
Setelah bebas dari hukuman,Arkana langsung bergegas menuju kantin untuk membeli makanan karena ia sudah tidak kuat menahan rasa lapar nya sejak tadi.Tetapi waktu tidak mengizinkan nya untuk pergi ke kantin karena jam istirahat sudah habis.Arkana langsung menghentikan langkahnya dengan wajah kesal.
Lalu ia melihat dua orang siswa laki-laki berkacamata hendak berjalan melewatinya, seperti nya kedua siswa itu baru saja kembali dari kantin karena kedua tangan mereka sibuk memegang kantong plastik yang berisi makanan.
Melihat kesempatan itu insting memalak Arkana tiba-tiba muncul. "Stop stop stop!" Arkana merentangkan kedua tangannya agar mereka tidak bisa lewat.
"Kenapa Ka?" tanya Rendi, salah satu dari mereka.
"Lo mau dapet pahala gak?" tanya Arka.
"Pahala?Mau lah"
Lalu Arkana mengulurkan tangan nya tanda ingin meminta beberapa makanan mereka.Tetapi kedua nya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Arka karena cara meminta nya yang sulit untuk di pahami.
Kebanyakan orang meminta dengan tangan yang menampar terbuka lebar,beda dengan Arkana yang memperlihatkan punggung tangannya seperti ingin mengajak bersalaman.
Lebih polosnya lagi Rendi malah menjabat tangan Arkana dan bersalaman,namun Arka langsung melepas nya dengan kasar. "Pegang-pegang lagi Lo!" bentak nya.
"Terus Lo ngapain tangannya kayak gitu?Gue fikir ngajak salaman"
"Bagi makanan satu" bisik Arkana.
"Kalo minta kok tangan nya gitu?Gak kebalik?" tanya Rendi.
"Lo tau gak pepatah lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah?Gue tiruin pepatah itu"
"Tapi kan sama aja ujung-ujungnya Lo minta"
"Gak usah banyak bacot buru ah elah!"
"I-ini stok buat jam kosong nanti" ucap Rendi yang langsung menyembunyikan kantong plastik ke belakang tubuhnya.
"Ck!Heran gue mau nya di kasarin terus" ucap Arkana yang langsung merebut kantong plastik tersebut dengan paksa dan mengambil sebuah roti coklat yang belum terbuka.
"Nih,ini doang.Mau dapet pahala kan Lo?"
"Yaudah" ucap nya sambil mengerutkan bibir.
"Ikhlas gak Lo?Kalo gak ikhlas juga bodo amat"
"Iya ikhlas!"
"Cakep" tanpa mengucapkan kata terima kasih Arkana langsung duduk di kursi yang berada di depan kelas orang lain.Ia tidak perduli meskipun jam istirahat telah selesai.
"Nih,gak usah kayak gitu lagi" ucap seorang wanita yang tiba-tiba duduk di sebelah Arka sambil memberikan sebotol minuman untuknya.
"Kantin tiga meter lagi,males gue"
"Lo kenapa?" tanya Keysha.
"Kenapa apanya?" tanya balik Arka tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tadi dihukum terus muka lo lebam gini" ucap Keysha sambil menyentuh bibir Arkana dengan jari telunjuk nya.Terdapat noda darah yang sudah kering di sana.
Arkana langsung berhenti mengunyah dan melirik ke arah sentuhan tangan itu dengan sorot mata sinis. "Gapapa gini doang" ia langsung memalingkan wajahnya untuk menjauh.
"Gue cabut duluan,thanks minuman nya" Arkana meneguk minuman tersebut dan menaruhnya kembali di samping Keysha lalu pergi begitu saja.
Sementara Keysha terus memperhatikan Arkana yang sedang berjalan semakin menjauh dari nya.
Karena sentuhan tangan Keysha di bibirnya tadi,Arka langsung masuk ke dalam toilet untuk membasuh darah keringnya agar tidak menarik perhatian banyak orang. "Berani-beraninya dia pegang bibir seksi gue" bisik Arkana yang mengoceh sendiri.
"Haduh muka gue!!!Gimana bisa dia tinggalin jejak lebam gini di muka gue!" suara keluhan siswa perempuan dari toilet sebelah membuat Arkana langsung terdiam dan terus mendengarkan ocehan wanita tersebut.
"Punya dendam apaan sih dia sama gue?Kalo niat nya mau bantu gue kenapa mukulnya beneran?"
"Cih" bisik Arkana yang tanpa di sadari dirinya tersenyum kecil saat mendengar ocehan Aneska.
Lalu ia segera pergi keluar dan berdiri di depan toilet wanita untuk menunggu Aneska keluar dari sana.
"HUAASTAGA!" teriak Aneska yang terkejut saat melihat ada seorang pria sedang berdiri tegap tanpa bersuara dihadapannya. "Ngapain Lo?Ngintip gue Lo ya?"
