I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 24



Sepanjang perjalanan menuju kelasnya,yang Aneska dengar hanyalah kata cibiran dan sindiran yang para siswa itu lontarkan kepadanya.Aneska hanya bisa terdiam dan terus menundukkan kepalanya,tentu saja sang sahabat yaitu Divia selalu menemani kemanapun Aneska pergi.


"Dia yang tadi nyiram sambel ke muka kakak kelas?"


"Diam-diam menghanyutkan"


"Gimana tuh nasib kakak kelas"


"Mainnya serem juga anjir"


"Mau coba-coba lo cari masalah sama dia?Hahah!"


"Gak asik mainannya sambel"


"Gak usah di dengerin Nes,lanjut jalan aja.Anggap mereka semua gak ada" bisik Divia sambil merangkul Aneska.


Suasana di kelas 11 IPA 2 sangat ramai,bahkan suara sorak sorai mereka bisa terdengar oleh Aneska dan Divia dari kejauhan.Tetapi saat dirinya masuk ke dalam kelas, seketika suasana menjadi sangat sepi dan mereka semua berpura-pura tidak melihat kehadiran Aneska.


"Tangan Lo masih panas?" tanya Divia saat Aneska sudah duduk di kursi nya.


"Masih,tapi gak apa-apa kok"


"Yaudah kalo gitu" ucapnya yang langsung duduk di kursi.


BRAAAAKKK!!!


Suara pintu yang terbuka sangat keras itu membuat seluruh siswa langsung berteriak karena terkejut.Helia dan Kamala datang menghampiri Aneska dengan raut wajahnya yang penuh dengan emosi. "Mau ngapain lagi sih mereka?" bisik Divia kepada dirinya sendiri.


"Bangun Lo!!" teriak Helia sambil menarik dasi Aneska hingga wanita itu langsung beranjak dari duduknya dengan leher yang sedikit tercekik.


"Lo harus rasain apa yang sahabat gue rasain!Kalo dia buta gimana!!!" Teriaknya.


"Gu-gue gak sengaja,gue cuma mau bela diri gue!!" ucap Aneska terbata-bata sambil berusaha melepaskan tarikan tangan Helia.


"Apa Lo bilang?Gak sengaja?" tanya Kamala.


PLAAKKK!!


Tamparan keras mendarat di pipi Aneska hingga wanita itu langsung memalingkan wajahnya karena kesakitan. "ANESKA!!" teriak Divia.Saat dirinya hendak menghampiri Anes,Kamala dan siswa kelas 12 yang lain langsung memegang erat tubuh Divia agar wanita itu tidak mengganggu aksi Helia.


Setelah memberikan tamparan keras hingga membuat pipi Aneska terasa sangat perih,Helia langsung menarik kembali dasi Aneska dan menyeretnya keluar kelas untuk di bawa ke lantai atap.


"Lepas!!" teriakan Aneska sama sekali tidak Helia hiraukan.


"Anes!!" teriak Divia.


"Diem Lo disini!" ucap Kamala.


"Temen-temen tolongin Anes dong!!!" teriak Divia kepada teman-teman nya yang hanya menyaksikan keributan tersebut.


"Kak lepasin kak!" ucap Aneska sepanjang perjalanan menuju lantai Atap.


"Gak usah berisik Lo!"


Setelah sampai di lantai atap,Helia langsung melempar tubuh Aneska dengan sangat kasar.Helia tidak sendirian,tentu ia ditemani oleh Kamala dan siswa teman sekelas yang jumlah nya lebih dari lima orang.


"Demi apapun gue gak bermaksud buat lakuin hal itu!" ucap Aneska ketakutan.


"Gak usah banyak bacot Lo!" teriak Helia yang menarik kerah seragam Aneska.


"Apa dengan lo merundung gue kayak gini,temen kalian bisa sembuh?Gue bakal bertanggung jawab buat bawa dia ke rumah sakit!" ucap Aneska.


"Dia gak butuh pertanggung jawaban Lo karena dia udah punya banyak duit,yang dia butuhkan sekarang lo berbaring di rumah sakit" kata Helia.


