggapnya sangat istimewa.


"Kamu,kamu pacar aku Aneska" ucap Arkana dengan cepat seolah-olah ia tidak mau melewatkan kesempatan tersebut.


"Pacar?"


"Kita gak pacaran,tapi kamu punya aku" Aneska hanya terdiam.


"Lo kalau ngomong yang jelas,udah tau Anes lagi amnesia.Lu pake ngomongin yang ribet segala" bisik Gio.


"Kita deket,tapi gak pacaran.Intinya kamu spesial buat aku Aneska" kata Arkana.


"Beneran?" tanya Aneska.


"Hm beneran"


Perlahan Aneska merentangkan kedua tangannya seolah-olah sedang memberi peluang kepada Arkana untuk masuk ke dalam pelukannya itu. "Sini"


"Gimana?" tanya Arkana terperangah.


"Kalau aku spesial buat kamu,peluk aku" tanpa berbasa-basi Arkana langsung memeluk erat tubuh Aneska yang terasa sangat kecil dan ringan baginya.


"Kalau aku begitu spesial buat kamu,terus disini buat yakinin aku,bantu aku buat bisa inget semuanya" ucap Aneska.


"Arka udah,kasian Aneska sesak nafas" ucap Divia yang langsung menarik tubuh Arkana agar laki-laki itu bisa melepaskan pelukannya dengan segera.


...•••...


"Kamu dimana?" tanya Bintang saat dirinya sedang menghubungi Erika di malam hari.


"Aku lagi di Mall,habis beli beberapa hadiah buat Aneska.Ngomong-ngomong kita jadi jenguk Aneska malam ini kan?" tanya Erika sambil terus berjalan menyusuri basemen yang sepi untuk menuju mobil pribadinya.


"Jadi,tapi sekitar satu jam lagi ya.Aku masih ada sedikit pekerjaan soalnya"


"Yaudah kalau gitu aku tunggu di rumah ya, hati-hati sayang" ucap Erika.


"Dih, tumben sayang-sayangan.Pasti ada apa-apa nih"


"Apa-apa gimana?Emang gak boleh kalau aku panggil sayang?Kamu kan suami aku"


"Ya tumben aja"


"Emm tapi aku mau bilang kalau tadi aku beli semua barang ini pake black card kamu,soalnya aku lupa simpen black card punya aku dimana" dengan santainya Erika berkata jujur seperti itu setelah mengucapkan kata romantis kepada Bintang.


"Bener kan?Panggil sayang kalau ada apa-apanya aja" ucap Bintang ketus.


"Udah kan uang suami uang istri juga"


"Yaudah kalau gitu, kamu hati-hati di jalan ya.Sebentar lagi aku pulang"


"Iya,dah Bintang sayang"


"Dadah Erika jelek"


"Dih,awak kam-" dengan cepat Bintang langsung mematikan panggilan tersebut sebelum Erika memberinya kata-kata ancaman.


Erika sudah berada di dekat pintu mobilnya,tetapi ekspresi wajah Erika langsung pias saat melihat keberadaan seseorang di dalam mobilnya itu.Awalnya Erika mengira bahwa seseorang yang berada di dalam hanyalah makhluk halus,tetapi dia salah.Seseorang yang dilihat nya benar-benar manusia nyata.


Erika langsung memalingkan wajah seolah-olah ia tidak melihat apapun,wanita itu berusaha untuk tetap terlihat tenang walaupun hatinya sangat ingin berlari cepat.


Dengan pergerakan tangannya yang lincah,Erika berusaha untuk mencari nomor Bintang untuk menghubungi nya karena ia sangat yakin bahwa situasinya di lima belas menit kedepan tidak akan baik-baik saja.


"Aduh,kenapa juga harus ada barang yang ketinggalan" ucap Erika dengan nada suaranya yang sengaja ditinggikan. "Terpaksa deh harus balik lagi"


Erika berjalan cepat untuk melarikan diri,ia terus melirik kesana kemari karena berharap ada seseorang yang dapat membantunya.


"Halo?Ada apa?" ucap Bintang dibalik ponsel Erika.


"Kamu dimana? Cepet kesini" bisiknya.


"Aku kan udah bilang,satu jam lagi sampai di rumah"


Melihat gerak-gerik Erika yang mencurigakan, seseorang yang ada di dalam mobil tersebut langsung berjalan keluar mobil untuk mengejar wanita tersebut dengan niat jahatnya.


"Kamu dimana?Kesini sekarang juga!" teriak Erika setelah menyadari bahwa orang tersebut mempunyai niat jahat terhadapnya.


"Kenapa?Ada ap-"


Ponsel Erika langsung terlempar ke sembarang arah saat sebuah mobil sengaja melaju dengan kecepatan tinggi ke arah nya.Beruntungnya Erika berhasil menghindar,semua barang belanjaan nya jatuh berserakan dan ia tidak memperdulikan hal itu.


Erika terus melanjutkan pelariannya hingga sampai di titik dinding buntu yang tidak mungkin ia harus melarikan diri lagi.


"Hashh sialan" gumamnya. "Siapa Lo?"


Seseorang yang diduga laki-laki itu hanya terdiam sambil menatap tajam wajah Erika. "Mau baku hantam?Lo salah orang"


"Kenapa juga gue harus capek lari-lari" gumamnya. "Maju buruan,kita selesain sekarang.Suami gue udah nunggu di rumah" ucap Erika dengan wajah berandal dan sikap nya yang terlihat menantang.


"Ternyata masih sama kayak dulu" ucap seorang wanita yang baru saja datang menghampiri mereka berdua.Sontak Erika langsung menghentikan tingkah berandal nya dengan wajah yang sedikit terperangah sekaligus kebingungan.