"Apanya yang mau di intip?Orang rata semua" celetuk Arkana.
"HEH!jangan kurang ajar Lo ya"
"Canda" Arkana memang bercanda karena ia benar-benar hanya asal bicara.Dalam hati nya ia ingin mengatakan bahwa bentuk tubuh Aneska cukup sempurna.
"Kenapa muka lo di tambal?" tanya Arkana yang pura-pura tidak tahu apapun.
"Pake nanya lagi,ini karena ulah Lo!"
"Perasaan gue pukulnya pelan deh,Lo tambahin kali biar kesan nya gue brutal banget"
"Enak aja!Ngapain gue rusak muka sendiri.Tanggung jawab pokoknya gak aku tau"
"Lah kan gue terpaksa,katanya Lo gak mau dihukum?" tanya Arkana kesal.
"Ya tapi kenapa harus mukul?Tanggung jawab pokoknya!"
"Tanggung jawab buat apa?Emang gue hamilin Lo?" ucap Arkana dengan suara yang cukup keras.
"HEH!Volume suara Lo kecilin!Kalo ada yang denger bisa salah paham nanti" bisik Aneska.
"Lagian lo ngapain minta gue tanggung jawab? Salah Lo sendiri ngapain pake ikutin gue segala"
"Lah kok jadi gue?Lo lah yang salah ngapain pake pukulin anak orang segala" kata Aneska.
"Lah kok Lo jadi nyalahin gue?Lo pikir gue bakal bilang, 'iya deh gue yang salah,emang cowok selalu salah,cewek yang selalu bener'.Gak!gak bakalan gue ngomong kayak gitu.Orang gue gak salah kok" ucap Arkana sambil memalingkan wajahnya.
"Pokoknya tanggung jawab,cari cara biar lebam nya cepet ilang.Ganggu tau gak!" bentak Aneska.
"Lo hobi banget bentak-bentak gue?Terus harus gue apain luka Lo itu?Mau gue cium hah?Sini gue cium kalo emang bisa ilang" Arkana mendekatkan wajah nya ke wajah Aneska seperti laki-laki yang ingin menyosor.
Aneska tidak mau kalau bibir Arkana berhasil mendarat di pipi nya.Ia memundurkan kepala dengan wajah nya yang gelagapan serta pipi yang tiba-tiba memerah.
""HIIHH!!Ngapain lo nyosor-nyosor?Dasar mesum!" ucap Aneska yang langsung menoyor kepala Arkana lalu berlari menuju kelas untuk menghindari laki-laki mesum menurutnya itu.
"Noyor gue dia?Serius noyor gue?Anjing gak ada harga dirinya banget gue di mata dia" gerutu Arkana.
Ia begitu heran karena kali pertama nya ada seseorang yang berani menoyor kepala nya,bahkan kedua orang tua dan para sahabat nya pun belum pernah ada yang melakukan hal itu sebelumnya kepada Arkana.
...•••...
Hari itu Aneska sangat malas untuk pulang dengan menaiki busway.Ia malas karena harus berjalan kaki dari jalan raya menuju rumahnya setelah turun dari busway.Dirinya memilih untuk menaiki taxi agar lebih mudah dan nyaman.
Hampir 10 menit ia menunggu tetapi taxi tak kunjung datang.Beberapa taxi yang lewat sebelum nya sudah terisi penumpang.
"Neng pulang sekolah nih?" tanya seorang pria yang tiba-tiba datang mengendarai motor bersama temannya.
"Iya" singkat Aneska sambil memalingkan wajah karena mulai risih dengan kehadiran mereka.
"Pulang kemana neng?Biar kita anter aja gimana?Neng duduk di tengah"
"Hah engga makasih" Anes mulai berjalan berpindah tempat untuk menghindari mereka.
Kebetulan beberapa sopir ojek tidak ada di sana karena mereka sedang mengantar penumpang nya masing-masing.
"Udah ayo cepetan,nunggu Taxi lama loh" Suara pria yang cukup berumur ini membuat Aneska sangat resah.
"Engga makasih!"
"Udah ayo cepet gak perlu jual mahal sama kita" bisik nya tepat di telinga Anes hingga wanita itu langsung melirik cepat kesana kemari karena rasa takutnya yang saat itu kembali hadir.Aneska mempunyai trauma tersendiri dalam hidupnya.Karena saat masih berumur 10 tahun ia pernah hampir menjadi korban pelecehan seksual oleh orang asing yang usia nya berbeda jauh dari Aneska.
Karena bingung harus melakukan apa,Anes langsung memberhentikan angkot yang melintas.Aneska sendiri pun tidak tahu kemana jurusan mobil angkot tersebut akan pergi karena ia memilihnya secara asal.