"Apa ini sikap kakak kelas buat adik kelas nya?" tanya Aneska. "Kalian semua tuh brengsek tau gak?"


PLAAKK!!! PLAAKKKK!!


Aneska mendapatkan dua tamparan sekaligus dari Helia di pipi kanan dan kirinya yang seketika langsung memerah.Kemudian ia mencengkeram erat dagu Aneska. "Jangan kurang ajar ya Lo,atau gue bakal berbuat lebih dari ini" bisiknya.


"Lepasin bangsat!" teriak seorang pria dari kejauhan.Seketika mereka langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


"*Arka??"


"Ngapain Arkana ke sini?"


"Aduh bahaya nih*"


"Arka" ucap Helia.


"Lepasin"


"Tapi kan-"


"Gue bilang lepasin ya lepasin!" Teriaknya sambil menarik tangan Helia yang sedang mencengkeram kerah seragam Aneska.


"Mending Lo semua cabut deh" ucap Rafael kepada siswa yang ada di sana dan mereka pun menuruti perintah Rafael.


"Lo gak apa-apa?" tanya Arkana yang menatap Aneska sambil berjongkok di hadapan wanita itu.


Aneska hanya mengangguk,padahal sudah sangat jelas bahwa kondisi nya sedang tidak baik-baik saja. "Tapi muka lo gak baik-baik aja" kata Arkana.


"Lo kenapa sih?Sakit jiwa?" tanya Arka yang langsung berdiri dan menatap tajam ke arah Helia.


"Lo gak tau ya?Dia udah sir-"


"Gue tau" ucap Arkana singkat.


"Lo tau kan?Artinya dia salah,orang yang bersalah harus dihukum!" ucap Helia dengan tegas.


"Iya,orang yang bersalah emang harus dihukum.Tapi temen Lo kan udah dapet hukuman tadi,dibayar kontan" kata Arkana.


"Apa?Maksud Lo?" tanya Helia bingung.


"Gue gak mau banyak ngomong,intinya gue tau Anes gak salah.Jauh-jauh dari dia atau lo bertiga dapet akibatnya.Gak percaya?coba aja" ucap Arkana sambil menjulurkan tangannya untuk membantu Aneska berdiri dan wanita itu langsung meraihnya.


"Udah gue ingetin barusan"


"Inget gak lo berdua barusan Arka bilang apaan?" tanya Rizan saat Arka dan Anes sudah pergi meninggalkan mereka.


"Kalo gak percaya?Boleh coba-coba dulu" lanjut Rafael dan mereka langsung pergi meninggalkan kedua wanita tersebut.


...•••...


"Gue kasih tau sama Lo ya,lain kali kalo ada kejadian kayak gini Lo harus sebut nama gue dalam hati" ucap Arkana saat mereka sedang berjalan menyusuri tangga.


"Kenapa?" tanya Aneska bingung.


"Biar gue dateng tolongin Lo"


"Cih!Emang nya lo superhero yang punya Indra keenam?Gimana caranya Lo bisa dateng kalo cuma gue panggil di dalam hati?" tanya Aneska lagi.


"Bisa lah,kan gue" ucapnya sambil tersenyum. "Tapi gue serius.Kalau lo kesusahan,Lo bisa minta tolong sama gue"


"Hhh gak perlu? Sok-sokan emang" ucap Arkana ketus.


"Iya gak perlu minta tolong,nanti juga lo dateng sendiri.Iya kan?" tanya Aneska sambil tersenyum manis menatap Arkana.Seketika pria itu langsung terdiam saat melihat senyuman Anes.


"Iya kan?" tanya Aneska lagi.


"Ekhemm..ekhem! Gue lupa belum buang air kecil" ucap Arkana yang langsung berjalan meninggalkan Aneska karena ia tidak mau terlihat salah tingkah.


"Iya kan??" tanya Aneska yang berteriak lalu berjalan untuk menyusul Arkana yang sudah mendahului nya.