"Apaan?!!" tanya Arkana.
"Berhenti!!Minggir minggir!!"
Mereka berhenti di pinggir jalan yang lokasinya tidak jauh dari tempat Aneska berdiri tadi. "Itu Anes kan yang naik angkot?" tanya Rafael.
"Iya" Kata Rizan.
"Perasaan rumah nya bukan disana"
"Apaansi maksud Lo?" tanya Arkana.
"Jurusan angkot sama alamat rumahnya beda"
"Terus apa hubungannya?Barang kali dia mau ke rumah temen, saudara atau siapa kek" kata Rizan.
"Tau Lo ribet banget ngurusin hidup orang" cetus Arkana.
"Lagian Lo kenapa bisa tau dimana rumah Aneska?Lo nyari tau tentang dia sampe ke akar-akarnya?" tanya Rizan.
"Ya gue tau aja"
"Udah apaansi jadi ngobrol disini,ayo balik!"
"Tar dulu, perasaan gue gak enak nih" kata Rafael tiba-tiba. "Ikutin aja yuk"
"Apaansi Lo,kenapa jadi ngintilin orang?Kurang kerjaan banget gue"
Tiba-tiba ponsel Rizan berbunyi karena salah satu temannya di Markas menanyakan diamna keberadaan mereka yang tak kunjung datang.
"Iya bentar kita lagi otw nih!" teriak Rizan.
"Buruan!"
"Iya bacot lo ah!" Rizan langsung mematikan ponselnya.
Mereka memutar arah dan meninggalkan Aneska yang sedang dalam rasa ketakutan.Sepanjanh perjalanan menuju markas,Arkana terus melamun karena teringat dengan perkataan Rafael tadi.
Tanpa basa-basi ia langsung memutar balik dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa menyusul mobil angkot yang sudah pergi sejak tadi.
Disisi lain Aneska panik saat melihat kedua pria tersebut malah terus mengikuti kemana ia pergi.Ia takut bahwa masa muda nya akan berakhir hari ini karena ulah pria tua yang tidak tahu malu itu.
Aneska tidak tahu betul seluk beluk daerah Jakarta,ia tidak mau pergi lebih jauh lagi dengan arah dan tujuan yang tidak ia ketahui.Aneska memutuskan untuk segera turun dan melarikan diri dari mereka.
"Kiri kiri!" Aneska memberikan uang senilai dua puluh ribu rupiah lalu turun dari mobil dan berlari sekencang mungkin memasuki gang pemukiman warga yang cukup kumuh.
Arkana bisa melihat Aneska yang turun dari mobil angkot dengan tergesa-gesa bahkan ia tidak mengambil uang kembalian dari sopir angkutan tersebut.
"Pak cewek tadi kenapa?" tanya Arkana kepada sopir angkot.
"Gak tau mas,tadi dia minta turun di sini terus langsung lari padahal uang kembalian nya belum di ambil"
Arkana langsung menoleh ke arah Aneska pergi,ia melihat Anes yang sedang berlari semakin menjauh kedalam pemukiman sana dengan dua pria yang mengendarai motor terus berjalan sesuai dengan arah Aneska pergi.
Arkana langsung mengejar Aneska karena ia khawatir jika wanita itu sedang dalam bahaya.Sialnya terlalu banyak gang disana karena pemukiman cukup padat.
Arkana sempat kehilangan jejak tapi ia tidak menyerah begitu saja.
Aneska menghentikan langkah karena dihadapan nya sudah tidak ada jalan lagi.Hanya ada dinding besar dihadapannya.Sementara kedua pria tua tersebut berhasil mengejar Anes dan menemukan nya.Tempat yang cukup sepi itu sangat cocok untuk melancarkan aksi kotor mereka berdua.
"Pak tolong jangan lakuin apapun sama saya" bisik Anes memohon.
"Gak ngapa-ngapain kok neng,cuma pegang aja boleh kan?" goda nya hingga membuat wajah Aneska langsung muram dan juga matanya yang berkaca-kaca karena sangat ketakutan.
"Plis jangan maju mendekat!!" teriak Aneska. "TOLONG!!SIAPAPUN TOLONG!!"
Arkana, laki-laki itu berhasil mendengar suara teriakan Aneska dari kejauhan.Ia terus berharap agar Aneska tetap berteriak agar dirinya bisa menemukan keberadaan wanita tersebut.Karena gang yang sempit dan motor nya yang besar,Arka terpaksa harus turun dan berjalan kaki agar pencarian menjadi lebih mudah.
"Gak akan ada yang bisa denger suara kamu sayang,gang buntu ini penduduk nya lebih sedikit"
Aneska benar-benar merasa jijik dengan ucapan pria tua tersebut,ia membuka tas dan menggunakannya sebagai alat untuk perlindungan diri.