"Ngga!Jangan kepedean!"


Saat jam pulang sekolah tiba,Aneska dan Arkana langsung bergegas menuju ruang seni untuk berlatih kembali dengan kondisi lengan Anes yang masih tertutup perban tipis.


"Lo serius mau latihan?Kita pulang aja deh,besok aja latihan nya atau paling ngga dua hari lagi" kata Arkana.


"Loh kenapa?Sayang dong waktunya" kata Aneska.


"Ternyata Lo beneran penyayang ya?Waktu aja Lo sayang" ucap Arkana jengah. "Yaudah kalau gitu hari ini kita manfaatin waktu sebanyak-banyaknya biar besok gak perlu latihan dulu satu hari.Gimana?"


"Yaudah,setuju" Aneska mengacungkan jempol nya sambil tersenyum manis dan hal itu membuat Arka langsung memalingkan wajahnya seketika. "Tapi jangan terlalu malam,takut tau ini kan sekolah bukan rumah Lo"


"Lo pikir disini kita cuma berdua?" tanya Arkana.


"Terus?"


"Kita disini rame-rame loh" ucap Arkana tersenyum licik.


"Rame-rame?Ih Lo jangan nakut-nakutin gue deh!" ucap Aneska sambil memukul lengan Arka menggunakan tas nya.


"Sakit!!Berani Lo pukul-pukul gue?" tanya Arka.


"Berani lo nakut-nakutin gue?" tanya balik Aneska.


"Lo mikir apaan sih? Maksud gue rame-rame tuh kan ada ibu kantin yang tinggal disini,belum lagi masih banyak siswa yang latihan kan?Bukan cuma kita doang?" tanya Arkana.


"Iya juga sih"


"Negatif Mulu pikiran Lo"


Dua jam berlalu,mereka masih belum menghentikan kegiatan nya begitu juga dengan beberapa siswa yang sedang berlatih di ruangan lain.Mereka memutuskan untuk berlatih satu kali lagi sebelum pulang dan itu sudah kesepakatan mereka berdua.


"Yes selesai!" seru Aneska.


"Pulang sendiri kan Lo?" tanya Arkana mengejek.


"Lo ngejek gue? Mentang-mentang gue gak punya pacar?" tanya Aneska sinis.


"Dimana kata ejekannya?Gue cuma nanya"


"Perkataan Lo emang bukan termasuk kalimat ejekan,tapi nada bicara lo yang cenderung mengejek tau gak?"


"Iya deh apa kata Lo aja.Makanya,gue kan pernah saranin Lo buat cari pacar.Tau akibatnya kan Lo kalo gak punya pacar?Pulang sendiri,di bully gak ada yang bela" Ucap Arkana dengan wajahnya yang pura-pura menyedihkan.


"Kata siapa?Kan ada lo yang selalu nganter gue pulang,terus bela gue kalo lagi di rundung.Jadi buat apa gue harus cari pacar? Buang-buang waktu tau gak?Lo juga gak lagi baperin cewek manapun kan?Gunain aja dulu yang ada,Lo belum pernah kan ngelakuin sesuatu yang berguna?" tanya Aneska kembali mengejek.


"Kata siapa gak ada cewek yang lagi gue baperin?Cewek banyak,cuma gue males aja" kata Arkana dengan keangkuhan nya itu. "Tunggu sini bentar,gue mau ke toilet dulu"


"Jangan lama-lama loh" Arkana tidak menjawab,saat suara pintu tertutup tiba-tiba lampu ruangan mati seketika hingga Aneska tidak bisa melihat apapun di sekitar nya.


"Hah!" seru nya terkejut. "Arkaa...Arkana..." bisik Aneska memanggil Arkana.Selain takut hujan malam,Aneska juga sangat takut dengan kegelapan.


"Arka jangan macem-macem deh" yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan beberapa orang yang sedang berbicara di kejauhan. "Siapapun tolong dong!Disini mati lampu!" teriak Aneska.


Ia tidak bisa terus seperti itu,dengan mengumpulkan keberaniannya Aneska menarik nafas semaksimal mungkin lalu beranjak dari duduknya untuk berjalan mencari letak dimana pintu keluar berada.


Lengan dan kaki nya terus mencari-cari namun ia malah tersandung salah satu alat musik berukuran kecil yang sedang tergeletak di lantai. "ADUH!!haduuuh!!" keluhnya.


Aneska kembali bangkit.Namun saat ia membalikkan badannya,Aneska sangat terkejut karena melihat wajah seseorang yang bercahaya di tengah-tengah kegelapan. "HAH!! ASTAGFIRULLAH!!" teriak Aneska yang terkejut dan refleks menampar wajah misterius tersebut.


"ADUH!!" seru pria tersebut.


"Siapa Lo?Manusia atau bukan??" tanya Aneska ketakutan.


"Bukan" ucapnya.


Namun Aneska melihat sinar dari senter ponsel tersebut,Aneska langsung mengambilnya dan menyoroti seseorang itu menggunakan cahaya yang pria itu gunakan tadi.


"Silau silau!!" ucap Arkana sambil menutup kedua matanya.


"Arka?Ishhh sialan Lo!" gerutu Aneska sambil mendorong tubuh Arkana hingga tersungkur di lantai. "Lo gak boleh main-main kayak gini sama gue!" lanjutnya dengan suara yang hampir menangis.


"Diaman stop kontak nya?" tanya Aneska kepada dirinya sendiri sambil terus mencari-cari keberadaan stop kontak tersebut lalu menyalakan kembali lampu di ruangan itu.


"Lucu banget sih Lo hahaha!" seru Arkana.


"Apa kebahagiaan lo liat orang lain ketakutan?" tanya Aneska. "Gak semua orang bisa di permainkan kayak gini" lanjut Aneska.


"Lo kenapa si,niat gue kan cuma buat lucu-lucuan aja" kata Arkana.


"Lucu-lucuan?emang lucu bagi Lo,tapi ngga buat gue"


"Lo sensitif banget hari ini.Yaudah maafin gue deh"


Mendengar perkataan Arkana,Anes langsung menghembuskan nafasnya sambil kembali duduk. "Lagian salah Lo,gue tipe orang yang takut gelap"


"Takut gelap?Terus nanti kalo lo udah nikah,setiap malam lampu nya harus nyala terus gitu?" tanya Arkana.


"Kenapa Lo jadi bawa-bawa tentang pernikahan segala?" tanya Aneska heran.


"Ya gue nanya aja"


"Setiap malam gue tidur tapi kondisi lampu tetep nyala sampe pagi" kata Aneska.


"Arghh,gue jadi kasian sama laki-laki yang bakal satu kamar sama Lo nanti" gumam Arkana sambil menggertak kan bahunya karena merinding.


"Hahaha!Gak perlu Lo kasihani,suami gue nanti sangat berbaik hati.Dia pasti bakalan ngerti" ucap Aneska angkuh.


"Udah gak usah banyak ngehayal,udah malem nih.Ayo pulang" kata Arkana yang menatap jam tangannya lalu melemparkan tas Aneska kepada pemiliknya.


"Lo anter gue pulang kan?" tanya Aneska.


"Gue lebih bersyukur kalo Lo mau pulang sendiri" Arkana memberikan candaan nya.


"Kelak pacar gue bakal marah sama lo karena gak mau anter gue pulang malem-malem gini" Aneska menirukan perkataan Arkana saat malam itu.


"Emang Lo pikir gue bakal biarin pacar Lo marah-marahin gue?Ya gue lawan lah,gue bakal marahin kenapa gak dari dulu aja dia jadi pacar Lo.Dia harus tau gimana ngerepotin nya cewek yang satu ini" ucap Arkana.


Mereka terus berdebat,mulai dari ruang seni hingga sampai di halaman rumah Aneska.Bahkan sepanjang perjalanan pun mereka terus berdebat, meskipun mendapatkan perhatian dari banyak pasang mata di lampu merah mereka sangat tidak memperdulikan hal itu.