"Jangan deket-deket!!TOLONG!!!" Teriaknya lagi sambil menangis.Setegar apapun ia kelihatannya,tetap saja hari itu Aneska terlihat sangat menyedihkan.
"Teriak lagi,lebih keras" ucap Arkana yang berbicara sendiri.
Satu orang pria memantau keadaan,sedangkan pria yang satu nya lagi terus menggoda Aneska dan berjalan mendekati nya.Aneska semakin menurunkan tubuhnya sebagai bentuk perlindungan.Ia benar-benar sudah duduk di tanah dan menunduk agar pria itu sedikit kesulitan untuk melecehkan nya.
Baru saja pria tua itu hendak membuka kancing celananya,terdengar suara perkelahian di dekat mereka.Ya,Arkana berhasil menemukan Aneska.Ia sedang menghajar habis-habisan pria yang memantau keadaan.
Setelah mengatasi pria itu,Arkana kembali mengatasi pria tua kurang ajar ini.Ia melayangkan pukulannya bertubi-tubi hingga darah mengalir keluar dari hidung pria tersebut
Pria yang sudah di taklukan pertama tadi tiba-tiba menghajar punggung Arkana menggunakan kayu,tak tinggal diam Arkana langsung membuka helm nya dan memukul kepala pria itu sekuat tenaga menggunakan helm mahalnya.
Setelah kedua nya terkulai lemah,Arkana kembali bangkit dan menatap Aneska yang sedang duduk ketakutan di sana.Wajah dan penampilan nya begitu berantakan.
Lalu Arkana menarik kerah baju pria tersebut dan membawa nya kehadapan Aneska hingga wanita itu langsung memalingkan wajah.
"Gue pikir Lo mau ikut ambil bagian" kata Arkana. "Emang Lo gak dendam sama dia?Kalo gue jadi Lo udah gue-"
BUUGHH!!!PLAKKK!!!
Aneska langsung memukul dan menampar wajah si tua menjijikan itu,Arkana langsung membelalakkan matanya takjub karena ia belum menyelesaikan perkataannya tadi.
"Udah hm?" tanya Arkana.
"Belum puas,tapi gue gak mau kotorin tangan gue" kata Aneska sambil memalingkan wajahnya.
"Yaudah gue wakilin"
BUUGHHH!!!
Itu adalah pukulan terakhirnya. "Pergi gak Lo!" teriak Arkana. "Udah tua Lo ngaca!"
Kedua pria tersebut langsung lari terbirit-birit karena tidak mau mendapatkan pukulan lagi dari Arkana.
Setelah mereka pergi Arkana langsung menatap Aneska yang masih duduk di Tanah.Ia menatap gadis tersebut lalu memalingkan wajah sambil memutar kedua bola matanya jengah. "Lo gak apa-apa?" tanya Arakan sambil memegang kedua bahu Aneska untuk membantunya bangkit.
"Lo kenapa bisa ada disini?" tanya Aneska.
"Kebetulan,tadi gue liat lo lari kesini jadi gue ikutin.Terus ada yang teriak minta tolong juga kan tadi" Alasan Arkana sangat menyimpang.
Tiba-tiba Aneska menangis karena terharu,ia tidak bisa membayangkan jika Arkana tidak datang untuk menolong nya.Mungkin sekarang kehidupan masa muda nya sudah benar-benar hancur.
"Lah kok nangis?Kan orang nya udah gak ada" kata Arkana.
"Ng-ngga..Gu-gue cuma...AAAA!!" tangisan nya semakin menjadi-jadi.
"Heh jangan nangis,nanti orang lain ngira gue ngapa-ngapain Lo lagi" Wajah Arkana sudah mulai panik saat Aneska menangis tersedu-sedu di hadapan nya.
"G-Gue terharu a-aja g-gitu,ka-kalo gak ada l-lo..."Aneska tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
"Iya iya,udah udah gak usah nangis.Cengeng banget Lo" celetuk Arkana.
Tangisan Aneska semakin menjadi-jadi,Anes menangis sangat tersedu-sedu bahkan ia lun tidak sanggup mengendalikan emosi nya sendiri.Ia malah berjalan menghadap dinding lalu menangis sekencang-kencangnya disana.
Arkana bingung harus berbuat apa karena ia tidak pernah melihat wanita menangis se-histeris itu di hadapannya.
Ia membalikkan badan sejenak lalu kembali menatap Aneska dengan perasaan iba. "H-haishh!" gerutu nya sambil terus mengacak-acak rambut lalu berjalan menghampiri Anes dan memeluknya agar wanita itu bisa merasa lebih tenang.
Karena sedang terpuruk dan ia sangat membutuhkan sandaran,Aneska langsung menerima pelukan Arkana dan menangis tersedu-sedu disana selama beberapa saat.